
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Selama menikah baru kali ini Cassandra merasakan tidur berdua dengan suaminya karena selama ini Rajendra tidak pernah mau tidur bersamanya dan malam ini ia sangat ingin menggoda suaminya sendiri agar mau menyentuhnya dengan sangat lembut, karena Rajendra belum pernah menyentuhnya lagi selain pemerkosaan yang Rajendra lakukan waktu itu dan gara-gara itu juga setiap harinya ia di beri pil pencegah kehamilan oleh Rajendra.
Hatinya sakit? Tentu saja! Karena Rajendra sama sekali tidak ingin mempunyai anak dari dirinya. Cassandra melihat ke arah Rajendra yang sudah menutup mata, jika seperti ini Rajendra terlihat sangat tampan sekali, dan Cassandra mengaguminya tetapi mengingat sikap dan berbuatan kasar Rajendra terhadap dirinya membuat Cassandra ingin membunuh Rajendra sekarang juga dengan tangannya. Namun, itu hanya di pikirannya saja karena Cassandra tak berani melakukan itu masih banyak yang harus ia pertimbangkan karena ia juga tidak ingin masuk penjara. Ia ingin bebas tanpa ada kejahatan yang berpihak kepadanya, intinya walaupun ia melakukan tindak kejahatan jangan sampai semua orang tahu tentang kejahatan yang ia lakukan. Ia ingin bermain cantik saja, pada akhirnya jika ia pun menyesali semuanya Rajendra tetap membencinya bukan? Jadi, untuk apa ia menyesali semua ini? Ia hanya tinggal merubah rencana dan tetap menuruti kemauan Rajendra setelah itu jika lelaki itu lengah maka Cassandra akan menghancurkan suaminya sendiri.
Cassandra mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Rajendra mencium bibir suaminya itu dengan perlahan, tangan Cassandra mengelus milik suaminya yang masih terbungkus dengan celana.
Rajendra yang belum benar-benar tidur langsung mendorong Cassandra hingga wanita itu terjatuh di lantai. Cassandra meringis saat merasakan punggungnya sakit.
Rajendra bangun dan menghampiri Cassandra, ia mencengkram dagu Cassandra dengan kuat. "Brengsek! Kamu pikir tubuh kamu itu menarik? Tidak sama sekali Cassandra! Jangan pernah menyentuh saya lagi atau saya patahkan tangan kamu!" ujar Rajendra dengan tajam.
Mata Cassandra berkaca-kaca, tetapi ia menatap Rajendra dengan datar. "Bukankah kamu juga menikmati tubuhku waktu itu, Mas?" tanya Cassandra dengan nada yang begitu mengejek.
Bukannya terpancing Rajendra malah tertawa yang membuat Cassandra kesal setengah mati dengan tingkah suaminya. "Sangat percaya diri sekali kamu, Cassandra. Saya melakukan itu karena saya ingin kamu merasakan sakitnya di lecehkan. Tapi sepertinya berbicara dengan orang yang tak punya hati percuma saja, menghabiskan waktu saja! Sekarang kamu tidur di sofa jaga batasan kamu terhadap saya jika tidak kamu akan tahu akibatnya," ancam Rajendra dengan tajam yang membuat Cassandra takut namun ia harus berani dan tidak boleh lemah.
"Jahat kamu, Mas!" ucap Cassandra dengan pelan.
"Kamu baru tahu?" tanya Rajendra dengan sengit.
Bukkk...
Rajendra melempar bantal ke wajah Cassandra, dan akhirnya Cassandra tak bisa lagi membendung air matanya. Akhirnya ia menangis tanpa suara, walaupun ia mencoba untuk tetap tegar tetapi nyatanya hatinya masih terluka.
Cassandra berjalan gontai menuju sofa, ia lelah. Namun, semua ini belum berakhir, Cassandra pasti akan menemukan bukti kejahatan keluarga Danuarta pada kedua orang tuanya. Ia harus segera mencari bukti itu dan setelah menemukannya Cassandra tidak akan mengampuni mereka.
