
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...***...
Ferdians melihat anaknya yang sangat kacau, semua pekerjaan kantor juga jadi berantakan. Ferdians masuk ke ruangan anaknya yang dulunya juga menjadi ruangannya juga bersama dengan Rania.
"Faiz!" panggil Ferdians dengan tegas.
Faiz yang mendengar suara papanya langsung menegakkan tubuhnya. "Ada apa, Pa?" tanya Faiz dengan lirih.
Ferdians duduk di hadapan anaknya. "Sebaiknya kamu istirahat di rumah saja atau ke rumah sakit menjenguk istri kamu yang sedang sakit," ujar Ferdians yang membuat Faiz langsung berubah ekspresi wajahnya menjadi sangat khawatir.
"Emang sakit apa dia?" tanya Faiz dengan datar padahal di dalam hatinya begitu sangat khawatir dengan keadaan Olivia sekarang.
Rasanya Faiz ingin segera pergi dari kantor dan menjenguk istrinya. Namun, pikiran dan hatinya berkata jangan.
"Biar semua pekerjaan kamu Papa yang handle. Olivia juga sedang hamil sekarang. Kamu percaya dengan ucapan Cassandra yang mengatakan jika Olivia tidak mau hamil anak kamu? Seharusnya kamu paham istri kamu berpura-pura baik atau memang baik kepada kamu dan keluarga kita," ujar Ferdians dengan bijak.
Faiz menghela napasnya dengan berat. "Aku tidak memikirkan itu, Pa! Yang aku pikirkan sekarang Olivia sudah membuat aku kecewa, Pa! Awalnya memang aku percaya tapi setelah di ingat kembali Olivia terlihat sangat tulus. Tapi entahlah Pa, aku tidak tahu!" jawab Faiz dengan pusing.
Ferdians menepuk pundak anaknya. "Pulanglah kalau keadaan kamu sudah membaik kamu bisa temui Olivia di rumah sakit. Semua pekerjaan kamu Papa yang urus termasuk karyawan baru yang ternyata anak dari karyawan yang pernah mama pecat dulu juga yang ingin membalaskan dendamnya akibat papanya di pecat! Semua biar Papa yang urus," ujar Ferdians dengan tegas.
"Tapi perusahaan kita rugi besar sekarang, Pa. Dia sudah membawa kabur uang perusahaan yang jumlahnya tidak sedikit!" ujar Faiz dengan frustasi. Pikirannya benar-benar sangat bercabang di sini yang membuat kepalanya seperti ingin pecah sekarang.
"Biarkan Papa yang urus bersama Gavin nanti. zKamu pulang saja," ujar Ferdians yang akhirnya di angguki oleh Faiz yang memang merasa sangat lelah. Tidak hanya tubuhnya tapi juga pikirannya saat ini.
"Aku pulang dulu ya, Pa! Kalau ada apa-apa hubungi aku," ujar Faiz dengan pelan.
__ADS_1
"Iya sudah sana! Istirahatkan dulu tubuh kamu," ujar Ferdians dengan tegas.
Faiz mengangguk, ia berjalan keluar dari ruangannya meninggalkan sang papa yang menatapnya dengan penuh iba.
"Semoga kamu cepat menemukan jalan keluar dari permasalahan yang kamu hadapi sekarang, Nak!" gumam Ferdians di dalam hati memandang punggung anaknya hingga hilang dari balik pintu.
****
Bukannya pulang Faiz mengarahkan mobilnya untuk ke rumah sakit, entah apa yang membuat Faiz ingin sekali melihat Olivia sekarang. Tapi nanti Faiz tidak akan menemui Olivia secara langsung, ia hanya ingin melihat Olivia secara diam-diam tanpa ketahuan siapapun. Hatinya masih begitu sakit mengingat Olivia sudah membuat dirinya kecewa, butuh waktu untuk membuat ia percaya kembali dengan Olivia.
Di sinilah sekarang dirinya, di parkiran rumah sakit tanpa ada niatan untuk keluar terlebih dahulu karena ia sedang menguatkan hatinya untuk melihat keadaan Olivia. Faiz mengacak rambutnya dengan frustasi, seandainya Olivia tidak mengecewakannya mungkin ia adalah orang yang paling bahagia sekarang mendengar kabar jika istrinya sedang hamil.
Setelah 15 menit berada di dalam mobil akhirnya Faiz memantapkan hati untuk keluar dan masuk ke dalam rumah sakit, tak lupa ia bertanya kepada resepsionis di mana ruangan Olivia berada, setelah mengetahuinya Faiz berjalan ke ruangan tersebut.
