Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 30 (Ketakutan Rania)


__ADS_3

...📌 Dukung terus cerita baru author ya. Jangan lupa like, komen, dan bintang limanya ya....


...Happy reading...


****


Rania dan Ferdians sudah sampai di rumah sakit. Ferdians langsung menggendong ibunya dengan perlahan karena keadaan ibunya sudah dalam keadaan tak sadarkan diri.


Dokter dan suster yang lainnya langsung menghampiri Ferdians, Rania, dan suster Ana. Rania sudah menelepon dokter sehingga ibunya di tangani dengan cepat.


Ferdians meletakkan ibunya di brankar dengan perlahan, setelah itu suster langsung mendorong brankar dengan cepat ke UGD.


"Lakukan yang terbaik untuk ibu saya!" ujar Rania dengan tegas.


"Baik, Nona! Anda bisa menunggu di kursi tunggu biar kami tangani dengan segera," ujar dokter dengan tegas.


Rania mengangguk, walaupun hatinya sedang tak karuan tetapi Rania harus tetap tenang walaupun sebenarnya ada rasa trauma dengan rumah sakit. Ia duduk di kursi tunggu dengan sangat gelisah bahkan tangannya saling bertautan dengan keringat dingin yang keluar.


Flashback on...


Rania berlari dengan sekuat tenaga menemui mamanya yang sedang dirawat di rumah sakit akibat sebuah kecelakaan besar. Air matanya sudah mengalir sejak tadi saat sang papa mengabarinya jika mamanya kecelakaan ketika ingin menuju ke kantor.


"MAMA!" teriak Rania saat ia melihat semua keluarganya sudah berkumpul termasuk sahabat mamanya yaitu Agni.


Ben menghampiri anaknya dengan perasaan yang sama-sama hancur.


"M-mama..." Rania sudah tak bisa berbicara lagi dadanya terasa sesak karena terus menangis.


"Mama sudah tidak ada, Sayang!" jawab Ben dengan pelan.


Tes...


Tes...


Air mata Rania kembali menjatuhi kedua pipinya, gadis itu menggeleng kuat tak percaya. "TIDAKK!!! MAMA TIDAK BOLEH PERGI!" teriak Rania histeris.


"Sabar Rania, mama kamu sudah tenang di surga!" ujar Agni dengan sedih.

__ADS_1


"Papa bohong! Tante bohong!" teriak Rania dengan histeris.


Jenazah mama Rania sudah keluar dan tertutup kain kafan, dengan sekuat tenaga Rania menghampiri tubuh mamanya yang sudah kaku. Darah tak henti-hentinya keluar dari hidung dan juga telinga mama Rania.


Tangan Rania gemetar melihat tubuh mamanya yang pucat. Bahkan sudah meninggalkan pun darah mamanya masih keluar yang membuat Rania tidak percaya karena ia dan mamanya baru memasak bersama sebelum mamanya pergi ke kantor untuk menemui papanya.


"M-Mama..."


"MAMA JANGAN TINGGALKAN RANIA!"


Flashback off...


"Sayang!" panggil Ferdians dengan pelan.


Ferdians sedikit menguncang tubuh Rania karena tangan Rania terlihat gemetar, dengan sigap Ferdians memeluk istrinya yang membuat kesadaran Rania kembali pulih setelah mengingat kejadian menyakitkan dimana mamanya meninggal dalam keadaan yang mengenaskan.


"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Ferdians dengan lembut.


Ferdians menggenggam tangan Rania yang terasa dingin. "Tangan kamu dingin sekali, Sayang?!" gumam Ferdians khawatir karena Ferdians baru pertama kali melihat Rania yang seperti ini.


Ferdians sudah menghubungi mertuanya jika ia tidak bisa datang ke kantor kembali karena ibunya sedang sakit. Dan Ferdians sudah menelepon Sastra agar tak mencari mereka di rumah karena keduanya sedang berada di rumah sakit.


"Ibu masih di tangani oleh dokter jangan takut ya, ibu tidak akan kenapa-napa," ujar Ferdians menenangkan istrinya.


"Kamu yakin?" tanya Rania menatap mata Ferdians.


"Yakin, Sayang. Tidak usah takut lagi ya kita sama-sama berdo'a untuk kesembuhan ibu," sahut Ferdians dengan tersenyum yang membuat Rania sedikit lega.


"Tuan, Nona, ini saya beli minum di kantin. Saya lihat Nona sangat syok sekali," ujar Suster Ana memberikan minum untuk Rania dan juga Ferdians.


"Terima kasih, Sus!" ujar Ferdians menerima minuman tersebut.


"Iya, Tuan!"


Ferdians membukakan minuman dingin itu untuk Rania. Wanita itu menerimanya dengan senang hati, sungguh pikiran Rania sama sekali belum jernih sampai sekarang. Ketakutan itu masih kian melekat di pikiran dan hatinya yang membuat Rania sama sekali tidak tenang.


