
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Dengan jas kerja yang senada Rania dan Ferdians berangkat bersama dalam satu mobil. Seperti biasanya Ferdians akan menjadi supir untuk Rania ke kantornya barulah Ferdians akan berangkat ke perusahaan Danuarta di mana ia sudah menjadi CEO di sana.
Rania menatap ke arah iPadnya dengan sangat serius. "Nanti saya ada meeting jam 10," ucap Rania dengan datar.
"Di mana?" tanya Ferdians dengan menatap Rania sekilas.
"Di C&S Company," jawab Rania dengan singkat.
"Jam 10 aku masih ada pekerjaan tapi akan aku usahakan untuk memgantarkanmu," ucap Ferdians dengan santai.
"Tidak usah. Saya akan berangkat dengan Anjani dan juga Sastra! Fokus saja bekerja, saya tidak mau papa dan kakek men-cap kamu lelaki tidak bertanggung. Itu artinya perusahaan akan diambil ahli oleh mereka dan saya akan malu dan juga gagal mendapatkan Danuarta Grup," ujar Rania tanpa melihat ke arah Ferdians.
Ferdians tersenyum kecil. Tanpa Rania sadari perkataan Rania tadi seakan meminta izin untuk pergi kepadanya. Rania istri yang baik bukan? Walaupun sebenarnya Rania tidak sadar dengan ucapannya itu tapi hal sekecil itu membuat Ferdians merasa jika dirinya memang ada di hati Rania.
Ferdians mengacak rambut Rania dengan pelan dan mencium puncak kepala Rania dengan lembut. "Maaf ya sekarang aku tidak bisa mengantarkan kamu seperti biasanya tapi pulang nanti aku janji akan menjemputmu," ucap Ferdians dengan lembut.
"Rambut saya jadi berantakan Ferdians!" ujar Rania dengan kesal.
Rania merapihkan kembali rambutnya yang di acak oleh Ferdians. Walau tak berantakan tetap saja Rania merapihkan rambutnya. Perlakuan Ferdians yang seperti ini membuat jantungnya tidak aman apalagi semalam yang membuat Rania menjadi canggung saat Ferdians berucap jika ia tidak sabar menantikan anak mereka.
"Tetap cantik kok," ujar Ferdians dengan tersenyum.
"Cih... Tidak cocok menjadi pria penggombal sama sekali," ujar Rania dengan datar.
"Tapi kenapa pipinya menjadi merah hmm? Tadi tidak terlalu merah?!" tanya Ferdians yang membuat Rania menjadi kesal.
Bukk...
Rania memukul Ferdians dengan tas miliknya yang membuat Ferdians mengaduh pelan. "Sayang tadi malam sudah di jewer dan sekarang di pukul pakai tas. Sakit, Sayang!" rengek Ferdians yang membuat Rania mendengkus.
"Saya tidak peduli!" ujar Rania dengan ketus. Rania memalingkan wajahnya memandang ke arah jendela, pipinya menjadi panas karena ucapan Ferdians. Ada apa dengan dirinya? Kenapa Rania jadi seperti ini?
"Rania ingat tujuan awal kamu menikah dengan Ferdians! Jangan percaya dengan gombalan pria di samping kamu ini!" ujar Rania di dalam hati.
Ferdians terkekeh rasanya membuat Rania kesal dan salting seperti ini sangat menyenangkan, ia mengambil tangan Rania dan ia genggam dengan erat yang membuat Rania sedikit tersentak.
"Lepas, Ferdians!" ujar Rania dengan datar.
"Tidak mau! Anggap saja ini adalah cicilan agar aku tidak merindukanmu saat di kantor nanti," ujar Ferdians dengan tegas.
__ADS_1
Rania melihat tangannya yang di genggam oleh Ferdians. Ia mencoba melepaskan tangannya tetapi Ferdians terlalu kuat menggenggam tangannya dan akhirnya Rania pasrah hingga akhirnya mobil yang di kendarai oleh Ferdians sampai di kantor Rania dan tak lama juga keduanya melihat mobil Sastra juga berhenti di sebelat mereka.
"Sebentar!" ucap Ferdians sebelum Sastra membukakan pintu untuk Rania.
"Ada apa lagi?" tanya Rania dengan kesal.
Ferdians menunjukkan ke arah bibirnya. "Vitamin untuk kerja, Sayang!" ujar Ferdians dengan menggerakkan jarinya di bibirnya.
"Vitamin? Beli vitamin di apotek saya tidak punya vitamin," ujar Rania dengan datar.
"Astaga punya istri sangat menggemaskan sekali itu ternyata menguji adrenalin. Sepertinya pakai kode-kode tidak akan mempan," ujar Ferdians dengan tersenyum paksa.
Cup...
Cup...
"Vitamin yang aku maksud seperti ini, Sayang! Sudah mengertikan istriku sayang?!" ujar Ferdians dengan tersenyum penuh kemenangan karena ia bisa membuat Rania terdiam.
Ferdians membuka kaca pintu Rania. Ferdians tahu jika Sastra sedang melihat ke arah mereka, tatapan Sastra seperti sangat merindukan seseorang. Apakah Sastra sedang merindukan mantan istrinya?
"Sastra!" panggil Ferdians yang membuat Sastra tersentak.
"Iya, Tuan!" jawab Sastra dengan tegas.
