
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Rania merasa nyaman dengan elusan tangan suaminya di perutnya bahkan sekarang Rania sudah berada di pangkuan Ferdians yang membuat Ferdians tersenyum senang.
Ferdians melihat jam di pergelangan tangannya, jam istirahat sebentar lagi selesai tetapi Ferdians tidak tega membangunkan istrinya yang sudah tertidur pulas di pangkuannya.
Rania membuka matanya dengan perlahan, pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah dada bidang suaminya, ia gemas dengan dada bidang Ferdians yang di tumbuhi bulu-bulu halus, Rania membuka kancing kemeja suaminya dan mengelus dada tersebut padahal keduanya sudah habis bercinta tetapi rasanya entah mengapa Rania ingin sekali bermanja dengan Ferdians.
"Sayang, stop pegang area itu!" larang Ferdians dengan suara serak.
Sial! Ferdians kembali terangsang dengan sentuhan tangan Rania di tangannya.
Rania semakin gencar memegang dada bidang Ferdians yang membuat Ferdians mengerang dengan perlahan.
"Sayang, stop! Kita sudah selesai bercinta, Mas tidak mau kedua anak kita kenapa-napa karena Mas," ujar Ferdians dengan menahan hasratnya.
Rania tidak peduli, ia tetap melakukan sesuatu yang membuat hatinya senang dan Ferdians harus menahan gairahnya membiarkan Rania menyiksa dirinya dengan hasrat yang tertahan.
Setelah puas membuat suaminya tersiksa Rania menatap Ferdians dengan pandangan datarnya. Ferdians tampak lega saat istrinya sudah tak lagi menyentuh dadanya.
"Sayang, jam istirahat sudah selesai. Mas kembali ke kantor ya," ujar Ferdians yang membuat Rania berdecak kesal.
Rania belum puas bersama dengan Ferdians padahal keduanya sudah bercinta di kantor.
"Iya!" jawab Rania dengan datar.
Ferdians tahu jika istrinya tak mau di tinggal yang membuat Ferdians mengelus pipi istrinya dengan lembut.
"Mas harus bekerja, Sayang. Mas ingin sekali membahagiakan kamu dengan kerja keras Mas sendiri," ujar Ferdians yang entah mengapa membuat Rania luluh.
Rania turun dari pangkuan Ferdians. "Ya sudah kembali ke kantor sana! Tapi jangan sampai telat menjemput saya!" ujar Rania dengan tegas.
"Iya, Sayang!" jawab Ferdians dengan tersenyum.
Cup...
Ferdians dengan sangat lembut mencium kening Rania. Rasa hangat menyusup ke hati Rania saat Ferdians menciumnya dengan penuh perasaan dan beralih ke perutnya, terhitung beberapa bulan lagi ia akan melahirkan dan berpisah dengan Ferdians, tetapi mengingat itu membuat dada Rania sesak.
__ADS_1
"Aku balik ke kantor dulu ya, Sayang. I love you!"
"Iya!"
Rania menatap kepergian suaminya dengan tersenyum-senyum sendiri. Entah mengapa Rania menjadi gila saat Ferdians selalu mengungkapkan rasa cintanya kepada dirinya bahkan kata cinta itu sering kali terucap setiap harinya, tak terhitung berapa kali jumlahnya.
Apakah dirinya sudah mulai mencintai Ferdians juga?
Kenapa dirinya bisa semanja ini dengan Ferdians?
****
Rania baru saja selesai mandi, ia menatap Ferdians yang sedang sibuk dengan laptop miliknya. Entah apa yang sedang Ferdians kerjakan tetapi pria itu terlihat sangat serius sekali.
Rania naik ke atas kasur dengan perlahan, ia sangat penasaran dengan apa yang sedang suaminya kerjakan.
"Mobil!" gumam Rania yang membuat Ferdians melihat ke arah istrinya.
"Iya, Sayang!" ujar Ferdians dengan memeluk Rania dari samping.
"Kamu mau beli mobil?" tanya Rania menatap Ferdians.
"Sebenarnya tidak, Sayang. Tapi ini papa yang memberikannya. Mas sudah menolaknya tetapi papa mengatakan jika mas perlu mobil," ujar Ferdians.
Ferdians tersenyum tipis. "Di mana-mana seorang lelaki adalah pemimpin bagi istrinya dan memberikan nafkah untuknya. Dan Mas ingin kamu yang menikmati uang Mas bukan Mas yang menikmati uang kamu, Sayang. Untuk saat ini memang uang Mas belum sebanyak seperti yang kamu punya tapi Mas ingin kamu menikmatinya," ujar Ferdians dengan lembut.
Ferdians mengambil ponselnya dam membuka m-bangking miliknya. Ia sudah hapal nomor rekening Rania dan Ferdians langsung mengirimkan uang ke rekening Istrinya.
"Sudah Mas kirim uang ke rekening kamu ya, Sayang. Sisanya Mas mau berikan untuk Ibu," ujar Ferdians yang membuat Rania tak percaya dengan apa yang Ferdians lakukan untuk dirinya.
"M-mas..."
"Jangan menolak pemberian Mas, Sayang. Itu gaji Mas selama Mas kerja di perusahaan papa," ujar Ferdians dengan tegas yang membuat Rania menjadi terharu.
