
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Frisa bergerak di atas tubuh Gavin dengan perlahan yang membuat Gavin mengerang nikmat. Gavin tersenyum menatap Frisa yang di atasnya, ternyata istrinya ini sangat pandai memuaskan dirinya di atas ranjang. Lihatlah sekarang Frisa sangat begitu terlihat seksi ketika berada di atasnya seperti ini.
"Aahhh... Mas aku hampir sampai!" ujar Frisa dengan napas yang memburu dan tak lama tubuh Frisa bergetar dengan hebat dan tak lama di susul oleh Gavin yang menyemburkan laharnya ke rahim Frisa.
Frisa ambruk menindih tubuh Gavin, Gavin membalikkan keadaan ia tersenyum menatap wajah Frisa yang begitu cantik dengan keringat yang membajiri dahi Frisa.
"Belajar dari mana yang seperti tadi?" tanya Gavin dengan lembut dan tangannya mengelus rambut Frisa dengan sayang.
"I-itu..." Frisa tampak gugup menjawab pertanyaan Gavin.
Gavin terkekeh melihat kegugupan istrinya. "Darimana, Sayang? Kamu tahu? Itu sungguh sangat nikmat, lain kali kita coba gaya baru yang pasti lebih nikmat dari pada ini," ujar Gavin dengan serak.
"Mas kepo ah!" ujar Frisa dengan cemberut.
"Hahaha... Iya, dong. Karena Mas ingin berterima kasih dengan dia karena telah mengajarkan kamu memuaskan suami di atas ranjang," ujar Gavin dengan terkekeh.
"Yang ngajarin aku kak Olivia tahu. Kata dia gaya yang seperti ini buat kak Faiz puas," ujar Frisa dengan pelan.
Gavin tercengang, ia tidak tahu jika obrolan wanita bisa seperti ini. Tapi Gavin cukup senang karena Frisa tahu caranya memuaskan dirinya.
"Kalian boleh bercerita seperti itu tapi jangan sampai membicarakan urusan ranjang kita ya, Sayang. Itu privasi kita berdua," ujar Gavin dengan lembut yang di angguki oleh Frisa.
"Iya, aku tahu kok. Mana mungkin aku menceritakan keperkasaan suamiku sendiri! Upss..." Frisa menutup mulutnya karena keceplosan.
Gavin terkekeh, ia merasa bahagia karena Frisa mengakui keperkasaannya di atas ranjang. Walaupun usianya lebih muda dari Frisa tapi tubuh Gavin lebih tinggi dan berotot sehingga Frisa terlihat seperti adiknya dan wajah Frisa terlihat lebih muda dari usianya saat ini.
Gavin menyentakkan tubuhnya hingga miliknya kembali tertanam sempurna pada milik Frisa.
"Uhhhh.... Mass," racau Frisa dengan mendes*h.
__ADS_1
"Kita lakukan sekali lagi, Sayang. Agar kamu puas dengan keperkasaan milik, Mas!" ujar Gavin yang terus menyentakkan miliknya hingga tertanam sangat dalam.
Keduanya kembali bercinta dengan sangat panas bahkan tanpa rasa lelah sedikitpun, aktivitas yang mereka lakukan ternyata membuat keduanya sangat menikmati, tak peduli dengan kasur yang sudah sangat berantakan karena aktivitas mereka.
*****
Frisa menatap suaminya yang sedang membereskan pakaiannya mereka ke dalam kasur, rencananya mereka akan pulang ke rumah kedua orang tua Gavin setelah 3 hari menginap di hotel ini. Bahkan dirinya sama sekali tidak di izinkan untuk ikut beres-beres, dari dulu Gavin sudah memanjakannya dan sekarang pun Gavin masih tetap memanjakan dirinya, tetapi kali ini sangat berbeda. Frisa merasa begitu di sayangi oleh Gavin.
Kenapa Gavin semakin terlihat sangat tampan sekali? Otot perutnya yang 3 hari ini menindih tubuhnya kenapa semakin terlihat sangat seksi?
Frisa menggelengkan kepalanya menghilangkan segala pikiran mesumnya saat ini. Frisa mengetuk kepalanya dengan pelan, sepertinya otaknya sudah terkena virus mesum dari suaminya sendiri.
"Yakin mau pulang ke rumah papa Sastra dulu?" tanya Gavin melihat ke arah istrinya dengan bingung.
"Kamu kenapa, Sayang? Kenapa kamu pukul kepala kamu sendiri?" tanya Gavin dengan terkekeh.
"T-tidak apa-apa, Mas! Aku yakin mau pulang ke rumah papa Sastra dulu karena Mas juga sudah sering tidur di rumah papa Ferdians," jawab Frisa yang membuat Gavin tersenyum.
Sejujurnya Gavin masih bingung, ia masih suami bayaran Frisa atau tidak tetapi melihat sikap Frisa yang seperti ini Gavin yakin Frisa sudah menerimanya dengan tangan terbuka tanpa ada keterpaksaan lagi apalagi ketika ia mengingat percintaan panas mereka setelah 3 hari berada di hotel ini.
Gavin meninggalkan 3 lembar uang seratus ribuan di atas kasur mereka yang sangat berantakan. Setelah itu ia menggandeng tangan Frisa, dengan tangan kiri yang memegang koper.
