Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 119 (Permintaan Maaf Ben)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Setelah menimbang cukup lama akhirnya Ben memberanikan diri untuk masuk ke ruangan istrinya kembali. Kali ini Ben berharap jika Ana sudah tidak marah lagi dengan dirinya. Dengan perlahan Ben membuka pintu ruangan istrinya, Ben tampak lega karena saat ini Ana sedang tidur.


Ben mendekat ke arah istrinya, belum sehari ia berpisah dengan Ana rasa rindunya sudah menggunung seperti ini. Bagaimana jika sampai berhari-hari mungkin Ben akan sakit karena menahan rasa rindunya untuk Ana.


Tanpa suara Ben naik ke atas brankar, ia ingin memeluk istrinya saat tidur. Ben berharap setelah ia naik Ana tidak akan bangun terlebih dahulu. Akhirnya Ben tersenyum lega saat ia bisa memeluk Ana saat ini, dengan bahagia Ben menatap wajah cantik istrinya walaupun masih terlihat agak pucat.


"Belum sehari saja Mas sudah merasa rindu dengan kamu, Sayang!" gumam Ben dengan lirih.


Ben meletakkan kepala Ana di lengannya dengan perlahan, ia berharap Ana tidak terbangun karena dirinya.


"Sssttt..." Ben mengelus punggung Ana agar sang istri tidak terbangun.


Cup....


Ben mencium bibir Ana dengan gemas, ia seakan menjadi pencuri sekarang karena mencium istrinya secara diam-diam.


"Mas mencintai kamu, Ana! Maafkan Mas! Mas mohon jangan siksa Mas seperti ini ya, Mas tidak akan sanggup berpisah dengan kamu," ujar Ben dengan lirih.


Ana mendengar suara suaminya, ia yang tertidur menjadi terusik. Perlahan Ana membuka matanya, ia menatap Ben dengan datar sedangkan Ben menatap Ana dengan penuh kerinduan.


"M-mas..."


"Ngapain Mas tidur di sini? Sana turun! Ingat ya Mas aku lagi marah sama Mas! Aku kesal melihat wajah Mas," ujar Ana dengan tajam dan memotong ucapan Ben begitu saja.


"Sayang, Mas mohon jangan seperti ini ya! Maafkan Mas ya! Kita pulang ke rumah besok karena dokter sudah mengizinkan kamu untuk pulang karena kondisi kamu sudah membaik," ujar Ben dengan lembut.


"Itu rumah Mas bukan rumahku! Aku tidak mungkin menumpang di sana terus menerus!" ujar Ana dengan sarkas yang membuat Ben menatap Ana dengan sendu, ia ikut merasakan sakit hati yang istrinya rasakan.


"Itu rumah kita, Sayang. Pulang sama Mas ya!" bujuk Ben dengan sendu.

__ADS_1


"Tidak mau! Silahkan pulang sendiri!" sahut Ana dengan tajam.


"Turun! Aku mual!" ujar Ana dengan tajam.


Mau tak mau Ben turun dari brankar Ana. Ia menatap sendu ke arah Ana.


"Sayang apa yang harus Mas lakukan agar kamu memaafkan Mas?" tanya Ben dengan sendu.


Ana terdiam, ini kesempatan baik untuk dirinya agar membuat Ben tidak memisahkan Rania dan Ferdians.


"Apapun?" tanya Ana dengan datar.


"Iya apapun, Sayang. Mas akan melakukan apapun agar kamu mau memaafkan, Mas!" sahut Ben dengan penuh harap.


"Aku mempunyai satu permintaan tapi Mas harus mengabulkannya jika Mas ingin mendapatkan maaf dariku!" ujar Ana dengan tegas.


"Iya, Sayang. Kamu mau minta apa, Sayang?Mas pasti akan mengabulkannya? Rumah baru, mobil baru atau perhiasan?" tanya Nen dengan tersenyum.


"Aku tidak mau itu semua, Mas. Aku hanya mau kamu meminta maaf sama Ferdians dan Rania, dan kamu jangan menyuruh mereka untuk berpisah! Kalau Mas masih seperti itu maka kita juga harus pisah," ujar Ana dengan tajam yang membuat Ben terkejut.


"Sayang permintaan yang lain bisa tidak? Mas tidak..."


"Oke kalau tidak bisa memenuhi permintaan aku. Jangan harap aku akan memaafkan kamu, Mas. Apalagi mau kembali ke rumah mewah kamu itu," ujar Ana dengan tajam.


