Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 168 (Anak Haram)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Setelah pulang dari Singapura dan memastikan jika adiknya sudah sehat Faiz langsung mengajak Olivia, keluarganya dan keluarga Olivia untuk ke tempat desainer yang akan menjahit pakaian mereka termasuk pakaian pengantin dirinya dan Olivia.


Semua sudah siap untuk pergi menggunakan mobil masing-masing, sedangkan Faiz bersama dengan Olivia dan tentu saja Cassandra sudah bersama dengan Rajendra. Seperti rencana Rajendra sebelumnya ia juga akan mendekati Cassandra dan akan membuat Cassandra menderita setelah menikah dengan dirinya, tak apa jika untuk saat ini ia berbaik hati kepada Cassandra walaupun sebenarnya dirinya sangat muak tetapi Rajendra berhasil menahan dirinya karena setelah pernikahannya dengan Cassandra nanti akan ada kejutan yang membuat Cassandra hidup bagaikan di dalam neraka. Jika ditanya Rajendra cemburu atau tidak dengan kemesraan Faiz dengan Olivia tentu saja jawabannya sangat cemburu tetapi Rajendra tidak mungkin memperlihatkan kecemburuan di depan semua orang, karena itu bisa menggagalkan semua rencananya yang sudah ia susun dengan sangat rapih.


Sedangkan Rio masih belum sanggup mengatakan yang sebenarnya kepada sang anak. Melihat pancaran kebahagiaan di wajah anaknya membuat Rio semakin tidak tega, perdebatan terus terjadi di mobil antara dirinya dan juga Anjani, untungnya di mobil tersebut hanya ada mereka berdua.


"Mas pernikahan Olivia dan Faiz sudah ada di depan mata. Bagaimana cara kita mengatakan yang sebenarnya kepada Olivia? Aku tidak sanggup, Mas!" ujar Anjani dengan dada bergemuruh hebat.


"Dalam minggu ini, Sayang. Berikan Mas waktu untuk itu, rasanya dada Mas begitu sesak sekarang," sahut Rio dengan lirih.


Anjani mengusap wajahnya dengan kasar bayangan saat Rio merenggut kesuciannya dan menyebutkan nama Rania waktu itu membuat dada Anjani juga sangat sesak bahkan mata Anjani sudah berkaca-kaca dan ingin menangis rasanya. Namun, kejadian itu sudah sangat lama dan Anjani sudah memaafkan suaminya tetapi ketika mengingat itu mengapa hatinya masih begitu sangat sakit.


Rio melihat ke arah istrinya, rasa bersalahnya semakin mencuat karena melihat wajah mendung istrinya. Rio tahu pasti Anjani mengingat masa lalu mereka yang sangat menyakitkan, walaupun sang istri sudah memaafkan dirinya tetapi tetap saja jika mengingat itu semua masih ada rasa sakit yang tersisa.


"Maaf!" gumam Rio dengan lirih tetapi tak ada jawaban dari Anjani karena ia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri yang berkecamuk.


Rio menggenggam tangan istrinya dengan erat, seakan ia menyalurkan kehangatan lewat tautan jari mereka walaupun Rio sendiri sedang sangat gunda dengan perasaannya yang masih berperang dengan pikiran dan otaknya tentang bagaimana cara dirinya berbicara dengan Olivia nantinya?


****


Sedangkan Olivia tampak sangat bahagia sekali, biarlah perasaannya mengalir begitu saja untuk Faiz saat ini.


"Ini apa, Mas?" tanya Olivia saat Faiz memberikannya paper bag.


"Buka saja, Sayang. Mas membelikannya saat di Singapura waktu itu," sahut Faiz dengan tersenyum.


Olivia yang penasaran langsung membuka paper bag tersebut. Dan ia langsung melotot tak percaya ketika Faiz membelikan baju dan jam tangan bermerek untuk dirinya.


"Mas ini..." Olivia tidak bisa berbicara melihat barang yang ada di pangkuannya sekarang.


"Itu untuk kamu, Sayang. Pakai ya jangan tidak di pakai," ujar Faiz dengan mengusap puncak kepala Olivia dengan lembut.


"Tapi harganya pasti sangat mahal!" gumam Olivia.


"Bukan masalah harganya, Sayang. Tapi bagaimana kamu memakai pemberian Mas agar membuat Mas bahagia," ujar Faiz dengan tersenyum.


