Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 200 (Cemburu dan Khawatir)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Gavin dan Frisa sedang meminum air kelapa di pinggir pantai dengan tetap di awasi oleh ketiga bodyguard Frisa. Walaupun ketiganya tampak kesal karena melihat adegan romantis antara Frisa dan Gavin yang sangat membuat hati mereka merana.


"Mau kelapanya!" ucap Frisa dengan merengek yang membuat Gavin tertawa.


"Ini sendoknya sudah di kasih abang penjualnya, Sayang!" ucap Gavin dengan sabar.


"Susah tahu!" ujar Frisa dengan cemberut.


Gavin tersenyum ia menyendokkan kelapa muda miliknya dan ia berikan kepada Frisa. "Buka mulutnya," ucap Gavin dengan lembut dan dengan senang hati Frisa membuka mulutnya.


"Manis!" ucap Frisa dengan teramat senang.


Gavin kembali menyuapi Frisa yang membuat Frisa bertambah senang memakan kelapa muda tersebut hingga ada seseorang wanita yang berpakaian seksi menghampiri keduanya.


"Hai!" sapa wanita itu dengan tersenyum manis kepada Gavin.


Frisa menatap wanita itu dengan tajam, sungguh Frisa tak suka dengan kedatangan orang asing mengganggu ketenangan dirinya.


"Siapa ya?" tanya Gavin dengan bingung.


"Aku Kirana. Aku melihat kamu di sini dan sepertinya aku kenal. Dan ternyata benar kamu kakak tingkat aku waktu sekolah dulu. Kamu Gavin Dirgantara, kan? Cowok yang pernah nolongin aku saat aku di hadang oleh preman," ujar Kirana yang membuat Gavin tampak berpikir tetapi pria itu sama sekali tak ingat.


"Tidak ingat! Ya saya emang Gavin tapi saya tidak ingat dengan kamu!" ujar Gavin dengan tegas dan merasa risih sekaligus tidak suka dengan cara berpakaian Kirana sekarang apalagi wajah wanita itu terlihat seakan ingin menggodanya.


"Masa lupa sih? Coba ingat-ingat lagi!" ujar Kirana sok kenal bahkan ia duduk di samping Gavin yang membuat Frisa semakin kesal.


Tangan Frisa mengepal dengan erat saat Kirana menatap Gavin dengan penuh minat.


"Maaf saya memang tidak bisa mengingat kejadian itu lagi karena sudah terlalu lama!" ujar Gavin dengan tegas dan begitu dingin. Namun, Kirana terus gencar untuk mendekati Gavin yang membuat Frisa kesal dan berdiri dari duduknya.


"Sayang mau kemana aku ikut!" ujar Gavin dengan risih.


"Urusi saja wanita itu!" ujar Frisa dengan dingin.


Frisa langsung meninggalkan Gavin begitu saja. Gavin hendai berdiri dan mengejar Frisa namun tangannya di tahan oleh Kirana. "Dia tidak akan kemana-mana kita mengobrol dulu di sini sudah lama kita tidak bertemu. Sebagai rasa terima kasihku dulu kamu mau tidak aku traktir makan di cafe dekat sini," ujar Kirana dengan tersenyum manis mencoba untuk menggoda Gavin. Tetapi bukannya Gavin tertarik ataupun tergoda, pria itu malah tampak kesal. Menyesal ia meladeni orang gila seperti kirana.

__ADS_1


Gavin melepaskan tangannya yang di pegang oleh Kirana. "Jangan sok kenal apalagi menyentuh saya! Menjijikkan!" ujar Gavin dengan tajam yang membuat Kirana beringsut takut.


"Pergi dari sini atau saya akan melemparkan kamu ke tengah laut!" ujar Gavin dengan dingin.


Gavin langsung meninggalkan Kirana begitu saja yang membuat Kirana berdecak kesal karena rencananya gagal untuk mendekati Gavin.


Gavin mencari keberadaan Frisa, gadis itu sudah tidak kelihatan di tempat ini yang membuat Gavin khawatir. Gara-gara kirana, Frisa entah kemana. Gavin menelepon Cakra, ketiganya sudah mengikuti Frisa yang membuat Gavin bernapas lega dan Gavin langsung menyusul ke tempat di mana Frisa berada.


Sedangkan Frisa wajahnya sudah tidak bersahabat sama sekali bahkan saat Cakra, Agam, dan Melvin mendekat mereka sudah kena semprot ucapan tajam Frisa.


"Yak kenapa kalian terus mengikuti saya? Mau saya lemparkan kalian ke laut biar di makan hiu sekalian?" tanya Frisa dengan kesal.


"Kami harus mengikuti Nona agar Nona baik-baik saja," ujar Cakra dengan tegas.


"Menjauh dari saya sekarang! Temani saja sahabat kalian yang sangat gatal itu!" teriak Frisa dengan kesal.


"MENJAUH!" teriak Frisa dengan keras sepertinya cemburu membuat Frisa seperti ini.


