
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Rasa lelah bekerja membuat Sastra sedikit pusing dan sangat merindukan Citra yang sudah ia tinggalkan beberapa hari. Rasa bersalah menyusup kembali ke hatinya karena lagi dan lagi ia mengabaikan Citra karena pekerjaannya.
Dan hari ini Sastra ingin bertemu dengan Citra walaupun pekerjaannya belum usai. Ia dan yang lainnya belum bisa menemukan Roby yang menghilang tanpa jejak, sepertinya Roby sudah tahu jika kejahatan mereka akan terbongkar.
Tak jauh halnya dengan Sastra, Citra juga sangat merindukan Sastra. Suara ketukan pintu membuat Citra langsung berlari mendekat ke arah pintu, ia sudah yakin jika Sastra yang datang.
Senyuman Citra langsung lenyap ketika melihat Alex lah yang datang ke rumahnya. Ia bahkan sudah sangat berharap jika Sastra yang datang tetapi Citra langsung merasa sedih karena bukan Sastra yang ia rindukan yang datang melainkan Alex seseorang yang selalu mengejar dirinya sekaligus atasannya di kantor.
"Selamat pagi cantik!" sapa Alex yang langsung masuk ke rumah Citra seperti rumahnya sendiri.
Citra ingin mencegah Alex tetapi melihat Alex langsung duduk di sofa miliknya membuat Citra langsung menghela napasnya dengan pelan.
"Saya lapar. Bisa buatkan saya sarapan? Apa saja asal masakan kamu," ujar Alex dengan tersenyum.
"Di rumah Bapak apa pelayan tidak membuatkan sarapan?" tanya Citra dengan menautkan kedua alisnya.
"Saya sengaja tidak sarapan di rumah karena ingin sarapan di rumah kamu," ujar Alex dengan tersenyum.
"Ayolah buatkan saya sarapan. Cacing-cacing di perut saya sudah kelaparan," bujuk Alex yang membuat Citra menghela napasnya kembali.
Citra mengangguk dengan tak bersemangat bagaimanapun Alex adalah atasannya di kantor dan Citra tak enak hati jika menolak keinginan Alex.
"Sebentar, Pak!" ujar Citra dengan tak bersemangat karena bukan kehadiran Alex yang ia harapkan.
Alex mengangguk, ia memperhatikan Citra yang berjalan ke dapur. "Cantik sekali. Bagaimanapun caranya saya harus mendapatkan Citra. Kemarin boleh gagal tetapi hari ini tidak akan gagal lagi," gumam Alex dengan menyeringai.
Satelah merasa Citra sudah berada di dapur Alex berdiri dari duduknya, ia berjalan menghampiri Citra yang berada di dapur dengan perlahan.
Alex memperhatikan Citra yang sedang sibuk mempersiapkan bahan masakan. Ia menelan ludahnya dengan kasar saat Citra begitu seksi di matanya yang membuat Alex terangsang dan bergairah. Alex memandang tubuh Citra dari belakang, dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Shitt... Citra sangat seksi sekali Alex. Bagaimana mungkin kamu melewati kesempatan ini? Di rumah ini hanya ada kamu dan Citra," gumam Alex di dalam hati.
__ADS_1
Alex menyeringai dengan melangkah perlahan mendekati Citra. Semakin dekat dengan Citra, Alex semakin merasakan wangi parfume yang di pakai Citra. Alex memejamkan matanya, menikmati wangi parfume Citra hingga ia membuka mata, jarak antara dirinya dengan Citra sudah sangat dekat, di matanya juga sudah terlihat gairah yang semakin meninggi bahkan tonjolan di bawah pada miliknya tidak bisa di sembunyikan lagi. Setan yang ada di tubuh Alex kian berbisik, menyuruh lelaki itu untuk segera memiliki Citra.
Alex dengan perlahan memeluk Citra dari belakang yang membuat Citra begitu terkejut.
"Apa-apaan ini, Pak?" tanya Citra berusaha melepaskan diri dari pelukan Alex.
Tonjolan yang sangat keras membuat Citra begitu takut, ia berusaha melepaskan pelukan Alex di tubuhnya. Namun, tenaganya tetap kalah dengan tenaga Alex yang sangat besar.
"Lepas, Pak. Saya bisa saja berteriak agar semua orang tahu kelakuan Bapak!" ujar Citra dengan sangat takut.
Alex menyeringai. "Teriak saja dengan kuat, Citra. Tidak ada satu orang pun yang datang ke rumah kamu. Di sini hanya kita berdua, Sayang. Kita bisa bersenang-senang terlebih dahulu. Kamu merasakan milik saya yang sudah bangun, kan? Dia sudah sangat ingin merasakan milik kamu, Citra!" ujar Alex dengan serak.
"Jangan kurang ajar kepada saya, Pak. Lepaskan saya!" ujar Citra dengan emosi.