"Terima kasih banyak, Mas. Mas sudah memberikan aku banyak hadiah selama kita bersama, aku bahkan belum ada memberikan Mas apapun," ucap Olivia dengan sendu.


"Hei... Mas tidak membutuhkan hadiah dari kamu tapi Mas minta kamu selalu ada di samping Mas," ucap Faiz dengan tulus yang membuat Olivia terdiam dengan bibir gemetar menahan tangisnya.

__ADS_1


Olivia memeluk Faiz dengan erat dan Faiz mencium puncak kepala Olivia dengan sayang. Ya Faiz sangat mencintai Olivia,ketertarikannya selama ini kepada Olivia berubah menjadi rasa sayang dan cinta yang cukup besar. Faiz berharap ia dan Olivia akan hidup bersama dan bahagia selamanya.


***


Sesampainya di tempat desainer ternama semua keluarga terutama calon kedua pengantin langsung melakukan pengukuran baju untuk mendapatkan ukuran yang sesuai. Pernikahan pertama dari anak pertama Rania dan Ferdians tentu saja harus terlihat sangat megah sekali apalagi Faiz adalah cucu dari Ben dan juga Eric yang sama-sama terkenalnya dalam dunia bisnis.


"Saya senang sekali bisa menjadi bagian dalam pernikahan tuan Faiz dan nona Olivia. Terima kasih sudah mempercayai butik saya ini," ujar desainer perempuan kepada Rania.


"Karena saya tahu kemampuan anda, Mbak. Saya mau semuanya terlihat sangat cantik dan juga elegan. Ini adalah pernikahan pertama untuk putra pertama saya juga semuanya harus terlihat sempurna," ujar Rania dengan tersenyum.


"Tentu saja, Nyonya. Semua baju akan selesai pada tanggal yang sudah di tentukan," ujar desainer tersebut dengan tersenyum.


"Baiklah saya percayakan semua ini kepada anda dan jangan buat saya kecewa," ujar Rania dengan tegas.


Rania dan desainer wanita itu asyik berbincang sedangkan yang lainnya juga berbincang dengan yang lain. Bahkan Faiz dan Olivia sibuk melihat-lihat gaun pengantin yang Olivia inginkan. Faiz ingin memberikan yang terbaik untuk calon istrinya.


"Mas aku mau gaun pengantinnya seperti ini," ujar Olivia yang memegang contoh gaun pengantin yang ada di lemari kaca tersebut.


"Boleh, Sayang. Nanti kita bicarakan sama mbaknya," ujar Faiz.


Olivia melihat ke arah Faiz dengan pandangan yang begitu dalam. Mengapa Faiz sangat mudah memberikan atau meng-iya-kan sesuatu yang ia inginkan? Bahkan lelaki itu sama sekali tidak protes. Entah mengapa Olivia jadi terharu karena sikap Faiz yang selalu memanjakan dirinya. Tetapi mengapa malah dirinya yang tidak tulus kepada Faiz? Olivia jadi takut jika Faiz tahu jika pernikahan mereka karena Olivia yang hanya ingin membuat keluarga mereka tidak saling menjauh lagi.


"Kamu baik banget, Mas. Rasanya aku tidak pantas bersanding dengan pria yang sangat baik seperti kamu," gumam Olivia di dalam hati.


****


"Wih apaan nih, Kak?" tanya Cassandra saat melihat paper bag yang tergeletak di kasur Olivia karena Olivia belum menaruhnya di lemari.


Olivia ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu barulah memakai barang pemberian Faiz.


"Itu...."


"Waw gaun dan jam tangan yang sangat mewah. Aku ingin mencobanya, Kak!" ujar Cassandra langsung memakai jam tangan tersebut tanpa melihat ekspresi Rania yang tidak suka dengan apa yang ia lakukan.


"Jangan pakai jam itu, Dek. Itu pemberian mas Faiz," ujar Olivia dengan tak terima.


"Cuma pakai, Kak. Lagian Kakak jarang banget pakai jam, ini untuk aku ajalah Kakak bisa minta yang lain," ucap Cassandra dengan santai memandang jam di tangan kirinya.


"Lepas, Cassandra! Kakak tidak akan mengizinkan kamu mengambil barang-barang pemberian mas Faiz," ujar Olivia dengan tajam.