Akhirnya Cakra meminta Agam dan Melvin untuk sedikit menjauh tetapi ketiganya tetap mengikuti Frisa. Agar Frisa tak mengamuk karena ini pantai dan pasti ada yang melihat dan mendengar keributan karena Frisa.


"Gavin mana sih? Lama banget!" ucap Melvin berdecak kesal tetapi matanya tetap mengawasi Frisa hingga Melvin melihat ada beberapa orang yang mendekat ke arah Frisa.


"Hai cantik! Sendirian aja nih? Ikut kami yuk!" ujar lelaki itu dengan terkekeh.


Jika sedang marah Frisa benar-benar seperti Rania, mulutnya tidak bisa di kontrol yang membuat dua orang lelaki menatap kesal ke arah Frisa.


"Kurang ajar! Seret saja gadis ini sombong sekali. Sekalian kita gilir saja," ujar lelaki yang satunya tetapi Frisa sama sekali tidak takut, gadis itu semakin menatap dingin ke arah dua preman yang menghadang dirinya.


"Pecundang! Siapa orang yang telah menyuruh kalian menghadang jalan saya?" ucap Frisa dengan dingin yang membuat dua preman itu tertawa dan semakin suka dengan sikap ketus Frisa.


Saat keduanya ingin memegang tangan Frisa. Gavin, Melvin, Cakra, dan Agam datang.


"Beraninya kamu mengganggu calon istri saya!" ujar Gavin dengan tajam.


Dengan mengkode temannya lewat lirikan mata akhirnya dua preman itu mencoba menghajar ke-empat pria yang selalu bersama untuk menjaga Frisa dengan nyawa mereka sebagai taruhannya.


Bukk...


Bukk...


"Brengsek! Siapa orang yang menyuruh kalian berdua! Katakan!" ujar Gavin saat berhasil menduduki preman yang satunya dengan mencekik lehernya.

__ADS_1


"SIAPA!" teriak Gavin dengan penuh emosi.


Tanpa sepengetahuan Gavin, lelaki yang sedang ia duduki perutnya itu mencoba mengambil sesuatu dari dalam celananya.


Srekkk....


"Aarggghh...." teriak Gavin saat tangannya di sayat oleh pisau yang membuat teman-temannya melihat ke arah Gavin hingga preman yang sudah di tangkap oleh Cakra dan yang lainnya berhasil melepaskan diri begitupun dengan preman yang di duduki oleh Gavin.


"Gavin!" teriak Frisa dengan khawatir.


Frisa langsung menghampiri Gavin yang terlihat sangat kesakitan. Sayatan pisau itu sangat panjang mengenai tangan Gavin yang membuat Frisa benar-benar khawatir.


"Sapu tangan kalian mana? Cepat ikat di tangan Gavin biar darahnya tidak keluar terus!" ujar Frisa dengan cemas bahkan sangking cemasnya matanya berkaca-kaca.


"Tenang, Nona!" ucap Cakra dengan tegas.


Cakra mengikatkan sapu tangan ke lengan Gavin untuk menghentikan darah yang terus keluar dari lengan Gavin.


"Ayo kita ke rumah sakit!" ujar Frisa yang sudah menangis.


Gavin menatap Frisa. "Aku tidak apa-apa! Jangan nangis!" ujar Gavin dengan tersenyum agar Frisa tidak khawatir kepadanya tetapi yang ada Frisa malah semakin menangis yang membuat Gavin memegang tangan Frisa.


"It's oke, Sayang!"


"Tidak apa-apa bagaimana? Tangan kamu terkena pisau lelaki tadi. Itu harus di jahit karena lukanya lumayan dalam ayo kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Frisa yang membuat Gavin mengangguk dengan sedikit ringisan yang membuat Frisa semakin khawatir.


Sedangkan Melvin matanya terus mengedar ke sembarangan arah dan ia menemukan seseorang yang bersembunyi di balik pohon vinus. Melvin seakan mengenali orang tersebut setelah mengingat siapa bibir Melvin menyeringai.


"Aku tahu siapa dia!" ujar Melvin dengan tersenyum sinis.


"Siapa?" tanya Agam.


"Roby! Aku akan menelepon tuan Rajendra sekarang karena bagian Roby pasti tuan Rajendra akan terlihat senang sekali. Dan aku pastikan Cassandra akan mendapatkan amukan dari tuan Rajendra karena Roby sudah hampir saja melukai keponakan kesayangannya," ujar Melvin yang membuat semuanya menyeringai.


"Ayo kita ke rumah sakit. Cakra kamu yaang menyetir mobil!" ujar Frisa yang sudah terlihat tenang.


"Aku masih bisa menyetir mobil sendiri!" ujar Gavin yang membuat Frisa melotot.


"Tidak! Cakra saja yang menyetir!" ujar Frisa tak terbantahkan.


Frisa kembali menatap tangan Gavin dengan sendu. Karena melindunginya tangan Gavin jadi terluka, air mata Frisa kembali menetes entah mengapa hatinya menjadi sangat sakit melihat Gavin terluka.

__ADS_1


"Roby, awas saja kamu!" gumam Frisa dengan tajam.


__ADS_2