Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 159 (Kembalinya Agni)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


6 bulan sudah berlalu seperti yang sudah di tetapkan hari ini adalah hari dimana Agni akan bebas dari penjara. Rio, Anjani, Cassandra dan Olivia sudah berada di kantor polisi, mereka akan menjemput Agni dengan rasa bahagia yang luar biasa.


Agni berjalan ke arah anak dan menantunya serta kedua cucunya dengan tersenyum, tubuhnya semakin kurus dengan kulit yang tidak terawat seperti dulu.


"Rio!" gumam Agni dengan pelan.


"Mama!" Rio berjalan dengan cepat ke arah Agni dan memeluk mamanya dengan begitu erat begitu pun dengan Agni bahkan wanita tua itu sudah menangis di pelukan sang anak.


Selama puluhan tahun ia di penjara Agni akhirnya sadar jika apa yang ia lakukan selama ini adalah sebuah kesalahan yang begitu sangat besar, Agni sudah menyesal atas perbuatannya selama ini.


"Maafkan Mama, Rio! Karena perbuatan Mama yang serakah hidup kita jadi seperti ini lebih tepatnya kehidupan mama dan Clara yang semakin menderita jika tidak karena obsesi Mama dengan harta mungkin adik kamu tidak akan depresi," ujar Agni dengan tergugu.


Rio mengelus punggung mamanya dengan lembut. "Rio sudah memaafkan semua kesalahan Mama. Mama juga harus meminta maaf kepada keluarga Danuarta ya, Ma!" ucap Rio dengan lembut.


"I-iya, Nak. M-mama janji akan meminta maaf kepada Ben dan keluarganya," ujar Agni dengan tulus.


Selama puluhan tahun hidup di penjara membuat hati Agni mulai kembali ke jalan yang benar setiap harinya ia di liputi rasa bersalah dan penyesalan yang sangat luar biasa. Setelah melepaskan rindu kepada anaknya, Agni menatap Anjani dengan pandangan sendunya.


"M-maafkan Mama, Nak! M-mama...." ucapan Agni tercekat dan ia semakin terisak saat Anjani memeluknya dengan erat.


"Sudah Ma jangan menangis lagi. Semua kesalahan Mama sudah aku maafkan," ujar Anjani dengan tulus yang membuat Olivia dan Cassandra tersenyum haru tetapi di dalam hati Cassandra ia sangat merasa senang karena ia pikir Agni akan ikut membantunya dalam membuat keluarga Danuarta menyesal nyatanya wanita tua itu benar-benar sudah sadar akan kesalahannya.


Agni bergantian memeluk kedua cucunya yang sudah tumbuh menjadi gadis yang begitu sangat cantik tetapi ketika ia menatap wajah Cassandra rasa penyesalan itu semakin membuat hatinya berdenyut sakit.


"Maafkan Nenek ya!" gumam Agni kepada kedua cucunya.

__ADS_1


"Iya, Nek. Sekarang kita pulang ke rumah ya, Nek! Olivia sudah menyiapkan kamar untuk nenek," ujar Olivia dengan lembut.


"Nenek mau bertemu dengan Clara sebentar ya. Nenek merindukannya," ujar Agni yang membuat Cassandra tersenyum.


"Iya, Nek. Kita akan bertemu dengan mama. Mama juga pasti sudah merindukan Nenek," ujar Cassandra memeluk neneknya dari samping yang membuat Agni tersenyum bahagia karena akhirnya ia bisa kumpul dengan keluarganya kembali.


****


Di sinilah Agni dan yang lainnya sekarang di rumah sakit jiwa di mama Clara di rawat. Olivia dengan sangat perhatiannya menuntun sang nenek untuk berjalan begitu pun dengan Cassandra karena ia harus tetap terlihat baik di depan keluarganya karena Cassandra hanya membenci keluarga Danuarta, rasa sayangnya tetap sangat besar kepada keluarganya.


Langkah mereka terhenti ketika sudah berada di depan ruang rawat Clara. Agni menahan tangisannya saat melihat kondisi Clara yang sangat memprihatinkan. Clara sudah tahu jika Agni akan bebas hari ini dan Clara juga sudah tahu jika Agni dan yang lainnya akan datang karena Cassandra sudah memberitahunya melalui ponsel yang sudah diberikan Cassandra untuknya secara sembunyi-sembunyi selama ini. Oleh karena itu, Clara tetap dalam keterpura-puraannya untuk tetap menjadi gila di hadapan Rio dan yang lainnya, jika hanya ada Cassandra dan Agni, Clara tidak akan bersandiwara lagi di hadapan mama dan anaknya.


"Clara!" gumam Agni menatap anaknya dengan sendu.


Agni membekap mulutnya saat ia tak tega melihat keadaan anaknya saat ini. Rasanya Agni ingin meraung dan semakin menyalahkan dirinya sendiri melihat keadaan Clara karena keserakahan dirinya. Agni tidak tahu jika Clara sudah sembuh dari depresinya.


"Sudah, Ma! Jangan seperti ini. Clara akan sedih melihat Mama seperti ini," ucap Rio menenangkan mamanya.


"M-mama ingin memeluk Clara!" ucap Agni menepuk dadanya sendiri yang semakin terasa sesak.


"Sepertinya ibu Clara hari ini terlihat tenang, Pak. Mungkin ibu Agni bisa memeluknya. Tapi tetap dalam pengawasan ya Pak karena bisa saja ibu Clara tiba-tiba mengamuk," ucap Suster dengan tenang.


