Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 173 (Kegelisahan Olivia)


__ADS_3

... 📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...*****...


Olivia tampak gelisah, walaupun ia marah dengan kedua orang tuanya entah mengapa ia menjadi tidak tega dan ingin segera pulang ke rumah orang tuanya. Namun, di sisi lain Olivia masih belum mau pulang karena rasa kecewanya kepada kedua orang tuanya.


"Kenapa melamun?" tanya Rania yang membuat Olivia tersentak dan akhirnya tersenyum canggung kepada calon mertuanya tersebut.


"Tidak apa-apa, Ma!" jawab Olivia dengan canggung.


Rania duduk di samping Olivia dengan membawa cangkir berisi teh hangat miliknya. "Mama tahu kamu sedang memikirkan kedua orang tua kamu," ujar Rania yang membuat Olivia tersentak.


Kenapa calon mama mertuanya bisa tahu isi pikirannya saat ini? Pikir Olivia di dalam hati.


"Kamu tahu dulu mama dengan ayah kamu adalah sahabat dekat. Tapi karena nenek kamu menikah dengan kakek Faiz semuanya berubah, Mama tidak suka jika nenek kamu menikah dengan kakek Faiz yang tak lain adalah papa kandung mama sendiri," ujar Rania dengan menerawang.


"Setelah kejadian itu semuanya berubah bahkan sampai sekarang. Mungkin ada sesuatu yang tidak kamu ketahui dari permasalahan yang kami hadapi. Namun, dari permasalahan kamu dengan orang tua kamu Mama juga pernah merasakannya. Bahkan bertahun-tahun lamanya Mama sudah tidak tinggal dengan calon kakek kamu, Mama membangun perusahaan Mama sendiri dan ingin calon kakek kamu tahu jika Mama bisa melakukan apapun sendiri," ujar Rania dengan menerawang.


"Mama perempuan yang sangat hebat," ujar Olivia dengan bangga.


Rania tersenyum menatap Olivia. "Dan Mama yakin kamu bisa melakukannya. Apa yang terjadi di masa lalu itu kesalahan orang tua kamu bukan kesalahan kamu. Jadi, Mama harap kamu jangan memikirkan itu lagi. Apapun yang terjadi Mama akan tetap merestui pernikahan kalian berdua," ujar Rania dengan serius.


Olivia tersentak namun setelah itu ia tersenyum memeluk calon mama mertuanya dengan erat. "Terima kasih Ma masih mau menerima aku menjadi menanti Mama. Padahal aku takut sekali Mama dan papa tidak akan merestui pernikahan kami lagi," ujar Olivia dengan sendu.


"Sebelum kamu tahu kenyataan itu Mama sudah mengetahui sejak lama, Olivia. Jadi, ketakutan kamu itu hilangkan saja dari pikiran kamu," ujar Rania.


"Iya, Ma. Sekali lagi terima kasih," gumam Olivia dengan tersenyum.


"Iya, Nak. Sekarang kamu masuk dan istirahat. Mama tahu kamu masih lelah," ujar Rania dengan tegas.


Olivia menggelengkan kepalanya. "Aku mau di sini saja, Ma. Bosan di dalam kamar dan juga segan berada di kamar mas Faiz," sahut Olivia dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kamar kamu sudah dibereskan oleh pelayan tapi Faiz tidak mau kamu tidur di sana, dia yang tidur di kamar tamu. Katanya kamar tamu kurang luas untuk kamu," ujar Rania dengan terkekeh. "Tidak apa-apa tidur di kamar Faiz toh sebentar lagi kalian akan menikah," lanjut Rania yang membuat Olivia malu.


"Tapi tetap saja aku malu, Ma. Kamar tamu juga luas kok lebih baik aku yang tidur di sana, Ma!" ujar Olivia dengan lirih.


"Faiz ingin memberikan yang terbaik untuk kamu, Nak. Terima saja selagi itu masih baik," ujar Rania.