"Ooo kenapa ini, Kak? Kakak sudah memakai perasaan bersama dia ya? Bagaimana kalau tuan Faiz tahu jika Kakak adalah anak haram? Upss..." ucap Cassandra dengan keceplosan dan menutup dirinya sendiri.


"M-maksud kamu apa Cassandra? A-anak haram?" tanya Olivia dengan terbata.


Cassandra terdiam. Jantungnya deg-degan sekarang karena ia keceplosan mengatakan jika Olivia adalah haram. Akhirnya sudah kepalang tanggung akhirnya Cassandra memberanikan diri untuk mengatakannya.

__ADS_1


"Ya benar, Kak. Aku dengar sendiri kok ayah sama bunda ngomong seperti itu kalau Kakak adalah anak haram. Bunda sudah hamil duluan sebelum bunda menikah dengan ayah," ujar Cassandra dengan entengnya walaupun perasaannya ikut sakit melihat wajah Olivia yang terlihat bersedih dan kecewa.


"Kamu bohong, Dek. KAMU BOHONG!" teriak Olivia dengan keras membuat Rio dan Anjani yang ingin tertidur langsung bergegas ke kamar Olivia.


"KAMU BOHONG!" teriak Olivia dengan histeris.


"Ada apa ini?" tanya Rio melihat kedua anaknya saling bersitegang.


Cassandra takut langsung mundur ke belakang. Melihat tatapan penuh luka kakaknya Cassandra merasa begitu bersalah, baru kali ini Cassandra melihat Olivia seperti ini.


Olivia menatap ayah dan bundanya dengan tatapan sendu dan penuh harap, berharap yang Cassandra ucapkan tidak benar sama sekali.


"Ayah, Bunda, katakan dengan jujur aku bukan anak haram, kan?" tanya Olivia dengan lirih.


Rio dan Anjani begitu terkejut mendengar pertanyaan anaknya. Darimana Olivia tahu soal itu? Karena keduanya belum ada berbicara sama sekali.


"JAWAB YAH, BUN. APA BENAR AKU INI ANAK HARAM?" tanya Olivia dengan dada bergemuruh dengan hebat.


"S-sayang, kita bicara baik-baik ya. Ayah sama bunda akan menjelaskan semuanya," ujar Rio dengan pelan.


"Jawab saja, Yah! Apa benar aku anak haram?" tanya Olivia dengan meneteskan air matanya yang membuat hati Rio dam Anjani berdenyut sakit.


"Kamu bukan anak haram, Sayang. Semua ini kesalahan Ayah dan bunda. Andai saja waktu itu Ayah tidak mabuk mungkin Ayah tidak akan melakukan sebuah kesalahan seperti ini. Andai saja ayah dan bunda menikah dan tidak melakukan kesalahan itu, Ayah tidak akan bersalah seperti ini sama kamu dan bunda," ujar Rio menjelaskan dengan sendu.


Hati Olivia luluh lantah mendengar ucapan ayahnya. "Jadi benar aku anak haram?" tanya Olivia dengan terkekeh pedih bahkan air matanya mengalir tanpa henti.


"Bukan, Sayang!" ujar Anjani menggelengkan kepalanya, ia tidak terima jika Olivia di katakan anak haram.


Olivia menatap Cassandra dengan tajam. Ia merebut kembali jam tangan yang ada di tangan adiknya yang membuat Cassandra syok.


"Keluar! Aku butuh sendiri!" ujar Olivia dengan dingin.


"Sayang, kita bicara dulu yuk. Bunda akan menjelaskan dengan detail," bujuk Anjani dengan lirih.


Olivia menggelengkan kepalanya. "Keluar, Bun! Aku ingin sendiri!" ujar Olivia dengan datar.


"S-sayang...."


"KELUAR!" teriak Olivia dengan keras.


Rio membawa Anjani dan Cassandra untuk keluar dari kamar Olivia. Rio paham jika Olivia butuh waktu untuk sendiri setelah anaknya tenang Rio akan kembali menjelaskan.


Anjani merasa enggan namun melihat wajah anaknya membuat Anjani akhirnya mau keluar, sedangkan Cassandra hanya bisa diam. Ketiganya terkejut saat Olivia menutup pintu dengan keras.


Brakk....

__ADS_1


"ARGHHHH....."


__ADS_2