
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Anjani mencoba melepaskan dirinya dari kurungan lelaki yang sudah membeli dirinya. Anjani begitu ketakutan menatap wajah pria tersebut. Kenapa mamanya masih menjual dirinya kepada orang lain? Padahal gaji dari bekerja dengan Rania sangat besar, hutang ayahnya juga sudah bisa ia lunaskan dengan uang gajinya sendiri.
Anjani benar-benar takut dengan pria hidung belang yang mendekatinya, Anjani pernah bertemu dengan pria tersebut. Ya, dia adalah rekan kerja Rania, ternyata sifatnya jauh berbeda dari pertemuan mereka sebelumnya.
"Ternyata Nona Anjani yang akan menjadi pemuas n*afsuku malam ini hahaha," ujar pria berperut buncit tersebut dengan tertawa.
"Saya tidak menyangka jika Anjani yang terkenal sebagai sekretaris yang sangat kompeten di RA Grup adalah seorang J*lang!" ujar pria bernama Bimo tersebut dengan pandangan yang sangat mengejek.
"Jangan mendekati saya! Anda tidak berhak menyentuh saya!" ujar Anjani memberanikan dirinya dengan berkata tajam ke arah Bimo.
"Hahahaha...."
Bimo tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Anjani yang begitu tajam ke arahnya. Tentu saja ia sangat berhak dengan tubuh Anjani karena ia sudah membeli Anjani dari ibunya sendiri.
"Hey... Apa katamu? Saya tidak berhak menyentuh kamu? Hahaha... Kamu lupa jika Ibumu sendiri yang menjualmu kepada saya? Jadi, saya sangat berhak atas tubuhmu" ucap Bimo dengan penuh panekan yang membuat tubuh Anjani semakin bergetar sangat takut.
Anjani mundur selangkah demi selangkah saat Bimo berjalan mendekatinya dengan melepaskan jas dan pakaiannya, tatapannya begitu penuh n*fsu ke arah Anjani.
"Kamu harus melayani saya malam ini Anjani!" ujar Bimo dengan tersenyum iblis yang membuat Anjani berkeringat dingin karena takut.
"Jangan mendekat saya mohon!" ujar Anjani dengan lirih.
Anjani melihat sekelilingnya, ia mencari celah untuk kabur dari tempat laknat ini. Anjani tidak mau di sini dan ia tidak msu melayani pria bejat ini.
"Kamu tidak bisa kabur dari sini Anjani!" ujar Bimo dengan sangat sangat tegas.
"Saya mohon lepaskan saya Pak Bimo!" ujar Anjani dengan memohon.
Anjani melihat pas bunga kaca yang ada di meja ia mencoba berlari ke arah meja nakas tetapi tangannya di tarik begitu kuat oleh Bimo hingga ia jatuh ke kasur.
"Menjauh dari tubuh saya brengsek!" ujar Anjani dengan takut.
Tetapi Bimo yang sudah sangat bern*fsu dengan Anjani tidak mempedulikan ucapan Anjani, ia mulai melancarkan aksinya dengan menarik paksa baju Anjani hingga robek.
"TOLONG!" teriak Anjani yang membuat Bimo tertawa sinis.
Tidak ada yang bisa menolong Anjani di kamar ini karena Bimo sudah menyewa tempat ini. Siapa yang mau menolong Anjani? Bahkan mamanya sendiri saja sudah menjual Anjani pada dirinya. Anjani benar-benar akan menjadi miliknya karena ia sudah memperhatikan Anjani sejak lama, ia tertarik pada Anjani. Selain cantik, Anjani juga memiliki tubuh yang sangat menggoda dirinya. Padahal Bimo sudah memiliki istri tetapi ia sering jajan di luar dan merasakan apem wanita lain.
Anjani sudah menangis karena Bimo terus memaksanya hingga melakukan hal kasar kepada dirinya. Anjani mencoba menghindar saat Bimo akan mencium bibirnya, tangannya mencoba mengambil pas bunga tanpa sepengetahuan Bimo.
Bimo menjabak rambut Anjani agar gadis itu tak bisa memgindar lagi, ia menampar pipi Anjani hingga Anjani menjerit kesakitan.
"Layani saya dan jangan menolak karena saya sudah memberikan uang yang cukup banyak untuk ibumu!" ujar Bimo dengan tajam.
"SAYA TIDAK MAU!" teriak Anjani di depan wajah Bimo yang menyulutkan emosi Bimo.
Plak...
Plak...
