Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 88 (Permintaan Anjani)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Rio menatap Anjani yang sudah tampak rapih dengan pakaiannya. Perut wanita itu sudah terlihat sedikit membuncit karena kehamilannya. Rio sadar jika Anjani memperlakukan dirinya dengan sangat baik, bahkan ia mengurus dirinya dengan baik tapi tetap saja pernikahan ini sama sekali tidak ia inginkan.


Anjani yang sadar jika Rio sedang memperhatikan dirinya langsung menatap suaminya dengan tatapan yang Rio saja tidak bisa mengartikannya.


"Tuan Rio!" panggil Anjani dengan sangat formal padahal keduanya adalah sepasang suami-istri tetapi Rio tak mau di panggil selain dari kata 'Tuan'.


"Hmmm..."


Anjani hanya menghela napasnya dengan pelan karena sikap Rio terlalu dingin kepadanya.


"Saya boleh..."


"Apa lagi? Kamu mau minta apa? Mama kamu sudah meminta uang kepada saya dan kamu tahu berapa jumlahnya?" tanya Rio dengan tajam.


Anjani menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak tahu jika mamanya meminta uang kepada Rio.


"50 juta! Dan mama kamu sudah meminta dua kali berarti sudah 100 juta mama kamu meminta uang kepada saya. Sekarang kamu mau minta apa lagi kepada saya?" ujar Rio dengan membentak Anjani hingga wanita itu memejamkan matanya takut dengan bentakan Rio.


"S-saya tidak tahu kalau mama meminta uang sebanyak itu kepada Tuan. M-maaf saya akan ganti uang itu," gumam Anjani dengan lirih.


"Cih... Mau menggantikan uang saya? Uang dari mana kamu? Gaji dari Rania dalam sebulan tidak sebanyak itu!" ujar Rio dengan sengit.


"S-saya akan mencicilnya, Tuan. S-saya mohon kalau mama saya minta uang kepada Tuan lagi langsung bilang kepada saya ya! Saya tidak mau uang Tuan diambil lagi oleh mama saya," ujar Anjani dengan lirih.


Rio mengamati Anjani yang sedang menundukkan kepalanya tak berani menatap dirinya.


"Ya!" sahut Rio dengan datar.


Rio hendak pergi tapi tangannya di tahan oleh Anjani.


"Apalagi?" tanya Rio dengan datar.

__ADS_1


"S-saya hanya meminta apakah saya boleh memanggil Tuan dengan sebutan 'mas'? E-entah mengapa saya sangat ingin memanggil Tuan dengan sebutan itu, mungkin ini bawaan bayi di dalam kandungan saya," gumam Anjani.


"Mas? Keinginan bayi? Dengar Anjani sampai kapan pun saya tidak akan mengakui anak itu sebagai anak saya! Kamu ingat kata-kata saya ini ya! Saya tidak sudi mengakui anak haram itu!" ujar Rio dengan tajam.


Ada rasa sakit yang menerpa hatinya ketika ia mengucapkan kata-kata seperti itu untuk Anjani tetapi Rio tidak tahu itu karena apa.


Anjani menatap Rio dengan mata berkaca-kaca seharusnya ia tahu jika Rio tak akan pernah menganggap dirinya dan anak yang berada di dalam kandungannya. Anjani tertawa sumbang yang membuat hati Rio sakit melihatnya tapi Rio mengelak dengan apa yang ia rasakan sekarang.


"Seharusnya saya sadar diri tapi kenapa saya masih meminta itu kepada Tuan ya?" tanya Anjani dengan terkekeh pedih.


"Saya berangkat Tuan. Terima kasih sudah mengingatkan saya jika saya dan anak ini tidak di harapkan di kehidupan, Tuan. Maaf jika saya tinggal di sini membuat anda tidak nyaman, cepat atau lambat saya akan pergi dari apartemen ini! Tuan tidak perlu khawatir akan hal itu. Untuk uang yang sudah di minta mama beri saya waktu untuk mencicilnya Tuan! Permisi!" ujar Anjani yang langsung mengambil tas miliknya dan berjalan pergi keluar apartemen untuk bekerja di perusahaan Rania. Anjani harus memiliki stok kesabaran yang besar tetapi mengapa rasanya masih sesakit ini?


Anjani menyeka air matanya dengan kasar. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Rio. Ia harus kuat karena ia harus menghidupkan anaknya seorang diri nanti tanpa Rio dan juga mamanya.


"Argghhh..." Rio mengacak rambutnya dengan kasar.


Rio masih tidak terima dengan pernikahan yang terjadi antara dirinya dan juga Anjani. Rio tidak mencintai Anjani, ia masih begitu mencintai Rania.


"Brengsek kamu Anjani! Kamu dan anak itu telah menghancurkan semua harapan saya! Saya mau kamu pergi dari hidup saya!" teriak Rio yang masih di dengar oleh Anjani.


