
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...*****...
Cassandra menatap Rajendra yang sedang fokus bekerja, Faiz dan Olivia sudah menikah dan kini giliran ia yang ingin Rajendra menikahinya segera agar ia bisa mengusai harta Danuarta secepatnya dan menghancurkan keluarga Danuarta.
Cassandra berjalan mendekat ke arah Rajendra, ia merangkul Rajendra yang membuat Rajendra tersentak, ia tampak emosi namun setelah itu Rajendra berusaha menormalkan emosinya.
"Sayang sebentar Mas kerja dulu," ucap Rajendra berusaha untuk sabar. Namun, setelah ia berhasil menikahi Cassandra amarahnya yang ia pendam selama ini akan ia tumpahkan kepada Cassandra, lihat saja nanti.
"Mas kapan ke rumah ayah dan ibu?" tanya Cassandra mengalungkan kedua tangannya di leher Rajendra.
Cassandra mencium pipi Rajendra dengan pelan, ia menatap Rajendra dengan tersenyum. Rajendra menahan jijik saat Cassandra mencium pipinya.
"Kamu maunya kapan?" tanya Rajendra membelai pipi Cassandra dengan pelan.
"Maunya hari ini. Aku juga mau nikah seperti kak Faiz dan kak Olivia," ucap Cassandra dengan manja.
Rajendra menatap Cassandra, ia terkekeh dengan pelan. "Besok saja bagaimana? Setelah pernikahan Faiz dan Olivia, pekerjaan Mas menumpuk bukan? Kamu tahu sendiri itu, Sayang. Bagaimana setelah pulang kantor kita ke mall untuk beli baju dan perlengkapan lainnya. Kamu boleh beli apapun," ujar Rajendra yang semakin memancing Cassandra.
Tak apa untuk kali ini ia mengeluarkan uang untuk gadis ular yang memeluknya ini karena dengan begitu rencananya akan berjalan mulus. Kita lihat saja reaksi Cassandra setelah Rajendra mengucapkan itu, wajahnya benar-benar berbinar dengan ****** cerah.
"Apapun, Mas?" tanya Cassandra dengan memastikan bahkan ia begitu sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan mendapatkan yang ia mau.
"Ya apapun yang kamu mau. Mas akan melakukan apa saja untuk membahagiakan calon istri, Mas!" ujar Rajendra dengan memaksakan senyumannya.
"Terima kasih, Mas! Mas baik banget! Aku tidak salah memilih calon suami," ujar Cassandra dengan sangat bahagia.
Cassandra berpindah duduk di pangkuan Rajendra. Selama mereka menjadi sepasang kekasih Rajendra belum ada sama sekali menciumnya.
"Kenapa hmm?" tanya Rajendra yang merasa tatapan Cassandra begitu menginginkan dirinya, ia berpura-pura tidak tahu saja dan ingin melihat apa yang akan Cassandra lakukan kepada dirinya.
Desakan Cassandra untuk ia segera menikahi gadis itu memang suatu yang tepat untuk cepat membuat gadis itu menderita. Tetapi baru saja seminggu yang lalu ia melihat Faiz dan Olivia menikah, hatinya begitu masih sangat sesak. Jadi, Rajendra juga butuh waktu untuk menyembuhkan luka di hatinya sendirian.
Cup....
Rajendra sangat terkejut dengan aksi Cassandra yang menciumnya terlebih dahulu. Ingin sekali Rajendra mendorong gadis itu hingga jatuh karena sudah lancang mencium dirinya, tetapi lagi dan lagi Rajendra harus menahan amarahnya dan membiarkan Cassandra menciumnya.
Cassandra menggerakkan bibirnya dengan perlahan, ternyata berciuman rasanya sangat nikmat bahkan Cassandra sangat menikmati apa yang ia lakukan sekarang. Mungkin buah tidak jauh jatuh dari pohonnya adalah pepatah yang sangat tepat karena dulu juga Clara adalah wanita penggoda dan sudah tidur dengan pria sebelum menikah. Namun, beruntung bagi Cassandra karena ia hadir saat kedua orang tuanya sudah menikah, dan Cassandra sama sekali tidak tahu jika dulu mamanya adalah wanita seperti itu.
Rajendra menahan nafsunya yang tiba-tiba saja datang, sebagai seorang pria normal tentu saja ciuman Cassandra saat ini membangkitkan gairahnya. Rajendra membalas ciuman Cassandra dengan nafsu yang sudah sangat menggebu-gebu bahkan tangan Rajendra dengan nakal merem*s gunung kembar Cassandra. Jangan salahkan Rajendra karena Cassandra duluan yang memancingnya.