"Haha... Saya sudah cukup sabar selama ini Citra. Dan sekarang saya sudah tidak sabar lagi ingin memiliki kamu secepatnya di hidup saya," ujar Alex mencium leher Citra yang membuat Citra mengepalkan kedua tangannya.
"Brengsek! Lepas, Pak!" ujar Citra yang berusaha melepaskan diri.
"DIAM!" teriak Alex yang membuat Citra terkejut sekaligus takut dengan kemarahan Alex saat ini.
"Jangan sok jual mahal dengan saya, Citra. Saya akan memberikan apa yang kamu mau asal kamu mau menikah dengan saya. Tapi apa? Kamu selalu beralasan karena masih trauma dengan masa lalu kamu. Dan sekarang kesabaran saya sudah sangat menipis, mungkin dengan cara seperti ini saya bisa memiliki kamu," ujar Alex dengan tajam.
Alex menatap tajam ke arah Citra. "Karena hanya kamu yang saya inginkan, Citra. Saya tidak peduli dengan wanita lain," ujar Alex dengan tajam.
"Sekarang kamu harus menjadi milik saya!" ujar Alex membalikkan tubuh Citra dengan paksa.
Citra mundur ke belakang. Namun sayang, tubuhnya menabrak meja kompor miliknya. Ia benar-benar ketakutan sekarang melihat wajah Alex yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Alex mencium bibir Citra dengan paksa. Citra memberontak tetapi Alex mencengkram kedua pipinya dengan kuat hingga Citra meringis bahkan Alex menggigit bibir bawahnya yang membuat Citra berteriak dengan tertahan. Sungguh Citra sangat takut dengan Alex yang sekarang, pria itu tidak pernah kesetanan seperti ini dan sekarang Citra seakan tidak mengenali Alex lagi karena obsesi Alex kepada dirinya.
"Mmmttphhh..." Citra memukul dada bidang Alex dengan menangis bahkan dengan sangat tega Alex menarik bajunya dengan paksa hingga robek. Lelaki itu juga merem*s dadanya dengan kuat.
"DIAM DAN NIKMATI APA YANG SAYA LAKUKAN TERHADAP KAMU!" teriak menjabak rambut Citra dengan kuat.
Alex menatap Citra dengan bengis dengan kasar juga Alex menarik Citra hingga tubuh Citra membentur meja makan. Citra berteriak kesakitan dan menangis tetapi Alex seakan tidak peduli lagi dengan semua kesakitan yang ia rasakan.
"TOLONG!" teriak Citra dengan menangis.
__ADS_1
Alex menyeringai. "Tidak akan ada yang menolong kamu Citra! Kamu sudah menjadi milik saya!" ujar Alex dengan menyeringai.
"Silahkan berlari dari rumah ini tapi kamu sudah tidak bisa keluar, Citra. Semua pintu dan jendela rumah ini sudah saya kunci," ujar Alex dengan menyeringai saat Citra berusaha untuk kabur dari dirinya.
Citra sangat terkejut saat kunci rumahnya didepan ada di tangan Alex. Kapan Alex mengunci pintu rumahnya? Dengan sekuat tenaga Citra berlari dari Alex.
"Pak saya mohon jangan lakukan ini!" ujar Citra dengan menangis.
"Kenapa, Sayang? Kamu takut hamil? Saya akan bertanggungjawab jika kamu hamil," ujar Alex dengan menyeringai.
Alex berjalan ingin menarik Citra kembali tetapi dengan cepat Citra menghindar dan berlari.
"Haha... Sudah saya katakan kamu tidak bisa kabur dari saya, Citra!" ujar Alex dengan tawa yang sangat menyeramkan terdengar di telinga Citra saat ini.
Citra menggelengkan kepalanya. Bagi Citra, Alex berubah bak menjadi monster yang sangat menyeramkan.
"Argghhh..." Citra berteriak saat Alex berhasil menjambak rambutnya dengan kuat.
"Sudah cukup bermainnya. Sekarang waktunya kita bersenang-senang," ujar Alex dengan datar.
Alex mendorong tubuh Citra hingga terjatuh di sofa. Ia langsung menindih tubuh Citra dan mencium Citra dengan paksa.
"L-lepas...Hiks...hiks..."
Seakan tuli Alex tak lagi mendengarkan permohonan Citra yang meminta di lepaskan. Permohonan yang sangat menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya. Pakaiannya Citra sudah compang-camping skibat di robek oleh Alex.
"T-tolong!" teriak Citra dengan suara seraknya.
Plak...
Plak...
"DIAM!" teriak Alex dengan keras saat sudah berhasil menampar pipi Citra hingga berbekas.
Citra menangis dengan kencang, ia sudah tidak punya tenaga untuk memberontak. Jika Alex berhasil memperk*sanya, Citra akan bertekad untuk bunuh diri saat itu juga. Untuk spa ia hidup jika hanya di perlakukan keji seperti ini?
"Kamu milik saya Citra!" gumam Alex dengan menyeringai.
__ADS_1
Brakk....