Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 34 (Hal Yang Aneh)


__ADS_3

...📌Jangan lupa ramaikan part ini dengan like, vote, dan komentar yang banyak ya!...


...Happy reading...


****


Rania mengerjapkan matanya dengan perlahan, ia sadar jika sudah ketiduran di sofa ketika mengecek laporan yang Sastra kirim untuknya. Tetapi mengapa ia sekarang sudah berada di kamar pribadinya? Rania menghela napasnya dengan pelan karena pasti Ferdians lah yang membawanya pulang ke rumah atas bujukan ibunya, padahal Rania masih ingin menemani mertuanya itu.


Rania mulai bangun dengan perlahan. Dan matanya tak sengaja melihat kertas kecil di atas nakal di samping ponselnya.


Sayang maaf aku tidak bisa menunggumu sampai bangun tidur. Aku harus kembali ke rumah sakit untuk menemani ibu, aku harap kamu tidak marah ya. Sebelum larut malam aku sudah pulang! Jangan merindukanku ya!


Rania tersenyum tipis saat membaca memo dari suaminya. Namun, Rania tersadar dan langsung menepuk pipinya dengan pelan.


"Jangan menjadi gila hanya karena membaca memo dari Ferdians, Rania! Kamu kenapa sih? Sepertinya kamu sangat aneh hari ini?" ujar Rania dengan bingung kepada dirinya sendiri.


"Aku ingin mangga muda," gumam Rania dengan pelan.


Rania merapikan rambutnya, ia berniat turun ke bawah dan mencari keberadaan Liam dan yang lainnya. Setelah dirasa sudah rapi Rania berjalan ke arah pintu dan keluar dari kamarnya.


"Liam!" panggil Rania dengan keras.


"Liam kemarilah!" teriak Rania tak sabaran.


"Iya, Nona!" balas Liam berlari dengan tegas ke arah Rania yang sudah menunggu dirinya.


"Saya ingin mangga muda yang dipetik langsung dari pohonnya," ujar Rania yang membuat Liam dan anak buahnya yang lain merasa heran karena tak biasanya Rania meminta hal yang aneh seperti ini.


"Ini belum musim mangga, Nona. Mungkin sangat sulit untuk mencarinya," ujar Li yang memantik amarah Rania.


"Saya tidak mau tahu kalian semua harus mencari mangga muda yang langsung di petik dari pohonnya," ujar Rania dengan tegas.


"Kalau kalian tidak mendapatkannya siap-siap hukuman menanti kalian semua!" ujar Rania dengan dingin.


Liam saling pandang dengan anak buahnya yang lain. Mereka sama sekali tidak mengerti dengan Rania sekarang, karena biasanya nona mereka tidak pernah memakan mangga muda seperti itu. Aneh sekali bukan?


"KENAPA KALIAN MALAH DIAM? CEPAT CARI SEBELUM JAM 9 MALAM!" teriak Rania yang membuat Liam dan lainnya sigap.


"Siap Nona saya dan yang lainnya akan mencari mangga muda tersebut," ujar Liam dengan tegas.


"Ricard!" panggil Rania dengan datar.


"Iya, Nona!" jawab Ricard dengan tegas.


"Saya mau kamu videokan Liam yang sedang manjat naik pohon mangga! Harus dapat video saat Liam metik mangga!" ujar Rania yang membuat Liam menelan ludahnya dengan kasar.


"Mati kamu Liam!" umpat Liam di dalam hati.


"Baik, Nona!" ujar Ricard dengan menahan tawanya.

__ADS_1


"Cepat pergi kalian!" ujar Rania dengan tegas.


"Siap, Nona!" ujar pengawal Rania dengan tegas.


Ada orang yang pergi bersama sedangkan yang lainnya berjaga di rumah. Rania duduk di sofa dengan perasaan bosan dan menunggu mangga yang ia inginkan, harus segar dan dari pohonnya langsung.


"Nona mau saya pijat?" tanya pelayan di rumah Rania dengan sopan saat menghampiri Rania yang sedang terlihat lelah.


"Boleh!" ujar Rania dengan datar karena memang ia juga merasa lelah dengan tubuhnya akhir-akhir ini.


"Saya sudah lama berada di rumah?" tanya Rania.


"Sudah satu jam lebih, Nona. Tuan Ferdians membawa anda dalam keadaan tidur, setelah itu tuan kembali pergi ke rumah sakit. Ia berpesan agar anda di rumah saja untuk beristirahat," jawab pelayan dengan pelan.


"Nona!" panggil Sastra saat masuk ke rumah Rania.


Sastra terlihat sangat bingung karena biasanya Liam dan Ricard berada di dalam sedang berjaga tetapi kali ini hanya ada anak buah liam saja.


"Hmmm..."


"Dimana Liam dan juga Ricard, Nona? Saya tidak melihat kehadiran mereka di rumah ini?" tanya Sastra yang sedang penasaran.


"Liam, Ricard, Nico sedang mencari buah mangga muda yang langsung di petik dari pohonnya," jawab Rania dengan santai.


"Mangga muda? Sepertinya untuk sekarang sangat susah mencari mangga muda, Nona. Karena belum musim mangga untuk berbuah jikalau ada pun itu hanya bebeberapa," ujar Sastra menjelaskan tetapi kembali membuat Rania mendelik kesal.


