
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Rania menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri ketika ia merasa nyeri pada perutnya, Ferdians yang tertidur di sebelahnya langsung membuka matanya.
"Kenapa, Sayang? Masih nyeri perutnya?" tanya Ferdians dengan suara seraknya.
Rania meringis menatap Ferdians. "Nyeri!" gumam Rania dengan mendesis lirih.
"Tembus!" ucap Rania dengan panik.
Rania tentu sangat malu dengan Ferdians, ia segera bangun dari tidurnya. "Kamu bangun Ferdians! Biar spreinya di ganti," ucap Rania dengan panik.
Ferdians baru kali ini melihat wajah panik bercampur malu di wajah Rania, ia bangun dari kasur dari perlahan.
"Di mana kamu meletakkan pembalut?" tanya Ferdians dengan tenang dan tak ada raut jijik pun ketika melihat darah Rania yang menempel di sprei serta celana Rania.
"Kamu jangan mendekat biar saya saja!" ujar Rania dengan panik.
Ferdians membuka lemari bagian bawah tanpa menghiraukan perkataan Rania, ia menduga jika sang istri menyimpan pembalut di sana. Benar saja Ferdians melihat pembalut berwarna ungu di sana.
"Ini cepat ganti aku tahu kamu risih," ujar Ferdians memberikan pembalut Rania.
Wajah Rania menjadi sangat malu. Ia mengambil pembalut dari tangan Ferdians dengan cepat. "Jangan tidur dulu, setelah ini saya akan menggantikan spreinya," ujar Rania dengan tegas dan setelah itu berlari ke dalam kamar mandi dengan perutnya yang terasa tak nyaman.
Ferdians dengan santai membersihkan darah Rania dengan tisu, setelah bersih ia menarik sprei dan ia letakkan di tempat cucian kotor. Ferdians mengambil sprei baru dari dalam lemari dan memasangnya. Setelah selesai Ferdians keluar kamar untuk menuju dapur mengambil air hangat untuk Rania.
"Sus!" panggil Ferdians yang membuat suster Ana terkejut.
"Hampir saja saya menjatuhkan gelas, Tuan!" ujar Suster Ana mengelus dada.
Ferdians tersenyum tipis. "Belum tidur?" tanya Ferdians basa-basi.
"Sudah, Tuan. Tapi saya terbangun karena haus. Tuan sendiri kenapa bangun?" tanya Suster Ana dengan sopan.
"Saya mau ambil air minum hangat. Oo iya kamu kan perempuan saya mau tanya biasanya kalau perempuan nyeri haid itu minum apa ya?" tanya Ferdians dengan bingung.
"Kalau saya sering minum Kiranti sih, Tuan!" jawab Suster Ana.
"Kamu ada simpan minuman itu tidak? Rania sedang haid bahkan tidurnya tidak tenang karena nyeri pada perutnya," ujar Ferdians menjelaskan.
"Ada, Tuan. Kemarin saya ada beli beberapa, sebentar saya ambil di kamar dulu ya, Tuan!" ujar Suster Ana.
"Oke!"
Ferdians menunggu Suster Ana mengambil minuman yang bisa membuat nyeri haid mereda. Ferdians juga bingung harus melakukan apa karena ini kali pertama Ferdians melihat wanita haid dengan nyeri perut seperti Rania dan tentu saja Ferdians khawatir karena setiap bulannya Rania merasakan kesakitan itu seorang diri.
__ADS_1
"Ini Tuan minumannya!" ujar Suster Ana memberikan Kiranti pada Ferdians.
"Terima kasih, Sus! Besok saya ganti ya!!" ujar Ferdians.
"Tidak usah, Tuan. Ini untuk nona Rania saja," ujar Suster Ana dengan tersenyum.
"Benar begitu? Kalau begitu terima kasih saya harus kembali ke kamar," ujar Ferdians.
"Iya, Tuan!"
Suster Ana melihat kepergian Ferdians dengan pandangan takjub. "Tuan Ferdians sangat menyayangi nona Rania. Kapan ya aku mendapatkan lelaki yang seperti itu?" gumam Suster Ana dengan lirih.
****
"Dari mana?" tanya Rania dengan datar saat Ferdians baru saja masuk.
Awalnya Rania tidak percaya jika sprei sudah diganti oleh Ferdians tetapi saat melihat Ferdians tidak ada di dalam kamar membuat Rania berpikir jika Ferdians jijik dengan darahnya.
"Dari dapur, Sayang. Gimana masih sakit?" tanya Ferdians dengan lembut.
Ferdians naik ke atas kasur dan ikut bersandar di kepala ranjang seperti Rania. "Aku tidak berpengalaman dalam hal seperti ini tapi tadi aku ketemu suster Ana di dapur dan aku bertanya ada minuman pereda nyeri haid tidak dan suster Ana jawab ada, dia punya stok di kamarnya jadi memberikan Kiranti ini padaku. Di minum ya supaya rasa nyerinya hilang," ucap Ferdians dengan perhatian.
