
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...*****...
Faiz menatap istrinya dengan pandangan yang sulit di artikan, besok adalah pernikahan Rajendra dengan Bunga tetapi Faiz merasa bersalah dengan istrinya karena menyembunyikan hal sebesar ini kepada Olivia. Tapi apa mau di kata karena bagaimanapun ini untuk kebaikan bersama, ia tidak ingin Olivia marah karena Rajendra telah menduakan adik kesayangannya.
"Sayang, Mas pergi ke Bali sebentar ya. Paling dua hari saja dan kamu tinggal sementara sama ayah dan bunda dulu tidak apa-apa, kan?" tanya Faiz menatap Olivia.
"Mas mau ngapain ke Bali? Biasanya Mas selalu mengajak aku tetapi kenapa kali ini aku tidak boleh ikut? Kenapa Mas?" tanya Olivia dengan sangat gelisah.
Pikiran Olivia sudah entah kemana, ia takut Faiz mempunyai wanita lain selain dirinya saat ini. Sungguh Olivia sangat takut di tinggalkan oleh Faiz ke Bali sekarang.
"Mas ingin melihat lokasi pembangunan villa milik keluarga di sana, Sayang. Ada Gavin dan om Rajendra yang ikut bersama dengan Mas. Jangan khawatir Mas tidak akan macam-macam di sana, Sayang. Kalau itu yang kamu takutkan," ujar Faiz yang seakan tahu ketakutan istrinya sekarang.
"Aku ikut ya, Mas!" ujar Olivia dengan merengek yang membuat Faiz tidak tega, jika tidak menghadiri pernikahan Rajendra dengan Bunga pasti Faiz sudah mengajak istrinya ikut bersamanya saat ini.
"Tidak bisa, Sayang. Jalanan cukup terjal, Mas tidak mau kamu kelelahan, Sayang. Sudah ya kamu di rumah saja Mas tidak akan lama, Sayang. Mas janji setelah itu Mas akan langsung pulang," ujar Faiz yang membuat Olivia menunduk sedih.
"Tapi janji selama di sana Mas akan menghubungi aku terus," ujar Olivia dengan sendu.
"Pasti, Sayang. Mas akan terus menghubungi kamu. Jangan sedih dong Mas tidak akan lama di Bali setelah urusan Mas selesai, Mas akan langsung menjemput kamu ke rumah ayah," ujar Faiz dengan tersenyum.
Cup...
Faiz mengecup kening Olivia dengan sayang. Tak tega melihat wajah sedih istrinya karena ia tinggalkan membuat Faiz ingin sekali mengajak Olivia. Namun, ini semua tak mungkin karena pernikahan Rajendra dan Bunga masih begitu privasi.
"Tapi di Bali Mas tidak menemui perempuan lain, kan?" tanya Olivia dengan sangat takut.
Faiz terkekeh. "Bukan, Sayang! Pegang kata-kata Mas ini. Kamu hanya satu-satunya istri Mas sampai kapanpun!" ujar Faiz dengan tegas dan tak ada raut kebohongan di wajahnya yang membuat Olivia sangat lega. Namun, masih ada ketakutan di hatinya saat ini.
__ADS_1
"Sekarang ayo Mas antar ke rumah ayah dan bunda karena sore ini Mas akan langsung pergi ke Bali bersama om Rajendra dan Gavin," ujar Faiz yang membuat Olivia mengangguk dengan lesu. Masih merasa aneh dengan suaminya yang tak ingin mengajak dirinya ke Bali padahal Faiz selalu membawanya ke mana pun suaminya itu pergi tapi kali ini sangat terasa berbeda.
Dengan perasaan yang tak menentu Olivia mengikuti langkah kaki suaminya keluar dari kamar mereka. Sesampainya di mobil Olivia langsung masuk ke dalam mobil setelah Faiz membuka pintu untuk dirinya.
"Sayang, Mas di sana cuma sebentar jangan sedih seperti itu dong," ujar Faiz dengan tidak tega menatap wajah Frisa yang terlihat seperti ingin menangis.
Olivia memeluk lengan Frisa dengan erat. "Aku bakal kangen sama Mas," gumam Olivia dengan lirih.
"Kalau begitu Mas tidak jadi pergi saya ya! Kita putar balik saja," ujar Faiz tak tega.
"Ehh... Jangan, Mas. Mas boleh pergi kok! Aku akan menunggu Mas pulang," ujar Olivia menjadi tak enak hati.
****
Faiz dan Olivia sudah sampai di rumah kedua orang tua Olivia. Faiz menatap ayah mertuanya.
