
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya! ...
...Happy reading...
***
Sudah seminggu berlalu Ferdians dan juga Rania juga sudah pulang dari Bali. Kini, semua keluarga besar Rania dan Ferdians akan pergi ke perusahaan Abraham untuk menyaksikan pelantikan Frisa sebagai CEO baru di sana.
Rania masuk ke kamar anaknya, ia sedang melihat Frisa yang masih duduk di kursi rias dengan pakaian yang sudah sangat rapih. Rania tidak menyangka jika kedua anaknya sudah dewasa dan sudah bekerja di perusahaan dengan memegang perusahaan keluarga.
"Sayang!" panggil Rania dengan lembut.
Frisa melihat ke arah mamanya dengan tersenyum. Frisa memeluk mamanya dengan sangat manja, seminggu tidak bertemu membuat Frisa sangat merindukan mamanya yang masih sangat cantik bahkan terlihat awet muda.
"Ma kenapa perusahaan Mama tidak di pegang Papa lagi sih? Kalau di pegang Papa kan kakak yang pegang perusahaan kakek Eric. Sebenarnya Frisa males banget tahu, Ma!" ujar Frisa dengan manja.
"Papa masih memegang perusahaan Mama, Sayang. Cuma dari rumah dan itu semua Papa lakukan agar kakak kamu mandiri," ujar Rania dengan lembut.
"Kamu juga harus bisa mandiri. Dulu Mama juga merasakan apa yang kamu rasakan, Sayang. Tapi setelah dijalani semua terasa sangat menyenangkan. Kan ada Gavin yang selalu bisa membantu kamu nantinya," ujar Rania mengelus rambut anaknya dengan lembut.
"Iya deh, Ma. Ayo kita turun, Ma. Aku tidak mau telat sebagai pemimpin baru perusahaan," ujar Frisa dengan semangat.
"Iya, Sayang. Papa, kakak, kakek Ben dan nenek Ana sudah menunggu di bawah," ucap Rania.
"Om Rajendra mana?" tanya Frisa.
__ADS_1
"Sudah pergi duluan, Sayang!" jawab Rania dengan tersenyum.
Akhirnya keduanya keluar dari kamar Frisa dengan berbarengan. Di bawah sudah ada keluarga yang menunggu kedatangan CEO baru tersebut dengan wajah yang sangat bahagia bahkan tak hanya itu para pengawal Rania terdahulu juga ikut datang untuk menyaksikan nona muda mereka menduduki kursi CEO.
"Ayo berangkat!" ucap Ferdians dengan tersenyum.
"Ayo!" jawab semuanya dengan semangat.
****
Gavin menyetir mobil dengan Frisa, Rania, dan Ferdians yang ada di dalam sedangkan Ben dan Ana berada di mobil Faiz.
"Gavin mulai hari ini tanggungjawab kamu jauh lebih besar karena kamu juga ikut andil dalam memajukan perusahaan Abraham. Saya harap kamu bisa menjadi partner Frisa dengan baik," ujar Rania dengan tegas.
"Saya tahu, Nyonya. Saya sudah banyak mempelajari tentang perusahaan jauh-jauh hari. Saya akan berusaha untuk membantu nona Frisa semaksimal mungkin," jawab Gavin dengan tersenyum.
"Gavin tidak mempunyai pacar, Pa. Dia manusia tembok mana ada yang mau sama dia," ujar Frisa dengan entengnya karena entah mengapa Frisa menjadi tidak rela jika Gavin menikah dan tidak bekerja lagi padanya, membayangkan saja membuat Frisa menjadi kesal.
Ferdians terkekeh. "Manusia tembok seperti Gavin juga tampan, Sayang. Di luar sana juga banyak wanita yang mendekatinya. Ayo kita bertaruh, Papa yakin setelah Gavin bekerja di perusahaan banyak karyawan wanita yang akan mendekati dia," ujar Ferdians dengan terkekeh.
"Sebenarnya banyak wanita yang mencoba mendekati saya, Tuan. Hanya saja saya tidak tertarik sama sekali mungkin 2-5 tahun ke depan barulah saya memikirkan menikah," ujar Gavin yang membuat Frisa mendelik.
