Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 32 (Datang Berkunjung)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya dengan like, kome, vote, dan juga berikan bunga untuk author agar semangat update....


...Happy reading...


***


Heera sudah melakukan kemoterapi yang ketiga. Setelah kemoterapi selesai tubuh Heera terasa lemas, ia merasa mual dan muntah. N*fsu makannya juga menurun yang membuat Rania merasa iba dengan keadaan mertuanya.


Saat ini hanya ada Rania dan suster Ana yang menunggu Heera di rumah sakit. Sedangkan Ferdians sudah berangkat ke kantor sejak pagi, tak mungkin ia tidak bekerja hari ini sebab Ferdians masih baru bekerja di perusahaan milik keluarga istrinya.


"Bu, makan dulu ya!" ujar Rania dengan lembut.


Heera menggelengkan kepalanya dengan pelan, efek kemoterapi yang ia jalani membuat n*fsu makannya menghilang.


"Ibu sama sekali tidak lapar, Nak!" ujar Heera dengan lemas.


"Tapi Ibu sudah memuntahkan semua isi perut Ibu. Sedikit saja makan untuk kali ini ya, Bu. Biar perut Ibu tidak kosong," ujar Rania membujuk mertuanya agar mau makan walaupun sedikit saja.


"Tidak, Nak. Ibu sama sekali tidak berselera! Ibu masih kenyang," tolak Heera dengan halus.


"Sus, bagaimana ini?" tanya Rania kepada suster Ana.


"Ini efek kemoterapi yang ibu Heera jalani tadi, Nona! Biarkan saja ibu Heera beristirahat untuk memulihkan keadaannya," ujar Suster Ana dengan sopan.


"Apa tidak apa-apa dengan lambungnya?" tanya Rania.


"Semoga saja tidak, Nona!" jawab Suster Ana dengan tersenyum tipis.


Tok...tok...


"Biar saya yang buka pintunya, Nona!" ucap Suster Ana dengan sopan yang di balas anggukan oleh Rania.


"Bu, istirahat ya!" ujar Rania dengan lembut.


"Kamu tidak kerja, Nak? Biar suster Ana saja yang menjaga Ibu," ujar Heera dengan lirih.


"Tidak, Bu. Biar pekerjaan di handle dengan Sastra saja. Rania ingin menemani ibu," jawab Rania yang membuat Heera tersenyum.


"Ibu banyak merepotkan kamu, Sayang!" gumam Heera merasa bersalah.


"Ibu sama sekali tak merepotkan Rania maupun mas Ferdians, Bu. Ibu segala-galanya bagi kami," ujar Rania dengan lembut dan perkataannya di dengar oleh seseorang yang datang barusan.


"Nona ada Tuan Ben datang," ujar Suster Ana dengan sopan.

__ADS_1


Ben menatap anaknya dengan pandangan yang sangat sulit diartikan, melihat kedekatan Rania dengan orang lain membuat dada Ben seketika sesak.


Rania menatap ke arah papanya dengan pandangan yang sangat datar. "Tumben sekali Papa datang? Tidak sibukkah dengan istri Papa?" tanya Rania dengan sarkas.


"Selamat datang Tuan Ben. Silahkan duduk maaf saya selalu merepotkan anak Tuan," ujar Heera berusaha bangun.


"Ibu istirahat saja ya!" ujar Rania begitu perhatian yang membuat Ben merasa iri.


"Kebetulan sekali hari ini saya tidak sibuk. Jadi, saya menyempatkan diri untuk datang ke sini. Bagaimana dengan keadaan anda, Heera?" tanya Ben dengan suara tegasnya padahal ia sedang menyembunyikan rasa sesaknya.


"Alhamdulillah keadaan saya sudah mulai membaik karena Rania juga saya bisa mendapatkan pengobatan di rumah sakit," jawab Heera dengan tersenyum walaupun wajahnya masih terlihat sangat pucat sekali.


"Papa duduk dulu saja! Sebentar lagi aku akan menemui Papa!" ujar Rania dengan tegas walau sebenarnya hatinya sangat malas untuk meladeni papanya sendiri.


Ben mengangguk. Ben duduk di sofa memperhatikan interaksi Rania dan juga Heera. Interaksi seperti ini sudah tidak pernah Ben lihat, padahal dulu sebelum istrinya meninggal ia selalu melihat kekompakan ibu dan anak itu.


Suster Ana juga terlihat sangat canggung dengan situasi ini karena papa dari majikannya sendiri diabaikan bahkan Rania lebih sibuk mengurus Heera hingga wanita itu terlelap dalam tidurnya.


Rania membenarkan selimut untuk ibu mertuanya, setelah memastikan jika ibu mertuanya sudah tertidur barulah Rania menghampiri papanya yang sedang duduk di sofa dengan pandangan dinginnya, entah apa yang di pikirkan Ben yang jelas Rania juga tak mau tahu soal itu semua.


"Ada apa Papa datang kemari?" tanya Rania dengan datarnya.


Ben sedikit tersentak. Ia menatap anaknya dengan menghela napas beratnya. "Tak bolehkah Papa berkunjung untuk melihat keadaan mertuamu yang sedang sakit?" tanya Ben dengan sengit.


