
...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya dengan like, vote, dan komentar yang banyak....
...Happy reading...
****
"A-APA? T-TIDAK!" teriak Sastra dengan takut bahkan detak jantungnya menggila karena ucapan Rania yang memintanya untuk meminum jus buah naga.
"Berani sekali kamu berteriak di depan saya Sastra?!" ujar Rania dengan tajam.
"M-maaf, Nona! S-saya hanya terkejut saja dengan perkataan Nona barusan," ujar Sastra dengan terbata.
"Terkejut? Kamu tidak mau meminum jus buah naga di hadapan saya?" tanya Rania dengan tajam dan matanya sedikit berkaca-kaca.
Sastra menangkap kesedihan di mata nona-nya menjadi tidak tega. Ia harus mencoba melawan rasa phobia terhadap buah naga. Dulu ia suka buah naga tapi karena dulu ia terkena duri-duri pohon buah naga saat ia sedang di kebun buah naga, Sastra menjadi trauma dan menjadi phobia dengan buah naga sampai sekarang. Bahkan rasa perih dari duri buah naga saat menancap di tangannya masih ia rasakan sampai sekarang.
"Saya mau, Nona!" jawab Sastra dengan tegas.
Sastra tidak tega membuat Rania bersedih. Hingga akhirnya Sastra duduk di hadapan Rania dan mengambil jus buah naga yang masih berada di kantong kresek.
Sastra mengambil selangnya dan menancapkannya di tempat buah naga. Dengan ragu ia meminum jus buah naga tersebut, saat jus tersebut sampai di tenggorokannya Sastra ingin muntah sekarang juga tetapi melihat wajah nona-nya Sastra terpaksa menelannya.
"Enak, kan?" tanya Rania yang membuat Sastra mengangguk.
"Iya, Nona!" jawab Sastra dengan pelan.
"Ayo makan! Jus buah naganya harus habis ya!" ujar Rania dengan tegas.
Sastra mengangguk dengan tertekan, rasa tak enak dari buah naga dan perasaannya yang sedang kacau membuat Sastra menjadi pusing sekarang. Tetapi Sastra tetap harus menemani Rania makan demi membuat hati Rania senang saat ini.
Rania memakan nasi lemak dan bebek gorengnya dengan lahap bahkan ia meminum jus buah naga di hadapan Sastra yang masih tertekan dengan buah naga.
"Jika bukan nona Rania yang memintanya aku tidak akan pernah meminum jus buah naga ini," gumam Sastra di dalam hati dengan tertekan.
"Shitt... Gara-gara aku melihat Citra dangan pria lain perasaanku menjadi tidak karuan seperti ini," ujar Sastra di dalam hati dengan tangan terkepal dengan erat.
"Minum lagi!" ujar Rania yang membuat Sastra tersentak.
"I-iya, Nona!" jawab Sastra dengan terbata.
Perut Sastra sudah sangat mual sekali. Ia sudah tidak tahan dengan jus buah naga yang sudah ia habiskan setengah.
__ADS_1
"N-nona, saya boleh jujur?" tanya Sastra dengan terbata.
"Apa?"
"Perut saya mual! Ternyata saya belum bisa menerima jus buah naga " ujar Sastra dengan jujur yang membuat Rania menghela napasnya.
"Ya sudah jangan dihabiskan!" ujar Rania dengan tegas.
"Ada yang lain? Sepertinya saya melihat ada yang aneh dari ekspresi wajah kamu," ujar Rania menatap Sastra. Ia memang sangat ingin melihat Sastra meminum jus buah naga si hadapannya tetapi melihat Sastra yang sepertinya tidak sanggup melawan phobianya membuat Rania menahan keinginannya. Ia kasihan juga dengan Sastra.
"Saya melihat Citra saat membeli jus buah naga, Nona. Dia sedang bersama dengan pria lain," jawab Sastra dengan jujur.
"Kamu tidak mengejarnya?" tanya Rania dengan tenang.
"Tidak. Karena dia sudah masuk ke dalam mobil," jawab Sastra dengan jujur.
"Kamu masih mencintainya?" tanya Rania menatap Sastra dengan serius.
Sastra terdiam. Ia tidak harus menjawab apa di hadapan Rania.
"Diamnya kamu saya anggap kamu masih mencintai Citra," ujar Rania dengan tegas.
"Maaf, Nona!" ujar Sastra dengan pelan.
"Kerja dan keluarga adalah dua hal yang sangat berbeda. Kamu mengorbankan keluarga kecil kamu demi bekerja dengan keluarga Danuarta dan mengabaikan Citra padahal kamu tahu Citra adalah anak yatim piatu setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Sastra, kamu bisa menyeimbanginya dari awal. Tapi kamu tetap fokus ke keluarga Danuarta, saya tidak menyalahkan kamu karena saya salut dengan kinerja kamu selama ini. Citra juga baik dengan saya, kami berteman sejak kamu menikah dengannya. Kalian hanya butuh waktu untuk bicara," ujar Rania dengan tegas.