Frisa tersenyum dan akhirnya ia melangkah pulang bersama dengan Gavin dengan status baru mereka. Dan entah mengapa Frisa sangat bahagia sekali, ia merasa menjadi istri yang sangat bucin sekarang padahal dulu ia sangat galak terhadap Gavin sedangkan Gavin selalu bersikap dingin kepada dirinya. Dan sekarang alur cerita mereka sudah sangat berbeda sekali bukan?
****
"Selamat datang menantu kesayangan Mama!" ujar Citra dengan bahagia saat melihat kedatangan anak dan menantunya di rumahnya. Bahkan Citra tak mempedulikan anaknya sama sekali yang membuat Gavin mendengus karena sebenarnya di sini anak mamanya itu dia atau Frisa?
"Mama, Frisa kangen banget!" ujar Frisa memeluk Citra dengan erat yang di balas oleh Citra tak kalah eratnya.
Dua lelaki yang sangat mirip itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pasrah saat Citra dan Frisa terlihat sangat bahagia sekali. Dari dulu Frisa memang sangat dekat dengan Citra, bahkan sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Tak heran jika Citra sangat bahagia jika kini Frisa menjadi menantunya.
"Mama juga kangen banget sama kamu, Sayang. Gavin buat kamu capek tidak? Ayo kita duduk, biar Mama suruh bibi ambilkan es krim untuk kamu. Mama sudah menyiapkannya di dalam kulkas," ujar Citra dengan tersenyum.
"Ma, biarkan Frisa makan nasi dulu baru bisa makan es krim!" ujar Gavin dengan tegas karena tak msu istrinya sakit.
__ADS_1
"Es krim dulu aja, Ma!" rengek Frisa yang membuat Citra bingung.
"Aish... Kita turuti saja perkataan Gavin, Sayang. Dia sudah menatap Mama dengan tajam. Dari pada kamu di bawa kabur lebih baik kita makan nasi dulu," ujar Citra dengan antusias bahkan Citra tak memberikan celah untuk Frisa menyapa papa mertuanya karena Citra terlalu sangat bahagia.
Sastra mendekati anaknya. "Jadi, status kamu sekarang suami bayaran nona Frisa atau kalian sudah menjadi duo bucin? Judulnya sekarang berubah menjadi suami istri bucin?" bisik Sastra kepada anaknya.
Gavin terkekeh. "Menurut Papa? Anak Papa ini bisa menaklukkan singa betina dengan sangat mudah, Pa! Tinggal tanam benih singa betina itu sudah langsung klepek-klepek. Lihat beberapa bulan nanti bagaimana cucu Papa akan tumbuh di rahim Frisa," bisik Gavin dengan senang.
"Ck...ck... Sepertinya Papa tidak seperti itu dulu!" ujar Sastra.
"Oo iya? Siapa yang minta rujuk duluan kalau begitu? Bukankah Papa juga bucin hanya saja dulu Papa lebih mementingkan pekerjaan Papa daripada mama. Untung saja mama masih mau rujuk kalau tidak aku yakin Papa yang paling menderita sekarang," bisik Gavin.
"Kalau Papa dan mama tidak rujuk itu artinya tidak ada kamu di dunia ini dan Frisa akan menikah dengan lelaki lain," ujar Sastra tak terima.
"Tidak bisa! Frisa itu jodoh Gavin sampai kapanpun!" ujar Gavin dengan tegas.
"Benar-benar bucin!" ujar Sastra yang membuat Gavin tersenyum dan menyusul istri serta mamanya ke meja makan.
****
Frisa menjatuhkan tubuhnya di kasur Gavin. Wangi maskulin milik Gavin langsung tercium di indra penciumannya yang membuat Frisa sangat tenang.
Gavin ikut menyusul istrinya dan memeluk Frisa dengan erat.
"Mas kamu jarang banget tidur di kamar ini tapi wangi tubuh kamu menyeruak masuk ke hidung aku saat aku masuk ke kamar ini," ujar Frisa menatap sekeliling kamar Gavin yang luasnya sama seperti kamarnya bedanya kamar Gavin bernuansa hitam putih sedangkan miliknya akan di ganti sesuai moodnya saat itu dan terakhir warna dinding kamarnya di cat warna hijau pastel.
"Kan cuma Mas yang tidur di kamar ini, Sayang. Ya jelas wangi tubuh Mas yang tercium walaupun Mas jarang menempati kamar ini karena kamu larang Mas untuk pulang ke rumah," ujar Gavin dengan tersenyum.
"Benar juga," gumam Frisa dengan lirih.
Frisa memeluk Gavin dengan erat, ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Gavin. Gavin mengelus kepala istrinya dengan sayang, menepuk-nepuk punggung Frisa dengan pelan.
"Mas ngantuk ayo tidur!" ujar Frisa dengan pelan.
"Iya, Sayang!"
__ADS_1
Gavin mencium kening Frisa. Rasanya masih begitu sangat membahagiakan untuk Gavin saat ini, bisa mendekap Frisa sepuasnya adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi Gavin, dan ia berharap dekapan ini sampai maut memisahkan mereka.