Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 135 (Manusia Tembok)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Saat ini Frisa dan Gavin sedang berada di dalam mobil berdua setelah mengunjungi kakek Eric dan nenek Gista. Frisa sibuk dengan dunianya sendiri begitupun dengan Gavin yang fokus menyetir karena keselamatan Frisa adalah hal yang utama baginya.


"Langsung pulang, Nona?" tanya Gavin tanpa melihat ke arah Frisa.


Frisa langsung melihat ke arah Gavin. Ia tampak berpikir sejenak. "Pulang saja!" jawab Frisa seadanya lalu ia kembali sibuk pada ponselnya.


Tak diketahui oleh Gavin saat ini Frisa sedang melihat foto-foto Melvin anak dari Ricard pengawal Rania yang terlihat sangat tampan sekali, berbeda dengan Gavin yang seperti manusia tembok, Malvin adalah pria yang sangat ramah dan murah senyum bahkan Frisa selalu tertawa ketika Melvin sudah melontarkan candaan untuk dirinya.


"Ganteng banget sih!" gumam Frisa tanpa sadar terdengar oleh Gavin.


"Siapa yang ganteng, Nona?" tanya Gavin dengan penasaran tetapi wajahnya tetap saja datar.


Frisa mendelik kesal ke arah Gavin. "Fokus saja menyetir jangan kepo! Dasar manusia tembok!" ucap Frisa dengan ketus.


Gavin tak banyak bicara lagi. Lelaki itu kembali fokus pada jalan dan tak lagi mempedulikan Frisa yang masih asyik dengan ponselnya dan tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila hanya karena melihat foto Melvin.


****


Mobil yang dikendarai oleh Gavin sudah memasuki rumah mewah milik Ferdians dan juga Rania, pintu mobil sudah dibukakan oleh Melvin yang membuat Frisa salah tingkah apalagi melihat Melvin yang tersenyum manis kepadanya.


"Ya Tuhan... Kenapa senyuman Melvin mengandung gula yang sangat manis sekali," gumam Frisa di dalam hati menatap Melvin yang juga sedang menatap ke arahnya.


"Nona apakah anda tidak ingin keluar dari mobil? Tangan saya sudah pegel membukakan pintu untuk Nona," ujar Melvin dengan terkekeh yang membuat Frisa tersadar atas pesonanya terhadap Melvin.

__ADS_1


"Ah iya sudah sampai ya?!" ujar Frisa dengan menggaruk tengkuknya salah tingkah.


"Sudah, Nona!" jawab Melvin dengan geli.


Sedangkan Gavin sudah tidak ada di dalam mobil saat Melvin membukakan pintu untuk Frisa. Frisa melihat ke arah kursi di sampingnya dan ia langsung mencibik kesal saat Gavin ternyata sudah tidak ada di sana.


"Dasar manusia tembok! Kenapa tidak bilang kalau sudah sampai rumah," gerutu Frisa keluar dari mobil.


"Eh!" Frisa terkejut kala Gavin ternyata membawa payung untuk dirinya.


"Kenapa bawa payung?" tanya Frisa.


"Cuaca sedang terik dan pastinya anda tidak mau kulit anda gosong kan, Nona?" ujar Gavin dengan datar.


Frisa memutar bola matanya dengan kasar. anak dari om Sastra dan tante Citra memang sangat menyebalkan sekali.


"Ya-ya," ujar Frisa dengan kesal.


****


Meeting baru saja selesai dan Faiz sangat suka dengan hasil kinerja Olivia yang selalu memuaskan. Mungkin darah dari seorang Anjani sangat kental sekali pada Olivia sehingga pekerjaan yang dikerjakan oleh Olivia terlihat sangat sempurna bagi Faiz.


"Hari ini jadwal saya apa saja?" tanya Faiz ketika mereka berjalan beriringan menuju mobil Faiz.


"Hanya meeting, Tuan. Selebihnya anda free hari ini," jawab Olivia dengan tegas.


Faiz menganggukkan kepalanya. Ia melihat ke arah Olivia, jika di lihat Olivia mirip seperti ibunya sewaktu muda. Faiz menggelengkan kepalanya, kenapa ia tiba-tiba saja memikirkan Olivia bahkan sekarang gadis itu berada di samping dirinya.


