Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 151 (Ke Rumah Gavin)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Faiz, Olivia, Frisa, dan Gavin sedang makan siang bersama sedangkan Melvin, Cakra, dan Agam mereka memilih untuk makan di cafe perusahaan. Olivia tampak sangat canggung makan bersama dengan Frisa siang ini karena Frisa begitu sangat baik kepadanya. Jika di pikir-pikir seharusnya Frisa menjaga jarak dengan dirinya karena bagaimanapun ia adalah anak dari Rio, dimana ayahnya dulu pernah menyukai mama dari Frisa dan Faiz seharusnya Frisa tidak suka dengan dirinya tetapi mengapa Frisa terlihat sangat baik dan menyukainya. Seharusnya ini bagus tetapi entah mengapa Olivia merasa tak enak hati.


Ting....


Frisa mengambil ponselnya yang berbunyi karena ada yang menelepon dirinya. Frisa menahan senyumannya saat ia melihat Melvin lah yang menelepon dirinya.


"Ada apa?" tanya Frisa dengan tegas.


Faiz dan Gavin menatap Frisa dengan tegas. Kedua lelaki itu seakan terlihat sangat menjaga Frisa.


[Nona, mohon maaf sebelumnya tetapi saya dan yang lainnya harus pulang terlebih dahulu karena tuan Ferdians yang menyuruh kami untuk mengantarkan beliau dan nyonya Rania ke bandara terlebih dahulu] sahut Melvin yang membuat Frisa terdiam, padahal ia tadi sangat senang bisa satu mobil bersama dengan Melvin.


"Ooo ya sudah tidak apa-apa. Antarkan saja papa dan mama ke bandara saya bisa pulang bersama dengan Gavin," jawab Frisa menyembunyikan rasa kecewanya.


[Terima kasih, Nona. Kalau begitu saya dan yang lainnya pulang terlebih dahulu]


"Iya!"


Frisa meletakkan ponselnya kembali di tas miliknya. Ia kembali melanjutkan makan tanpa mempedulikan sang kakak dan Gavin yang melihat ke arahnya.


"Olivia kamu suka apa?" tanya Frisa menatap Olivia.


"Suka? Suka apa ini Nona? Makanan atau apa?" tanya Olivia.


"Pasti kamu suka dengan kak Faiz ya?" tanya Frisa dengan terkekeh yang membuat Faiz langsung terbatuk-batuk.


"Uhuk...uhuk..."


Frisa dan Olivia langsung dengan sigap memberikan air minum ke arah Faiz yang membuat Faiz menatap ke arah Olivia dan Frisa secara bersamaan.


Frisa tak jadi memberikan air minum ke arah kakaknya yang membuat Faiz kesal karena Faiz sudah mau mengambil pemberian adiknya. Dan akhirnya Faiz mengambil minum yang diberikan Olivia kepadanya.


"Kamu lama-lama aneh, Dek. Tadi kamu sudah memberikan minum ke Kakak lalu kenapa kamu minum sendiri?" tanya Faiz dengan kesal setelah ia merasa lega dengan tenggorokannya setelah minum air pemberian Olivia.

__ADS_1


"Hihi Olivia yang lebih berhak sekarang, Kak! Jangan marah!" sahut Frisa yang membuat Faiz menghela napasnya dengan berat.


"Kakak malam ini lembur. Kamu bisa pulang ke rumah kakek dulu atau pulang ke rumah Gavin ya, Dek. Soalnya papa dan mama sedang pergi ke Bali hari ini, kan? Kakak sedang mengurus pekerjaan kamu nanti di perusahaan kakek Eric," ujar Faiz yang merasa bersalah dengan adiknya.


Frisa tampak cemberut karena beberapa hari ini pasti rumahnya akan terasa sepi karena kedua orang tuanya yang sedang liburan dan kakaknya yang sedang sibuk di perusahaan.


"Iya, deh. Aku di rumah juga tidak apa-apa. Kan banyak penjaga juga pelayan di rumah," ucap Frisa dengan tegas.


"Kakak tidak mengizinkan kamu di rumah sendirian kecuali Gavin yang menemani kamu. Terlalu berbahaya, Dek!" ujar Faiz dengan tegas.


"Tuan tenang saja saya akan menjamin keselamatan nona Frisa. Saya akan mengantarkan nona Frisa menginap di rumah siapa yang ia mau," ujar Gavin dengan tegas.


"Baiklah. Selama saya masih bekerja kamu harus bersama dengan adik saya terus jangan tinggalkan dia walaupun sebentar. Di luar sana tidak aman untuk dirinya," ujar Faiz dengan tegas.


"Baik, Tuan!" jawab Gavin dengan tegas.


"Emmm... Ini makannya sudah selesai. Aku langsung pulang saja deh, aku tidak mau menganggu kebersamaan Kakak dengan Olivia," ujar Frisa dengan tersenyum yang membuat Faiz dan Olivia kali ini sangat tertekan.


"Ayo Gavin! Kita di larang untuk menganggu orang yang sedang kasmaran," ujar Frisa dengan tegas.