Rajendra menatap tajam ke arah Cassandra. Jika sedang tidak menginap di rumah Rio sudah Rajendra siksa Cassandra sejak tadi karena sudah lancang menyentuh miliknya. Bagaimanapun bentuk segala godaan dari Cassandra, Rajendra benar-benar tidak tertarik lagi. Ia hanya ingin Bunga yang bisa menyentuhnya bukan Cassandra walaupun Cassandra adalah istri sahnya sekarang.
Rajendra sudah tidak bisa tidur lagi, mendengar suata tangisan Cassandra membuat Rajendra kesal. "Berisik! Kecilkan suaramu!" ujar Rajendra dengan tajam.
Belum apa-apa Rajendra sudah merasa tidak betah tinggal di sini, besok ia harus membawa Cassandra pulang dari rumah ini pagi-pagi sekali.
Cassandra hanya bisa menggigit kuku jarinya untuk meredakan tangisannya, punggungnya bergetar seiring tangisannya yang terus datang.
"Ck, bisa diam tidak? Atau kita pulang sekarang!" ujar Rajendra dengan datar.
Cassandra menahan tangisannya dengan membekap mulutnya, ia ingin tidur di sini dan tak ingin pulang. Lelah menangis akhirnya Cassandra tidur di sofa sedangkan Rajendra sudah tidak bisa tidur lagi, matanya tetap terjaga dengan mata yang sangat tajam melihat punggung Cassandra.
__ADS_1
Jika Cassandra tidak senekat ini mungkin ia bisa berbaik hati kepada wanita itu tetapi rasanya Cassandra tidak akan pernah berubah jika wanita itu belum menyesal dan mengetahui yang sebenarnya.
****
Bunga lagi dan lagi hanya bisa tercengang saat ia ingin berangkat bekerja Rajendra sudah ada di depan pintu rumahnya.
"Astaghfirullah, Tuan. Sejak kapan Tuan ada di depan pintu?" tanya Bunga dengan mengelus dadanya.
Rajendra mendengus kesal. "Coba ganti panggilan kamu terhadap saya! Telinga saya sakit mendengarnya!" ujar Rajendra dengan datar yang membuat Bunga meringis.
Bunga lupa tentang panggilan yang sudah Rajendra tekankan untuk dirinya. "Tu... Emm maksud saya, Mas! M-mas Rajendra sejak kapan ada di depan rumahku?" tanya Bunga mencoba bersikap biasa saja walaupun sebenarnya ia salah tingkah sendiri saat Rajendra menatapnya dengan dalam dan tak berkedip sama sekali.
"B-bisakah kamu tidak menatap aku seperti itu?" ujar Bunga salah tingkah yang membuat Rajendra terkekeh.
Rajendra sudah mengantarkan Cassandra kembali ke rumah dan tak lama Rajendra langsung ke rumah Bunga karena ia sudah sangat merindukan Bunga. Rajendra menarik tangan Bunga dengan lembut yang membuat Bunga tersentak.
"Ehhh..." Bunga menatap tangannya yang di genggam oleh Rajendra, pipinya memanas karena sebelumnya, belum pernah ada yang menggenggam tangannya sehangat ini, tapi ia kembali tersadar jika Rajendra adalah kakak iparnya. Tetapi Rajendra juga kekasihnya sekarang, Bunga benar-benar bingung harus bersikap seperti apa.
"Mulai sekarang kamu berangkat dan pulang bersama dengan saya!" ujar Rajendra dengan tegas dan tak bisa lagi di bantah maka dari itu Bunga hanya bisa mengangguk dengan mata yang masih menatap tangannya yang di genggam dengan erat.
Setelah memastikan pintu rumahnya terkunci. Bunga dan Rajendra melangkah bersama untuk menuju mobil yang berada di jalan besar, sebelum itu keduanya harus melewati gang sempit seperti ini. Tanpa Bunga sadari Rini melihat keduanya dengan bingung, ingin memanggil sahabatnya tetapi Rajendra sudah menatapnya dengan datar dan menyuruhnya untuk jalan tanpa memanggil Bunga.
"Ada hubungan apa Bunga dengan tuan Rajendra? Bagaimana kalau Bunga menjadi simpanan tuan Rajendra? Ya Tuhan... Ini gawat!" gumam Rini melihat keduanya masuk ke dalam mobil.