"Baik, Sus!" ucap Rio.


Suster membuka pintu ruangan Clara dengan perlahan, ia menyuruh Agni dan yang lainnya masuk tetapi suster tersebut memperingati semuanya agar tidak berisik karena itu bisa saja mengganggu ketenangan Clara saat ini. Padahal Clara sengaja tidak memberontak karena ia juga ingin bertemu dengan mamanya, Clara sudah sangat merindukan mamanya.


Agni memeluk Clara dengan perlahan, tidak ada yang tahu jika Clara sedang menahan emosinya saat ini. Andai saja mamanya tidak di penjara mungkin tubuhnya tidak akan seperti ini. Andai ia bisa leluasa memeluk mamanya saat ini, pasti Clara sudah melakukannya saat mamanya memeluk dirinya.


"Ma, aku akan membalaskan semua dendam kita kepada keluarga Danuarta. Sebentar lagi Mama pasti akan bahagia mendengar kehancuran keluarga mereka," gunam Clara di dalam hati.


*****

__ADS_1


Setelah pertemuan dengan Clara yang sangat menguras perasaannya akhirnya ketika sampai di rumah Rio, Agni langsung terlelap saat Olivia dan Cassandra mengantarkan Agni ke dalam kamarnya.


Keduanya saling menatap dengan tatapan yang begitu berbeda. "Kak lihatkan keadaan Nenek yang begitu sangat menyesal? Kita harus secepatnya membuat keluarga kita kembali dekat dengan keluarga Danuarta, Kak. Aku tidak mau Nenek hidup dalam rasa penyesalan seperti ini," ujar Cassandra dengan sendu.


"Iya, Dek. Kakak juga tidak tega melihat keadaan nenek. Kita harus bisa menyatukan keluarga kita dengan keluarga Danuarta, Dek!" ucap Olivia dengan lirih.


"Kalau begitu tunggu apa lagi, Kak! Segeralah ajak tuan Faiz menikah bukanlah kalian sudah 7 bulan bersama menjadi sepasang kekasih? Itu sudah sangat lama Kak, kalian sudah bisa menikah dengan begitu keluarga kita dengan keluarga Danuarta semakin dekat. Aku juga sepertinya menyukai tuan Rajendra, Kak. Mungkin dengan Kakak menikah bersama tuan Faiz dan aku bersama dengan tuan Rajendra, keluarga kita tidak semakin terpuruk dengan rasa penyesalan, Kak. Jika keluarga Danuarta menerima kita itu artinya mereka sudah memaafkan kita bukan?" ujar Cassandra semakin mempengaruhi Olivia.


Otak Olivia yang selalu berpikir positif menerima semua saran adiknya tanpa berpikir panjang karena yang ada di pikirannya saat ini adalah kebahagiaan keluarganya agar terbebas dari rasa penyesalan dan rasa bersalah terhadap keluarga Danuarta.


"Kamu benar, Dek. T-tapi tidak mungkin Kakak yang mengajak tuan Faiz menikah," ujar Olivia dengan meringis karena baginya itu sangat memalukan karena di mana-mana yang mengajak menikah duluan adalah seorang lelaki.


Olivia tidak tahu rasa cinta itu ada untuk Faiz atau tidak tetapi demi kebahagiaan keluarganya Olivia rela menikah dengan Faiz. Toh selama 7 bulan bersama Faiz sangat baik terhadap dirinya bahkan kelembutan Faiz membuat hatinya menghangat hingga hatinya benar-benar nyaman dengan semua perlakuan Faiz terhadap dirinya.


"Mana ponsel Kakak biar aku yang mengirimkan pesan untuk tuan Faiz," ujar Cassandra yang langsung merebut ponsel Olivia.


"J-jangan Cassandra!" cegah Olivia tetapi Cassandra terlihat tidak peduli sama sekali, ia mencari kontak Faiz di ponsel kakaknya dan setelah menemukan kontak Faiz, Cassandra langsung mengetik pesan untuk Faiz.


[Mas kita bisa bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan, ini sangat penting!]


Olivia hanya bisa mendes*h pasrah saat pesan yang diketik oleh adiknya sudah terkirim bahkan sudah dibaca oleh Faiz tidak ada semenit pun.


"Cepat sekali tuan Faiz membuka pesan dari kamu, Kak. Kurasa dia benar-benar menyukai Kakak," gumam Cassandra saat melihat jika sekarang Faiz sedang mengetik.


[Bisa, Sayang. Saya jemput sekarang ya!]


[Iya, Mas. Aku tunggu!]


Cassandra mengul*m senyumannya. "Lihat Kak. Tuan Faiz akan menjemput Kakak sekarang. Berdandanlah dan ingat Kakak harus pada tujuan pertama kita, ajak tuan Faiz menikah yakinkan dia jika Kakak benar-benar mencintainya!" ujar Cassandra dengan bersemangat.


"T-tapi..."

__ADS_1


"Sudah sana, Kak! Jangan kecewakan semua orang!" ujar Cassandra.


Olivia menghela napasnya dengan perlahan. "Baiklah!" gumam Olivia dengan lirih karena hatinya masih sangat terasa berat karena ia ingin Faiz lah yang mengajak dirinya untuk menikah bukan sebaliknya. Jika Faiz menolak ajakannya untuk menikah bagaimana? Bukankah itu hal yang sangat memalukan?


__ADS_2