
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Rania membuka pintu kamarnya dengan perlahan, ia masuk ke kamarnya dan tak melihat Ferdians ada di kamarnya. Gemericik air di dalam kamar mandi membuat Rania sedikit lega karena artinya Ferdians sedang berada di dalam kamar mandi.
Rania meletakkan tasnya di meja dan ia menunggu Ferdians dengan duduk di sofa, ia melihat ponsel Ferdians, ponsel suaminya masih ponsel lama. Bahkan bisa saja Ferdians membeli ponsel baru tetapi pria itu lebih memilih memberikan uang gajinya untuk dirinya.
Dengan penasaran Rania mengambil ponsel Ferdians, ia membuka ponsel tersebut dan ternyata sama sekali tidak di kunci oleh Ferdians. Rania tersenyum tipis saat melihat wallpaper ponsel Ferdians adalah foto pernikahan mereka bahkan di dalam foto tersebut sudah di edit tulisan yang membuat hati Rania menghangat.
"Semangat bekerja untuk membahagiakan Rania! I love you, Sayang!" gumam Rania membaca tulisan yang berada di foto pernikahan mereka.
Ceklek...
Rania meletakkan ponsel Ferdians kembali di tempatnya saat mendengar suara pintu terbuka. Ferdians menatap datar ke arah Rania, bahkan ia tidak menghampiri Rania melainkan langsung berganti pakaian.
"Mas!" panggil Rania dengan pelan tetapi tak ada sautan dari Ferdians.
Ferdians lebih memilih diam daripada ia melampiaskan emosinya kembali yang bisa saja membahayakan Rania dan kehamilannya. Setelah selesai berganti pakaian Ferdians langsung mengambil ponselnya tanpa melihat ke arah Rania sedikit pun.
Ferdians mengambil laptop miliknya, ia lebih baik bekerja di ruang tamu daripada berada di dalam kamar yang bisa saja menimbulkan perdebatan antara dirinya dan Rania kembali.
"Mas mau kemana?" tanya Rania dengan kesal karena Ferdians meninggalkan dirinya begitu saja.
Ferdians hanya melihat Rania dengan datar dan sangat sekilas. Lalu meninggalkan Rania di dalam kamar dengan keadaan yang tak bisa dijabarkan, Rania kesal dan juga sedih saat Ferdians diam seribu bahasa seperti ini.
Rania menghentakkan kakinya dengan kesal. Bagaimana sekarang keadaan terbalik seperti ini? Biasanya ia yang akan marah dengan Ferdians tetapi kali ini karena masa lalunya dengan Rio membuat Ferdians benar-benar marah kepada dirinya.
****
"Ferdians!" panggil Heera saat melihat anaknya duduk seorang diri di ruang tamu.
"Ibu kenapa belum tidur?" tanya Ferdians dengan lembut.
"Ibu belum ngantuk. Kamu sedang bekerja? Apa ada masalah di kantor ya?" tanya Heera menatap Ferdians dengan lembut.
__ADS_1
"Hanya banyak pekerjaan saja, Bu. Tidak ada masalah sama sekali," jawab Ferdians dengan lembut.
"Yang benar? Tetapi mengapa sewaktu pulang tadi wajah kamu begitu terlihat marah?" tanya Heera dengan penasaran.
"Tidak apa-apa, Bu. Ferdians hanya sedikit capek saja," jawab Ferdians dengan lembut.
Ferdians menatap ibunya, semakin hari tubuh ibunya semakin kurus. "Selama Ferdians bekerja Ibu baik-baik saja, kan?" tanya Ferdians dengan khawatir. Bagaimanapun ikatan batin ibu dan anak tidak bisa di bohongi.
"Ibu baik-baik saja, Nak!" jawab Heera dengan tersenyum agar Ferdians tidak khawatir dengan keadaan dirinya.
Padahal yang sebenarnya terjadi keadaan Heera semakin memburuk tetapi Heera sengaja mengatakan ke suster Ana agar tidak mengatakan kepada Ferdians maupun Rania, ia tidak mau uang Rania terpakai begitu banyak untuk pengobatannya.
"Ibu ke kamar dulu ya kamu jangan begadang kasihan Rania. Dia terlihat bersedih saat pulang ke rumah tadi," ujar Heera yang di angguki oleh Ferdians.
"Sedih? Dia sama sekali tidak bersedih, Bu! Bahkan dia sangat ingin bercerai dengan Ferdians!" gumam Ferdians di dalam hati.
"Iya, Bu. Istirahat ya, Bu. Jangan lupa minum obatnya," ujar Ferdians yang di angguki oleh Heera.
"Iya, Nak!" ujar Heera dengan tersenyum.
"Bu! Ya Allah, Ibu!" ucap Suster Ana dengan panik saat melihat Heera hampir saja terjatuh jika ia tidak menahan tubuh Heera tersebut.
"S-sakit sekali, Sus!" ujar Heera dengan terbata.
"Ibu berbaring dulu ya saya ambilkan obat Ibu!" ujar Suster Ana dengan panik.
Suster Ana membantu Heera berbaring dengan perlahan, ia lalu mengambil obat Heera yang lumayan banyak dan memberikannya kepada Heera dan membantu Heera untuk meminum air putih dengan perlahan.