Olivia menghela napasnya dengan perlahan. "Iya, Ma!" ucap Olivia dengan tersenyum tipis. Olivia merasa hatinya begitu tak enak karena Faiz dan keluarganya sangat baik dengan dirinya tetapi dirinya belum bisa memberikan apapun kepada Faiz dan keluarganya.

__ADS_1


*****


Setelah ia di lamar oleh Rajendra, Cassandra langsung menemui mamanya dengan rasa bahagia yang luar biasa.


"Mama!" panggil Cassandra dengan senyuman di wajahnya.


Clara melihat ke arah anaknya. "Kenapa kamu bahagia sekali, Sayang?" tanya Clara dengan heran.


Cassandra menunjukkan cincin yang terpasang di jari manisnya, ya setelah Rajendra melamarnya tadi Rajendra langsung memberikan cincin untuk dirinya.


"Tuan Rajendra sudah masuk ke perangkap yang aku rencanakan, Ma. Dia melamar aku tadi dan kami akan segera menikah setelah tuan Faiz dan Olivia menikah. Bagaimana, Ma? Sebentar lagi kita akan bisa menghancurkan mereka," ujar Cassandra dengan bahagia.


Clara mengembangkan senyumannya. Tidak sia-sia mengompori anaknya, Cassandra cepat sekali berpengaruh dengan ucapannya.


"Bagus, Sayang. Mama bangga sama kamu," ujar Clara dengan sangat senang karena ia sudah membayangkan kehancuran keluarga Danuarta.


"Tapi Ma sebaiknya nenek tidak perlu tahu jika Mama sudah sembuh," ujar Cassandra yang membuat senyum Clara langsung hilang.


"Memangnya kenapa? Jika nenek tahu akan lebih gampang, Sayang!" tanya Clara dengan heran.


"Nenek sudah berubah, Ma. Dia sudah meminta maaf dengan keluarga Danuarta bahkan nenek sangat senang melihat kak Olivia akan menikah dengan Faiz. Sebaiknya kita tidak perlu memberitahu soal rencana ini kepada nenek, Ma. Aku takut nenek akan menggagalkan rencana kita," ujar Cassandra dengan serius.


"Begitu ya? Kenapa nenek kamu bisa berubah seperti itu. Sekarang kamu juga berhati-hati jika berbicara di hadapan nenek bisa-bisa nenek nanti curiga," ujar Clara dengan tegas.


"Mama akan menunggu hari itu tiba, Sayang!" ujar Clara dengan tersenyum.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya, Ma. Kak Olivia kabur dari rumah aku juga harus membantu mencarinya," ujar Cassandra dengan menghela napasnya pelan.


"Kabur? Kenapa bisa?" tanya Clara dengan heran.


"Aku memberitahunya kalau dia adalah anak haram, Ma. Dia berteriak histeris lalu marah kepada ayah dan bunda, setelah itu paginya kakak sudah kabur dari rumah," jawab Cassandra.


"Ya ampun lebay banget sih. Ya sudah sana kamu pulang jangan sampai kamu yang terkena amarah ayah kamu," ujar Clara dengan santai.


"Iya, Ma. Ini aku mau pulang!" ujar Cassandra dengan tegas.


Tanpa sepengetahuan mereka Rajendra mem-videokan percakapan mereka. Bukti harus akurat dan setelah selesai ia mengambil video Clara dan Cassandra, Rajendra berjalan pulang.


Rajendra berjalan dengan santai keluar dari rumah sakit. Satu demi satu bukti harus ia kumpulkan untuk membuat Clara dan Cassandra merasakan tinggal di jeruji besi.


"Jangan main-main dengan Rajendra," ujar Rajendra dengan santainya tetapi wajahnya begitu bengis menatap mobil Cassandra yang sudah pergi dari rumah sakit.