"Ahhh..." Cassandra mendes*h dengan pelan.
__ADS_1
Tangan Cassandra juga tak kalah nakalnya ia menyentuh milik Rajendra dari luar. Rajendra yang sadar langsung mendorong Cassandra dengan kasar hingga punggung gadis itu membentur meja.
"Awww..." Cassandra mengaduh kesakitan, ia meringis karena dorongan Rajendra begitu kuat hingga pinggiran meja mengenai punggungnya.
Rajendra menahan kekesalannya. "Maaf, Sayang. Aku tidak mau khilaf menyentuh kamu sebelum kita menikah," ujar Rajendra dengan lembut.
"Tapi ini sakit banget, Mas! Pasti punggung aku memar," ujar Cassandra dengan mata yang berkaca-kaca karena sungguh ini sangat sakit sekali. Cassandra tidak berbohong.
"Maaf ya, Sayang. Kita ke dokter saja ya," ujar Rajendra berpura-pura khawatir karena sebenarnya ia sudah sangat senang melihat Cassandra kesakitan seperti ini.
"Tidak usah, Mas. Aku tidak kenapa-napa," ucap Cassandra dengan pelan.
Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Rajendra. Mendapatkan perlakuan baik dari Rajendra membuat hati kecilnya terenyuh, tetapi Cassandra mencoba untuk mengelaknya karena ia harus membalaskan dendam mamanya selama ini.
Tangan Rajendra terkepal dengan sangat erat saat Cassandra sedang bermanja dengan dirinya. "Sabar Rajendra ini hanya sementara dan sebentar lagi kamu akan puas menyakiti wanita ular ini tanpa harus berpura-pura," gumam Rajendra di dalam hati. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa sebentar ini semua ini akan berlalu dengan cepat.
****
Cassandra benar-benar berbelanja dengan sangat banyak, yang membuat Rajendra menahan kekesalannya. Benar-benar gadis gila harta seperti mamanya, andai saja Rajendra tidak sedang berpura-pura mungkin ia sudah memaki-maki gadis ini dengan umpatan yang sangat kasar.
Mobil Rajendra sudah penuh dengan paper bag milik Cassandra semua. Jangan tanyakan belanjaan Cassandra habis berapa yang jelas nominal itu sangat besar. Dan benar-benar membuat Rajendra sangat kesal bahkan mamanya sendiri saja tidak pernah seboros ini ketika berbelanja, Rajendra tak masalah mengeluarkan uang banyak untuk gadis yang memang ia cintai. Namun, Rajendra sangat menyayangkan sekarang uangnya keluar hanya untuk menyenangkan gadis ular ini. Tapi tak apa yang terpenting nanti rencananya akan berjalan dengan mulus. Rajendra tidak sabar ingin segera menyiksa Cassandra hingga gadis itu menyesal telah dilahirkan di dunia dari rahim wanita seperti Clara. Lihat saja nanti, tak akan lama lagi.
*****
Olivia sudah kembali bekerja di perusahaan, semua karyawan sekarang menghormati dirinya yang membuat Olivia merasa sangat canggung sekali tetapi Faiz selalu mengatakan jika nanti dia akan terbiasa dengan sapaan sebagai nyonya Faiz.
"Masuk!" ujar Faiz dari dalam ruangan.
Olivia masuk dengan perlahan, walaupun ia sudah menjadi istri dari Faiz selama seminggu. Olivia tak berani nyelonong masuk begitu saja ke ruangan Faiz, ia menunggu Faiz menyuruhnya untuk masuk barulah Olivia masuk.
"Sayang, kok tidak langsung masuk saja?" tanya Faiz dengan tersenyum.
Selama beberapa jam bekerja saja sudah membuat Faiz merindukan istrinya. Sepertinya ia harus memindahkan meja kerja istrinya ke ruangannya saja. Bukankah itu ide yang sangat bagus? Karena dengan begitu Faiz semakin bersemangat untuk bekerja apalagi jika mendapatkan vitamin langsung dari istrinya.
"Tidak sopan, Mas!" jawab Olivia dengan lembut. "Mas ini sudah jam pulang apa kita tidak pulang?" tanya Olivia dengan tersenyum.
"Ini sudah selesai, Sayang. Selama kita cuti pekerjaan Mas sangat menumpuk sekali dan ini Mas berusaha menyelesaikan semuanya," ujar Faiz dengan tersenyum.
"Tapi sepertinya pulangnya kita tunda dulu, Sayang. Karena....." Faiz menarik tangan Olivia hingga terduduk di pangkuannya.
