Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 246 (Berjuang)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Olivia kembali tidak bisa tidur walaupun ia sudah berada di kamarnya sekarang, matanya tetap terbuka dengan perasaan yang begitu sedih karena sekarang ia sudah tidur terpisah dengan suaminya sekarang, berulang kali Olivia menghela napasnya dengan berat. Harus bagaimana lagi ia mendapatkan maaf dari suaminya?


Olivia kembali merasakan mual pada perutnya. Dengan cepat ia berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya kembali, sudut matanya kembali mengeluarkan air mata dan dengan cepat Olivia menyekanya dengan ibu jarinya, ia tidak boleh cengeng. Olivia harus kuat untuk berjuang mendapatkan maaf dari suaminya.


Setelah merasakan perutnya sudah tidak mual Olivia kembali ke kasurnya dengan perlahan, lemas yang ia rasakan seakan menguras tenaganya saat ini. Olivia mengambil vitamin yang diberikan oleh dokter dan meminumnya dengan perlahan, setelah itu ia merebahkan kembali tubuhnya dengan membayangkan pernikahannya yang dulu terasa hangat baginya kini begitu terasa sangat dingin.


"Mas sampai kapan kamu seperti ini kepadaku? Aku rindu kita yang dulu, Mas. Aku ingin di manja tapi sekarang aku tidak berani melakukan itu," gumam Olivia dengan meringkuk menatap foto suaminya.


Olivia terus membayangkan kebersamaan mereka hingga jam terus berputar dan akhirnya Olivia kembali tertidur dengan hati yang sangat kesepian sekali, ia ingin di peluk suaminya saat tertidur. Namun, itu sudah tidak ia dapatkan lagi sekarang.


Diam-diam Faiz masuk ke dalam kamar istrinya saat ini karena Faiz tidak sengaja mendengar Olivia kembali muntah-muntah. Ia menatap wajah Olivia sangat terlihat pucat bahkan istrinya tidur dengan meringkuk yang membuat Faiz tidak tega.


"Kamu sudah membuat aku kecewa, Olivia. Tapi aku masih sangat mencintai kamu. Kenapa kamu pulang jika kamu masih sakit seperti ini? Sebaiknya kamu di rumah sakit dulu untuk memulihkan keadaan kamu," gumam Faiz dengan lirih.


Faiz membenarkan letak selimut istrinya, lalu ia kembali keluar dari kamar Olivia sebelum Olivia sadar kehadirannya saat ini. Jujur saja Faiz sangat tersiksa dengan keadaan ini, tetapi semua yang terjadi sungguh membuat dirinya sangat kecewa sekali.


Faiz masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan dirinya di kasur. Faiz tersenyum tipis saat mengingat sifat manja Olivia yang tidak bisa tidur jika belum ia peluk. Dan sekarang mereka tidur terpisah dengan perasaan yang begitu sangat tersiksa.


****


Olivia sangat bersemangat sekali menyiapkan masakan untuk suaminya, bahkan pelayan yang sudah melarangnya pun tidak bisa mencegah Olivia yang pagi ini sangat bersemangat sekali walaupun ia terkadang merasa mual dengan bau masakannya sendiri.


Semua makanan sudah tersaji di meja makan, Olivia sangat senang karena ia bisa membuatkan sarapan untuk suaminya saat ini. Saat ia melihat Faiz turun dari tangga, Olivia langsung berdiri dan menghampiri suaminya.


"Mas ayo sarapan bareng. Nanti setelah sarapan kita berangkat kantor bersama seperti biasanya," ujar Olivia dengan tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa di dalam rumah tangganya.


"Siapa yang menyiapkan semua ini?" tanya Faiz dengan datar.

__ADS_1


"Aku, Mas. Aku sengaja bangun pagi-pagi untuk menyiapkan semua ini. Ayo kita sarapan!" ujar Olivia dengan tersenyum.


"BIBI!" teriak Faiz yang membuat Olivia sangat terkejut.


Beberapa pelayan langsung berlari menghampiri Faiz yang berteriak dengan keras. "I-iya Tuan ada apa?" tanya kepala pelayan dengan terbata.


"Kenapa kalian membiarkan wanita ini memasak? Saya tidak suka masakannya! Jika nanti saya tahu dia masih memasak gaji kalian saya potong. Jangan biarkan dia menyentuh dapur!" ujar Faiz dengan tajam yang membuat Olivia tersentak.


"M-mas, masakan aku seperti biasa kok. Kamu suka pasti," ujar Olivia dengan terbata.


"Diam! Saya sudah tidak suka dengan masakan kamu! Dan kamu tidak perlu ke kantor lagi karena mulai sekarang kamu sudah saya pecat!" ujar Faiz dengan dingin yang membuat Olivia menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Dipecat, Mas? K-kenapa, Mas?" tanya Olivia dengan menahan agar air matanya tidak terjatuh.


