Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 196 Tertekan)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Rini menatap sahabatnya yang terlihat tidak semangat setelah bertemu dengan Rajendra. Saat ini keduanya sedang berada di warung makan langganan keduanya setelah selesai wawancara dan dinyatakan di terima di perusahaan besar tersebut. Tentu saja Rini sangat bahagia, dan seharusnya Bunga juga merasakan hal tersebut bukan?


"Kamu kenapa sih? Kok setelah bertemu dengan tuan Rajendra kamu terlihat tertekan?" tanya Rini dengan kasihan.


"Tidak ada, Rin. Jika aku sudah siap maka aku akan carita ke kamu tapi aku sekarang belum siap," ujar Bunga dengan lirih.


"Ya sudah tidak apa-apa. Tapi apa tuan Rajendra menyakiti kamu?" tanya Rini dengan curiga.


"Tidak sama sekali. Intinya keluargaku dan keluarga tuan Rajendra saling mengenal. Aku belum bisa bercerita, Rin. Tolong jangan bertanya lebih," ucap Bunga dengan memohon yang membuat Rini tidak tega dan akhirnya mengangguk setuju, keduanya akhirnya bercerita yang lain.


Wajah murung Bunga tampak kembali tertawa dengan bahagia saat ia dan Rini saling melemparkan candaan.


"Eh, Bunga. Itu bukannya tuan Rajendra?" tanya Rini saat melihat Rajendra berada di dalam mobil dengan seorang gadis.


"Mana?" tanya Bunga sambil menoleh ke jalan. Dan benar saja ia melihat Rajendra bersama dengan seorang gadis yang cantik tampak Bergelayut manja di lengan Bunga.


Rajendra melihat ke arah Bunga, seringai sinis terlihat di wajah Rajendra yang membuat Bunga menunduk takut dengan jantung yang berdegup sangat kencang. Apakah Rajendra mengawasinya sejak tadi? Mengapa Bunga merasa hidupnya tidak tenang setelah bekerja di perusahaan Danuarta? Seakan banyak mata yang mengintai pergerakannya sejak tadi yang membuat Bunga tertekan dan juga tidak bisa sebebas dulu.


"Itu calon istrinya tuan Rajendra ternyata aslinya cantik ya," ujar Rini dengan mengagumi Cassandra.


"Iya, cantik!" gumam Bunga dengan senyum penuh keterpaksaan.


"Ayo pulang! Ini sudah sore takut mamaku dan papaku marah," ujar Bunga dengan cepat.


"Om sama tante kapan berubah sih? Anaknya menasehati dengan baik malah di marah-marah. Mereka orang tua durhaka tahu," ujar Rini bersungut sebal.


"Rin bagaimanapun mereka orang tua kandungku. Suatu saat mereka pasti berubah, aku selalu berdoa untuk itu," ujar Bunga dengan tulus.


"Pantas saja mereka selalu marah dengan kamu, Bunga. Karena kamu baik mempunyai hati seperti malaikat sedangkan kedua orang tua kamu mempunyai hati selayaknya iblis. Upss... Jangan marah ya, aku maafkan aku! Aku suka kesal dengan mereka," ujar Rini menatap sahabatnya dengan memelas.


"Tidak apa-apa. Aku juga kesal tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain terus menasehati dan mendoakan kedua orang tuaku," ucap Bunga dengan tersenyum tipis.


*****


Rajendra masuk ke dalam rumahnya dengan langkah tegas. Kedua orang tuanya sudah menunggu kepulangan dirinya.


"Sore Ma, Pa!" ucap Rajendra dengan tersenyum menatap kedua orang tuanya.


"Sore, Sayang!" ujar Ana dengan Ben secara bersamaan.


"Mandi sana setelah magrib kita makan malam bersama," ujar Ana dengan tegas.


"Iya, Ma!" ujar Rajendra dengan tersenyum mencium pipi makanya dengan lembut barulah Rajendra benar-benar pergi ke kamarnya sendiri.


"Aku tidak menyangka sebentar lagi Rajendra bakal menikah dengan gadis yang sama sekali tidak di cintainya, Mas. Aku berharap dia akan bertemu dengan cinta sejatinya. Bukan aku tidak mendoakan Rajendra dan Cassandra berjodoh tapi sebagai seorang ibu aku juga ingin anakku mendapatkan pendamping yang benar-benar tulus mencintai anak kita tanpa syarat," ujar Ana menghela napasnya dengan berat.


"Kita do'akan saja yang terbaik untuk anak kita, Sayang!" ucap Ben memeluk Ana dari samping.


Benar kata Ana sebagai orang tua mereka sangat menginginkan anak mereka bahagia dengan gadis yang di cintainya. Ben berharap setelah pengorbanan anaknya akan memmbawa hasil yang memuaskan dan setelah itu anaknya bisa bahagia dengan keluarga kecilnya nanti.