"Yah, saya titip Olivia sebentar ya. Saya akan pergi ke Bali untuk dua hari karena ingin melihat pembangunan villa di sana bersama dengan om Rajendra dan Gavin," ujar Faiz dengan pelan.
"Iya, Faiz. Kamu jangan khawatir ya! Olivia akan aman bersama dengan kami," ujar Anjani memeluk anaknya dengan erat.
"Terima kasih, Yah, Bun! Kalau begitu saya langsung pergi saja ya!" ujar Faiz dengan tersenyum.
Faiz memeluk istrinya dengan erat, dan kembali mencium kening istrinya dengan lembut. "Mas pergi ya. Mas tidak akan lama di sana," ujar Faiz dengan lembut.
"Iya, Mas!" sahut Olivia dengan tersenyum.
Faiz sudah berpamitan kepada kedua mertuanya dan kepada sang istri. Olivia menatap kepergian suaminya dengan menghela napasnya dengan pelan.
Olivia melambaikan tangannya kepada Faiz yang sudah masuk ke dalam mobil yang di balas oleh Faiz. Setelah Faiz tidak terlihat lagi barulah Olivia bersama dengan kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah.
"Oo iya Cassandra tidak pulang ke sini?" tanya Anjani bertanya kepada Olivia.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Bun. Tapi mungkin Cassandra tidak pulang ke rumah ini karena kata mas Faiz di rumah Cassandra banyak pelayan melebihi pelayan di rumah kami," ujar Olivia dengan tersenyum. "Atau bisa saja dia menginap di rumah kakek Ben, Bun!" ujar Olivia dengan tersenyum.
"Oo iya benar juga. Ayo Sayang kita ke dalam, kita buat kue ya, sudah lama kita tidak buat kue bersama," ujar Anjani dengan tersenyum.
"Iya, Bun. Ayo kita buat," ujar ujar Olivia dengan tersenyum.
Olivia kembali terlihat tersenyum bahagia karena ia juga merindukan bunda dan mamanya. Tanpa mengetahui semua keluarga suaminya juga ikut ke Bali.
****
Keesokan harinya....
Bunga menatap sekeliling pantai Bali yang sudah di dekorasi dengan sangat indah, angin pantai yang menerpa wajahnya membuat Bunga tersenyum, Bunga tak pernah bermimpi seperti ini sebelumnya. Sebentar lagi ia akan menikah dengan orang yang sangat ia cintai walaupun statusnya masih menjadi istri kedua dari Rajendra nantinya tetapi Bunga akan tetap sabar menerima karena suatu saat Bunga akan menjadi wanita Satu-satunya yang Rajendra miliki.
Dengan setia Rini juga mendampingi sahabatnya, walaupun Rini tahu di dalam hati Bunga sekarang menyimpan kegundahan karena menikah tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya sebab Bunga dan yang lainnya tidak ingin terjadi kekacauan jika sampai kedua orang tua Bunga mengetahui pernikahan ini.
"Bunga, aku tahu ini sangat berat karena bagaimanapun kamu menikah dengan tuan Rajendra yang masih menjadi suami kakak kamu sendiri. Tapi aku yakin kamu akan bahagia bersama dengan tuan Rajendra," ujar Rini menatap sahabatnya dengan tatapan yang begitu sangat tulus.
"Aku bahagia, Rin. Tapi aku juga sedih karena aku merasa menjadi pelakor di rumah tangga mas Rajendra dan kak Cassandra," gumam Bunga dengan lirih.
Rini menggenggam tangan sahabatnya. "Kamu bukan pelakor, Bunga! Pernikahan tuan Rajendra dengan nona Cassandra bukanlah pernikahan yang di dasari atas cinta. Pernikahan mereka tidak seindah itu," ujar Rini menyemangati sahabatnya.
"Iya aku tahu, Rin. Tapi pernikahan kami juga nanti pasti tidak akan sesederhana itu. Banyak masalah yang mungkin akan kami hadapi. Do'akan aku kuat ya, Rin. Karena aku tahu masalah kami mungkin akan datang dari keluargaku sendiri," ujar Bunga tersenyum.
"Pasti, Bunga!" ujar Rini dengan tulus.
"Tante Bunga ayo ke sana penghulu sudah datang!" ujar Frisa dengan tersenyum.
Frisa dan Rini mengapit kedua lengan Bunga untuk duduk di kursi tak lama Rajendra juga sudah datang bersama dengan Ana dan juga Ben. Keduanya saling menatap satu sama lain dan tersenyum hangat, tempat ini akan menjadi kenangan yang sangat indah untuk keduanya.
Kenangan di Bali tidak akan terlupakan oleh keduanya. Tempat di mana ia dan Rajendra akan menjadi suami istri untuk selamanya.
__ADS_1