Tamparan dari Bimo membuat kepala Anjani pusing bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Tetapi Anjani tidak akan putus asa, ia tidak mau mahkotanya di ambil oleh pria seperti Bimo! Anjani tidak akan pernah sudi! Kenapa mamanya sangat tega menjual dirinya? Padahal uang yang ia berikan kepada mamanya sangat banyak, ia hanya menyisakan sedikit untuk tabungannya.
__ADS_1
Anjani berusaha mengambil pas bunga itu lagi. Setelah ia dapat, ia menunggu Bimo lengah.
"Ya Tuhan selamatkan aku!" gumam Anjani di dalam hati.
Setelah di rasa Bimo sudah lengah karena lelaki itu sibuk menjamah tubuhnya, Anjani mulai mengarahkan pas bunga kaca itu di kepala Bimo, ia jijik dengan Bimo yang menindih tubuhnya. Dengan perasaan takut, marah, dan ingin segera bebas Anjani memukulkan pas binga kaca itu dengan keras ke kepala Bimo.
Pranggg....
"Argghhhh...." Bimo berteriak dengan keras saat Anjani memukul dirinya dengan pas bunga hingga darah segar keluar dari kepalanya.
Anjani mendorong tubuh Bimo yang berada di atasnya dengan sekuat tenaga.
"Kamu tidak bisa kabur dari saya Anjani!" teriak Bimo dengan menahan kesakitan pada kepalanya.
Darah terus keluar dari kepala Bimo dan dengan cepat Anjani berlari ke arah pintu. Bimo mencoba mengejar Anjani tetapi kepalanya begitu sangat sakit, Bimo berusaha menahan Anjani tetapi Anjani mendorong tubuhnya hingga ia terjatuh di lantai.
Dengan rasa panik yang luar biasa Anjani mencoba membuka pintu yang terkunci tersebut, tangannya benar-benar gemetar dan berkeringat tetapi Anjani harus berusaha keluar.
Bimo berusaha bangun tetapi dengan sigap Anjani menendang kem*luannya hingga Bimo mengerang kesakitan hingga lelaki itu pingsan dan membuat Anjani langsung berlari dari kamar itu dengan pakaian yang sudah compang-camping.
Anjani berlari dengan sekuat tenaga keluar dari tempat ini dan semoga saja mamanya sudah pergi dari sini.
"Hey!" teriak seseorang dengan keras.
Anjani melihatnya, wajahnya berubah menjadi sangat panik karena ternyata anak buah Bimo lah yang meneriaki dirinya.
"JANGAN KABUR KAMU!" teriak anak buah Bimo dengan keras.
Anjani terus berlari, napasnya sudah ngos-ngosan, jantungnya juga berdetak dengan sangat cepat. Anjani tidak mau tertangkap lagi, ia berbelok ke arah parkiran, entah apa yang ia pikirkan tetapi Anjani berusaha bersembunyi.
Anjani menabrak seseorang hingga seseorang itu terjatuh karena ternyata pria itu sudah dalam keadaan mabuk berat.
"Rio!" gumam Anjani dengan lirih.
Ya, Anjani mengenal Rio. Sebelum Rio menjadi adik dari Rania, Rio adalah teman sekelasnya waktu SMA dan ia juga sudah menyukai Rio sejak dulu. Namun sayang, Rio sama sekali tidak menyukainya bahkan Rio terlihat cuek kepadanya karena Rio menyukai Rania. Akhirnya Anjani memutuskan untuk memendam perasaannya dan berpura-pura tidak mengenal Rio lagi karena Rio juga sudah lupa kepadanya, keduanya tidak akrab sama sekali yang menyebabkan Rio begitu mudah melupakan temannya sewaktu sekolah dulu.
"Shitt... Kalau jalan pakai mata!" ujar Rio dengan keadaan yang sudah mabuk berat.
"Tuan Rio tolong saya! Saya takut!" ujar Anjani dengan takut.
Rio tidak mempedulikan ucapan Anjani, ia mulai berjalan ke arah mobilnya dengan langkah yang sempoyongan. Anjani mengikuti Rio, ia sangat takut di tangkap oleh anak buah Bimo.
"Biar aku saja yang menyetir!" ujar Anjani dengan cepat.
Rio yang sudah mabuk berat hanya diam saat Anjani membawanya ke kursi penumpang.
"Rania, sampai saat ini aku masih mencintaimu! Kenapa takdir mempermainkan aku. Kamu mengatakan jika kamu juga menyukai diriku tetapi kenapa kamu sekarang membenciku? Kenapa mama sangat jahat? Rania, aku mohon jangan seperti ini! Kamu menyiksaku!" racau Rio yang membuat hati Anjani yang mendengarnya menjadi sangat sakit.
