
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Ferdians tampak gelisah memikirkan kesehatan ibunya, setelah 2 hari dirawat di rumah sakit ibunya meminta pulang padahal ibunya masih terlihat sangat cemas bahkan Heera tak pernah mau ditinggalkan oleh Ferdians yang membuat Ferdians sangat heran sekaligus khawatir dengan keadaan ibunya.
Ferdians menatap ibunya yang sedang memeluk lengannya dengan erat, dengan mata terpejam ibunya memeluknya dengan erat.
Ferdians mengusap pipi ibunya dengan pelan. "Bu, sebenarnya apa yang terjadi sehingga ibu seperti ini?" gumam Ferdians dengan lirih menatap wajah ibunya yang pucat.
Ferdians tersenyum saat melihat istrinya datang ke kamar ibunya. Dengan memberikan kode menggunakan gerakan matanya Ferdians menyuruh istrinya mendekat.
"Kenapa, Sayang? Tadi kan kamu sudah tidur? Kenapa bangun hmm?" tanya Ferdians dengan pelan.
Rania cemberut, ia terbangun karena tak mendapati suaminya ada di sampingnya. Rania menjadi tidak bisa tidur dan akhirnya ia mencari Ferdians keluar kamar hingga ia bertemu dengan suster Ana dan wanita mengatakan jika Ferdians berada di kamar ibunya.
"Tidak bisa tidur!" jawab Rania dengan cemberut yang membuat Ferdians terkekeh.
Selama kehamilan Rania memasuki usia 5 bulan istrinya itu tidak bisa tidur ketika ia tidak memeluknya sampai pagi.
"Sini!" ujar Ferdians sedikit menggeser tubuhnya agar Rania bisa tidur di sebelahnya.
Rania langsung merebahkan dirinya di samping suaminya tetapi ia masih cemberut karena Ferdians tidak memeluknya.
"Peluk!" rengek Rania yang membuat Ferdians terkekeh sekaligus bingung. Ibu dan istrinya sama-sama tidak mau di tinggalkan.
Ferdians mencoba mengubah posisi tidurnya, ia memeluk istrinya dengan pelan agar Rania bisa tertidur. Rania tersenyum saat Ferdians memeluk dirinya, ia memejamkan mata saat Ferdians mengecup keningnya dengan lembut.
"Ibu tidak mau ditinggalkan, Sayang. Kita tidur di sini ya?!" ujar Ferdians dengan pelan.
Rania mengangguk kepalanya dengan pelan. "Tapi peluk!" ujar Rania yang membuat Ferdians terkekeh.
"Iya-iya bumil cantik! Mas akan peluk kamu sampai pagi tapi gantian sama ibu ya," ujar Ferdians.
"Iya, Mas!" jawab Rania dengan pelan.
Ferdians mengusap perut istrinya dengan pelan, keduanya sudah tidak bersuara lagi karena tak ingin menganggu tidur ibunya hingga Rania merasa sudah mulai mengantuk dan mulai memejamkan matanya karena elusan di perutnya yang membuatnya sangat nyaman.
__ADS_1
Cup...
Ferdians mengecup kening Rania dengan lembut kembali, sikap Rania yang seperti ini membuat Ferdians yakin jika Rania sudah mencintainya hanya saja Rania masih malu untuk mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya.
Setelah merasa istrinya sudah mulai nyenyak. Ferdians mencoba melihat ke arah ibunya, ia kembali menghela napasnya karena Ferdians merasa ada yang di sembunyikan ibunya darinya. Apakah ini menyangkut tentang Eric yang sangat mirip dengannya? Karena sejak Ferdians bertanya tentang Eric kepada ibunya, ibunya seperti tidak suka dan terlihat membenci orang bernama Eric tersebut.
"Bu, bisakah ibu jujur kepada Ferdians sekarang? Ferdians benar-benar bingung, Bu!" gumam Ferdians dengan lirih.
Heera mendengar semuanya karena sejak kedatangan Rania ke kamarnya Heera terbangun. Dan saat ini Heera merasakan sesak di hatinya. Mimpi saat Eric merebut Ferry darinya membuat Heera benar-benar takut, ia sangat takut jika Eric akan kembali merebut Ferdians dari dirinya, Heera menjadi seperti orang gila saat kehilangan anak pertamanya hingga datang seorang lelaki yang mengobati lukanya dan akhirnya menjadi suaminya. Heera beruntung bertemu lelaki tersebut hingga pada akhir lelaki yang menjadi pengganti Eric meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
"Ibu belum siap untuk mengatakan semuanya Ferdians. Jika ibu sudah siap ibu akan jujur ke kamu," batin Heera dengan pedih.
"Bu, apapun yang ibu sembunyikan dari Ferdians ketahuilah kesehatan ibu yang utama bagi Ferdians. Sehat ya bu karena sebentar lagi ibu akan memiliki cucu kembar, padahal di keluarga Rania maupun keluarga kita tidak mempunyai keturunan kembar kan ya? Tapi ini sebuah rezeki yang memang membuat Ferdians bahagia, Bu. Sebentar lagi Ferdians dan Rania akan menjadi orang tua dari anak kembar yang sangat lucu pastinya," gumam Ferdians dengan lirih.
