
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini gqdengan like, vote, dan komentar yang banyak ya!...
...Happy reading...
***
Drttt..drttt...
Suara dering ponsel milik Ben membuat semua orang yang sedang fokus sarapan pagi melihat ke arah Ben
"Siapa Mas?" tanya Agni dengan penasaran.
"Ferdians!" jawab Ben dengan datar.
"Mengganggu sarapan orang saja sih," ucap Clara ngedumel.
"Dia kakak ipar kamu yang sopan kalau berbicara! Siapa tahu ada hal penting yang ingin dibicarakannya," ujar Doni dengan dingin.
"Iya maaf, Kek!" ujar Clara dengan menahan kekesalannya.
Ben mengangkat telepon dari anak menantunya.
[Halo, Pa]
[Iya ada apa, Fer?] tanya Ben dengan suara tegasnya.
[Saya punya kabar baik, Pa! Rania sedang hamil sekarang. Dia hamil anak kembar] ujar Ferdians yang terdengar sangat bahagia di telinga Ben.
[Coba kamu ulangi, Fer!] perintah Ben dengan tegas dan ia menekankan tombol spiker agar suara Ferdians terdengar oleh anggota keluarganya yang lain bahkan Ben masih tak percaya dengan yang diucapkan Ferdians, ia menganggap salah mendengar.
[Rania sedang hamil anak kembar sekarang, Pa! Papa akan menjadi kakek dengan dua cucu sekaligus] ulang Ferdians yang membuat Ben dan Doni mengembangkan senyuman mereka.
[Kami akan segera ke rumah kalian sekarang, Fer! Papa senang sekali jika Rania hamil. Katakan padanya dia mau apa] ujar Ben dengan mengembangkan senyumnya.
Sedangkan Rio menjatuhkan sendoknya mendengar ucapan Ferdians. Rania hamil anak Ferdians? Itu artinya Rio tidak mempunyai kesempatan untuk mendekati Rania?
Rio memundurkan kursinya, tanpa kata ia berjalan menjauh dari keluarganya selera makannya sudah menghilang mendengar kabar buruk yang ia dengar.
Sedangkan Agni dan Clara terlihat saling memandang dengan tatapan tajam dan penuh kebencian untuk Rania. Mereka berbicara tanpa kata, seakan mengatakan bagaimana Rania bisa hamil secepat ini.
[Fer tunggu kami di rumah ya. Selesai sarapan kami akan segera ke sana] ujar Doni menimpali.
[Rania tidak menginginkan apa-apa, Pa! Siang hari saja Papa, Kakek, dan yang lainnya ke rumah karena saat ini kami sedang berada di rumah sakit. Selain memeriksakan kehamilan Rania hari ini ibu sudah diperbolehkan pulang ke rumah] ujar Ferdians yang membuat keduanya mengangguk.
[Baiklah kami akan datang siang hari] jawab Ben dengan tegas.
[Kalau begitu telepon saya tutup ya, Pa]
__ADS_1
[Oke]
Ben meletakkan kembali ponselnya setelah telepon mereka terputus.
"Rania hamil Mas?" tanya Agni.
"Kamu juga dengar tadi! Ya, Rania hamil anak kembar dan Semoga saja salah satunya ada yang berjenis kelamin laki-laki," jawab Ben dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Kalian bersiap-siaplah nanti kita akan ke rumah Rania untuk menjenguknya," ujar Ben dengan tegas.
"Iya, Mas!"
"Iya, Pa!"
****
Agni berada di kamar Clara. Wanita itu terlihat gelisah saat setelah mengetahui jika Rania sudah hamil sekarang.
"Cla, bagaimana ini? Kenapa Rania cepat sekali hamil? Kita harus melakukan sesuatu," ujar Agni dengan gelisah.
Clara juga terlihat gelisah karena jika Rania hamil dan melahirkan anak lelaki, ia sebagai anak tiri tidak akan mendapatkan apa-apa dari keluarga Danuarta.
"Kita harus membuat Rania kehilangan anaknya, Ma!" ujar Clara yang membuat Agni langsung terdiam.
Agni menatap Clara dengan serius, ia duduk di samping Clara. "Iya tapi bagaimana caranya? Kita harus memikirkan rencana ini matang-matang. Sial! Belum benar-benar merencanakan rencana yang sebelumnya kita sudah mendapatkan kabar buruk lagi yang membuat kita terancam di rumah ini. Apalagi sikap papa yang akhie-akhir ini sangat aneh, milik papa tidak lagi bisa berdiri seperti sebelumnya jika begitu mama bisa sakit kepala," ujar Agni dengan mengacak rambutnya dengan kesal.
"Iya benar. Ngapain Mama berbohong?! Kalau papa masih bisa memuaskan Mama, Mama tidak akan sepusing ini," ujar Agni dengan kesal.
"Atau jangan-jangan papa impoten, Ma?"
"Bisa saja! Aahhh tidak usah bahas papa dulu. Kita harus bisa membuat Rania kehilangan anaknya! Anaknya jangan sampai lahir ke dunia," ujar Agni dengan penuh kebencian.