Padahal rumah tangganya juga tidak seindah yang orang-orang bayangkan. Setelah kedua anaknya lahir mungkin ia dan Ferdians akan bercerai. Tetapi entah mengapa Rania ingin Sastra juga kembali dengan Citra walaupun mereka sudah lama berpisah.
"Saya yang salah di sini, Nona. Maafkan saya jika hari ini saya tidak fokus dan untuk buah naga ini saya benar tidak bisa meminumnya lagi," ujar Sastra dengan pelan karena perutnya sudah bergejolak sekarang.
"S-saya harus ke kamar mandi dulu, Nona. Perut saya sakit!" ujar Sastra berlari ke dalam kamar mandi di ruangan Rania.
Rania mendengkus kesal. "Padahal enak buah naga. Dia malah phobia! Aneh!" ujar Rania dengan ketus tetapi tetap asyik memakan nasi lemak dengan bebek goreng yang ia minta dengan Sastra.
****
Sastra pulang ke rumahnya setelah memastikan nona-nya pulang terlebih dahulu dengan Ferdians. Perutnya masih terasa tidak enak dan ini membuat Sastra tertekan, ia bersumpah tidak ingin memakan atau meminum apapun yang olahannya dari buah naga. Sungguh ini sangat menyiksa dirinya.
Mas Sastra tidak suka buah naga jadi Citra tidak akan memberikannya.
Mas tahu tidak? Mas adalah segalanya bagi Citra! Mas adalah napas Citra, jika tidak ada Mas pasti Citra sudah tidak sanggup berada di dunia ini. Sayang dan cinta sama Citra terus ya, Mas! Karena Citra cuma punya Mas di hidup Citra! I love, Mas Sastra!
__ADS_1
Mas Sastra akhir-akhir ini sibuk terus ya?! Citra sendirian takut, Mas! Mas bisa pulang cepat tidak? Citra mau di peluk.
Mas Sastra!
Mas Sastra!
"Arghhh..." Sastra berteriak dengan kencang dan mengacak rambutnya dengan kasar.
Prank....
Sastra melempar pas bunga yang ada di dekatnya hingga jatuh di lantai dan pecah. Perasaannya menjadi tidak tenang setelah tak sengaja melihat Citra ditambah lagi ia meminum buah naga.
"CITRA AKU MASIH BUTUH KAMU!" teriak Sastra dengan keras. Tak Da satupun yang mendengar suaranya bahkan saat Sastra menangis karena penyesalannya terhadap Citra pun tidak ada yang mengetahui sekarang betapa hatinya sangat kacau membayangkan jika Citra sudah bahagia dengan pria lain.
****
Ferdians melihat istrinya yang sudah terlelap di kasur setelah memeluk dirinya. Mungkin sudah menjadi kebiasaan Rania sekarang memeluk dirinya sebelum Ferdians mandi, bahkan istrinya itu tertidur dengan nyaman sambil menyembunyikan wajahnya di ketiaknya. Aneh memang tetapi entah mengapa Ferdians sangat suka.
Rania sedikit menggeliat di dalam tidurnya, tetapi matanya mengerjakan dengan perlahan yang akhirnya membuat Rania bangun dan menatap Ferdians.
Cup....
"Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Sastra, Sayang? Dia mengaku tidak bisa datang ke rumah karena perutnya terus terasa mulas," ujar Ferdians yang memang mendapatkan telepon dari Sastra tadi.
"Hanya menyuruhnya meminum jus buah naga. Ternyata Sastra masih phobia dengan buah naga padahal saya sangat ingin melihatnya minum jus buah naga," ujar Rania tanpa rasa bersalah.
Ferdians terkekeh dan memeluk Rania, ia menatap dalam ke arah Rania. Tangan yang tadinya berada di pipi Rania kini turun ke bawah dan menyelip di celana Rania.
Rania memejamkan matanya dengan perlahan saat jari Ferdians menyapu miliknya dengan pelan.
"Ahhhh..."
"Kenapa kamu jahil sekali hmm?" tanya Ferdians dengan gemas bahkan jemarinya juga aktif di bawah sana ia akan memuaskan Rania seperti perkataannya tadi.
"S-saya tidak tahu!" ujar Rania dengan napas yang memburu.
Rania melebarkan pahanya agar Ferdians dengan leluasa menyentuh miliknya.
"Sudah siap dengan servis yang akan aku berikan, Sayang?"
"Mas Ferdians jangan memainkan saya!" ujar Rania dengan serak.
__ADS_1
Ferdians tersenyum, ia mencium bibir Rania dengan pelan. Ia suka dengan Rania yang sudah terangsang seperti ini.
"Kamu semakin menggemaskan ketika hamil!" gumam Ferdians dengan tulus dan itu membuat kedua pipi Rania memerah.