Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 197 (Pernikahan Rajendra & Cassandra)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Dua bulan kemudian....


Sudah dua bulan berlalu dan hari ini adalah hari di mana Cassandra dan Rajendra akan melangsungkan pernikahan mereka. Rajendra memang mengadakan pesta pernikahannya dengan Cassandra dengan sangat mewah agar tidak ada yang curiga dengan pernikahan yang sudah ia atur untuk menyiksa Cassandra agar gadis itu sadar dengan kesalahannya.


Cassandra tersenyum sinis saat beberapa menit lagi ia akan menjadi istri dari Rajendra. Semakin hari sisi baiknya semakin tertutup dengan dendam, yang membuat Cassandra semakin terlihat seperti gadis yang tak punya perasaan. Dan mungkin saja benar, hanya karena dendam mengubah seluruh pribadi Cassandra.


"Sebentar lagi aku akan menjadi istri dari Rajendra Danuarta. Itu artinya semakin dekat aku dengan kekayaanku dan kehancuran keluarga Danuarta," gumam Cassandra dengan menyeringai.


"Cassandra!" panggil Anjani dengan tersenyum.


Cassandra melihat ke arah bundanya dengan tersenyum. "Iya, Bun" sahut Cassandra dengan lembut.


"Rajendra dan keluarganya sudah datang, ayo kita menemui Rajendra dan keluarganya karena sebentar lagi akad nikah kamu dan Rajendra akan segera di mulai," ujar Anjani dengan memegang pipi Cassandra dan mengusapnya dengan perlahan.


Tak lama Olivia datang ke kamar Cassandra dan Rajendra. Ya akad nikah mereka di adakan di hotel mewah ini, dan kamar ini nantinya akan di tempati Rajendra dan Cassandra.


"Dek, kamu cantik banget!" ujar Olivia dengan tersenyum.


"Terima kasih, Kak. Kakak juga cantik banget pagi ini!" ujar Cassandra dengan tersenyum tipis. Entah ucapan itu tulus atau tidak tetapi dari tatapan Olivia, ia menatap adiknya dengan penuh kasih sayang yang bisa di rasakan oleh Cassandra tetapi Cassandra mencoba mengelak perasaannya, ia tak boleh goyah hanya karena tatapan Olivia, rencananya harus berhasil.


Cassandra di apit oleh Anjani dan juga Olivia untuk menuju di mana akad nikah di adakan. Akad nikah yang di adakan di gedung paling atas dengan dekor yang sangat mewah.


Sedangkan Rajendra sudah duduk di hadapan penghulu yaitu wali hakim yang akan menikahkan Cassandra dengan dirinya karena tak mungkin Roby datang ke tempat ini, itu sama saja Roby bunuh diri.


Dari kejauhan Bunga dan Rini melihat Rajendra, setelah pertemuannya dua bulan lalu dengan Rania dan Ferdians, Bunga tak lagi bisa berkutik. Ia seakan menjadi babu yang siap Rajendra perintah kapan saja.


"Kok sedih sih? Apa kamu suka sama tuan Rajendra?" tanya Rini dengan berbisik.


"A-aku tidak sedih. Aku hanya ingin menikah dengan dekor mewah seperti ini," ujar Bunga dengan memaksakan senyumannya.


"Aku do'akan juga kamu mendapatkan lelaki baik dan kaya tentunya karena pernikahan mewah seperti ini juga harus punya biaya yang cukup besar," ujar Rini dengan terkekeh yang membuat Bunga juga ikut tersenyum.


"Eh nona Cassandra sudah datang. Wah cantiknya," ujar Rini yang membuat Bunga langsung melihat ke arah Cassandra.


Bunga menatap Cassandra dengan tidak berkedip, jika ia tahu Cassandra adalah kakaknya mungkin kesedihan Bunga akan bertambah. "Iya nona Cassandra sangat cantik," gumam Bunga dengan lirih.


Cassandra berjalan mendekat ke arah Rajendra dengan di bantu bunda dan kakaknya. Akhirnya Cassandra sudah duduk berdampingan dengan Rajendra. Cassandra menatap Rajendra dengan tersenyum, namun Rajendra hanya membalas dengan senyum terpaksa.


"Sudah bisa di mulai?" tanya penghulu dengan tegas.

__ADS_1


"Sudah, Pak!"


Tangan Rajendra sudah menjabat tangan penghulu dengan erat, hanya tinggal beberapa detik lagi Cassandra akan mencapai gerbang penderitaannya sendiri. Suara ijab kabul sudah terdengar dengan sangat lantang, acara sakral ini sama sekali tidak berarti apa-apa untuk Rajendra hingga suara sah terdengar dengan keras yang membuat Cassandra akhirnya merasa bahagia.


