
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Ini sudah sangat siang dan Rio maupun Anjani belum menemukan Olivia sama sekali. Mereka sudah bertanya ke sana ke mari dengan memberitahu foto Olivia kepada orang-orang. Namun, tak ada yang melihat anaknya tersebut.
Rio dan Anjani tampak Frustasi. Kemana lagi mereka harus mencari Olivia, keduanya sangat merasa bersalah sekali kepada anak semata wayang mereka.
Rio melihat ke arah istrinya yang tampak pucat, ia baru ingat jika mereka belum makan sama sekali. "Sayang, kita makan dulu ya. Setelah itu kita mencari Olivia lagi," ujar Rio dengan lembut.
Anjani menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tak nafsu makan, yang ada di kepalanya saat ini ia harus mencari Olivia sampai ketemu, bahkan kepalanya sampai pusing sekarang. Anjani meringis saat merasakan kepalanya sangat pusing.
"Sayang aku tidak mau kamu sakit, kita harus tetap makan agar kita bisa mencari keberadaan Olivia sampai ketemu. Jika kita berdua sakit bagaimana kita akan mencari Olivia? Bahkan Faiz pun belum bisa menemukan keberadaan Olivia sampai sekarang," ujar Rio dengan lirih.
Ya, Rio kembali menelepon calon menantunya tersebut. Menanyakan apakah Faiz sudah menemukan keberadaan Olivia, namun hatinya kembali kecewa kala jawaban Faiz tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan sejak tadi yaitu Olivia sudah ketemu, tetapi nyatanya anaknya itu belum ditemukan sampai sekarang.
Anjani tampak berpikir, apa yang dikatakan suaminya ada benarnya jika dirinya tidak makan bisa saja ia jatuh sakit dan tak bisa mencari keberadaan Olivia.
"Kita makan dulu ya! Aku tahu kamu tidak berselera makan, Sayang. Mas juga begitu, tapi kita harus mempunyai tenaga untuk mencari keberadaan anak kita," ujar Rio dengan lembut.
"Iya, Mas. Kita makan di tempat itu saja!" ucap Anjani menunjuk ke arah warung pinggir jalan.
Anjani sudah sangat malas untuk mencari cafe atau restoran lain. Ia hanya ingin cepat makan dan bisa kembali mencari keberadaan Olivia. Akhirnya Rio mengangguk, ia menjalankan mobilnya mendekat ke arah warung pinggir jalan yang tidak tidak terlalu ramai karena ia dan Anjani butuh ketenangan sejenak untuk menenangkan pikiran mereka sejenak.
Rio dan Anjani keluar dari mobil, keduanya langsung memesan makanan yang terlihat sangat enak tersebut. Namun, setelah makanan itu datang di meja mereka Anjani maupun Rio sama sekali tidak berselera, makanan itu memang terlihat enak namun suasana hati mereka yang sedang tidak menentu membuat keduanya tidak berselera. Bahkan Anjani hanya makan beberapa suap saja begitu pun dengan Rio. Tetapi untung saja sudah ada nasi yang masuk ke perut mereka.
"Setelah ini Mas antarkan pulang ya, Sayang. Mas akan mencari Olivia sendiri dan kamu beristirahat di rumah saja," ujar Rio dengan lembut tetapi Anjani menggelengkan kepalanya dengan keras.
"Tidak, Mas! Aku harus ikut! Aku harus memastikan Olivia benar-benar ketemu dengan keadaan yang tak kurang suatu apapun!" ujar Anjani dengan tegas.
"Kamu perlu istirahat, Sayang!"
"Tidak, Mas! Aku tidak akan pulang sebelum Olivia ketemu!" ujar Anjani dengan tegas.
Rio menghela napasnya dengan pelan, ia tak lagi memaksa istrinya. Setelah ia membayar makanan yang mereka pesan akhirnya keduanya kembali pergi untuk mencari Olivia kembali. Dan semoga saja sebelum malam Olivia sudah ditemukan.
****"
Cassandra melihat kedatangan Rajendra ke mejanya dengan tersenyum. Tetapi tatapan Rajendra begitu sangat datar kepada dirinya yang membuat Cassandra menelan ludahnya dengan kasar. Ada apa dengan Rajendra? Kenapa tatapannya begitu sangat dingin kepada dirinya? Apa yang terjadi? Banyak pertanyaan di benak Cassandra saat ini.
"Selamat siang, Tuan! Ini sudah waktunya beristirahat. Anda ingin makan siang dimana?" tanya Cassandra dengan tersenyum menyembunyikan kegugupannya karena tatapan Rajendra kepada dirinya.