Rania menatap botol Kiranti di tangan Ferdians, ia menerimanya dengan ragu tetapi Rania yang memang biasanya juga stok minuman ini di rumahnya juga kehabisan ingin minta tolong dengan Ferdians tetapi gengsinya terlalu besar.
"Sebentar!" ujar Ferdians menahan tangan Rania.
"Terima kasih!" ucap Rania dengan singkat.
"Aku tidak salah dengar, kan?" tanya Ferdians dengan terkekeh.
"Hmmm..."
Rania berdehem. Ia meminum Kiranti itu dan setelah selesai ia letakkan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Rania menatap Ferdians dengan pandangan malunya tetapi Rania bisa menutupi dengan wajah datarnya.
"Kamu yang menggantikan sprei ini?" tanya Rania dengan pelan.
"Iya, kenapa?" tanya Ferdians dengan alis yang menyatu.
"Kamu tidak jijik?" tanya Rania.
Ferdians menggelengkan kepalanya. "Tidak! Ada banyak darah daripada ini nanti, yaitu saat kamu melahirkan anak kita. Kita sudah menikah semua apa yang ada dalam dirimu aku terima, jadi jangan merasa jika aku ini adalah orang asing di kehidupan kamu lagi," ujar Ferdians dengan tegas.
Rania tersenyum tipis. Sangat tipis sekali bahkan Ferdians sampai tidak melihat jika sang istri tersenyum.
"Sekarang tidur lagi ya! Ini sudah sangat malam," ujar Ferdians dengan lembut.
"Iya!" jawab Rania dengan singkat.
Ferdians maupun Rania kembali tertidur. Kali ini Rania membiarkan Ferdians memeluk dirinya dengan erat bahkan Rania mencari posisi yang benar-benar membuat dirinya nyaman.
__ADS_1
****
"Pagi istriku!" sapa Ferdians saat Rania membuka matanya.
Cup...
Cup...
Ferdians mengecup bibir Rania dengan gemas.
"Ferdians jauhkan bibirmu dari bibirku!" ujar Rania dengan serak.
Bukannya risih hanya saja ia baru bangun tidur dan Ferdians sudah menciumnya, ia tak mau Ferdians mencium wangi tak sedap dari mulutnya.
Ferdians tersenyum. "Aku menyukainya," ujar Ferdians dengan tersenyum.
"Bagaimana sudah baikan? Kalau belum biar aku menelepon Sastra mengabarkan pada Sastra jika hari ini kamu tidak masuk kantor," ujar Ferdians dengan perhatian, ia tidak mau melihat Rania kesakitan seperti semalam.
"Saya sudah baik-baik saja! Jangan meneleponnya karena saya akan tetap ke kantor hari ini," ujar Rania dengan tegas.
"Yakin?" tanya Ferdians memastikan.
"Yakin! Tidak usah banyak tanya, Ferdians! Hari ini saya ke kantor," ucap Rania dengan tegas.
"Ya sudah. Tapi kalau perut kamu masih sakit kamu bisa meneleponku ya," ujar Ferdians.
"Hmmmm..."
Rania bangun dari kasur dan berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan Ferdians yang hanya bisa menghela napasnya pelan.
"Hati kamu sudah mati rasa atau bagaimana Rania? Perhatianku sama sekali tidak membuatmu tersentuh? Aku harus banyak sabar dan berjuang lagi untuk meluluhkan hatimu," gumam Ferdians dengan pelan.
****
Rania sudah berada di kantornya saat ini Sastra juga sudah bersama dengan dirinya.
"Sepertinya ada yang mau mencari masalah dengan kita, Nona!" ujar Sastra dengan tenang.
"Berapa uang yang berhasil ia ambil dari perusahaan?" tanya Rania dengan dingin.
"Dari data yang saya lihat, dia mengambil 50 juta Nona. Itupun tidak sekaligus sepertinya orang ini sangat pandai mengabui. Tapi sayangnya dia bukan mengelabui orang yang bodoh," ujar Sastra dengan menyeringai.
Rania membalas seringaian Sastra tak kalah seramnya. "Bawa orang itu ke sini menemui saya! Dia pikir bisa bermain-main dengan seorang Rania?! Tikus sepertinya harus segera dimusnahkan," ujar Rania dengan dingin.
"Baik, Nona!" jawab Sastra dengan tegas.
Rania menyeringai. Ia memainkan jarinya hingga berbunyi. "Tidak ada ampun untuk pengkhianat sepertimu!" gumam Rania dengan dingin.
Moodnya yang masih sangat buruk karena sedang haid kini bertambah dua kali lipat. Amukan Rania seakan ingin meledak seperti bom waktu yang bisa menghancurkan kapan saja.
__ADS_1