"Selamat datang di neraka yang kamu ciptakan, Cassandra. Aku siap menjadi orang yang pertama menyaksikan penderitaan kamu dan juga orang yang akan menyiksa kamu nantinya," gumam Rajendra di dalam hati.


Semua orang yang tahu rencana Rajendra hanya tersenyum sinis ke arah Cassandra. Berbeda dengan Rio, Anjani, dan Olivia yang tidak tahu apa-apa. Mereka malah merasa bahagia dengan pernikahan Cassandra dan Rajendra karena mereka yakin Rajendra akan menjaga Cassandra dengan baik, tetapi nyatanya Rajendra adalah orang yang pertama yang akan membuat Cassandra benar-benar terpuruk.


Rajendra dan Cassandra saling memasangkan cincin satu sama lain. Tanpa Rajendra ketahui Bunga memalingkan wajahnya saat Rajendra mencium kening Cassandra. Selama dua bulan sering bertemu entah mengapa Bunga merasa berbeda dengan hatinya, jantungnya tiba-tiba berdetak dengan sangat kencang saat Rajendra menatapnya, bukan berdetak karena takut tetapi ada rasa yang berbeda yang Bunga saja tidak tahu mengapa dirinya seperti itu.


"Rin ayo ke sana saja. Acara ijab kabul sudah selesai aku lapar," ujar Bunga memegang perutnya dengan tersenyum.


"Oo iya boleh, aku juga sudah lapar!" ujar Rini dengan tersenyum.


****


Cassandra melihat Rajendra yang ada di sampingnya. Keduanya sudah duduk di pelaminan tetapi wajah Rajendra tak seperti biasanya, namun Rajendra tetap harus tersenyum saat para tamu mulai berdatangan untuk memberikan selamat untuk dirinya dan Cassandra. Jika boleh, Rajendra sudah pergi dari tempat ini saja. Rajendra sama sekali tidak merasa senang ia tidak sabar ingin membuat Cassandra menderita, acara ini terlalu lama untuk dirinya.


"Mas aku haus!" gumam Cassandra dengan pelan.


"Sebentar!" ujar Rajendra dengan malas dan ini kesempatan untuk dirinya tidak berdampingan dengan Cassandra.


Cassandra mengangguk, ia menunggu Rajendra mengambilkan minum untuk dirinya dengan tetap menyambut kedatangan para tamu yang memberikan selamat untuk dirinya.


"S-selamat atas pernikahannya, Tuan!" ucap Bunga dengan lirih.


Rajendra mendekat ke arah Bunga dan berbisik di telinga Bunga. "Setelah kamu tahu siapa Cassandra kamu tidak akan memberikan ucapan selamat seperti ini kepada saya. Oo iya tetap jalankan peran kamu dengan baik di tempat ini," ujar Rajendra dengan tajam. "Kamu lihat di sana siapa?" tanya Rajendra dengan dingin.


Bunga menatap ke arah yang di beri tahu Rajendra. "Papa!" gumam Bunga dengan syok.


"Saya bisa saja menangkap papa kamu sekarang juga tapi rasanya tidak seru jika belum bermain dengan dia. Kira-kira paket apalagi yang akan saya kirim ke papa kamu?" bisik Rajendra dengan sinis.


"J-jangan, Tuan. S-saya takut," ujar Bunga dengan memohon.


"Takut? Bunga, Bunga. Itu belum seberapa. Nanti kamu akan lihat kepala papa kamu yang menggelinding ke kaki kamu," bisik Rajendra yang membuat Bunga merinding dan saat ia ingin berbicara Rajendra sudah menjauh dari dirinya.


Dan sebelum ia ketahuan berada di sini oleh papanya lebih baik Bunga juga pergi tetapi ia akan tetap mengawasi papanya, ia takut papanya akan berbuat keributan di tempat ini.


"Papa kenapa menatap nona Cassandra seperti itu? Apa papa akan melukai nona Cassandra? Ini tidak bisa dibiarkan, jika papa berbuat kejahatan maka tuan Rajendra pasti akan marah besar dan akan menghukumku. Aku harus mengawasi papa," gumam Bunga di dalam hati.


Rajendra kembali ie pelaminan, ia memberikan minum kepada Cassandra. "Habiskan!" ujar Rajendra.


"Iya, Mas. Aku haus banget dari tadi tamu tidak berhenti-henti," ujar Cassandra dengan manja.


