
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Frisa memeluk Gavin dengan erat keduanya baru selesai bercinta entah keberapa kalinya mereka lakukan pagi ini hingga siang menjelang mereka asyik di dalam kamar.
Kruk...kruk...
Gavin dan Frisa saling menatap satu sama lain setelah itu mereka tertawa bersama karena perut keduanya sama-sama berbunyi.
"Hahaha... Mas jahat banget sih aku tidak di kasih makan," ujar Frisa memegang perutnya
Gavin terkekeh. "Maaf, Sayang. Kamu harus ikut bekerja keras pagi ini sampai siang," ujar Gavin dengan mengedipkan matanya.
"Kerja lembur bagai kuda ini namanya. Duh badanku remuk," keluh Frisa merenggangkan otot tangannya dengan pelan.
"Tapi enak, kan?" goda Gavin membuat Frisa bersemu merah.
"Yuk kita mandi setelah itu kita makan. Mas yakin keluarga kita sudah menggerutu kesal menunggu kita di luar dan pasti mereka sudah sarapan tanpa kita," ujar Gavin dengan terkekeh.
Frisa tampak berpikir, ia jadi malu bertemu dengan kedua orang tuanya serta keluarganya yang lain karena pasti mereka akan mengejek dirinya dengan Gavin.
"Ssst..." Frisa meringis saat miliknya terasa perih saat kakinya di gerakan.
Frisa benar-benar merasa puas dengan kenikmatan yang Gavin berikan kepada dirinya. Sungguh milik Gavin sangat besar untuknya, memikirkan percintaannya dengan Gavin membuat tubuh Frisa panas dingin.
"Mas gendong ya!" ujar Gavin dengan cemas. Ia takut Frisa terluka karena dirinya yang terlalu bersemangat ketika bercinta tadi.
Gavin menggendong Frisa berjalan ke dalam kamar mandi untuk mandi setelah melakukan percintaan yang cukup panas. Perut mereka sudah sangat lapar karena sejak pagi keduanya sama sekali belum sarapan.
****
Setelah berganti pakaian akhirnya Frisa dan Gavin keluar dari kamar hotel dalam keadaan tubuh yang sangat segar walaupun cara berjalan Frisa cukup terlihat aneh karena Frisa merasa masih ada yang mengganjal di bawah sana.
Frisa menggenggam tangan Gavin dengan erat, tiba-tiba ia di serang rasa gugup kembali karena ternyata keluarga masih berkumpul di restoran hotel dan saling berbincang satu sama lain dengan di selingi candaan, hanya Rajendra dan Cassandra yang sudah tidak ada di sana. Namun, yang lainnya masih lengkap.
"Kenapa?" tanya Gavin yang merasa langkah kaki Frisa semakin berat.
"Ada mama dan yang lainnya, Mas. Bagaimana caranya aku menutupi ini semua?" tanya Frisa dengan panik memperlihatkan warna merah yang cukup banyak tercetak di lehernya.
Gavin ikut panik tetapi setelahnya ia bersikap biasa saja karena pasti semua orang paham dengan apa yang terjadi pada Frisa saat ini. Apa lagi jika bukan karena ulahnya yang terus menggempur Frisa tadi pagi setelah semalam mereka hanya tidur berpelukan saja.
__ADS_1
"Rambutnya letakkan aja di depan, Sayang!" ujar Gavin menata rambut Frisa agar menutupi leher Frisa di bagian kanan dan juga kiri, setelah tanda kemerahan itu sudah tertutup barulah mereka jalan bersama menemui keluarga mereka.
"Ekhem... Ini dia bintang kita siang ini. Kalian meninggalkan sarapan pagi, sepertinya kerja lembur bagai kuda nih," ujar Faiz dengan terkekeh yang membuat Frisa benar-benar malu sekarang.
"Ekhem berapa ronde semalam Gavin sampai siang banget kalian keluar kamar?" tanya Faiz dengan menaikan alisnya.
"Kakak apaan sih! Malu tahu!" protes Frisa yang membuat semuanya tertawa.
"Aku lapar!" ujar Frisa dengan ketus.
"Sini duduk di sini, Sayang. Silahkan pesan makanan kalian," ujar Rania menepuk kursi di sebelahnya.
Dengan malu-malu Frisa menghampiri mamanya dengan Gavin yang juga ikut duduk di sebelahnya. Sastra menatap anaknya dengan memberikan kode, seakan bertanya misi menjebol gawang Frisa berhasil atau tidak dan anggukan dari Gavin membuat Sastra begitu senang karena ia sudah sangat ingin menggendong cucu.
"Ya ampun, Dek. Banyak banget tanda di leher kamu!" ujar Faiz yang membuat Frisa langsung tersedak air liurnya sendiri.
Frisa mendelik ke arah kakaknya yang memang terlihat sengaja melakukan itu, Frisa beringsut memeluk lengan Gavin yang membuat Gavin tanggap.
"Namanya pengantin baru wajar, Kak!" ujar Gavin dengan tersenyum. "Kakak juga dulu seperti itu kan bahkan sepertinya tandanya juga banyak di leher kak Olivia," ujar Gavin yang membuat Olivia bergantian tersedak.
