
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Setelah sampai di rumahnya Rajendra sudah tidak bisa menahan amarahnya, ia membanting apa saja yang berada di kamarnya hingga pecah dan berantakan di lantai. Suara nyaring kaca yang pecah membuat Ana dan Ben langsung menuju kamar anaknya karena keduanya takut terjadi sesuatu dengan Rajendra.
Ana dan Ben menganga tidak percaya saat melihat kamar Rajendra begitu sangat berantakan sekali.
"Rajendra apa yang terjadi?" tanya Ben dengan tegas yang membuat Rajendra langsung menghentikan gerakannya untuk membanting vas bunga yang sudah ada di tangannya.
"Nak, tenangkan diri kamu. Jangan seperti ini karena Mama tidak pernah melihat kamu seperti ini sebelumnya," ujar Ana dengan takut dan mencoba menenangkan Rajendra.
Rajendra duduk di pinggir kasur dengan mengusap wajahnya dengan kasar. "Pa, Ma, dugaan aku selama ini tentang Cassandra tidak ada yang meleset. Cassandra ingin menguasai harta kita dan menghancurkan kita," ujar Rajendra dengan mata menatap ke arah depan dengan sangat tajam.
"Brengsek! Tidak anak, tidak ibunya sama saja. Sama-sama gila harta," ujar Ben dengan tajam.
"Tenang, Mas. Aku tidak mau darah tinggi kamu kambuh," ujar Ana mengelus dada suaminya.
Ben menghela napasnya dengan pelan. Ketiganya terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Dan Rajendra mendengarkan semuanya saat di rumah sakit tadi, Pa. Tante Clara sudah sembuh dari depresinya, dia sengaja berpura-pura gila untuk membuat semua orang percaya jika dia depresi sampai sekarang. Karena itu adalah sebuah rencananya dengan Cassandra untuk menghancurkan kita," ujar Rajendra yang membuat Ben dan Ana tidak habis pikir dengan Cassandra.
"Seharusnya Cassandra di didik dengan baik oleh Rio. Apa jangan-jangan Rio juga ikut andil dalam rencana mereka?" ucap Ben dengan datar.
"Aku rasa tidak, Pa. Om Rio tidak mengetahui soal ini, hanya tante Clara dan Cassandra yang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan keluarga kita. Tapi sebelum mereka menyentuh keluarga kita, aku yang terlebih dahulu yang akan menghancurkan mereka berdua. Cassandra sengaja mendekati aku agar ia bisa masuk ke keluarga ini, Pa. Pa, Ma, aku ingin memberikan pelajaran untuk Cassandra. Biarkan aku menikah dengannya, aku ingin membuat Cassandra sadar dengan apa yang ia lakukan, tidak ada yang bisa bermain-main dengan Rajendra Danuarta," ujar Rajendra dengan sangat tajam, ia juga meminta izin kepada kedua orang tuanya soal ia yang akan menikahi Cassandra demi membuat gadis itu menderita.
"Nak, pernikahan bukan sesuatu hal yang harus di permainkan Mama tidak setuju kamu menikah dengan Cassandra lebih baik kamu mencari gadis yang kamu cintai untuk kamu jadikan istri, Nak!" ucap Ana yang tidak setuju dengan ide anaknya karena pernikahan bukan sesuatu yang harus di permainkan.
__ADS_1
"Mama tenang saja. Pernikahan ini tidak akan berjalan lama karena aku ingin Cassandra mendapatkan karma yang setimpal," ujar Rajendra menenangkan ibunya.
"Mas, tolong cegah Rajendra!" ucap Ana dengan memohon.
Ben menghela napasnya dengan kasar. "Papa setuju!" ucap Ben yang membuat Ana terkejut.
"Mas, kamu kok mendukung anak kamu untuk mempermainkan pernikahan sih?" tanya Ana dengan kesal.
"Ini demi keluarga kita, Sayang. Bekerjasamalah untuk membuat manusia ular itu sadar," ujar Ben dengan tegas.
"Tapi tidak dengan mempermainkan pernikahan, Mas! Aku ingin anak-anak kita hanya menikah sekali se-umur hidup! Aku tidak mau anak-anak kita mengikuti jejak kamu," ujar Ana dengan tajam.
"Mama tenang dulu. Aku juga ingin menikah sekali se-umur hidup tetapi kita harus memberikan pelajaran untuk Cassandra jika apa yang dia lakukan adalah kesalahan yang besar. Cassandra ingin menghancurkan keluarga kita Ma. Apa Mama akan diam saja jika keluarga kita hancur karena perbuatan Cassandra dan tante Clara? Tidak kan, Ma. Ini juga yang sedang aku lakukan, Ma. Aku sedang berusaha melindungi keluarga kita dari manusia busuk seperti mereka," ujar Rajendra memberikan penjelasan untuk mamanya agar mengerti jika ia sedang melindungi keluarga mereka.
"Sayang, Mas tahu pernikahan itu bukan untuk sesuatu yang harus di permainkan. Tetapi untuk sebuah pengorbanan kita harus melakukannya. Mas juga tidak ingin Rajendra seperti Mas yang harus menikah beberapa kali tetapi kita juga tidak bisa membiarkan Cassandra dan Clara bersenang-senang, Sayang!" ujar Ben memegang tangan Ana.