Faiz mengusap wajahnya dengan kasar menghadapi adiknya memang butuh kesabaran yang berlebih.


"Iya, Kak!"


"Dahhh... Olivia! Sampai jumpa lagi!" ujar Frisa melambaikan tangannya.


Olivia ikut melambaikan tangannya walaupun sebenarnya senyumannya sangat terasa canggung sekali berhadapan dengan Frisa.


"Omongan Frisa tadi jangan kamu pikirkan," ujar Faiz dengan tegas.


Olivia menatap Faiz dengan tersenyum. "Omongan yang mana, Tuan. Nona Frisa banyak bicara tadi dan yang paling saya ingat nona Frisa bilang jika saya menyukai tuan," tanya Olivia dengan lirih.


"Semua ucapan Frisa yang kamu ingat!" sahut Faiz dengan tegas.


"Tapi untuk yang terakhir tadi saya tidak bisa lupa, Tuan!" ucap Olivia dengan tegas.


"Yang terakhir?" tanya Faiz dengan bingung.


Cup...

__ADS_1


"Saya suka sama, Tuan!" ujar Olivia dengan mencium pipi Faiz hingga tubuh Faiz mematung dengan hebat karena mendapatkan serangan ciuman mendadak di pipi kirinya.


Sebelum Faiz menyadari apa yang ia lakukan Olivia langsung berlari ke luar ruangan Faiz dengan membawa piring kotor mereka dan muka yang sangat memerah seperti tomat karena baru kali ini ia mencium seorang lelaki selain ayahnya sendiri.


Faiz yang masih mematung memegang pipinya dengan pelan. "Olivia berani sekali kamu mencium saya. Lihat saja saya tidak akan melepaskan kamu setelah ini," gumam Faiz dengan jantung yang berdebar sangat kuat.


"Shittt... Lama-lama aku bisa gila!" ujar Faiz membawa pipinya yang masih sangat terasa ciuman Olivia di pipinya.


"Aku anggap sekarang kamu adalah milikku, Olivia! Awas saja jika kamu berani bermain denganku!" ucap Faiz dengan tegas.


Sedangkan Olivia memegang bibirnya dengan pelan. "Apa yang aku lakukan? Bukankah aku terlihat seperti gadis murahan yang mencium lelaki duluan? Ahh bodoamat lah! Jangan terlalu di pikirkan Olivia!" ucap Olivia mengetuk kepalanya sendiri dengan gemas.


****


"Mau kemana Nona? Mau ke rumah tuan Ben atau tuan Eric?" tanya Gavin tanpa melihat ke arah Frisa.


Frisa tampak berfikir sejenak. "Ke rumah orang tua kamu boleh? Saya merindukan tante Citra," ujar Frisa yang memang juga sangat dekat dengan Frisa.


Gavin tampak terkejut tetapi setelah itu ia menganggukkan kepalanya. Mobil yang ia kendarai berbelok menuju perumahan di mana ia dan orang tuanya tinggal walaupun sebenarnya ia sering menghabiskan waktu di rumah kedua orang tua Frisa daripada di rumahnya sendiri.


Frisa tampak tersenyum senang karena sebentar lagi ia akan bertemu Citra bahkan senyumannya begitu manis yang membuat Faiz terpesona. Tetapi itu hanya terjadi seperkiandetik saja karena setelah itu wajah Gavin kembali ke semula.


Setelah menempuh perjalanan 20 menit akhirnya mobil yang di kendarai oleh Faiz berbelok ke rumah orang tuanya.


"Tante Citra, Om Sastra!" teriak Frisa dengan hebohnya.


Bahkan tanpa menunggu Gavin membukakan pintu mobil Frisa sudah dulu membukanya, ia langsung memeluk Citra dengan erat yang membuat Citra terkekeh. Citra sudah menganggap Frisa sebagai anaknya sendiri karena ia hanya mempunyai Gavin saja.


"Sudah lama kamu tidak ke sini, Sayang. Tante kangen!" ujar Citra memeluk Frisa tak kalah eratnya.


"Frisa juga kangen. Malam ini Frisa menginap di sini saja ya karena mama dan papa pergi ke Bali," ujar Frisa dengan senangnya.


"Boleh banget, Sayang. Biar nanti bibi yang akan membereskan kamar tamu biar kamu nyaman tidur di sini," ujar Citra dengan senang hati.


Gavin melihat interaksi Frisa dengan ibunya entah mengapa hatinya begitu menghangat.


"Om tidak merindukan Frisa?" tanya Frisa dengan cemberut.


Sastra terkekeh. "Rindu Nona kecil! Ayo masuk kita berbincang-bincang di dalam saja," ujar Sastra dengan lembut.

__ADS_1


Frisa langsung berjalan masuk. Selain rumahnya sendiri atau rumah kakeknya, rumah inilah yang juga membuatnya nyaman bahkan Frisa bebas melakukan apa saja di sini seperti di rumahnya sendiri. Kamar tamu juga sudah menjadi kamar pribadinya sendiri walaupun ia dan Gavin tidak sering bertegur sapa tetapi Frisa nyaman berada di keluarga Gavin.


__ADS_2