Sedangkan Rania tanpa sadar ia memegang bibirnya yang di cium oleh Ferdians. Jadi, vitamin yang di maksud Ferdians tadi adalah sebuah ciuman? Shitt... Kenapa Rania menjadi sangat malu sekali? Dan kenapa kedua pipinya memerah karena perhatian Ferdians? Ini tidak bisa di biarkan terlalu lama!
"Baik saya akan menjaga nona Rania selama anda bekerja di Danuarta Grup, Tuan. Apakah Tuan perlu asisten?" tanya Sastra yang membuat Ferdians berpikir.
"Untuk saat ini tidak usah dulu. Yang terpenting kamu menjaga istri saya ya selama saya bekerja," ujar Ferdians dengan tegas.
Ferdians menatap Rania yang ternyata masih memegang bibirnya sendiri. "Kenapa, Sayang? Mau di cium lagi?" tanya Ferdians dengan terkekeh.
"Tidak!" jawab Rania dengan singkat.
Cup...
Ferdians mencuri ciuman di pipi Rania. "Vitamin penutup. Terima kasih vitamin semangatnya pagi ini, Sayang. Semangat bekerja istriku!" ujar Ferdians dengan tersenyum.
Sastra langsung membukakan pintu mobil untuk Rania. Rania dengan cepat keluar dari mobil karena tak mau Ferdians terus menciumnya.
"Sana berangkat! Jadi CEO tidak boleh terlambat! Jika kamu membuat kesalahan akan saya hukum kamu," ujar Rania yang di amgguki oleh Ferdians.
"Iya, Sayang. Terima kasih omelan paginya yang membuat suamimu ini semangat untuk mencari nafkah," ujar Ferdians dengan terkekeh.
Ferdians melambaikan tangannya ke arah Rania setelah itu ia menjalankan mobilnya kembali dan menuju perusahaan Danuarta.
__ADS_1
"Sepertinya tuan Ferdians mulai mencintai anda, Nona!" ujar Sastra yang membuat Rania menatap Sastra.
"Cinta? Jangan katakan cinta di hadapan saya jika kamu saja gagal mempertahankan wanita yang kamu cintai!" ujar Rania yang mampu menghunus jantung Sastra.
Skamat!
Sastra lebih memilih diam saat Rania sudah mengeluarkan suara beracunnya. Perkataan Rania kali ini sangat mengena di hatinya kali ini dan membuat Sastra tidak bisa berkutik.
***
"Selamat datang Tuan Ferdians! Ini jadwal anda hari ini," ucap sekretaris Ferdians sekarang.
"Ya terima kasih!" ujar Ferdians dengan tegas.
"Dan ini semua dokumen yang berada di tangan tuan Ben dan sekarang anda yang harus meng-handle semuanya," ujar sekretaris Ferdians yang akan mengajari bagaimana Ferdians bekerja di perusahaan ini yang membuat Ferdians banyak menghabisi waktu di kantor.
Ferdians mulai mempelajari dokumen-dokumen kantor dengan sangat teliti, ia mulai menikmati pekerjaannya karena Ferdians memotivasi dirinya sendiri untuk bisa membahagiakan Rania. Tetapi Ferdians tidak sadar jika waktu terus berjalan dan ia telat untuk menjemput Rania.
"Astaga mati aku! Singa betinaku pasti mengamuk lagi!" ujar Ferdians setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore lewat 15 menit padahal sekretarisnya tadi sudah memperingatinya jika sebentar lagi jam pulang kerja.
Ferdians dengan cepat membereskan dokumen-dokumen penting yang ada di mejanya, ia sudah membayangkan bagaimana kemarahan singa betina miliknya jika sedang kesal kepadanya dan itu membuat Ferdians Bergidik ngeri.
***
Sedangkan Rania menatap jam di tangannya dengan sangat datar. Sastra sudah mengajak Rania untuk pulang bersama tetapi Rania menolaknya, padahal bisa saja wanita itu pulang duluan bersama dengan Sastra tetapi entah apa yang membuat Rania tetap harus menunggu Ferdians.
"Nona, mungkin tuan Ferdians sangat sibuk apalagi ini hari pertamanya bekerja. Saya bisa mengantarkan anda pulang, Nona!" ucap Sastra dengan tegas.
"Tidak! Saya akan tetap menunggu Ferdians!" ujar Rania dengan suara dingin yang amat menyeramkan.
"Ini sudah sangat sore, Nona. Sebentar lagi petang," ujar Sastra berusaha membujuk Rania.
"Jika kamu tidak mau menemani saya silahkan pergi! Saya tidak menahan kamu di sini," ujar Rania dengan tajam.
"Saya akan tetap di sini, Nona!" ujar Sastra dengan tegas.
Mobil Rania yang di kendarai oleh Ferdians mendekat ke arah mereka yang membuat wahah Rania berubah teramat dingin.
"Telat 32 menit!" ujar Rania dengan datar.
"Maaf, Sayang. Tadi pekerjaanku banyak sekali dan perjalanan cukup padat," ujar Ferdians merasa bersalah.
"Baru menjadi CEO dalam sehari saja sudah sangat menjengkelkan! Terima hukumanmu di rumah, Ferdians!" ujar Rania dengan tajam yang membuat Ferdians menelan ludahnya kasar.
"Mampus kamu Ferdians! Terimalah hukuman dari singa betina cantik milikmu ini!"
__ADS_1