****
"Mas, aku turun di sini saja. Aku takut nanti ada yang curiga," ujar Bunga dengan gelisah.
Rajendra menatap Bunga. Lalu ia menghela napasnya dengan berat, hubungan mereka mungkin akan terus di sembunyikan sampai waktunya Rajendra bisa leluasa mengenalkan Bunga sebagai kekasihnya.
"Baiklah!" ujar Rajendra dengan pelan.
Bunga hendak membuka pintu tetapi tangannya di tahan oleh Rajendra. Keduanya saling menatap dengan Bunga yang terpesona dengan ketampanan Rajendra, Bunga menahan napasnya saat wajah Rajendra sangat dekat dengan wajahnya.
Cup...
Bunga melotot tak percaya karena sekarang Rajendra mencium dirinya tepat di bibir bahkan sangking syoknya Bunga menahan napas.
"Bernapas, Sayang!" gumam Rajendra dengan lembut.
Sayang? Bunga tak salah dengar, kan? Belum sempat berpikir kembali Rajendra sudah menciumnya kembali, kali ini bibirnya bergerak dengan lembut di bibirnya. Ingin menolak namun ia tak kuasa untuk menolaknya ciuman ini sungguh memabukkan untuk Bunga yang baru pertama kali berciuman. Rajendra seakan menggodanya yang membuat Bunga tidak bisa menghindar dan menolak.
__ADS_1
Rajendra memundurkan sandaran kursi hingga Bunga seakan tertidur di sana. Sungguh tubuhnya sangat panas sekarang karena ia ingin lebih dan tidak hanya sekedar ciuman.
Rajendra menaikan rok yang di pakai Bunga. Bunga yang tersadar langsung mencegah tangan Rajendra, ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Sebentar saja, Sayang!" ujar Rajendra dengan mata yang begitu sayu.
Lagi dan lagi Bunga terhipnotis. tubuhnya bergerak gelisah saat tangan Rajendra menyentuh pahanya dengan lembut. Bahkan tangannya menyusup masuk ke cel*na dal*mnya
"Eughh..."
"M-mas ini tidak benar!" ujar Bunga menahan tangan Rajendra agar tidak bergerak.
Sial!
Tubuh Bunga merespon dengan cepat. Rajendra tersenyum. "Hanya seperti ini, tidak lebih sebelum kita menikah!" gumam Rajendra dengan serak.
"Ahhhh...." Bunga membekap mulutnya. Sialnya tubuhnya merespon dengan baik saat jari Rajendra memainkan miliknya. Dan ini sangat enak.
Rajendra terus memainkan jarinya, ia melihat bibir Bunga yang terbuka karena sentuhannya bahkan kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri hingga tubuh Bunga bergetar dengan hebat.
Rajendra menarik tangannya, ia mengambil tisu dan membersihkan cairan Bunga agar Bunga kembali nyaman.
Cup...
Rajendra mengecup kening Bunga dengan lembut. "Mas tidak sabar ingin menikahi, Sayang!" ujar Rajendra dengan tulus.
"M-mas..." Bunga tidak tahu harus apa! Melakukan protes pun juga percuma karena pasti Rajendra tidak ingin mendengar penolakan dari dirinya.
Tapi jujur sentuhan Rajendra tadi membuat Bunga ketagihan. Rasanya benar-benar sangat nikmat.
"Kamu satu-satunya dan jangan pernah berpikir meninggalkan Mas apapun yang terjadi. Masalah Cassandra bisa Mas atasi. Sekarang rapih-kan pakaian kamu dan segera masuk ke dalam kantor sebelum ada yang curiga selain sahabatmu itu. Jika ia bertanya katakan saja jangan ada yang kamu tutupi," ujar Rajendra dengan tegas.
"Rini tahu, M-mas?" tanya Bunga dengan syok.
"Hmmm.... Bersiaplah dengan pertanyaan yang akan ia lontarkan. Dan tadi Mas ingin lagi tapi nanti!" ujar Rajendra mengedipkan matanya yang membuat Bunga menelan ludahnya dengan kasar.
Apakah semua lelaki sama m*sumnya seperti Rajendra?
****
Gimana dengan part ini?
__ADS_1
Suka dengan Rajendra-Bunga?