"M-mas mau apa?" tanya Olivia dengan gugup saat melihat tatapan Faiz sangat berbeda, dan Olivia sudah hapal tatapan itu.
"Mas mau kamu, Sayang!" jawab Faiz dengan serak.
"T-tapi semalam sudah, Mas!" elak Olivia berusaha menolak suaminya.
__ADS_1
Tetapi Faiz tak menggubris ucapan istrinya, ia mulai mencium leher Olivia hingga Olivia menahan desah*nnya dengan menggigit bibir bawahnya, bahkan tangan Faiz sudah sangat nakal memegang gunung kembar istrinya dengan sangat gemas.
"Aahhh..." Olivia tak bisa lagi menahan suaranya.
Faiz membereskan berkas yang ada meja dan ia dudukan istrinya di sana. Tangan Faiz menyingkap rok Olivia ke atas hingga terpampang paha putih mulus Olivia yang membuat Faiz semakin bergairah.
"Eughhh... Aaahhh... Massss..." Olivia menjambak rambut Faiz dengan kuat saat wajah Faiz masuk ke dalam rok miliknya.
Napas Olivia terengah-engah saat Faiz bermain di area sensitifnya, Faiz sangat bisa memainkan gairahnya. Bahkan dirinya yang tadinya menolak jadi sangat ingin Faiz memasukinya seperti semalam.
"Mass... Aaah... Aku...." Tubuh Olivia bergetar dengan sangat hebat bahkan tubuhnya ambruk di meja.
Olivia sudah pasrah saat Faiz melepas pakaian dal*mnya. Terlihat Faiz juga tidak sabaran membuka resleting celananya, hingga Faiz membuka paha istrinya dengan lebar.
Dengan sekali hentakan akhirnya junior Faiz tertanam dengan sempurna di milik Olivia. Keduanya mengerang bersama, Faiz tersenyum melihat wajah istrinya yang juga sama seperti dirinya.
"Enak tidak main di kantor?" tanya Faiz terkekeh geli melihat istrinya merem melek saat ia keluar masuk dengan perlahan.
"Emmm... Enak, Mas! Tapi cepat nanti ketahuan," ujar Olivia dengan napas yang memburu.
"Haha... Tapi nanti malam main lagi ya, Sayang?!" ujar Faiz dengan menggoda istrinya.
"A-apa ini belum cukup? Aaahhh... mmphhh..."
"Tidak ada kata cukup menikmati surga dunia bersama kamu, Sayang. Ya Tuhan.. Setiap hari kamu semakin nagih," ujar Faiz dengan serak bahkan urat-urat lehernya sangat terlihat jelas.
Faiz membungkam mulut istrinya dengan ciumannya, ia mulai bergerak dengan teratur. Sungguh Faiz sangat candu tubuh istrinya, saat pertama kali melakukannya hingga seminggu pernikahan mereka, Faiz tak pernah absen meminta jatahnya yang membuat Olivia terkadang lelah namun juga menikmati setiap permainan suaminya.
Sudah dua kali Olivia mendapatkan pelepasannya di susul dengan Faiz. Rasa hangat ia rasakan di rahimnya saat Faiz menyemburkan cairan kentalnya di dalam rahimnya tersebut.
Cup...
"Terima kasih, Sayang!" ucap Faiz dengan tersenyum.
Faiz tak mencabut miliknya terlebih dahulu karena ia masih menikmati sisa-sisa percintaan mereka yang terbilang singkat.
Faiz mengambil tisu untuk membersihkan miliknya dan milik Olivia.
"Aku lemes banget, Mas!" gumam Olivia yang merasakan kakinya seperti jelly.
Faiz terkekeh. "Mas gendong, Sayang! Tenang saja ya," ujar Faiz membenarkan pakaian istrinya yang berantakan karena ulahnya.
"Tunggu kantor sepi dulu baru turun ya, Mas. Aku malu," ujar Olivia menatap Faiz dengan sayu.
"Iya, Sayang!"
__ADS_1
Olivia masih tak menyangka ia sudah menjadi seorang istri dan melayani suaminya seperti ini. Terkadang Olivia merasa ia masih gadis dan belum memiliki suami. Tetapi setiap Olivia bangun dari tidurnya dan melihat Faiz ada di sebelahnya membuat Olivia sadar ini bukan mimpi melainkan kenyataan yang sangat indah ia rasakan, menjadi pengantin baru dan istri dari seorang Faiz adalah kebahagiaan yang tidak bisa ditukarkan dengan apapun. Semoga kebahagiaan ini akan tetap ia rasakan sampai maut memisahkan ia dan Faiz.