
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...*****...
Hati Melvin tampak bimbang bahkan sangking bimbangnya lelaki itu tidak bisa tidur sama sekali, ia masih mengingat bagaimana Frisa memintanya untuk menjadi kekasih gadis itu. Bukan tak menyukai Frisa hanya saja Melvin tidak pernah membayangkan jika Frisa akan menyukainya. Siapa yang tak menyukai Frisa dengan wajah yang sangat menarik kaum adam tersebut tetapi semua lelaki tak pernah mendekati Frisa dan hanya mengagumi Frisa dalam diam karena Frisa selalu di jaga ketat oleh Faiz. Faiz tak mau adiknya menjadi mainan para lelaki itulah mengapa Melvin juga terlihat bimbang sekarang, di satu sisi ia juga menyukai Frisa namun di sisi lain ia juga masih menyayangi nyawanya sendiri, ia tidak mau nyawanya melayang hanya karena Faiz dan kedua orang tua Faiz maupun Frisa mengetahui sifat buruknya di luar yang sering bermain dengan wanita. Bermain bukan dalam artian ia suka celup sana celup sini, ia hanya menjadikan mereka kekasih lalu di buang begitu saja ketika mendapatkan yang baru, Melvin adalah pria playboy pada umumnya.
Ini sudah dua minggu waktu yang ditentukan oleh Frisa. Melvin sudah memutuskan jawaban apa yang akan ia katakan nantinya kepada Frisa, seakan nanti ia tidak bisa menghirup udara dengan mudah hingga sekarang Melvin melakukannya, menghirup napas sebanyak-banyaknya lalu menghembuskan napasnya dengan perlahan.
"Kenapa lo?" tanya Agam dengan terkekeh karena sebenarnya ia sudah tahu apa penyebab sahabatnya terlihat tertekan seperti ini.
"Bangs*t! Jangan pura-pura gak tahu lo semua," ujar Melvin dengan tajam.
Cakra dan Agam tertawa melihat wajah tertekan Melvin sekarang. "Udah lo tolak aja demi kebaikan hidup lo dan keberlangsungan hidup lo di tangan nona Frisa," ujar Cakra dengan serius.
"Itu juga yang mau gue lakuin karena tidak mungkin gue nantinya menyakiti nona saat dia tahu gue seperti apa di luar. Lebih baik nona sakit di awal daripada sakit sewaktu kami sudah menjadi sepasang kekasih. Gini-gini gue masih mempunyai perasaan," ujar Melvin dengan lirih.
"Sebentar lagi nona pulang dari Taiwan. Setidaknya saat ini gue harus mengumpulkan keberanian untuk itu. Dua minggu waktu yang diberikan nona Frisa seperti 2 hari waktu yang gue punya," ujar Melvin dengan mengacak rambutnya frustasi.
Agam dan Cakra juga akhirnya tampak kasihan dengan Melvin yang sekarang terlihat tertekan, tetapi keputusan untuk menolak Frisa adalah pilihan yang tepat menurut keduanya. Lagi pula Melvin juga tidak mencintai Frisa, lelaki itu hanya sebatas mengagumi dan menyukai Frisa saja, hanya sebatas itu dan tidak lebih.
Cakra melihat jam tangannya. "Gue harus ke bandara jemput nona Frisa dan Gavin. Lo berdua jaga rumah," ujar Cakra yang membuat Melvin semakin deg-degan hatinya benar-benar tidak karuan sekarang.
"Baru kali ini gue tertekan banget di tembak cewek biasanya langsung gue sikat tuh cewek," gumam Melvin yang membuat Agam dan Cakra tertawa.
"Mungkin ini karma buat lo!" ujar Cakra dan Agam bersamaan.
"Sial*n!" umpat Melvin dengan tajam.
****
Frisa dan Gavin sudah masuk ke dalam mobil, Frisa yang tadinya tampak lesu karena lelah menjadi terlihat cerah kembali karena hari ini ia akan mendengar jawaban Melvin kepadanya, ia yakin Melvin tak akan menolaknya. Namun, entah mengapa ia tidak sebahagia itu melihat wajah Gavin yang kembali dingin saat mereka kembali menginjakkan kaki di tanah air.