"Kamu sudah tidak pantas bekerja di perusahaan saya. Ingat jangan sekali-kali kamu menyentuh dapur!" ujar Faiz dengan tajam.


Faiz meninggalkan Olivia begitu saja tanpa melihat ke arah Olivia kembali yang membuat hati Olivia hancur untuk kesekian kalinya.


"NYONYA!" teriak pelayan saat melihat Olivia jatuh terduduk dengan lemas.


"Bi!" gumam Olivia dengan pandangan kosongnya.


"Iya, Nyonya. Ayo Nyonya kita duduk. Nyonya harus makan agar kedua anak kembar Nyonya dapat nutrisi pagi ini. Tadi kan Nyonya sudah muntah-muntah pasti perut Nyonya kosong sekarang," ujar kepala pelayan dengan lembut walaupun hatinya sedih melihat Olivia di perlakukan seperti ini Olivia Faiz.


"Bi, apakah aku sejijik itu hingga mas Faiz tidak mau menyentuh masakan aku lagi? Padahal aku sudah membuatnya dengan sepenuh hati menghiraukan rasa mualku tadi. Dan apakah aku memang sudah tidak pantas bekerja di perusahaannya? Bi, aku harus bagaimana? Menyerah atau tetap berjuang?" tanya Olivia dengan pandangan terlukanya menatap kepala pelayan.


"Tuan hanya sedang kecewa saja, Nyonya. Setelah hatinya tenang tuan pasti akan kembali seperti dulu. Sekarang Nyonya makan ya saya temani," ujar kepala pelayan dengan lembut.


"Aku sudah kenyang, Bi. Nanti saja!" jawab Olivia dengan lirih.


Olivia berusaha bangun di bantu oleh pelayan. Hatinya begitu sesak hingga Olivia tidak bisa berpikir jernih sekarang.


"Jangan terlalu di pikirkan ya, Nyonya. Masih ada kami di sini yang akan menjaga Nyonya," ujar Pelayan dengan sendu.

__ADS_1


"Bi, tapi di sini benar-benar sakit! Bagaimana jika perjuanganku di sini hanya sia-sia? Apa yang harus aku lakukan, Bi?" gumam Olivia dengan lirih.


"Tidak ada perjuangan yang sia-sia, Nyonya. Saya akan mendukung Nyonya di sini. Sabar ya Nyonya," ujar Pelayan dengan lembut.


"Terima kasih, Bi. Bi, boleh minta tolong buatkan aku cilok? Sepertinya aku sangat ingin memakan itu, masakan tadi kalian makan saja ya biar tidak mubajir," ujar Olivia yang sudah bisa tersenyum kembali.


"Nyonya ngidam? Sebentar ya saya buatkan, Nyonya. Kebetulan sekali ada bumbu kacangnya," ujar pelayan tersebut dengan tersenyum.


"Iya, Bi! Terima kasih sekali lagi ya!" ujar Olivia dengan tersenyum.


"Iya, Nyonya. Nyonya duduk di sini ya jangan kemana-mana saya akan buatkan ciloknya," ujar pelayan


"Iya!"


***


Faiz teringat kembali perlakuan buruknya pada Olivia, padahal semua itu ia lakukan agar Olivia tidak kelelahan. Faiz tahu apa yang ia lakukan sangat salah. Ia tidak ingin Olivia kelelahan dan akan berakibat fatal pada kandungan istrinya.


"Kenapa sudah masuk kantor?" tanya Ferdians yang sudah ada di dalam ruangan.


"Olivia sudah pulang ke rumah, Pa!" ujar Faiz dengan pelan.


"Kalian sudah baikan?" tanya Ferdians dengan serius.


Faiz menggelengkan kepalanya. "Aku masih kecewa dengan Olivia, Pa. Caranya mendekati aku dulu seakan dia sangat mencintaiku tapi ternyata tidak sama sekali," gumam Faiz dengan terkekeh miris.


"Papa sarankan jangan terlalu lama. Bagaimanapun ada cucu-cucu Papa di rahim Olivia sekarang," ujar Ferdians dengan tegas.


"Aku tidak tahu harus bertahan atau berpisah, Pa. Tapi kalaupun nanti kami berpisah aku ingin hak asuh kembar jatuh ke tanganku nantinya," ujar Faiz yang membuat Ferdians sangat tekejut.


"Kamu gila, Faiz! Tidak harus berpisah untuk menyelesaikan masalah! Papa harap kalian tidak berpisah, semua itu bisa dibicarakan dengan kepala dingin. Jangan sampai kedua anak kalian kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya. Pikirkan itu baik-baik, jangan sampai kamu menyesal kehilangan Olivia! Boleh menenangkan diri tapi jangan terlalu lama!" ujar Ferdians dengan tegas.


"Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk melukai wanita! Jangan sampai apa yang kamu lakukan sekarang menghancurkan hidup kamu," ujar Ferdians yang membuat Faiz terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


__ADS_2