"Seharusnya kita yang menikah bukan mamaku dan papamu! Hahaha.... Mereka sungguh jahat!" ujar Rio yang di akhiri dengan cegukan yang sangat keras.
"Ferdians telah merebutmu dariku! Kenapa kamu memilih lelaki itu Rania?"
Anjani mulai melajukan mobil Rio keluar dari club malam walaupun hatinya sakit karena terus mendengar racauan Rio yang sangat mencintai Rania. Akhirnya Anjani bisa bernapas lega saat ia berhasil membawa mobil Rio kaluar dari club malam tersebut.
Tetapi Anjani bingung harus membawa Rio kemana karena tak mungkin ia pulang ke rumah bisa-bisa mamanya kembali menggeret dirinya ke tempat laknat itu.
"Tuan Rio kita harus kemana?" tanya Anjani dengan formal.
__ADS_1
"Apartemen!" jawab Rio dengan pelan.
"Apartemen?" gumam Anjani.
Anjani benar-benar bingung karena tidak tahu dimana apartemen Rio.
"Apartemen milik Danuarta! Cepat ke sana!" ujar Rio dengan keras.
Anjani mengangguk, ia mulai menjalankan mobilnya ke apartemen milik Rio. Walaupun pakaiannya sudah robek Anjani bernapas lega karena bisa terlepas dari Bimo.
****
Anjani membawa Rio masuk ke dalam apartemen untung saja Rio masih bisa menjawab pertanyaannya dimana kamar Rio berada.
"Rania!" gumam Rio dengan tersenyum saat melihat Anjani seperti Rania.
"Sadarlah Tuan! Saya Anjani bukan nona Rania," ujar Anjani yang membawa Rio masuk ke dalam apartemen pria itu.
"Akhirnya kamu mau menemuiku!" ujar Rio menatap Anjani dengan tersenyum.
"Tuan Rio apa yang anda lakukan?" tanya Anjani dengan panik saat Rio mulai mencium bibirnya.
"Aku sangat merindukanmu Rania!" gumam Rio yang terus mencium bibir Anjani.
Anjani berusaha melepaskan diri tetapi entah mengapa ketika ia menatap mata Rio ia menjadi terdiam, perasaan itu kembali muncul dengan sangat mudahnya. Bahkan Anjani tidak sadar jika Rio merebahkan dirinya di kasur.
"Aku sangat mencintaimu Rania!" gumam Rio dengan meracau.
"Aku bukan Rania!" ujar Anjani dengan tercekat.
Entah mengapa tubuhnya kaku saat Rio menjamah dirinya, hatinya ingin membontak tetapi entah mengapa tubuhnya tidak bisa bergerak.
"Tuan Rio jangan!" gumam Anjani dengan lirih.
"Kamu milikku Rania!" gumam Rio dengan tersenyum bahkan mengelus pipi Anjani dengan lembut yang membuat Anjani kembali terdiam.
Anjani memejamkan matanya saat Rio kembali mencium bibirnya. Entah apa yang membuat Anjani membalas ciuman Rio tetapi yang jelas perasaannya tak setakut bersama Bimo tadi. Anjani merasa tenang bersama dengan Rio.
Keduanya sudah bertelanjang. Pikiran Anjani sudah tidak waras, bahkan ia mendes*h saat Rio menyentuhnya dengan sangat lembut walaupun dalam pikiran Rio dirinya adalah Rania tetapi Anjani tidak peduli, ia tetapi menikmati sentuhan Rio.
"Ahhhh..." tubuh Anjani sudah menggelinjang dengan hebat saat sentuhan Rio di tubuhnya benar-benar memabukkan.
"Apa yang sudah aku lakukan?" gumam Anjani dengan lirih, pikiran warasnya sudah mulai kembali.
"Tuan jangan seperti ini!" ujar Anjani dengan menangis.
"Hiks...saya mohon Tuan!"
Tenaga Anjani sudah habis untuk kabur dari Bimo. Dorongannya tak membuat Rio menyingkir dari tubuhnya, dan sialnya tubuhnya merespon dengan baik sentuhan Rio. Hingga akhirnya Rio berhasil memasuki miliknya.
"Argghhhh sakit..."
"I love you, Rania!"
Malam ini adalah malam yang sangat menyakitkan untuk Anjani, walaupun sebagian hatinya menikmati sentuhan Rio. Tetapi bagaimana jika Rio tak mau bertanggungjawab setelah ini? Bagaimana kehidupan Anjani selanjutnya? Bagaimana jika dirinya hamil anak Rio? Ketakutan itu mulai menghantui Anjani hingga gadis itu menangis sepanjang malam.
"Ini salah!" gumam Anjani dengan menangis tanpa suara.
__ADS_1