"Bu, Ferdians peluk Rania dulu ya. Rania kalau tidak di peluk tidak bisa tidur," izin Ferdians kepada ibunya padahal dia tahu jika sang ibu masih tertidur.
Ferdians kembali memeluk Rania, ia tersenyum saat melihat pipi Rania semakin cabi saja. Tangan Ferdians menyusup masuk dari balik baju Rania, ia ingin memeluk anaknya tanpa penghalang baju Rania.
"Selamat tidur bumil! Selamat tidur twins kesayangan papa!" ujar Ferdians dengan lirih.
***
Pagi harinya...
Sedangkan Anjani menatap datar kepada dirinya yang sudah di rias. Seharusnya ini menjadi hari yang sangat membahagiakan untuknya tetapi bagi Anjani semua yang terjadi, pernikahannya dengan Rio adalah sebuah kesakitan untuk dirinya sendiri.
Seharusnya pernikahan ini memang tidak terjadi tetapi Anjani tidak ingin anaknya hidup tanpa seorang ayah. Biarlah pernikahan mereka tetap terlaksana untuk kehidupan selanjutnya Anjani akan berpikir keras pergi dari kota ini atau ajan tetap bertahan dengan Rio.
Anjani menatap dirinya dengan sinis. "Seharusnya dulu kamu tidak mencintai Rio karena dengan begitu kamu tidak akan merasakan sakit yang teramat sakit seperti ini," monolog Anjani menatap dirinya sendiri.
"Tapi semuanya sudah terjadi kenapa harus kamu sesali?" tanya Anjani pada dirinya sendiri.
"Anjani cepatlah turun Rio dan yang lainnya sudah menunggu!" ujar Ria kepada anaknya.
"Iya!" jawab Anjani dengan singkat.
Anjani berdiri dari duduknya, ia berjalan ke luar kamarnya karena pernikahan ini di rahasiakan oleh awak media maka pernikahannya dengan Rio akan terjadi dengan tertutup, tak ada yang mengetahui pernikahan ini selain orang yang hadir di pernikahan mereka. Untuk kesekian kalinya Anjani menghela napasnya dengan pelan.
Anjani menatap Rio dan orang-orang yang hadir di pernikahannya. Orang-orang tersebut adalah orang-orang yang ia kenal saja karena keluarga Danuarta Anjani kenal semua.
__ADS_1
Anjani duduk di samping Rio, bahkan lelaki itu enggan untuk menatap dirinya. Anjani tak masalah karena ia yakin setelah ini dan seterusnya ia akan merasakan hal menyakitkan itu.
"Sudah bisa di mulai?" tanya penghulu yang menjadi wali hakim Anjani.
"Sudah, Pak. Silahkan di mulai!" ujat Ben dengan tegas.
Rio dengan sangat malas menjabat tangan penghulu hingga ijab kabul terlaksana dan suara sah menggema di ruang keluarga milik Anjani.
Rania menatap saudara tiri dan sekretarisnya dengan bergantian. Ia berharap pernikahan Anjani benar-benar akan langgeng.
Rio menatap Anjani dengan tajam. "Jangan harap saya akan menganggap kamu dan anak itu!" ujar Rio berbisik di telinga Anjani yang membuat Anjani memejamkan matanya mencoba tak merasakan sakit atas ucapan Rio kepada dirinya.
****
Setelah pernikahan Rio dan Anjani telah usai Agni terlihat sangat kesal. Bagaimana bisa anaknya menikah dengan perempuan seperti Anjani? Ia tahu siapa Ria ibu dari Anjani tersebut karena Agni sedikit mengenalnya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, Ria tidak boleh bahagia dengan pernikahan ini!" ujar Agni dengan kesal.
Agni mendengar suara pintu terbuka ternyata Ben yang masuk ke kamar.
"Mas!" panggil Agni menghampiri Ben.
"Hmmm...."
"Kamu tahu tidak mama dari Anjani itu adalah wanita malam. Bagaimana bisa kamu menikahkan Rio dengan Anjani, Mas!" ujar Agni dengan frustasi.
"Mamanya Anjani yang wanita malam bukan Anjani, kan?" ujar Ben dengan entengnya.
"Ish... Kamu kenapa santai banget sih, Mas? Anak kita menikah dengan keluarga yang tidak baik-baik," ujar Agni dengan kesal.
"Lalu Rio lelaki yang baik? Jika dia baik dia tidak akan menghamili Anjani! Sudahlah saya tidak ingin ribut dengan kamu. Anjani itu wanita baik-baik, dia berbeda dari ibunya!" ujar Ben dengan datar yang membuat Agni langsung terdiam.
"Awas kamu, Mas! Aku tidak terima dengan ini semua!" gumam Agni di dalam hati.
"Mas..."
"Stop! Saya tidak mau mendengar apapun lagi dari kamu," ujar Ben kembali keluar dari kamarnya.
"Mas mau kemana?"
__ADS_1
"Pergi!"
"Mas Ben! Ishh.. Dasar brengsek!"