"Lebih baik kamu pergi dan tidak usah temui aku dan anak kita, Mas!" ujar Ana dengan tajam yang membuat Ben kelagapan, ia tidak mungkin berpisah dari Ana. Bisa mati jika Ana pergi dari hidupnya.


Ben menopang tubuhnya dengan kedua lututnya, wajahnya melihat ke arah Ana. "Jangan hukum Mas seperti itu, Sayang! Baik Mas akan meminta maaf dengan Ferdians dan Rania, asal kamu mau kembali ke rumah kita ya," ujar Nen dengan sendu.


"Setelah Mas meminta maaf dengan Rania dan Ferdians baru aku mau kembali," ujar Ana dengan tegas.


"Iya, Sayang. Ayo temani Mas bertemu dengan Ferdians dan Rania!"


Ana mengerutkan dahinya. "Mereka ada di sini?" tanya Ana.


"Iya. Tadi Ferdians menemui Mas dan ternyata Heera dirawat di sini, Heera dinyatakan koma setelah kritis beberapa jam," ujar Ben yang membuat Ana syok.

__ADS_1


"Kita harus melihat ibu Heera, Mas! Mas juga harus meminta maaf kepada ibu Heera," ujar Ana yang di angguki oleh Ben dengan pasrah.


Tak apa ia menurunkan egonya saat ini untuk meminta maaf kepada anak dan menantunya serta besannya asal Ana tidak pergi dari hidupnya.


"Iya, Sayang!" jawab Ben dengan pasrah.


****


Rania yang sedang bersandar di dada bidang suaminya melihat kedatangan papa dan mamanya, wajah Rania yang tadinya sendu berubah menjadi datar saat keduanya mendekat. Pikiran dan tenaganya benar-benar sedang lelah, Rania tidak ingin berdebat dengan siapapun tetapi kedatangan papa dan mamanya membuat emosi Rania kembali datang.


"Kenapa kalian datang ke sini? Tidak ada yang menyuruh kalian ke sini jika untuk membuat keributan," ujar Rania dengan datar.


"Rania, Mama sengaja mengajak papa kamu ke sini katanya ada yang mau papa bicarakan ke kamu," ujar Ana dengan tersenyum.


"Ayo Mas cepat!" bisik Ana yang membuat Ben menghela napasnya dengan pelan.


Rania dan Ferdians menunggu apa yang akan Ben bicarakan pada mereka, jika masih membicarakan soal perpisahan mereka maka keduanya tidak akan tinggal diam.


"P-papa minta maaf karena sudah ingin memisahkan kalian berdua. P-papa sadar apa yang Papa lakukan sudah membuat kamu dan Ferdians marah kepada Papa," ujar Ben dengan menyesal.


"Benar Papa sudah menyesali perbuatan Papa? Bukan karena ancaman dari Mama?" tanya Rania dengan tajam.


"Sebenarnya Mama yang awalnya meminta tetapi setalah Papa pikirkan memang Papa sudah salah besar kepada kalian berdua. Maafkan Papa dan Papa juga minta maaf kepada Heera," ujar Ben dengan pelan.


Rania dan Ferdians saling memandang satu sama lain. Keduanya masih merasa ragu dengan Ben tetapi akhirnya Rania maupun Ferdians mau memaafkan Ben.


"Sudah kami maafkan, Pa. Kami juga meminta maaf karena sudah menentang keputusan Papa karena kami sudah mempunyai kehidupan sendiri yang tidak seharusnya dicampuri Papa dan yang lainnya," ujar Ferdians.


"Aku senang akhirnya Papa sadar juga jika kebahagiaan aku ada pada mas Ferdians seperti Papa yang bahagia bersama dengan mama Ana," ujar Rania yang membuat hati Ben ditumbuhi rasa bersalah.


"Rania maafkan Papa yang sudah egois. Hampir saja Papa merusak kebahagiaan kamu lagi, Nak!" ujar Ben dengan sendu.


Ben memeluk Rania. Ana ikut tersenyum karena rencananya kali ini berjalan dengan lancar yaitu menyatukan kembali papa dan anak yang saling membenci.


"Mbak Dewi hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membuat mas Ben dan Rania kembali baikan. Semoga mbak ikut berbahagia di atas sana ya," gumam Ana di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2