"Seharusnya kamu tidak perlu melakukan itu. Simpan saja uang itu," ujar Rania dengan pelan.
"Mas ini suami kamu, Sayang. Sudah sepantasnya Mas memberikan nafkah bukan hanya sekedar nafkah batin saja," ujar Ferdians dengan tegas.
"Tapi kamu suami bayaran ak..."
"Itu perjanjian awal tapi sekarang bukan!" ujar Ferdians dengan dingin.
__ADS_1
Ferdians tidak suka dengan Rania yang mengungkit masa lalu tentang mereka. Ia awalnya Ferdians menyetujui hal itu karena ingin membuat ibunya sembuh, tetapi sering bertemu bahkan tidur seranjang membuat rasa cinta Ferdians untuk Rania semakin tumbuh subur setiap harinya.
"Saya tidak pernah mengatakan seperti itu!" ujar Rania tetap dengan keras kepalanya yang membuat Ferdians kesal.
"Ada ataupun tidak ada persetujuan dari kamu pernikahan kita tetap akan bertahan sampai aku mati. Sekali saja tidak keras kepala bisa tidak? Sekali saja membuat hati Mas tenang kalau kita tidak akan pernah berpisah bisa tidak sih?" ujar Ferdians dengan kesal.
"Loh kamu kok marah? Semakin ke sini kamu semakin berani dengan saya! Mentang-mentang kehamilan saya yang tidak bisa jauh dari kamu, kamu besar kepala!" ujar Rania dengan ketus.
Ferdians memijat pelipisnya. Meladeni Rania yang seperti ini sama saja membuat dirinya dalam bahaya karena racun ucapan Rania yang tidak pernah hilang.
"Oke, maaf!" ujar Ferdians dengan menyerah.
Ferdians mematikan laptopnya dan meletakkan di meja. Bukannya tidur Ferdians malah turun dari kasur dan keluar dari kamar begitu saja meninggalkan Rania yang sedang menatap kesal ke arah kepergian Ferdians dari kamarnya. Gengsi yang Rania rasakan membuat Rania diam seribu bahasa saat Ferdians keluar dari kamar tanpa berpamitan.
****
Ferdians masuk ke kamar ibunya dengan perlahan, ia tersenyum melihat ibunya yang sedang tertidur dengan nyenyak.
"Tuan!" panggil Suster Ana dengan pelan.
"Bisa kamu keluar sebentar?! Saya ingin melihat keadaan ibu," ujar Ferdians yang di angguki dengan tegas oleh suster Ana.
"Baik, Tuan. Saya permisi!"
Setelah keluarnya suster Ana. Ferdians duduk di pinggir kasur dan menatap wajah ibunya yang setiap hari semakin ringkih.
"Bu, semakin ke sini Ferdians sangat takut kehilangan ibu dan juga Rania," gumak Ferdians dengan lirih.
"Ferdians ingin ibu sembuh dan Ferdians ingin pernikahan Ferdians dengan Rania bertahan sampai maut memisahkan. Sesederhana itu bu, apakah Tuhan tidak bisa mengabulkannya?" gumam Ferdians memegang tangan ibunya dengan sangat pelan seakan takut jika tangan ibunya akan remuk jika Ferdians menggenggam tangan ibunya dengan kuat.
"Ferdians tahu selama ini ibu menyembunyikan kesakitan ibu dari Ferdians. Seakan ibu terlihat baik-baik saja di depan Ferdians dan juga Rania. Tapi Ferdians yakin ibu sedang menahan sakit yang luar biasa. Bu, Ferdians mohon bertahan demi Ferdians!" gumam Ferdians dengan lirih.
Saat ini Ferdians sedang merindukan ibunya yang sudah jarang bertemu ketika ia sedang bekerja, sebenarnya hatinya sama sekali tidak tenang saat meninggalkan ibunya tetapi demi perubahan hidup yang lebih baik Ferdians rela melakukannya.
Sedangkan Rania, wanita itu sedang merasakan kesal yang sangat dalam hingga tak sadar air matanya mengalir begitu saja. Tak pernah lagi Rania menangis dan terakhir menangis yaitu saat meninggalnya sang mama dan saat ini Rania mudah sekali menangis hanya karena Ferdians yang meninggalkannya begitu saja di dalam kamar.
Kini, sudah satu jam lebih Ferdians berada di kamar ibunya dan pria itu tak kunjung kembali yang membuat Rania sangat gelisah, ingin menyusul Ferdians tetapi ia sangat gengsi.
Saat mendengar pintu terbuka dengan cepat Rania menutup matanya, ia juga merasakan pergerakan seseorang naik ke atas kasur dan ia yakini itu adalah Ferdians.
Rania merasakan jika Ferdians membawanya ke dalam pelukannya yang membuat Rania begitu merasakan kenyamanan yang tidak ia dapatkan dari orang lain.
__ADS_1
"Maaf untuk kali ini aku ingin keegoisanku yang menang, Sayang. Aku pastikan kita tetap bersama selamanya," gumam Ferdians yang masih sangat di dengar oleh Rania.
"Apakah kamu begitu mencintaiku Ferdians? Jika kamu tahu jika aku dan Rio dulunya adalah mantan kekasih apakah kamu akan marah?"