Maghrib sudah berlalu dan sekarang Rajendra sedang makan malam bersama kedua orang tuanya dengan suasana yang sangat hangat.


"Malam ini Kakak kamu minta makan dengan makanan buatan Mama. Kamu bisa mengantarkannya?" tanya Ana menatap anaknya.


"Iya boleh, Ma. Aku yang mengantarkan makanan untuk kakak di rumah sakit, kasihan nanti bayinya kalau tidak di turuti kemauannya," ujar Rajendra dengan tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Sampaikan sama kakak kalau Mama besok pagi baru bisa menjenguk kakak kembali ya," ujar Ana dengan tersenyum.


"Iya, Ma!"


"Sebentar Mama siapkan dulu makanannya," ujar Ana yang mulai beranjak ke dapur.


Setelah kepergian Ana. Ben tampak sekali menatap anaknya dengan serius. "Kamu sudah bertemu dengan anak Roby?" tanya Ben dengan serius.


"Sudah, Pa. Aku berhasil menekannya, dia tampak sangat syok mengetahui fakta yang sebenarnya tentang apa yang papanya lakukan di masa lalu termasuk papanya mempunyai istri sebelum menikah dengan mamanya," jawab Rajendra dengan tegas.


"Tekan saja terus gadis itu hingga nanti dia sendiri yang akan membongkar kejahatan kedua orang tuanya. Jangan lupa minta bukti yang akurat dan kirim ke kamu," ujar Ben dengan tegas.


"Papa tenang saja Rajendra sudah menyiapkan kejutan demi kejutan untuk Roby di rumahnya. Mungkin mentalnya akan down karena terus menerus mendapatkan kejutan dari aku," ujar Rajendra dengan menyeringai.


"Kejutan apa?" tanya Ana yang membuat keduanya terlihat gugup. Namun, setelah itu keduanya tersenyum.


"Kejutan untuk kakak, Ma. Ya sudah aku pergi dulu ya, Ma. Ini kan makanan untuk kakak?" ujar Rajendra.


"Iya, Sayang. Bilang sama kakak makanannya di habiskan," ujar Ana dengan tersenyum.


"Iya, Ma! Aku pergi dulu," ujar Rajendra yang di angguki kedua orang tuanya.


****


Rajendra menikmati perjalanannya kali ini, ia membawa mobilnya tidak terlalu santai namun juga tidak terlalu mengebut. Hingga Rajendra memicingkan matanya saat melihat Bunga di hadang oleh segerombolan preman yang mencoba merayu Bunga hingga gadis itu benar-benar ketakutan.


Rajendra menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil dengan wajah galaknya. "Jangan ganggu dia!" ujar Rajendra dengan santai.


"Hahaha mau menjadi pahlawan?" tanya preman itu menertawakan Rajendra.


Rajendra menyeringai. "Mau menjadi pecundang?" ejek Rajendra yang membuat ke-empat para preman menatap Rajendra dengan tajam.


Terlihat Bunga sangat ketakutan sekali, ia mencoba menjauh dari sana. Namun, ia tidak tega meninggalkan Rajendra sendiri. Ia takut Rajendra di kroyok dan akhirnya kalah. Bunga mencari kayu dengan panik, ia melihat Rajendra yang masih berkelahi dengan ke-empat pria yang hampir saja melecehkan dirinya.


Bug...


Bug...


Rajendra memukul preman-preman itu dengan sangat keras ketika dirinya terkenal pukulan di sudut bibirnya.


"Brengsek. Pergi kalian sebelum saya habisi kalian!" teriak Rajendra seperti orang kesetanan yang membuat Bunga semakin gemetar dan tidak bisa menolong Rajendra.


Namun, terlihat preman tersebut berlari terbirit-birit membuat Bunga bernapas dengan lega. Bunga menatap Rajendra, lalu ia menghampiri Rajendra dengan perasaan bersalah.


"Terima kasih, Tuan. Maaf gara-gara saya sudut bibir Tuan terluka," ujar Bunga dengan sendu.


Tanpa suara Rajendra menarik tangan Bunga menuju mobilnya dan mendorong dengan kasar Bunga untuk masuk ke mobilnya bahkan bunyi pintu yang tertutup dengan keras membuat Bunga terkejut. Bunga belum bisa mencerna apa yang Rajendra lakukan kepada dirinya. Tetapi sungguh melihat wajah Rajendra yang begitu dingin membuat Bunga takut, tetapi melihat lagi luka yang ada di sudut bibir Rajendra membuat Bunga tidak tega.


Rajendra masuk ke dalam mobil, ia mengambil kotak obat yang memang selalu ia sediakan di dalam mobilnya.


"Biar saya saja yang mengobati luka di bibir, Tuan. Ya ampun tangan Tuan juga berdarah," ujar Bunga dengan panik.