"Ya aku akan pergi mas Rio! Akan pergi dari hidup kamu setelah ini tapi izinkan aku untuk membuat kenangan di pernikahan kita setelah itu aku janji tidak akan menganggu kamu kembali. Dan anak ini aku akan mengatakan kepadanya jika ayahnya sudah mati, aku tidak mau dia tahu jika dia adalah anak yang tidak di harapkan kehadirannya oleh ayahnya sendiri," gumam Anjani dengan lirih melihat Rio dari balik tembok kamar mereka sebelum dia benar-benar keluar dari apartemen ini untuk bekerja.


Anjani memasuki perusahaan Rania dengan tersenyum ramah kepada semua temannya di perusahaan ini. Hingga ia bertemu dengan Rania dan juga Sastra yang juga baru datang.


"Selamat pagi, Bu!" sapa Anjani dengan ramah.


"Pagi Tuan Sastra!"


"Pagi!" sahut Rania dan Sastra berbarengan.


Rania mengamati wajah Anjani dengan dalam. "Habis menangis?" tanya Rania dengan tepat karena memang Anjani habis menangis karena Rio.


"T-tidak, Bu!" jawab Anjani dengan terbata.


Rania tersenyum sinis karena ia tahu Anjani sedang berbohong kepada dirinya.


"Bu, saya mau berbicara penting kepada Ibu. Apakah Ibu bisa?" tanya Anjani dengan penuh harap.

__ADS_1


"Kamu yang tahu tentang jadwal saya hari ini saya sibuk atau tidak," ujar Rania dengan tegas.


Anjani tersenyum tipis. "Ada meeting dengan perusahaan Danuarta setelah jam makan siang, Bu. Untuk pagi ini Ibu hanya memeriksa beberapa berkas saja," ujar Anjani menjelaskan semuanya.


"Oke... Ke ruangan saya sekarang!" ujar Rania dengan tegas.


Rania berjalan di dampingi oleh Sastra sedangkan Anjani mengikuti langkah Rania dengan sesekali menghembuskan napasnya pelan. Tangannya saling tertaut karena gugup yang ia rasakan sekarang ini.


"Ada apa?" tanya Rania setelah ia dan Anjani duduk berhadapan sedangkan Sastra ada di sampingnya dengan setia walaupun perasaan Sastra sedang tidak karuan setelah waktu bitu ia menemani Citra untuk ke psikiater.


"Saya akan mengajukan resign. Tapi biarkan saya bekerja selama satu atau dua bulan di perusahaan Ibu setelah itu saya akan keluar dari perusahaan ini, Bu!" ujar Anjani dengan tegas.


"Kenapa? Rio tak mengizinkan kamu bekerja karena kamu sedang hamil anaknya?" tanya Rania dengan tegas.


Anjani menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan itu alasannya, Bu. Tuan Rio bahkan tak mempersalahkan tentang perkerjaan saya karena Ibu pasti tahu sendiri bagaimana rumah tangga saya dengan tuan Rio. Saya benar-benar ingin mengundurkan diri, Bu. Saya akan pergi dari kota ini dan menenangkan diri serta hidup dengan anaknya saya, saya ingin suasana yang bisa menenangkan perasaan saya," ujar Anjani yang sudah bulat dengan keputusannya.


"Anak itu butuh sosok ayahnya!" ujar Rania yang dirinya sendiri pun pernah ingin memisahkan anaknya dengan Ferdians. Untuk sekarang? Rania belum mengambil keputusan langkah apa yang akan ia ambil setelah kedua anaknya ahir.


"Tapi ayahnya tidak butuh sosok dia! Biarkan saya pergi, Bu. Saya ingin menenangkan diri," ujar Anjani dengan tegas.


"Kamu serius?" tanya Rania.


"Iya, Bu."


"Oke... Jika itu keputusan kamu saya tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi jika kamu kembali dan membutuhkan pekerjaan kamu bisa menemui saya lagi," ujar Rania dengan tegas.


"Terima kasih, Bu!" ujar Anjani dengan tersenyum.


"Bu!"


"Hmmm..."


"Apakah saya boleh memeluk Ibu?" tanya Anjani dengan lirih.


"Ya silahkan!"


Anjani langsung menghampiri Rania dan memeluk Rania dengan erat. Di balik sikap menyeramkan Rania ternyata Rania sangat baik kepada dirinya. Setelah ini ia harus memikirkan bagaimana mengembalikan uang Rio yang sudah diambil mamanya yang pastinya hanya untuk bersenang-senang. Tapi mengapa Rio mau memberikan uang sebanyak itu dengan mudahnya ke mamanya?

__ADS_1


"Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak karena Ibu masih mau menerima saya di perusahaan ini walaupun saya tahu saya banyak kesalahan. Saya do'akan Ibu dan pak Ferdians akan selalu bersama jangan seperti saya dan tuan Rio ya, Bu!" ujar Anjani dengan lirih yang membuat Rania merasa hatinya berdenyut sakit.


Mengapa ucapan Anjani mampu membuat hatinya tersentuh? Pernikahannya dengan Ferdians apakah akan selamanya?


__ADS_2