"Cakra antarin gue dulu pulang ke rumah. Gue pusing!" ujar Gavin memijat pelipisnya.
Frisa langsung menatap ke arah Gavin, mendadak ia menjadi khawatir dengan Gavin sekarang. Frisa menyingkirkan tangan Gavin yang sedang memijat pelipisnya sendiri.
Gavin melihat ke arah Frisa. Ia juga tak tega melihat wajah Frisa yang kelelahan. "Antarkan nona Frisa dulu, Ka. Setelah itu gue!" ujar Gavin dengan pelan.
Frisa meletakkan punggung tangannya di kening Gavin. "Tidak terlalu panas. Istirahat di rumah papa saja," ujar Frisa dengan serius.
Gavin menghela napasnya dengan pelan, saat ini ia sedang malas berdebat dengan Frisa. Bukan pekerjaan yang membuat ia pusing melainkan ia takut Melvin akan menerima Frisa saat ini dan ia belum bisa memberikan bukti yang akurat.
"Jadi, ini ke mana dulu?" tanya Cakra dengan bingung.
"Ke rumah papa saja!" ujar Frisa dengan tegas.
Cakra mengangguk dengan pelan. "Baik, Nona!" sahut Cakra pada akhirnya.
__ADS_1
Cakra melirik ke arah Frisa dan juga Gavin. Tampak sekali Frisa terlihat khawatir dengan Gavin saat ini bahkan gadis itu memijat kepala Gavin dengan pelan yang membuat Gavin tersenyum di dalam hati karena ternyata Frisa juga bisa perhatian kepada dirinya.
Sadar akan apa yang ia lakukan bisa mengundang banyak presepsi akhirnya Frisa berbicara dengan nada ketus seperti biasanya. "Jangan salah paham dulu, saya seperti ini karena saya tidak mau kamu sakit terlalu lama lalu tidak bisa bekerja," ujar Frisa dengan ketus yang membuat Gavin dan Cakra menahan tawa mereka.
"Iya, Nona. Tidak usah pijat lagi kepala saya, Nona. Nanti juga sembuh," ujar Gavin dengan tersenyum tipis.
"Siapa coba yang mau pijat lagi," elak Frisa dengan ketus.
Frisa kembali memainkan ponselnya dan tidak mempedulikan Gavin kembali walaupun sesekali ia melirik ke arah Gavin yang tampak memejamkan matanya.
"Kenapa aku harus khawatir dengan Gavin coba? Dia tidak pernah sakit kan sebelumnya? Jadi, mungkin ia sedang berpura-pura sakit agar bisa libur kerja. Enak saja, tidak ada libur kerja sama sekali," gumam Frisa di dalam hati dengan perasaan yang campur aduk sekarang antara khawatir dan kesal sendiri.
****
Melvin yang melihat mobil Frisa sudah memasuki perkaranya rumah mewah ini hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. Bagaimana sekarang? Apakah ia harus mengatakannya sekarang?
Dengan perasaan yang tak menentu akhirnya Gavin menghampiri mobil Frisa dan membukakan pintu untuk Frisa. Mata Frisa dan Melvin saling bertemu namun Frisa tak menemukan debaran di hatinya seperti biasa. Ada apa ini? Kenapa dirinya malah mengkhawatirkan Gavin saat ini.
"Selamat datang kembali di rumah ini, Nona!" ucap Melvin dengan canggung.
"Ya terima kasih," jawab Frisa dengan tersenyum tipis.
Gavin membawa koper Frisa masuk ke dalam rumah, ia sudah tidak mempedulikan rasa sakit yang ia rasakan pada kepalanya tadi. Entah mengapa yang ada hanya rasa kesal saat Frisa tersenyum kepada Melvin dan mengucapkan terima kasih padahal dengan dirinya Frisa jarang sekali mengucapkan terima kasih.
