Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 215 (Satu Garis)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!"...


...Happy reading...


...****...


Olivia bangun terlebih dahulu dengan perlahan karena tak mau menganggu tidur suaminya yang akhir-akhir ini sangat sibuk di perusahaan, walaupun ia masih bekerja tetapi Faiz tidak tega memberikan pekerjaan yang cukup banyak terhadap dirinya. Alhasil Olivia merasa jika pekerjaan selama ini hanya main-main karena Faiz tak mengizinkan dirinya kelelahan sedikitpun terkecuali urusan ranjang, Faiz akan membuat dirinya kelelahan meladeni n*fsu suaminya yang besar.


Olivia membuka laci, untuk mengambil testpack yang kemarin ia beli bersama dengan Faiz. Olivia sudah sangat bahagia sekali karena ia sudah telat haid selama seminggu dan Olivia berharap jika ia hamil saat ini.


Olivia membawa dua testpack yang ia beli ke dalam kamar mandi, ia dekap di dada dan wajahnya begitu terlihat sangat berharap jika testpack ini nantinya akan menunjukkan garis dua. Selama hampir 6 bulan menikah Olivia sudah sangat menantikan kehamilannya, ia ingin hamil seperti mama mertuanya.


Setelah menampung urine-nya sendiri di wadah yang sudah ia siapkan, Olivia mulai membuka bungkus testpack itu dan membaca petunjuk penggunaan testpack dengan benar. Setelah mengerti Olivia langsung meletakkan dua testpack yang ia beli sekaligus dalam wadah yang berisi urine-nya sendiri.


Olivia menunggu dengan harap-harap cemas, ia takut hasilnya akan mengecewakan bahkan jantungnya berdetak dengan sangat kencang, Olivia tak berani melihat hasilnya bahkan tangannya terasa begitu dingin.


"Seharusnya ini sudah tapi aku takut melihat hasilnya! Bagaimana jika tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan selama ini?" monolog Olivia dengan lirih.


Frisa menarik napasnya dengan pelan. "Semoga tidak mengecewakan!" gumam Olivia dengan pelan.


Olivia mengambil satu testpack terlebih dahulu. Tubuhnya mematung dengan mata berkaca-kaca, karena sungguh hasilnya membuat hatinya begitu sakit sekarang.


"Satu garis!" gumam Olivia dengan lirih.


Olivia mengambil testpack yang satu lagi dan hasilnya tetap sama. Akhirnya Olivia tak bisa lagi membendung air matanya, ia menangis menatap dua testpack yang berada di tangannya. Kenapa hatinya begitu sakit sekali? Olivia sudah sangat berharap ia hamil tetapi semua pemikiran indahnya telah di jungkir balikkan dengan hasil testpack yang menunjukkan hanya satu garis.


"Hiks.... Kenapa sesakit ini? Kalau sampai kapanpun alu tidak bisa hamil bagaimana? Mas Faiz pasti sedih karena aku tidak bisa memberikan keturunan untuk dia," gumam Olivia dengan menangis.

__ADS_1


Dada Olivia sangat sesak, ia duduk di closet dengan menangis memandang dua testpack itu dengan pedih.


Sedangkan Faiz mencari keberadaan istrinya dengan menggerakkan satu tangannya di sampingnya dengan mata yang masih terpejam setelah tidak mendapati istrinya di samping dirinya Faiz langsung membuka matanya dengan cemas karena biasanya jika Olivia sudah bangun istrinya itu langsung membangunkan dirinya dengan ciuman yang membuat Faiz akhirnya bangun.


"Sayang kamu di mana?" tanya Faiz mencari keberadaan istrinya.


Faiz menajamkan pendengarannya setelah mendengar suara seperti orang menangis di dalam kamar mandi akhirnya Faiz berlari ke dalam kamar mandi dengan jantung yang berdetak sangat cepat.


Faiz mencolos melihat istrinya duduk di closet dengan menangis, Faiz menghampiri istrinya dengan perlahan. "Sayang, kenapa?" tanya Faiz merasa bersalah dan gagal sebagai suami karena telah membuat istrinya menangis seperti ini.


"Hiks...hikss... Mass!" ucap Olivia dengan menangis dan memeluk Faiz dengan erat.