__ADS_1
Rajendra berusaha meredam amarahnya saat ini, melihat Cassandra seakan ia ingin menelan gadis itu hidup-hidup. Rajendra berusaha tersenyum kepada Cassandra.
"Ayo kita makan di luar!" ujar Rajendra dengan tegas.
"Tuan mengajak saya?" tanya Cassandra tidak percaya.
"Iya kamu. Ayo kita makan di luar," ujar Rajendra dengan tegas. Sebenarnya ia sudah tidak tahan ingin segera memberi pelajaran untuk Cassandra tetapi ia tidak mau rencananya gagal, semua ia lakukan dengan rencana yang begitu sangat matang. Untuk sekarang, ia harus berbaik hati dengan gadis ular di hadapannya ini.
"Iya saya mau, Tuan!" ujar Cassandra dengan bersemangat ternyata Rajendra masih sangat baik kepada dirinya, ia pikir Rajendra sedang marah kepadanya.
Rajendra berjalan duluan yang di susul oleh Cassandra yang terlihat senyum-senyum sendiri saat ini. Ini kesempatannya kembali untuk membuat Rajendra jatuh hati kepadanya.
Akhirnya keduanya sudah sampai di restoran yang tidak jauh dari kantor Rajendra. "Mau pesan apa?" tanya Rajendra kepada Cassandra.
"Terserah Tuan saja!" ucap Cassandra dengan tersenyum.
"Di restoran ini tidak ada menu terserah. Katakan saja makanan apa yang ingin kamu pesan," sahut Rajendra yang membuat Cassandra sedikit malu.
"Stik dan jus mangga saja, Tuan!" ucap Cassandra dengan canggung.
Rajendra menangguk. "Pelayan!" panggil Rajendra dengan tegas.
"Iya, Tuan. Mau pesan apa?" tanya pelayan tersebut dengan ramah.
"Stik dua, jus mangga dua," ujar Rajendra dengan tegas.
Keduanya menunggu pesanan mereka dengan mengobrol dengan ringan hingga pesanan datang dan akhirnya mereka makan bersama.
"Saya sangat senang sekali Tuan mau mengajak saya makan siang bersama di restoran ini," ujar Cassandra dengan tersenyum.
"Saya lega jika kamu senang. Sebenarnya saya sedang banyak pikiran, saya butuh teman untuk mengobrol," ujar Rajendra dengan pelan.
Cassandra tersenyum. Ini kesempatan ia untuk mendapatkan simpati dari Rajendra. "Anda bisa mengobrol dengan saya, Tuan. Saya akan menjadi pendengar yang baik," ujar Cassandra dengan lembut.
"Terima kasih! Sebelum saya bercerita saya mau tanya apakah benar kakak kamu kabur dari rumah?" tanya Rajendra yang langsung membuat Cassandra terdiam dan memasang wajah sendunya.
"Iya, Tuan. Semalam Kakak saya mengetahui jika dia adalah anak di luar nikah karena melihat buku nikah kedua orang tua kami. Lalu Kakak histeris dan kabur dari rumah," ujar Cassandra dengan sendu.
Rajendra tersenyum licik. "Pandai sekali gadis ini berakting. Dia tidak tahu saja jika aku dan yang lainnya sudah mengetahui semuanya, tapi aku ikuti saja permainannya," gumam Rajendra.
" Semoga kakak kamu cepat ketemu ya!" ujar Rajendra menyentuh tangan Cassandra.
"Terima kasih, Tuan. Tadi anda ingin berbicara apa, Tuan? Tentang kakak kita bahas nanti saja ya Tuan karena hati saya sangat sedih membicarakan kakak yang belum ketemu sampai sekarang," ujar Cassandra dengan cepat.
__ADS_1
"Baiklah. Saya sudah disuruh menikah dengan papa karena menurutnya seorang CEO harus memiliki pasangan secepatnya agar saya bersemangat bekerja. Tetapi saya bingung karena saya belum mempunyai pasangan sama sekali," ujar Rajendra dengan menghela napasnya dengan sendu.
"Masa tidak ada gadis yang mendekati Tuan sih? Emang kriteria istri impian Tuan yang bagaimana?" tanya Cassandra dengan penasaran.
"Tentunya cantik, baik, dan terutama tidak mengambil hak orang lain," ucap Rajendra dengan menggebu-gebu.
"Maksud dari mengambil hak orang lain bagaimana, Tuan?" tanya Cassandra dengan bingung.