Bunga menarik tangan Rajendra dan mengobati tangan Rajendra serta luka di sudut bibirnya dengan perlahan.


Sedangkan Rajendra melihat ke arah Bunga tanpa ekspresi. "Bod*h!" umpat Rajendra dengan dingin.


"M-maaf, Tuan!" gumam Bunga yang merasa bersalah. Mendengar umpatan dari Rajendra membuat dirinya semakin merasa bersalah.


"Gadis bod*h. Jika kamu di perk*sa lalu di bunuh dengan tubuh di mutilasi bukankah arwahmu akan gentayangan. Dan saya akan terus meminta pertanggungjawaban kamu, saya tidak akan membuatmu hidup bebas sekali pun kamu tadi mati," ujar Rajendra dengan sarkas.


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu jika ada preman yang akan menghadang jalan saya, saya hanya ingin jalan-jalan saja," gumam Bunga dengan lirih.

__ADS_1


Rajendra menarik tangannya yang sudah di obati dengan Bunga. Kini, giliran sudut bibirnya yang berdenyut sakit. Bahkan gadis itu sangat berhati-hati sekali mengobati lukanya.


"Sungguh saya minta maaf, Tuan. Jangan marah lagi kepada saya. S-saya takut," ucap Bunga dengan sangat jujur yang membuat sudut bibir Rajendra tertarik sedikit.


Rajendra tidak bersuara. Pria itu kembali menjalankan mobilnya menuju rumah sakit karena pastinya sang kakak sudah sangat menunggu kehadirannya, lebih tepatnya sangat menunggu makanan yang sedang ia bawa sekarang.


Bunga, hanya bisa diam tak berani bersuara saat Rajendra mulai menjalankan mobilnya. Bunga ingin bertanya kemana pria itu akan membawanya tetapi tidak ada keberanian di dalam dirinya hingga Bunga hanya bisa diam dengan pikiran yang sangat berkecamuk hingga mobil Rajendra sampai di rumah sakit.


Rajendra keluar dari mobil dengan membawa kotak makan berisi makanan mamanya. "Keluar atau mau mati di dalam mobil karena kehabisan napas?" perintah Rajendra yang membuat Bunga akhirnya keluar dari mobil dengan cepat.


Gadis itu benar-benar sangat bingung sekarang harus apa. Yang membuat Rajendra berdecak kesal.


"Jangan coba-coba untuk kabur! Kamu harus bertanggungjawab dengan luka saya ini," ujar Rajendra menarik tangan Bunga.


"T-tuan, mau minta uang saya? Saya tidak punya uang, Tuan!" ujar Bunga dengan cemas.


"Ikuti saya dan jangan banyak bicara!" sentak Rajendra dengan kesal yang membuat Bunga lagi dan lagi terdiam.


Rajendra sudah sampai di depan ruangan kakaknya. Saat Rajendra membuka pintu suara kakaknya langsung membuat Rajendra tersenyum tipis.


"Lama banget kamu, Dek? Kakak sudah lapar tahu!" ujar Rania dengan wajah berbinar.


"Maaf, Kak. Ada insiden kecil tadi," ujar Rajendra.


"Loh wajah kamu kenapa? Dan siapa gadis di samping kamu itu?" tanya Rania menatap Bunga.


"Dia anak Roby dan Sherly!"


"APA?"


Rania menatap tajam ke arah Bunga. "Dimana lelaki brengs*k itu tinggal? Sangat berani sekali kamu menampakkan batang hidung kamu di hadapan saya," ujar Rania dengan tajam.


"S-saya..."


"Tenang, Kak. Bunga akan bekerjasama dengan kita," ujar Rajendra yang membuat Rania menatap adiknya setelah itu Rania menyeringai.


"Kamu tahu perbuatan papa kamu tidak bisa termaafkan. Sayangnya jika kamu tidak bersikap baik kepada kami maka kehancuran yang akan kamu dapatkan. Jika saya menemukan sesuatu yang membuat saya curiga maka saya tidak akan melepaskan kamu, kamu akan menanggung semua akibatnya. Jangan berani macam-macam dengan keluarga saya," ujar Rania dengan tajam.


Bunga semakin takut dan tertekan. Tak sadar ia menggenggam tangan Rajendra dengan erat yang membuat Rajendra menatap tangan mereka.


Ferdians berusaha menenangkan istrinya agar tidak kembali menyudutkan Bunga. Seperti Bunga sangat ketakutan karena istrinya. Dan syukurnya Rania tidak lagi berbicara, wanita hamil itu sudah melahap makanan mamanya dengan perasaan senang. Mungkin faktor kehamilannya yang membuat perasaannya gampang sekali berubah.


****


VISUAL PEMAIN


...Bunga Anastasya, 21 th. ...



...Melvin, 23 th. ...



...Cakra, 23 th. ...



...Agam, 23 th. ...


__ADS_1


__ADS_2