Olivia menyerahkan dua testpack di tangannya kepada Faiz. Dan akhirnya Faiz tahu penyebab istrinya menangis seperti ini, Faiz mencium puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kita masih bisa mencobanya," ujar Faiz menenangkan istrinya yang masih sesegukan karena menangis.


Sungguh hati Faiz sakit melihat istrinya seperti ini tetapi semua tidak bisa di paksa jika Tuhan belum mempercayai mereka untuk memiliki anak, yang Faiz bisa lakukan sekarang hanya menenangkan istrinya yang terlihat patah hati sekali karena hasil testpacknya pagi ini.


"Satu garis, Mas! Bukan dua garis! Aku mau dua garis hiks..." racau Olivia yang membuat Faiz akhirnya memeluk istrinya dengan erat.


"Sssttt... Sayang sudah nangisnya ya! Mas tidak apa-apa, Sayang. Kita masih bisa mencobanya lagi," ujar Faiz dengan tersenyum dan mengusap air mata Olivia dengan lembut.


"Jangan nangis lagi nanti Mas marah loh!" ujar Faiz tersenyum tipis.


Olivia mencoba tidak menangis lagi, tetapi ia masih sesegukan yang membuat Faiz menghela napasnya dengan pelan, hatinya sesak melihat istrinya seperti ini. Faiz juga ingin Olivia hamil, namun ia tak akan egois karena soal kehamilan tak bisa ia paksakan.


"Kita mandi ya nanti Mas antar kamu ke rumah, Bunda. Hari ini tidak usah bekerja dulu," ujar Faiz dengan lembut.

__ADS_1


Olivia tidak menjawab, ia terus masih sesegukan yang membuat Faiz tidak tidak meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti ini untuk bekerja.


"Sayang sudah ya Mas sakit melihat kamu seperti ini. Sungguh Mas tidak kecewa, Sayang. Kita masih mencobanya lagi," ujar Faiz dengan lembut.


"Tapi hatiku masih sakit, Mas!" ujar Olivia dengan lirih.


"Iya Mas tahu, Sayang. Masih banyak waktu untuk kita mencobanya. Jangan nangis lagi ya! Senyum dong, Sayang!" ujar Faiz dengan tersenyum.


Olivia memaksakan senyumannya menatap ke arah Faiz dan Faiz mencium kedua mata istrinya secara bergantian.


"Mandi yuk. Hari ini kita jalan-jalan saja tidak usah bekerja. Kamu mau belanja sepuasnya pun tidak masalah, Sayang!" ujar Faiz dengan tersenyum.


"Kita kulineran makanan aja di pinggir jalan, Mas. Aku tidak mau belanja," rengek Olivia yang membuat Faiz terkekeh.


"Ya sudah ayo kita mandi setelah itu kita kulineran saja," ujar Faiz dengan tersenyum.


Faiz tidak hobi makan tetapi selama menikah dengan Olivia yang memiliki hobi makan membuat Faiz juga terbiasa dan bahkan ketagihan makanan pinggir jalan yang memang enak-enak.


****


Di tangan Faiz sudah ada beberapa jajanan yang Olivia inginkan tetapi keduanya masih tetap berkeliling untuk mencari jajanan yang Olivia inginkan.


"Mau putu ayu, Mas!" ujar Olivia yang melihat jajanan putu ayu.


"Ya sudah ayo kita beli terus kita makan dulu jajanan ini ya lalu setelah kamu ingin jajanan lagi kita beli lagi," ujar Faiz dengan tersenyum.


Melihat kebahagiaan istrinya saat ini membuat Faiz tersenyum, setidaknya Olivia melupakan kesedihannya tadi pagi dengan mengelilingi semua jajanan yang ada di pasar ini.

__ADS_1


Keringat membasahi dahi Olivia karena siang ini cuaca memang sangat panas. Faiz mengelap keringat istrinya dengan tisu saat keduanya sudah duduk di kursi menikmati semua makanan yang Olivia beli.


Bakso bakar, sosis, bakar, tekur gulung, putu ayu, kue lapis, dan masih ada berbagai makanan di meja yang sudah mereka cicipi semua dengan hati yang begitu senang dan melupakan kesedihan pagi tadi. Apapun akan Faiz lakukan agar istrinya melupakan kejadian tadi pagi yang membuat Olivia menangis sesegukan karena melihat hasil testpack yang menunjukkan satu garis tersebut.


__ADS_2