"Saya pernah melihat ada seorang gadis yang selalu merebut barang milik kakaknya dengan rasa tak bersalah. Padahal kakaknya sama sekali tidak ingin memberikannya, saya sangat kesal dengan gadis serakah seperti itu bahkan sangat membenci gadis yang bersifat seperti itu," ujar Rajendra dengan datar.
Cassandra yang mendengarnya menelan ludahnya dengan kasar. Bagaimana jika Rajendra tahu jika dia sering seperti itu dengan Olivia? Rajendra tentu saja akan membencinya bukan? Rajendra tidak boleh tahu dirinya seperti itu.
"S-siapapun akan membenci gadis yang mempunyai sifat seperti itu, Tuan!" ucap Cassandra dengan terbata.
"Tentu saja. Tapi saya yakin gadis yang saya sukai tidak memiliki sifat seperti itu. Bahkan saya ingin mengajak dia menikah," ujar Rajendra dengan tenang.
"T-tuan sudah mempunyai gadis yang Tuan sukai?" tangan Cassandra dengan tak percaya. Hampir saja ia berteriak karena kaget.
Rajendra terkekeh. "Sebagai seorang lelaki tentu saja saya ada menyukai gadis yang menarik hati saya dan saya berniat ingin melamarnya segera, Cassandra!" ujar Rajendra dengan tersenyum.
"S-siapa gadis itu, Tuan? M-maksudku dia pasti sangat beruntung bisa dicintai oleh Tuan dan menjadi istri, Tuan!" ujar Cassandra dengan pelan.
"Sial! Jika tuan Rajendra menyukai gadis lain bagaimana dengan rencana yang sudah aku sudun dari lama? Aku tidak ingin mama dan papa kecewa karena aku gagal," gumam Cassandra di dalam hati.
"Tentu saja Olivia!" gumam Rajendra di dalam hati tak mungkin ia mengatakan itu di depan Cassandra kalau tidak ingin rencananya untuk menjebak Cassandra masuk ke perangkapnya gagal.
"Gadis itu adalah kamu, Cassandra!" ujar Rajendra dengan memaksakan senyumannya.
"S-saya?!" tanya Cassandra dengan syok bahkan nyaris ia tidak percaya dengan pendengarannya saat ini. Rajendra menyukai dirinya?
"Iya kamu. Saya tidak ingin bertele-tele soal hubungan. Jadi, maukah kamu menjadi istri saya, Cassandra? Saya merasa kamu adalah orang yang tepat untuk berada di samping saya membangun perusahaan semakin maju bersama kamu adalah impian saya, sejak saya sudah tertarik dengan kamu, saya selalu membayangkan impian saya itu. Jika kamu sudah menjadi istri saya apapun yang kamu mau akan saya berikan. Bagaimana Cassandra?" tanya Rajendra dengan wajah penuh harap. Namun, itu adalah akting semata agar Cassandra semakin masuk ke dalam permainannya.
"S-saya juga sudah menyukai tuan dari lama. Saya mau menjadi istri, Tuan!" ujar Cassandra dengan tersenyum bahagia.
"Akhirnya yang aku tunggu-tunggu datang juga. Sebentar lagi aku akan menjadi nyonya Danuarta. Rajendra aku akan memaafkan rasa cinta kamu untuk mem*ras harta kamu dan kemudian membuat keluarga kamu menderita. Haha senangnya!" gumam Cassandra di dalam hati.
"Terima kasih, Sayang. Kita akan menikah setelah Faiz dan Olivia menikah. Tentu saja setelah Olivia dapat ditemukan, kita tidak mungkin menikah duluan. Kita harus menghormati kakak kamu. Setelah Olivia ketemu saya langsung melamar kamu kepada om Rio dan tante Anjani. Kamu setuju, kan?" tanya Rajendra dengan mencium tangan Cassandra.
"Iya, Tuan. Saya setuju!" ucap Cassandra dengan bahagia.
" Jangan panggil saya tuan lagi karena kamu sebentar lagi akan menjadi nyonya Danuarta. Jadi, panggil saya mas saja. Saya suka panggilan itu," ujar Rajendra dengan tersenyum tipis.
"I-iya, Mas!"
__ADS_1
"Kena kau!" gumam Rajendra dengan menyeringai.
"Sebentar lagi kamu akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya Cassandra! Tunggu saja surga yang akan aku berikan untukmu nanti. Surga yang sangat berbeda dari yang lain tentunya," batin Rajendra dengan sangat licik.