"Dengan keluarga ibu Heera," ucap dokter saat keluar dari ruangan UGD.

__ADS_1


"Saya anaknya, Dok!" ucap Ferdians dengan cepat.


"Bagaimana dengan kondisi ibu saya, Dok?" tanya Ferdians dengan cemas.


"Untuk saat ini Ibu anda sudah sadarkan diri. Ada sesuatu yang ingin sata bicarakan dengan anda ayo ke ruangan saya," ujar dokter dengan tegas.


Ferdians mengangguk dengan tegas. "Sus, tolong jaga ibu sebentar ya!" ujar Ferdians kepada suster Ana.


"Iya, Tuan!"


Ferdians dan Rania berjalan ke ruangan dokter bersama dengan Rania. Genggaman tangan Ferdians tidak lepas dari tangan Rania yang masih terasa dingin dan berkeringat. Segitu takutkah Rania kehilangan ibunya? Rania benar-benar menyayangi ibunya? Bagaimana jika nanti mereka benar-benar berpisah apakah Rania tidak kehilangan ibunya? Mengingat sekarang Rania terlihat sangat takut kegilaan sosok ibu Heera di dalam hidupnya.


Ferdians dan Rania sudah masuk ke ruangan dokter, keduanya sudah duduk di hadapam dokter yang menangani ibu mereka.


"Apa yang terjadi, Dok? Ibu saya baik-baik saja, kan? Dia tidak meninggalkan saya, kan?" tanya Rania dengan bertubi-tubi.


"Begitu Nona. Kanker yang di derita ibu Heera semakin parah. Leukimia memang terkenal dengan kanker darah yang sangat mematikan penderitanya, saat ini kanker tersebut sudah stadium tiga. Jalan terakhir kita harus melakukan kemoterapi lebih lanjut atau ibu Heera harus melakukan operasi sumsum tulang belakang, tapi kesembuhan ibu Heera hanya 5 persen saja," ujar dokter dengan tegas.


"Lakukan yang terbaik untuk Ibu saya, Dok. Jangan biarkan kanker tersebut terus menggerogoti tubuh ibu saya! Berapapun biayanya akan saya bayar asal Ibu saya kembali sehat," ujar Rania dengan menggebu-gebu.


Padahal yang anaknya Heera adalah Ferdians tetapi Rania terlihat seperti anak kandungnya sekarang. Ferdians berterima kasih kepada istrinya, suatu saat Ferdians akan menggantikan uang Rania. Ia harus bekerja keras lagi untuk membahagiakan Rania dan ibunya, ia menatap Rania dengan pandangan penuh syukur karena dibalik sikap sombongnya Rania masih peduli dengan ibunya.


"Saya akan melakukan yang terbaik, Nona. Tetapi takdir berada di tangan Tuhan. Berdo'a lah untuk kesembuhan ibu Heera," ujar dokter tersebut dengan tersenyum.


"Apa yang istri saya minta tolong lakukan, Dok! Dia ibu satu-satunya bagi kami," ujar Ferdians dengan tegas.


"Baik, Tuan!"


****


Rania duduk di kursi samping brankar Heera setelah siuman dan keadaan ibunya terlihat sedikit membaik perasaan Rania sedikit lega, bahkan ia tertidur dengan memegang tangan Heera.


Ferdians menghampiri istri dan ibunya dengan perlahan. Ia menatap ibu dan istrinya secara bergantian, dua wanita berharga di kehidupan Ferdians. Dan Ferdians sangat beruntung memiliki Rania dalam kehidupannya.


"Terima kasih mau menyayangi ibu seperti kamu menyayangi mama, Sayang!" gumam Ferdians mengelus rambut Rania dengan sayang.


Ferdians tak mau menganggu tidur istrinya, ia lebih memilih duduk di kursi seberang istrinya sambil menunggu istri dan ibunya bangun.

__ADS_1


"Ibu, lihatlah menantumu. Walaupun dia tak mencintaiku tapi terlihat jelas ia menyayangi ibu. Bolehkah aku egois untuk memilikinya sepanjang usiaku? Hidup bahagia bersama dengan Rania dan anak-anak kami. Bu kembali sehatlah karena tidak hanya aku yang tidak ingin kehilangan ibu tapi juga Rania, kecemasannya membuat aku sadar kalau ada trauma di dalam hatinya. Bu, do'akan aku bisa membantu membongkar kasus kematian mama mertuaku ya, Bu. Karena aku juga merasa janggal akan hal itu walaupun orang yang telah menabrak mama sudah di penjara tapi aku merasa jika dia bukan pembunuh mama," gumam Ferdians dengan lirih.


"Ibu, aku sudah mencintai istriku sendiri!" gumam Ferdians dengan lirih.


__ADS_2