Faiz dan Olivia masuk ke dalam mobil, mereka kembali ke kantor tanpa kata yang mereka ucapkan lagi karena sejujurnya Faiz tidak pandai memulai cerita dan Olivia terlihat sangat segan untuk memulai cerita. Jadi, mereka hanya diam dan hanya deru mesin mobil yang terdengar di telinga mereka.

__ADS_1


Faiz diam-diam melirik ke arah Olivia. "Olivia!" panggil Faiz dengan tegas.


"Iya, Tuan!" jawab Olivia melihat ke arah Faiz yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Bagaimana kabar ibu dan ayahmu?" tanya Faiz dengan basa-basi karena ia tidak tahu harus memulai percakapan dari mana.


"Bunda dan ayah baik, Tuan!" jawab Olivia dengan tersenyum. Tumben sekali Faiz bertanya tentang kedua orang tuanya saat ini karena biasanya Faiz terlihat sangat cuek sekali.


Faiz mengangguk. "Syukurlah. Bagaimanapun om Rio pernah menjadi adik tiri dari mama dan tante Anjani adalah sekretaris mama yang sangat berkompeten. Sepertinya kamu juga menuruni sifat ibumu," ujar Faiz yang membuat tersenyum.


"Saya suka bekerja, Tuan. Saya bisa membeli sesuatu dengan uang saya sendiri maka dari itu saya harus giat bekerja di perusahaan anda," ujar Olivia dengan tersenyum.


Ting....


"Maaf, Tuan. Saya harus membalas pesan masuk di ponsel saya sebentar," ujar Olivia tak enak hati.


"Oke..."


Olivia melihat pesan yang dikirimkan Cassandra untuk dirinya, senyum yang tadinya terlihat di wajah Olivia kini kian memudar.


[Kak, apakah Kakak sudah berhasil mendapatkan tuan Faiz? Kalian berdua sangat cocok sekali! Ayolah dekati dia, Kak!]


"Dari siapa?" tanya Faiz saat melihat perubahan raut wajah Olivia.


"Dari Cassandra, Tuan. Dia meminta saya untuk membeli sesuatu saat pulang bekerja nanti," jawab Olivia dengan berbohong karena sejujurnya Olivia sangat gugup sekarang dan bertanya-tanya di dalam hati kenapa Cassandra sangat gencar sekali ingin dirinya menikah dengan Faiz. Padahal ia dan Faiz tidak saling mencintai, mereka hanya sebagai rekan kerja yang profesional saja.


"Cassandra sangat berbeda jauh dengan ibunya ya. Dia baik, sopan, dan ramah sekali! Ayah kamu berhasil mendidik dia menjadi gadis yang baik," ujar Faiz yang membuat Olivia tersenyum kecut.


Semua orang memuji Cassandra bahkan ibu dan ayahnya sendiri juga seperti itu yang membuat Olivia merasa menjadi anak angkat. Padahal Cassandra lah yang menjadi anak angkat kedua orang tuanya. Ada perasaan sedih di hatinya saat ini. Namun, Olivia segera menepis perasaannya karena bagaimanapun Cassandra adalah adiknya, ia tidak boleh merasa iri dengan Cassandra. Karena Cassandra sejak kecil sudah tidak bersama dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Iya, Tuan!" jawab Olivia dengan lirih. Olivia sama sekali tidak membalas pesan adiknya, tetapi pikirannya sangat gelisah sekarang. Bagaimana mungkin ia mendekati Faiz yang terlihat nyaris sempurna dan tidak mungkin mereka bisa dekat. Tetapi permintaan Cassandra tidak bisa ia abaikan begitu saja, ia tidak mau melihat Cassandra bersedih.


Olivia menatap ke arah jendela yang membuat Faiz bingung. Kenapa dengan Olivia? Apakah perkataannya menyinggung perasaan Olivia saat ini? Tetapi kenapa? Banyak sekali pertanyaan di benak Faiz tetapi Faiz enggan bertanya kepada Olivia saat ini hingga keduanya memilih diam dengan pemikiran masing-masing.


__ADS_2