Frisa menatap kakaknya dengan tajam dan akhirnya merasa lega karena Gavin membelanya di hadapan semua keluarganya, memang kembarannya ini selalu ingin mencari gara-gara terhadap dirinya.
"Sudah-sudah jangan berantem. Kamu ini loh Faiz kayak tidak pernah menjadi pengantin baru saja," lerai Ferdians yang membuat Faiz akhirnya diam dan tak lagi menggoda kembarannya tersebut.
****
Rajendra mengetuk pintu rumah Bunga dengan tidak sabaran, dan akhirnya Bunga membukakan pintu untuk dirinya, ia menatap tajam ke arah Bunga yang membuat Bunga heran apa kesalahannya kepada Rajendra.
Rajendra langsung masuk dan menutup pintu rumah Bunga dan menguncinya. Ia mengukunng Bunga hingga gadis itu tidak bisa bergerak dan hanya bisa bersandar di dinding dengan tatapan bingung.
"Dasar gadis nakal," ujar Rajendra dengan datar.
"A-aku ngapain, Mas?" tanya Bunga dengan terbata.
"Kenapa kamu kemarin menanggapi ucapan playboy seperti Melvin hmm? Kamu suka sama dia?" tanya Rajendra dengan datar.
"Melvin? Siapa dia?" tanya Bunga dengan bingung karena memang Bunga sama sekali tidak mengerti apa yang di maksud Rajendra.
"Ck... Ngapain kamu dekat-dekat dengan Melvin saat acara pernikahan Frisa dan Gavin. Jika tidak sedang bersama dengan Cassandra, sudah aku hampiri kamu dan memukul Melvin saat itu juga," ujar Rajendra dengan geram karena Bunga tidak mengerti sama sekali.
"Ooo pria yang genit itu? Aku sama sekali tidak menanggapi ucapan dia, Mas. Kalau Mas lihat aku pasti tentu saja Mas mengerti bukan?" tanya Bunga dengan santai karena ia tahu sekarang kelemahan Rajendra terhadap dirinya.
"Tapi Mas tidak suka!" ujar Rajendra dengan tajam.
__ADS_1
Bunga mengelus dada Rajendra dengan lembut. "Jangan marah, Mas. Aku saja tidak marah waktu Mas memeluk kak Cassandra di depan semua orang dengan mesra kemarin ya walaupun aku cemburu," ujar Bunga dengan tersenyum.
Sial!
Kemarahan Rajendra langsung menguap entah kemana saat Bunga menyentuh dadanya dengan lembut dan melihat jelas kecemburuan di mata gadis itu.
Bunga berjinjit dan mencium bibir Rajendra dengan cepat. "Jangan marah!" rengek Bunga dengan manja.
"Aahh.. Mana mungkin Mas bisa marah jika kamu sudah seperti ini. Tapi kamu harus tetap di beri hukuman, Sayang!" ujar Rajendra dengan menyeringai.
"H-hukuman?" tanya Bunga dengan terbata.
"Iya!" jawab Rajendra dengan menyeringai.
"Eummmmphhh..." belum sempat Bunga berbicara bibirnya sudah di bungkam oleh bibir Rajendra.
Rajendra menggendong Bunga menuju kamar gadis itu tanpa melepas pagutan bibir mereka, ia merebahkan Bunga di kasur dsn mulai menyentuh titik sensitif Bunga.
"Ahhh..."
Bunga paham apa hukuman yang harus ia terima sekarang. Dan Bunga menerimanya dengan pasrah saat tangan Rajendra bergerak dengan nakal di titik sensitifnya.
"Aahhhh..."
"Katakan jika Bunga hanya milik Rajendra, Sayang!"
"Aaahhh... B-bunga hanya milik Rajendra!" ujar Bunga dengan napas yang terengah-engah.
"Shittt... Kamu seksi sekali, Sayang!" ujar Rajendra dengan serak.
"M-mas, lebih dalam ahhh!" racau Bunga saat Rajendra menyecap miliknya seperti es krim.
"M-mas Rajendra ampun!" teriak Bunga merasa nikmat.
"Shitt...Bunga ayo kita menikah saja! Mas tidak ingin merusak kamu lebih dari ini!" ujar Rajendra dengan serak.
Bunga langsung terduduk, ia menatap Rajendra dengan gamang. Di satu sisi ia tidak ingin menyakiti Cassandra tetapi di sisi lain ia ingin menjadi istri Rajendra.
"Tapi kak Cass..."
"Persetan dengan Cassandra! Aku sama sekali tidak mencintai Cassandra, Bunga. Ayo kita menikah dan aku akan membicarakan pernikahan kita dengan keluargaku tanpa sepengetahuan Cassandra dan Olivia tentunya!"
Bunga terdiam, ia sangat terlihat takut tetapi melihat keseriusan Rajendra membuat Bunga merasa bahagia. Bunga terdiam sejenak lalu akhirnya ia mengangguk dengan pelan walaupun di dalam hatinya ia merasa bersalah dengan Cassandra.
__ADS_1
"Maafkan aku, Kak!"