"Resiko menikah dengan Rajendra. Kamu akan lebih merasakan capek dari pada ini dan kamu akan meminta ampun nantinya ," ujar Rajendra dengan menyeringai dan penuh arti sedangkan Cassandra berpikir berbeda, ia pikir kata 'capek dan ampun' mengarah ke malam pertama mereka. Namun, nyatanya semua itu mengarah kepada penderitaan Cassandra nantinya.

__ADS_1


"Mas apaan sih? Malu tahu kalau di dengar orang," ucap Cassandra dengan malu-malu yang membuat Rajendra menyeringai.


Cassandra akui Rajendra memang tampan, dan pasti tenaga pria itu sangat besar. Kenapa ia menjadi gelisah menunggu malam pertama mereka. Dimana Rajendra akan mengajaknya bercinta untuk pertama kalinya.


Semua sesi acara pernikahan Rajendra dan Cassandra sudah selesai. Dan kini, Rajendra bersama dengan Cassandra sudah berada di dalam kamar mereka.


Cassandra sudah membayangkan malam yang cukup indah nantinya. Selain ia bisa menikmati harta Rajendra, ia juga akan menikmati tubuh Rajendra yang memang sayang jika harus dilewatkan.


"Kamu mandi duluan saja," ujar Rajendra dengan tegas.


"Tidak mau mandi bersama, Mas?" tanya Cassandra dengan menggigit bibirnya berniat untuk menggoda suaminya tetapi Rajendra sama sekali tidak tertarik untuk bercinta dengan Cassandra hari ini. Mungkin ia bisa memanfaatkan tubuh Cassandra untuk semakin menyiksa Cassandra. Tidak hanya tubuh, mental Cassandra juga ia siksa nantinya hingga Cassandra meminta ampun kepadanya.


"Tidak sabaran banget sih, Sayang. Aku takut khilaf di kamar mandi, ini pertama kalinya untuk kita berdua jadi aku harus memberikan kesan yang romantis, setelah itu barulah sesuka kita mau melakukannya di mana saja. Yang pasti akan membuat kamu puas, Sayang!" ujar Rajendra mengedipkan matanya yang membuat Cassandra benar-benar sangat malu.


"K-kalau begitu aku mandi duluan ya, Mas!" ucap Cassandra langsung berjalan ke kamar mandi dengan tergesah-gesah.


"Iya, Sayang. Mas tunggu ya! Jangan lama," ujar Rajendra dengan tersenyum yang membuat Cassandra semakin gugup.


"I-iya, Mas!"


Rajendra menyeringai dengan puas melihat ekspresi wajah Cassandra. "Dasar wanita penggoda, sangat persis dengan ibumu," gumam Rajendra dengan sinis.


Rajendra mengambil sesuatu dari saku jasnya, ia menatap benda di tangannya dengan sinis. Setelah itu ia masukkan ke dalam air minum dan nantinya akan ia berikan kepada Cassandra.


"Selamat menikmati kehidupan baru kamu, Sayang!" gumam Rajendra dengan terkekeh.


Rajendra berjalan ke arah sofa. Ia memainkan ponselnya dengan santai menunggu Cassandra selesai mandi.


Setelah 20 menit menunggu akhirnya Cassandra keluar dari dalam kamar mandi. Tampak sekali Rajendra sangat bosan menunggu Cassandra.


"Maaf aku lama ya, Mas!" ujar Cassandra dengan pelan.


"Tidak apa-apa, Sayang. Sekarang kamu minum dulu biar tambah segar. Banyak acara membuat tenggorokan kita kering bukan? Mas sudah minum juga tadi ini giliran kamu ya," ujar Rajendra memberikan gelas kepada Cassandra.


Cassandra menerimanya. "Aku memang haus, Mas. Terima kasih ya!" ujar Cassandra dengan tersenyum.


Rajendra memastikan Cassandra meminum air itu hingga habis. Cassandra sama sekali tidak curiga dengan Rajendra, ia meminum air putih itu hingga habis satu gelas. Setelah Rajendra memastikan Cassandra meminum air itu barulah Rajendra berjalan ke kamar mandi.


"Mas mandi dulu ya. Jangan tidur," ujar Rajendra yang di angguki oleh Cassandra.


Cassandra tersenyum ke arah Rajendra. Tiba-tiba saja matanya sangat berat sekali, berulang kali Cassandra menguap. "Kenapa aku ngantuk sekali," gumam Cassandra menutup mulutnya.


"Aku tidak boleh tidur," ujar Cassandra dengan pelan.


Namun, matanya semakin terasa sangat berat. Cassandra berjalan ke arah kasur dan akhirnya Cassandra tertidur dengan nyenyak karena Rajendra memang memasukkan obat tidur ke minuman Cassandra.

__ADS_1


__ADS_2