Ana tampak diam. Apakah tidak ada cara lain selain menikah? Ana ingin anaknya menikah dengan gadis yang Rajendra cintai begitu pun sebaliknya. Ana memijat pelipisnya, sebagai seorang mama, Ana ingin yang terbaik untuk anaknya tetapi mengapa jadi seperti ini.
"Pa gimana ini?" tanya Rajendra dengan bingung.
"Urusan Mama biar Papa yang urus. Mama hanya perlu waktu untuk menerima semuanya. Tetap dekati Cassandra dan setelah dia benar-benar percaya ajak dia menikah. Papa ingin pernikahan kalian akan menjadi neraka untuknya karena telah bermain-main dengan keluarga kita," ujar Ben menepuk bahu anaknya dengan pelan.
"Pasti, Pa. Papa percayakan ini kepada Rajendra. Dan lihat permainan apa yang akan aku lakukan kepada Cassandra," ujar Rajendra dengan tersenyum miring.
"Ya sudah Papa mau ke kamar dulu. Mama harus di bujuk sebelum marahnya semakin besar. Kekacauan di kamar ini suruh pelayan yang membersihkan," ujar Ben dengan tegas.
"Iya, Pa!" sahut Rajendra dengan tersenyum tipis.
Setelah kepergian Ben amarah Rajendra kembali mencuat ke permukaan. Senyum licik tersungging di bibir Rajendra kali ini bahkan senyuman itu terlihat sangat menyeramkan sekali.
__ADS_1
"Kamu salah mencari lawan Cassandra!" gumam Rajendra dengan sangat dingin.
****
Ben memasuki kamarnya dengan langkah pelan, ia tahu saat ini Ana pasti sedang marah karena ia mendukung perbuatan anaknya. Dan benar saja saat ia melihat Ana, istrinya itu sudah berbaring dengan memunggungi dirinya.
Ben menghela napasnya dengan pelan, ia duduk di pinggir kasur dan memegang lengan istrinya dengan lembut.
"Sayang apa yang di lakukan Rajendra adalah sebuah pengorbanan besar. Dia rela berkorban untuk supaya keluarga kita tetap utuh, Mas sudah tua dan mungkin kapan saja bisa di ambil oleh Sang Maha Pencipta. Sikap Rajendra yang penuh dengan perlindungan membuat Mas tenang jika sewaktu-waktu Mas pergi meninggalkan kamu dan anak-anak," ujar Ben yang membuat Ana ingin berpura-pura tidur langsung membuka matanya.
"Mas ngomong apa sih? Aku tidak suka ya Mas ngomong seperti itu lagi," ujar Ana dengan ketus.
Ben tersenyum. "Oo ayolah, Sayang. Kamu bukan menikahi lelaki muda bahkan anak kita saja sudah dewasa itu menandakan jika Mas benar-benar sudah tua. Dukung saja perbuatan Rajendra asal itu baik dan tidak merugikan dia nantinya," ujar Ben dengan tenang walaupun ia tidak tega melihat mata istrinya berkaca-kaca saat ia selalu membahas soal kematian.
"Tapi aku tidak suka Mas bahas soal kematian! Yang aku inginkan Mas tetap sehat dan bersamaku terus," ujar Ana dengan lirih.
Ben tersenyum ia membawa sang istri ke dalam pelukannya. "Jadi, kamu setuju kan jika Rajendra menikahi Cassandra?" tanya Ben dengan pelan.
"Beri aku waktu, Mas. Mas jika nanti Rajendra menyesal telah memperlakukan Cassandra dengan buruk apakah kamu setuju jika Cassandra tetap menjadi menantu kita? Bagaimana jika nanti Rajendra malah mencintai Cassandra? Bagaimana nantinya jika Rajendra malah terjebak dengan permainannya sendiri? Bagaimana nanti jika Cassandra tetap menjadi Cassandra yang licik walaupun anak kita sudah mencintai Cassandra? Bagaimana Mas? Pikiran buruk itu terus menghantui aku yang membuat aku tidak tenang, Mas!" ujar Ana dengan sendu.
Ben sangat paham akan ketakutan istrinya saat ini. Ia mencoba menenangkan istrinya dengan mengelus punggung Ana dengan pelan.
"Kamu jangan berpikir terlalu jauh dulu, Sayang. Yang terpenting rencana Rajendra untuk membuat Cassandra menyesal berhasil. Dan setelah rencana itu berhasil di lakukan kita tinggal menunggu keputusan Rajendra nantinya," ujar Nen dengan lembut.
"Bagaimanapun aku tetap tidak tenang, Mas!" ucap Ana dengan gelisah.
"Lebih baik kita sekarang tidur. Jangan sampai kamu sakit karena memikirkan ini, Sayang!" ujar Ben membawa Ana untuk berbaring di sampingnya.
"Hufft... Aku berdoa yang terbaik untuk Rajendra, Mas!" ujar Ana memeluk suaminya.
__ADS_1
"Mas juga, Sayang!"