Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 116 (Perkataan Yang Menyakiti Hati)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Ben terlihat begitu sangat marah bahkan ia menghancurkan semua barang yang terlihat di matanya saat ini yang membuat Ana sedikit takut tetapi ia harus bisa menenangkan suaminya yang saat ini terlihat begitu marah.


"Aarghhh... Brengsek!" teriak Ben dengan sangat keras.


"Mas sudah! Kamar kita sudah berantakan," ujar Ana dengan sabar.


Ben menatap istrinya dengan tajam. "Sudah kamu bilang? Rania lebih memilih bersama dengan Ferdians dibandingkan aku papanya sendiri. Lalu aku harus diam begitu? Rania itu anakku! Ana satu-satunya yang aku punya dari Dewi tapi dia selalu menjauh dari aku," ujar Ben dengan menggebu.


"Rania bersama dengan suaminya, Mas! Bukan bersama lelaki jahat. Aku yakin dia akan bahagia bersama dengan Ferdians. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan kebahagiaan untuk Rania. Kamu jangan egois, Mas! Rania butuh sosok suami yang mengerti bagaimana dirinya, lagi pula Rania sudah mempunyai anak Mas!" ujar Ana berusaha menjelaskan kepada suaminya.


"Tahu apa kamu soal Rania? Kamu baru saja menjadi ibunya dalam beberapa bulan? Kamu tidak tahu apa-apa tentang Rania dan masa lalu kami! Dia itu anak kesayangan saya dan kamu bahkan hanya hidup numpang di rumah ini," ujar Ben tanpa sadar.


Mata Ana berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya yang begitu menyayat hatinya. "Terima kasih Mas sudah menyadarkan aku jika posisi aku di rumah ini dan di mata kamu bukanlah seseorang yang spesial, mungkin kamu menikahi aku karena insiden itu. Kamu hanya kasihan kepadaku, aku sadar sekarang," ujar Ana dengan lirih.


Ben terkejut, ia menatap Ana dengan pandangan menyesalnya. "S-sayang M-mas tidak bermak..."


"Kamu mau kemana? Dengarkan dulu penjelasan, Mas!" ujar Ben dengan lirih.


Ana yang sudah merasa sakit hati menepis tangan Ben. Ana keluar dari kamar dengan menangis pedih, ternyata posisinya di rumah ini mungkin hanya sebagai figuran saja. Sakit sungguh sakit hatinya saat ini.


Ana masuk ke ruang kerja suaminya, ia mengunci pintu ruang kerja suaminya agar Ben tidak menemukan dirinya di sini. Jika ia pergi dari rumah pasti anak buah Ben akan dengan sangat gampang menemukannya. Jadi, Ana lebih mengurung diri di ruang kerja Ben dan menumpahkan seluruh kesedihannya di tempat ini.


Sedangkan Ben sudah kebingungan mencari keberadaan istrinya yang begitu cepat menghilang. Ben mengusap wajahnya dengan kasar, karena amarahnya Ben tidak bisa mengontrol ucapannya dan tak sadar berkata yang menyakiti hati Ana.


"Pa, ada lihat Ana turun ke bawah?" tanya Ben dengan panik.


Doni yang sedang menatap foto keluarganya akhirnya menatap Ben yang terlihat panik. "Tidak ada, Ben! Ana sejak tadi bersama kamu, kan?" jawab Doni dengan santai walaupun wajah tuanya sebenarnya sudah sangat lelah bahkan ia sudah sangat merindukan suasana keluarganya yang hangat seperti dulu sebelum sesuatu menghancurkan keluarga mereka hingga seperti ini.

__ADS_1


"Ana baru saja keluar, Pa! Apa benar tidak ada turun ke bawah mungkin Papa tidak melihatnya?" tanya Ben dengan panik.


Doni menautkan alisnya. "Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu terlihat panik?" tanya Doni.


"S-saya tidak sengaja membentak Ana, Pa. Bahkan berkata yang menyakiti hati Ana!" ujar Ben dengan panik.


"Ya Tuhan, Ben. Kamu mau kehilangan Ana juga? Dia sedang hamil, Ben!" ujar Doni tak menyangka kemarahan Ben akan seperti ini bahkan menyakiti hati menantunya yang baiknya sama dengan Dewi.


"Saya tidak sengaja, Pa! Saya harus mencari Ana!" ujar Ben dengan panik.


Ben kembali naik ke lantai atas sedangkan Doni memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Ana.


"Sayang!"


"Sayang!"