Faiz mengintip di jendela, ia mencolos melihat keadaan Olivia sekarang.
"Uwekkk...uwekkk..." Olivia kembali merasakan mual pada perutnya, perutnya yang baru terisi langsung keluar lagi yang membuat Olivia sangat lemas sekali.
"Tidak! Aku tidak bisa menemuinya sekarang! Aku belum siap dan belum sanggup," gumam Faiz dengan lirih.
Langkah Faiz kembali berbalik ke belakang dan meninggalkan ruangan Olivia begitu saja. Dan tak ada lagi niatan untuk kembali karena saat ini hatinya benar-benar belum sanggup untuk bertemu dengan Olivia.
Sedangkan Olivia semakin terlihat lemas sekali sudah dua botol cairan infus yang masuk ke dalam tubuhnya untuk membuat Olivia tidak lemas sekali dan mungkin akan menerima cairan infus yang ketiga ketika melihat cairan infus yang kedua tinggal sedikit lagi.
Olivia dengan mata sendunya seakan melihat Faiz ada di jendela melihatnya saat ia lihat kembali Faiz tidak ada di sana yang membuat Olivia kembali menangis karena ia merasa hanya berhalusinasi saja.
"Tidur ya, Nak!" ujar Anjani memijat kaki Olivia dengan pelan.
Cobaan apa lagi ini? Belum lama ini mama mertuanya masuk rumah sakit dan sekarang anaknya sendiri bahkan kondisinya bisa di katakan sedang tidak baik-baik saja, semua makanan yang masuk ke dalam perut Olivia langsung di keluarkan saat itu juga yang membuat Anjani benar-benar sangat khawatir.
__ADS_1
"Aku mau menunggu mas Faiz datang, Bun. Kenapa sampai sekarang mas Faiz tidak datang-datang ya, Bun? Apa mas Faiz tidak mau lagi melihat aku ya, Bun?" tanya Olivia dengan lirih.
"Tidak begitu, Sayang. Faiz juga butuh waktu untuk menenangkan diri. Sekarang kamu istirahat dulu ya setelah kamu sehat ayah dan bunda akan mengantarkan kamu pulang bertemu dengan Faiz," ujar Rio dengan tersenyum.
"Janji ya, Yah!" ujar Olivia dengan penuh harap dengan senyuman di bibir pucatnya.
"Iya, Sayang!" jawab Rio dengan lembut.
"Sekarang tidur ya!" ujar Anjani dengan tersenyum.
"Iya, Bun!" ujar Olivia mencoba memejamkan matanya walaupun pikirannya saat ini sangat berisik sekali yang membuat Olivia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
****
Faiz tidak pulang ke rumahnya bersama dengan Olivia karena sama saja ia semakin mengingat tentang Olivia. Sekarang Faiz ada di rumah kedua orang tuanya, ia melihat mamanya yang sedang meminum jus di sofa. Faiz menghampiri mamanya dan langsung merebahkan kepalanya di paha mamanya.
Rania tersenyum melihat Faiz yang manja sekali. "Mau?" tanya Rania menawarkan jus miliknya.
"Jus apa itu, Ma?" tanya Faiz.
"Jus buah naga tanpa biji," ujar Rania dengan entengnya.
"Maksud Mama?" tanya Faiz yang masih bingung.
"Iya sebelum papa ke kantor, Mama sudah meminta papa untuk membuang seluruh biji buah naga yang berwarna hitam itu karena Mama geli melihat bintik-bintik hitam itu. Setelah selesai baru Mama buat jus sekarang," ujar Rania dengan tersenyum yang membuat Faiz langsung terdiam membayangkan betapa tertekannya sang papa ketika di suruh mengambil biji buah naga yang kecil dan banyak itu.
"Lama prosesnya, Ma!" ujar Faiz tak habis pikir.
"Ya emang lama tapi Mama suka. Buah naganya jadi mulus," ujar Rania dengan terkekeh yang membuat Faiz hanya bisa menggelengkan kepalanya tak mengerti lagi dengan mamanya yang mengidam terlalu aneh menurutnya.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba Faiz teringat dengan Olivia. Bagaimana jika Olivia ngidam? Siapa yang akan menuruti ngidamnya Olivia? Faiz menjadi bimbang sekarang antara melupakan semuanya atau tetap seperti ini.