Heera menahan rasa sakitnya yang sangat luar biasa bahkan darah keluar dari hidungnya dengan sangat banyak dengan sigap suster Ana langsung mengelap darah Heera dengan tisu.
"Saya panggil tuan Ferdians ya, Bu. Ibu harus dirawat di rumah sakit," ujar Suster Ana dengan cemas.
Heera menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Jangan, Sus. Sia-sia saja saya dirawat di rumah sakit karena bagaimanapun penyakit saya sangat sulit untuk di sembuhkan. Keadaan saya sudah membaik setelah meminum obat kok. Suster Ana tidak boleh mengatakan ini kepada Ferdians maupun Rania ya, saya tidak mau menjadi beban untuk keduanya," ujar Heera dengan lirih.
"Anda bukan beban, Bu. Terlihat sekali tuan Ferdians dan nona Rania sangat menyayangi anda," ujar Suster Ana yang membuat Heera tersenyum.
"Maka dari itu saya lebih memilih di rumah, biaya rumah sakit tidak murah, Sus!" ujar Heera dengan lirih.
__ADS_1
"Sus, tolong ambilkan tas saya ya!" ujar Heera yang di angguki suster Ana.
"Ini, Bu!" ujar Suster Ana memberikan tas Heera yang selalu ia dekap saat tertidur sebenarnya suster Ana juga penasaran tetapi ia tidak mungkin bertanya kepada Heera soal isi tas kecil tersebut.
Heera menerimanya dengan tersenyum, ia membuka resleting tas tersebut dengan pelan. Semakin hari Heera sangat merindukan seseorang yang saat ini jauh dari dirinya.
Heera mengambil selembar foto yang telah usang milik dirinya. Ia menatap foto tersebut dengan sangat kerinduan.
"Bu, itu Ibu dengan kedua bayi? Ibu punya anak kembar?" tanya Suster Ana dengan penasaran.
Heera menatap suster Ana dengan sendu. "Iya ini Ferdians dan kakaknya yang hanya beda 5 menit saja," jawab Heera dengan lirih.
"Lalu di mana kakak dari tuan Ferdians, Bu?Saya belum pernah melihatnya," ujar Suster Ana yang membuat raut wajah Heera semakin sedih.
"Maaf Bu saya banyak tanya. Tidak usah dijawab kalau itu membuat Ibu sedih," ujar Suster Ana merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Namanya Ferry, dia di bawa oleh mantan suami saya sampai sekarang saya tidak pernah bertemu dengan anak pertama saya. Sus, tolong jangan katakan ini kepada Ferdians ya, saya tidak mau dia berpikir macam-macam. Kenangan saya bersama dengan mantan suami saya sangat menyakitkan dan Ferdians hanya tahu jika suami saya yang kedua adalah papa kandungnya karena selama ini saya menyembunyikan ini dari Ferdians. Hati saya begitu sangat sakit saat mengingat kenangan itu, saat Ferry diambil paksa oleh mantan suami saya hanya tidak ingin membuat istri keduanya bersedih karena kehilangan anak mereka," ujar Heera dengan mata berkaca-kaca.
"Bu, tapi tuan Ferdians harus tahu papa kandungannya," ujar Suster Ana yang membuat Heera menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Saya tidak ingin kehilangan Ferdians seperti saya kehilangan Ferry, Sus. Saya tidak ingin mantan suami saya kembali mengambil Ferdians dari hidup saya. Untuk saat ini saya belum siap mengatakannya kepada Ferdians, jika waktunya sudah tiba saya akan jujur tapi tidak untuk sekarang," ujar Heera dengan lirih.
"Iya, Bu. Saya mengerti! Sekarang Ibu tidur ya!" ujar Suster Ana dengan lirih.
Heera mengangguk dan memejamkan matanya dengan memeluk foto tersebut.
"Sebenarnya masa lalu seperti apa yang membuat ibu Heera dan anak pertamanya terpisah? Dari cerita ibu Heera tadi berarti mantan suami ibu Heera mempunyai dua istri? Ya Tuhan... Kasihan sekali ibu Heera mungkin penyakitnya bertambah parah juga karena memikirkan ini, jahat sekali mantan suaminya," gumam Suster Ana dengan lirih.
****
Rania sejak tadi tidak bisa tidur karena Ferdians membelakangi dirinya, bahkan setelah kembali ke kamar Ferdians langsung tidur tanpa berbicara apapun kepada dirinya. Ternyata Ferdians jika marah lebih membuat Rania bingung dan juga bersedih dalam waktu yang bersamaan.
Rania menatap punggung Ferdians, terbiasa di peluk Ferdians saat tidur membuat Rania sama sekali tidak bisa tidur karena ada sesuatu yang kurang dalam dirinya. Kebiasaan Ferdians yang membuatnya bisa tertidur nyenyak tetapi kali ini Rania tidak merasakannya karena Ferdians benar-benar marah kepada dirinya.
Tangan Rania ingin menyentuh lengan Ferdians tetapi niat itu ia urungkan saat Ferdians bergerak semakin menjauh darinya. Apakah Ferdians mengetahui jika ia akan menyentuh lengan Ferdians?
"Aish... Kenapa aku jadi melow seperti ini saat mas Ferdians tidak peduli denganku? Bukankah seharusnya hal seperti ini yang terbaik? Argghh... aku tidak suka dia mengabaikan aku seperti ini!"
__ADS_1