"Dulu Dewi menjadi penghalang Mama dan sekarang Rania. Kenapa Rania tidak ikut mamanya ke neraka? Kalau begitu rencana Mama untuk menguasai harta Danuarta akan semakin lama," ujar Agni dengan kesal.
Clara tampak tersenyum licik. "Tidak lama lagi ulang tahun perusahaan Danuarta kan, Ma? Bagaimana jika rencana kita dimulai dari sana? Aku akan meminta bantuan Boby, Ma!" ujar Clara dengan tersenyum licik.
"Benar juga. Kita akan merencanakan sesuatu yang membuat Rania menyesal telah lahir ke dunia ini. Tapi kamu dan Boby kapan akan menikah?" tanya Agni yang membuat Clara terdiam benar juga padahal Boby sudah bertemu dengan kedua orang tuanya dan membicarakan soal pernikahan mereka yang belum mendapatkan waktu yang cocok.
"Aku akan menghubungi Boby untuk masalah itu, Ma! Karena saat ini dia sedang sibuk dengan pekerjaannya," ujar Clara.
"Oke... Saran Mama kalian segera menikah agar kita bisa leluasa menyingkirkan Rania dan juga Ferdians. Mama rasa Ferdians juga harus kita singkirkan karena dengan kehadirannya Rio menjadi tersingkir di perusahaan," ujar Agni yang di angguki oleh Clara.
"Rania, siap-siap kamu akan kehilangan kedua anak kamu dan juga Ferdians!" ujar Agni di dalam hati.
***
"Lancang sekali kamu menelepon Papa!" ujar Rania dengan kesal setelah mereka sampai di rumah.
__ADS_1
"Loh emangnya kenapa? Papa dan yang lainnya harus mengetahui kabar baik atas kehamilan kamu, Sayang!" ujar Ferdians dengan lembut.
"Saya tidak suka Papa dan yang lainnya ke sini!" ujar Rania dengan dingin.
Rania tidak suka dengan sikap Ferdians yang seenaknya saja menghubungi keluarga tanpa memberitahu diriku terlebih dahulu.
"Duduk sini!" ujar Ferdians menuntun Rania agar duduk di sofa sedangkan dirinya berjongkok di hadapan Rania.
"Dengar ya, Sayang. Sebenci apapun kamu sama papa dan kakek tetap saja mereka adalah papa dan kakek kamdung kamu," ujar Ferdians dengan lembut.
"Anak kita juga harus tahu keluarganya yang mana. Aku yakin papa dan kakek sebenarnya sangat menyayangi kamu," ujar Ferdians menjelaskan dengan nada yang lembut.
Tok...tok...
Ferdians dan Rania menatap ke arah pintu yang di ketuk.
"Nona, Tuan. Ada tuan Ben, tuan Doni, nyonya Agni dan nona Clara di bawah. Katanya mereka ingin bertemu dengan Nona dan Tuan," ujar pelayan dengan sopan.
"Sebentar lagi kami akan turun ke bawah, Bi!" balas Ferdians dengan tegas.
"Baik, Tuan!"
Ferdians kembali menatap Rania dengan dalam. "Kita temui mereka ya!" ujar Ferdians dengan pelan.
"Oke!" jawab Rania pada akhirnya
***
"Selamat datang Pa, Kek, tante dan juga Clara. Maaf lama menunggu," ujar Ferdians dengan menggenggam tangan Rania dengan erat sedangkan Rania hanya diam dengan wajah datarnya.
"Ahh iya maaf kami menganggu istirahat kalian berdua. Kami terlalu senang mendengar kabar kehamilan Rania," ujar Ben dengan tersenyum tipis.
"Jangan terlalu capek ya Rania. Ibu hamil itu harus banyak istirahat jangan banyak bekerja," ujar Agni dengan sok perhatian.
"Tanpa anda beritahu pun saya juga tahu itu," jawab Rania dengan ketus.
Agni menjadi terdiam dengan wajah datarnya. "Mama hanya memberitahu kamu karena Mama lebih berpengalaman soal kehamilan," ujar Agni dengan tegas.
"Tante silahkan duduk dan nikmati hidangan yang bibi berikannya. Kita bisa mengobrol dengan santai sekarang," ujar Ferdians menengahi antara mertuanya dan istrinya.
"Istrimu itu harus mendengarkan ucapan mama Ferdians!" ujar Agni dengan ketus.
"Agni sudah jangan buat Rania stress karena ucapan kamu!" ujar Ben dengan tegas.
"Cih ada apa dengan Mas Ben? Akhir-akhir ini dia selalu membela Rania. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja!" gumam Agni di dalam hati.
"Seperti papa sudah terlihat peduli lagi dengan Rania. Kehamilan Rania benar-benar mengancam aku dan mama!" gumam Clara di dalam hati.
__ADS_1
Andaikan Ferdians tidak menahannya mungkin Rania sudah mengusir Agni dan Clara dari rumahnya, wajah keduanya benar-benar sangat menyebalkan dan Rania mual melihat wajah keduanya.