"Saya tidak mau tahu Liam harus mendapatkan mangga itu. Kamu susul Liam dan pastikan mangga muda yang saya inginkan ada," ujar Rania dengan dingin.


"Sastra kenapa diam saja? Kamu mau saya hukum?" tanya Rania dengan sengit.


"Baik Nona saya akan menyusul Liam dan juga Ricard," ujar Sastra dengan patuh.


"Bagus! Jangan kembali sebelum kalian mendapatkannya!" ujar Rania dengan tegas.


"Baik, Nona!"


Sastra berjalan ke luar rumah Rania dengan wajah yang tertekan tetapi ia tidak bisa menolak perintah dari Rania. Hal yang sangat aneh terjadi pada nona-nya dan itu sangat membingungkan semua orang.


"Ada apa dengan nona Rania? Apa nona sedang mengidam? Nona hamil?" monolog Sastra dengan heran dan juga penasaran.


****


Liam, Ricard, dan juga Nico sudah menyusuri rumah orang-orang yang terdapat pohon mangga tetapi tidak ada satupun yang berbuah, rata-rata pohon mangga tersebut masih berbunga.


"Bagaimana ini? Yang ada masih bunga mangga mana mungkin kita memerik bunga mangga," ujar Liam dengan frustasi.


"Kita sudah tiga puluh menit di luar dan mangga muda yang nona Rania inginkan belum dapat juga," ujar Ricard dengan frustasi.


"Hari ini nona Rania sangat aneh sekali!" ujar Sastra yang ikut merasa pusing. Ya Sastra sudah berhasil bergabung dengan liam dan yang lainnya setelah menelepon Liam.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita beli saja terus buahnya kita lengketkan di pohonnya. Dan kita buat video yang seperti nona Rania inginkan," ujar Nico memberikan ide.


Sastra, Liam, dan juga Ricard terdiam. Ada benarnya juga tetapi pada Rania akan tanda buah yang baru di petik dan buah yang sudah berhari-hari di petik.


"Jangan menggali kuburan sendiri, Nico! Bisa bahaya jika nona Rania tahu. Kepala kita bisa di penggal olehnya," ujar Liam yang tak setuju.


"Benar kata Liam! Pasti nona Rania akan tanda dengan buah mangga yang baru di petik ataupun tidak," ujar Ricard.


"Jadi bagaimana?" tanya Nico.


"Kita harus mencarinya sampai dapat!" ujar Sastra, Liam, dan juga Ricard.


Nico menghela napasnya. "Lebih baik aku bekerja berjam-jam dari pada harus mencari buah mangga di saat tidak musim begini," ujar Nico mengeluh.


"Telepon saja tuan Ferdians, mungkin tuan tahu dimana ada mangga yang sedang berbuah," ujar Ricard.


"Benar. Mungkin saja nona Rania sedang mengidam dan tuan Ferdians harus ikut andil dalam masalah ini," ujar Liam yang di angguki oleh Sastra.


"Saya telepon tuan Ferdians dulu!" ujar Sastra yang di angguki oleh yang lainnya.


[Halo, Tuan!] sapa Sastra saat Ferdians sudah mengangkat teleponnya.


[Ada apa, Sastra? Apa terjadi sesuatu di rumah?] tanya Ferdians dengan cemas.


[Bisa di bilang begitu, Tuan!] jawab Sastra yang semakin membuat Ferdians cemas.


[Katakan ada apa?]


[Nona Rania tiba-tiba meminta sesuatu kepada Saya, liam, Ricard, dan Nico untuk mencari mangga muda yang langsung di petik dari pohonnya, Tuan. Nona juga meminta Ricard memvideokan saal Liam mengambil mangga muda tersebut. Yang membuat kami hampir frustasi saat ini karena rata-rata pohon mangga di perkarangan rumah orang masih berbunga, Tuan. Dan kami harus mendapatkannya sebelum jam 9 malam," ujar Sastra yang terlihat tertekan saat menjelaskannya kepada Ferdians.


Hening....


Diseberang sana Ferdians hanya diam yang membuat Sastra dan lainnya sangat menunggu.


[Tuan, tolong kami karena kami tidak tahu lagi dimana harus mencari mangga muda tersebut]


Terdengar helaan napas dari Ferdians di seberang sana. Ia juga heran apa yang terjadi dengan istrinya.


[Rania tadi meminta bakso mercon dan es kelapa muda. sekarang meminta mangga muda yang langsung di petik dari pohonnya. Saya mulai curiga jika dia sedang hamil, kalau begitu dimana lokasi kalian biar kita mencari bersama, sebagai calon ayah saya tidak akan kehilangan kesempatan ini]


[Baik, Tuan. Saya akan sherloc sekarang juga] ujar Sastra dengan lega karena setidaknya ada Ferdians yang membantu mereka.


"Bagaimana?" tanya Liam dengan penasaran.


"Tuan Ferdians akan menuju ke sini. Beliau curiga jika nona Rania sedang hamil, jadi tuan tidak ingin kehilangan kesempatan ketika nona sedang mengidam," ujar Sastra.


"Itu artinya tuan Ferdians akan membantu kita, kan?" tanya Ricard.


"Benar!"

__ADS_1


"Jika benar nona Rania hamil aku berharap dia tak lagi menyeramkan setelah ini," gumam Liam yang di angguki Sastra dan yang lainnya.


"Ooo mangga muda dimanakah kamu berada?" tanya Nico dengan frustasi.


__ADS_2