__ADS_1


****


Hari sudah beranjak malam Cassandra dan Agni menunggu Rio dan Anjani dengan perasaan cemas.


"Kenapa ayah dan bunda kamu belum pulang juga, Cassandra? Nenek jadi khawatir," ujar Agni dengan gelisah menanti kepulangan anak dan menantunya.


"Aku juga tidak tahu, Nek. Aku telepon dari tadi tidak ada yang mengangkat. Mereka pasti masih mencari kak Olivia, Nek!" ujar Cassandra dengan cemas.


"Bagaimana ini, Nek? Apa kita cari saja ayah dan bunda?" tanya Cassandra dengan gelisah.


"Sebaiknya kita menunggu saja dulu mungkin sebentar lagi mereka akan pulang," ujar Agni dengan lirih.


Dan benar saja setelah 15 menit menunggu keduanya mendengar suara deru mesin mobil yang masuk ke halaman rumah ini. Keduanya langsung berjalan ke arah pintu tampak sekali Rio dan Anjani terlihat sangat frustasi.


"Akhirnya kalian berdua pulang juga. Bagaimana dengan Olivia? Sudah ketemu?" tanya Agni dengan gelisah.


Rio dan Anjani menggeleng, seharian mencari Olivia mereka sama sekali tidak menemukan Olivia bahkan tanda-tanda Olivia juga tidak mereka dapatkan.


"Ya Tuhan... Cucuku dimana kamu, Sayang?" monolog Agni dengan menangis. Tangisan yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah juga karena Olivia tak kunjung di temukan.


Begitu pun dengan Anjani, tubuhnya sudah sangat lemas sekali dan akhirnya pingsan di hadapan suami serta anak dan mertuanya.


"Astaghfirullah, Sayang!" ujar Rio dengan cemas.


"Bunda, bangun!" ucap Cassandra dengan mata berkaca-kaca.


Rio membawa Anjani ke kamar mereka diikuti oleh Cassandra dan Agni yang sangat cemas dengan keadaan Anjani. Rio mengoleskan minyak kayu putih di hidung Anjani sedangkan Cassandra memijat kaki Anjani dengan pelan.


"Sayang!" panggil Rio berusaha menyadarkan istrinya.


Tak lama Anjani mulai membuka matanya dengan perlahan, bibirnya kembali gemetar dan akhirnya air mata kembali mengalir dari kedua matanya. Anaknya belum ditemukan sampai sekarang. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Olivia di luar sana? Bagaimana jika ada orang jahat yang mencelakai anaknya? Pikiran itu terus mengganggu hati Anjani hingga dirinya sangat terlihat frustasi.


"Cassandra, tolong buatkan teh untuk Bunda," ujar Rio kepada anaknya.


"Iya, Yah. Sebentar," ujar Cassandra dengan patuh.


"Anjani terlihat pucat sekali. Kalian tidak berhenti mencari Olivia?" tanya Agni memijat tangan menantunya dengan pelan.


"Anjani terus memaksa, Ma. Padahal tubuhnya pasti sudah sangat lelah sekali. Besok jika Olivia tidak ditemukan juga aku akan lapor polisi agar pihak polisi membantu mencari Olivia," ujar Rio dengan lirih.


"Ya Tuhan... Kenapa ini mesti terjadi? Lindungi cucuku di manapun dia berada, Ya Tuhan!" ucap Agni dengan memohon.

__ADS_1


Cassandra memberikan teh buatannya kepada Anjani walaupun Anjani masih terlihat enggan berbicara setidaknya bundanya tersebut sudah mau minum. Cassandra menjadi merasa bersalah karena sudah mengatakan yang sebenarnya kepada Olivia jika ia tidak mengatakan yang sebenarnya mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi.


"Ayah, bunda, maafkan aku!" gumam Cassandra dengan lirih di dalam hati karena tak mungkin Cassandra mau mengakui kesalahannya sampai kapanpun.


__ADS_2