"Mas minta maaf sungguh Mas tidak bermaksud menyakiti hati kamu," teriak Ben dengan keras.


"Hiks...hiks...." Ana menangis dengan dada begitu sesak.


"Akhhh..." Ana memegang perutnya yang tiba-tiba saja terasa sakit, matanya berkunang-kunang dengan kepala yang begitu berat sekali hingga Ana jatuh tak sadarkan diri di ruangan Ben.


"Ana, Mas tahu kamu di dalam! Buka pintunya, Sayang! Mas minta maaf! Mas tahu, Mas salah! Mas egois dan Mas tidak sadar sudah berkata yang menyakiti hati kamu," ujar Ben dengan begitu cemas.


"Mas dobrak pintunya kalau kamu tidak buka!" ujar Ben dengan tegas tetapi tetap tidak ada jawaban dari dalam karena memang Ana sudah tidak sadarkan diri di dalam ruangan Ben.


Ben baru sadar jika ada kunci cadangan ruangan kerjanya yang ia letakkan di laci lemari di samping pintu. Ben mencari kunci tersebut dengan panik, setelah mendapatkannya Ben langsung membuka pintu ruangan kerjanya yang ia yakini ada Ana di dalamnya.


Setelah pintu terbuka Ben langsung mencari istrinya di dalam dan Ben begitu terkejut melihat Ana sudah tergeletak dengan tak sadarkan diri.


"Sayang!" panggil Ben menghampiri Ana.


Ketika Ben melihat wajah Ana, ia bertambah panik karena wajah Ana begitu sangat pucat bahkan jejak air mata Ana belum hilang.

__ADS_1


"Maaf! Maaf, Sayang!" gumam Ben dengan khawatir.


Ben membopong Ana, ia harus membawa Ana ke rumah sakit sekarang. Ia takut terjadi sesuatu dengan Ana dan anaknya yang masih di dalam kandungan Ana bahkan Ben merutuki dirinya sendiri yang telah menyakiti Ana hingga istrinya tak sadarkan diri di ruang kerjanya.


****


Ben menggenggam tangan Ana dengan erat, ia fokus menatap dokter yang telah memeriksa istrinya. Bahkan Ben memaksa dokter agar ia ikut menemani Ana dalam pemeriksaan.


Infus segera di pasang di tangan Ana tetapi suster sama sekali belum menemukan otot tangan untuk memasukkan keteter infus yang dimasukan ke dalam pembuluh darah Vena.


Ben meringis sendiri melihat tangan istrinya di jarum beberapa kali. "Sus yang benar pasang infusnya ini tangan istri saya bukan boneka!" ujar Ben dengan tajam.


"Maaf, Tuan. Saya belum bisa menemukan otot tangan pasien," ujar suster dengan panik.


"Kalau tidak bisa pasang infus tidak usah bekerja di rumah sakit!" ujar Ben dengan sarkas.


"Biar saya saja, Sus!" ujar dokter yang membuat suster tersebut mengangguk, ia sangat takut dengan kemarahan Ben.


Ben menatap tajam ke arah dokter, jika sampai pemasangan infus kembali gagal Ben akan menuntut rumah sakit ini. Tetapi apa yang Ben bayangkan tidak terjadi karena dokter tersebut berhasil memasang infus untuk istrinya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Ben.


"Tekanan darah ibu Ana sangat rendah, Pak. Untung saja Bapak dengan cepat membawa ibu Ana ke rumah sakit kalau tidak mungkin kandungan ibu Ana dalam bahaya. Ibu Ana harus dirawat di sini selama 2-3 hari ya Pak untuk memulihkan keadaannya yang tiba-tiba saja drop," ujar dokter dengan sabar.


"Baiklah! Pindah ke istri saya ke ruangan VIP agar istri saya merasa nyaman," ujar Ben dengan tegas.


"Baik, Pak. Kami akan segera memindahkan ibu Ana ke ruangan yang Bapak inginkan," ujar dokter dengan tersenyum.


"Lakukan dengan baik," ujar Ben dengan tegas yang di angguki oleh dokter dan suster.


Ben begitu sangat menyesal telah berkata yang menyakiti istrinya. Jika terjadi sesuatu dengan Ana dan anaknya pasti Ben tidak akan memaafkan dirinya sendiri saat ini. Ketika menatap Ana, rasa bersalah itu kembali menyeruak. Wajah pucat Ana membuat Ben begitu menyesal.


"Maafkan Mas, Sayang!" gumam Ben menyesali perkataannya.

__ADS_1


__ADS_2