"Pokoknya harus saya yang terlebih dahulu menikah daripada kamu, titik!" ucap Frisa dengan ketus.
"Ya Tuhan, kamu itu lucu sekali, Sayang. Hahaha.... Kalaupun Gavin menikah masih ada yang lainnya yang akan menjaga kamu pasti Gavin juga tidak akan meninggalkan tanggungjawabnya begitu saya," ujar Rania dengan tertawa.
__ADS_1
"Mama, pokoknya harus Frisa duluan yang menikah daripada Gavin!" ujar Frisa dengan tegas.
Gavin dan Ferdians terkekeh. "Baik, Nona. Saya pastikan anda menikah dengan orang yang tepat barulah saya nanti menikah dengan gadis impian saya," sahut Gavin dengan tegas.
"Bagus!" ucap Frisa dengan ketus.
Sedangkan Ferdians dan Rania hanya bisa menggelengkan kepalanya karena sejak kecil Gavin dan Frisa selalu bersama tetapi mereka tidak pernah akur akan tetapi Ferdians dan Rania yakin jika Gavin akan melakukan apa saja untuk melindungi anak mereka seperti Sastra di waktu muda.
****
Keluarga besar Frisa sudah tiba di perusahaan Abraham. Kali ini Frisa tampak gugup setelah sampai di perusahaan yang akan ia pimpin nantinya.
"Ayo, Sayang!" ucap Rania yang menggandeng anaknya dengan Ferdians yang juga menggandeng Frisa sedangkan Gavin berjalan di belakang mereka memastikan semuanya aman bahkan semua pengawal ke kerahkan untuk menjaga acara besar pelantikan CEO terbaru do perusahaan Eric.
Keluarga Danuarta dan Abraham adalah keluarga yang sangat di segani sejak dulu. Kekayaan mereka sungguh sangat besar, itulah mengapa mereka sangat waspada akan tindak kejahatan yang bisa terjadi kapan saja.
Acara berjalan dengan sangat lancar bahkan Gavin tak pernah sedikitpun meninggalkan Frisa, ia terus berada di belakang Frisa bahkan saat gadis cantik itu memberikan kata sambutan. Benar yang diucapkan papanya tadi jika banyak sekali pasang mata wanita yang menganggumi Gavin, Frisa salah menilai Gavin selama ini.
Sedangkan Faiz duduk berdampingan dengan Olivia. Keduanya terlihat sangat serasi sekali dalam balutan busana senada yang tidak sengaja mereka pakai, berulang kali Faiz menatap kagum ke arah adiknya yang ternyata bisa setegas ini dalam berbicara.
Tepuk tangan meriah terdengar sangat keras di aula kantor saat Frisa selesai memberikan kata sambutan setelah kakeknya menyerahkan jabatannya kepada Frisa.
Frisa turun dari panggung dengan perasaan yang begitu sangat lega. Cassandra yang berada di samping Rajendra menatap Frisa dengan sangat tajam seakan dengan tatapannya bisa menghunus Frisa hingga mati, entah apa yang Cassandra pikirkan tetapi yang jelas ia ingin semua keluarga Danuarta menderita. Sikap yang awalnya begitu lembut kini benar-benar berubah menjadi iblis karena hasutan kedua orang tuanya sendiri yang tak pernah puas sebelum melihat penderitaan keluarga Danuarta.
Sedangkan tanpa mereka sadari Roby yang sejak lama sudah menghilang kini mulai menampakkan wajahnya kembali. Ia menatap semua keluarga Danuarta dengan sinis.
__ADS_1
"Jika saya tidak bisa menghancurkan kalian dulu maka saat sekarang saya yakin kalian akan hancur di tangan anak saya. Cassandra yang didik dengan penuh kasih sayang oleh Rio dalam sekejap bisa berubah karena hasutan saya. Bukankah ini permainan yang sangat menyenangkan? Tunggu saya kehancuran kalian Ben, Rania. Anak-anak kalian juga akan ikut merasakan kehancuran itu," gumam Roby di dalam hati setelah itu ia melangkah pergi sebelum ketahuan oleh para pengawal Rania.