"Tentu saja sangat boleh. Tapi tak biasanya seorang Ben Danuarta mau menyempatkan untuk mengunjungi orang yang sedang sakit bahkan saat saya sakit pun anda tidak berkunjung," balas Rania dengan sengit.


Rania terkekeh sinis. "Baru sekarang Papa mengunjungi makam mama? Ternyata Papa masih ingat dengan mama, aku pikir papa sudah melupakannya," ujar Rania dengan sinis.


"Cukup Rania! Sudahlah berbicara dengan kamu hanya membuang waktu saja! Jika kamu memang tidak suka Papa berkunjung di sini sebaiknya Papa pulang saja," ujar Ben dengan kesal.


"Ya silahkan pulang! Saya tidak melarang anda untuk pulang!" ujar Rania dengan sengit karena ia masih begitu sakit ketika papanya menikah begitu cepat dengan Agni.


Tanpa pamit Ben berjalan keluar dari ruangan Heera. Sedangkan Rania, rasanya ia ingin berteriak dengan kencang sekarang untuk menghilangkan rasa sesak pada dadanya. Namun, yang bisa ia lakukan hanya diam dengan mengepalkan kedua tangannya.


Suster Ana hanya bisa diam tak bersuara saat ayah dan anak itu saling beradu mulut.


"Sebenarnya apa yang terjadi antara nona Rania dengan tuan Ben ya? Kenapa reaksi nona Rania seperti itu? Terlihat sangat tidak suka dengan kehadiran papanya sendiri padahal tuan Ben terlihat merasa bersalah dengan nona Rania," gumam Susternya Ana di dalam hati.


"Nona ponsel Tuan Ben ketinggalan!" ujar Suster Ana dengan pelan karena ia takut Rania marah.


"Ambil dan berikan padanya!" ujar Rania dengan datar.


"B-baik, Nona!" ucap suster Ana dengan terbata.

__ADS_1


Dengan ragu mau tak mau suster Ana mengambil ponsel Ben yang ketinggalan di atas meja. Ben memang sempat memainkan ponselnya dan saat Rania mendekat Ben meletakkan ponselnya di meja.


"Saya pergi dulu, Nona!" ujar Suster Ana dengan sopan.


"Hmmm..."


Setelah kepergian suster Ana, Rania mengusap wajahnya dengan kasar dan ia menyandarkan tubuhnya di sofa. Emosinya yang tertahan membuat Rania terlihat sangat kesal dan tiba-tiba saja ia ingin memakan sesuatu. Rania mengambil ponselnya dan ingin mengubungi Ferdians.


[Halo, Sayang. Kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan ibu?] tanya Ferdians dengan cemas.


[Ibu baik-baik saja. Saya ingin memakan sesuatu] ujar Rania dengan jujur.


[Makan sesuatu? Apa itu, Sayang?] tanya Ferdians dengan heran karena tak biasanya Rania seperti ini.


[Bakso mercon dan es kelapa muda] jawab Rania.


[Hahaha...Kamu seperti wanita yang sedang mengidam saja. Sebentar lagi aku pulang kantor dan akan membawakan pesanan yang kamu mau ya. Tunggu aku, Sayang!] ucap Ferdians dengan tertawa senang karena baru kali ini Rania meminta sesuatu kepada dirinya.


[Hmmm... Jangan lama!]


[Baiklah, Sayang]


Rania mematikan ponselnya begitu saja setelah memastikan jika Ferdians membawakan pesanan yang ia mau. Membayangkan Bakso dan es kelapa muda membuat perut Rania berbunyi.


"Sial! Kenapa dia harus berbunyi!" ujar Rania dengan kesal.


***


"Tuan Ben tunggu!" ujar Suster Ana dengan berlari mengejar Ben yang ternyata sudah sampai di parkiran rumah sakit.


Ben melihat ke suster Ana. "Ada apa? Kamu di suruh Rania untuk menemui saya?" tanya Ben dengan dingin.


Suster Ana mengangguk. "Ponsel anda ketinggalan di dalam ruangan ibu Heera. Nona Rania menyuruh saya untuk menyusul anda dan memberikan ponsel ini kepada anda," ujar Suster Ana dengan sopan.


Suster Ana menelan ludahnya dengan kasar. "Duh tatapannya benar-benar sangat menyeramkan tak heran jika nona Rania juga seperti itu karena papanya ternyata lebih memiliki mata yang sangat tajam," gum suster Ana di dalam hati.


"Terima kasih!" ujar Ben dengan datar.


"Sama-sama, Tuan!"


"Siapa namamu?" tanya Ben dengan datar.


"Ana, Tuan!"

__ADS_1


Ben mengangguk, lalu ia masuk ke dalam mobil meninggalkan suster Ana yang terlihat bingung sekaligus lega karena tak berurusan lagi dengan Ben yang menurutnya sangat menyeramkan.


"Tuan Ben masih terlihat tampan tapi dia menyeramkan. Ihhh apa yang kamu pikirkan Ana! Ini pasti gara-gara menonton film sugar daddy!" monolog suster Ana dengan memukul kepalanya sendiri.


__ADS_2