Frisa menyusul Gavin masuk ke dalam rumah. "Kamu istirahat saja di kamar kamu," ujar Frisa mengambil kopernya dan berlalu pergi meninggalkan Gavin seorang diri.
"Gavin!" panggil Rania saat melihat Gavin dan Frisa sudah pulang.
"Ya saya sudah tahu dari Frisa. Kamu sebaiknya istirahat saja, perjalanan jauh sudah menghabiskan banyak energi pastinya," ujar Rania.
"Saya ingin pulang, Nyonya. Tapi nona Frisa tidak mengizinkannya," ujar Gavin dengan meringis, ia seperti sedang mengadu kepada orang tuanya sekarang.
Rania menggelengkan kepalanya. "Anak itu entah kenapa akhir-akhir ini dia terlihat sangat aneh. Frisa sudah sangat bergantung dengan kamu Gavin bahkan dia dengan tegas mengatakan jika nantinya istri kamu juga harus bekerja di sini agar kamu tidak keluar dari pekerjaan kamu. Bukankah nanti itu menjadi boomerang untuk rumah tangga kalian masing-masing?" ujar Rania yang membuat Gavin terkejut.
"Nona mengatakan itu, Nyonya?" tanya Gavin tidak percaya.
"Benar, sewaktu kamu pulang dan tak mau makan malam bersama kami dia dengan tegas mengatakan itu di meja makan seakan dia tidak mau kehilangan kamu. Apa saya jodohkan saja kamu dengan Frisa? Kamu tidak keberatan?" tanya Rania yang semakin membuat Gavin terkejut.
"Biarkan Nona memilih pilihannya sebagai pendamping hidup begitu pun dengan saya, Nyonya. Bukan saya ingin menolak tetapi perasaan nona Frisa adalah hal yang utama, untuk saya bekerja di sini atau tidaknya ke depannya saya tidak tahu tetapi untuk saat ini saya belum berpikiran untuk menikah, saya masih menikmati bekerja di sini, Nyonya!" jawab Gavin dengan tegas.
"Baiklah jika keputusan kamu seperti itu tetapi jika kamu mau saya sangat merestui hubungan kalian berdua," ujar Rania dengan tersenyum yang membuat Gavin benar-benar tidak bisa berkata apapun. Senang, bingung, dan perasaan yang tak bisa ia jabarkan sekarang.
"Terima kasih, Nyonya. Tapi saya memilih untuk bekerja dulu," ucap Gavin dengan tegas.
"Saya mengerti dan saya tidak memaksa kalian berdua. Sekarang istirahatlah agar badan kamu kembali vit," ujar Rania.
"Iya, Nyonya!"
Rania meninggalkan Gavin setelah selesai berbicara. Dan Gavin langsung menuju kamarnya di rumah ini, entahlah Gavin juga terlalu di istimewa di rumah ini, ia bebas masuk ke rumah ini dan memiliki kamar pribadi juga di sini. Mungkin karena orang tuanya sudah sangat dekat dengan kedua orang tua Frisa lah makanya ia juga mendapatkan pekerjaan terbaik di rumah ini seakan tidak ada batas antara ia dengan majikannya.
__ADS_1
*****
Setelah membersihkan diri Frisa turun dari kamarnya dengan perasaan yang amat segar, ia harus mencari Melvin segera dan Frisa sangat ingin mengetahui apa jawaban Melvin kepada dirinya.
"Mau kemana lagi, Sayang? Kamu baru pulang!" tanya Ferdians menatap anaknya.
"Keluar sebentar, Pa. Cari udara segar," ujar Frisa dengan lembut.
"Keluar rumah?" tanya Ferdians.
"Tidak, hanya duduk di depan saja. Sebentar ya, Pa!" sahut Frisa dengan tersenyum.
"Ya sudah. Papa pikir keluar rumah," ucap Ferdians.
Frisa tersenyum. Lalu ia melangkah keluar mencari keberadaan Melvin, dan setelah menemukannya Frisa memanggil Melvin dengan keras yang membuat Melvin semakin deg-degan.
"Melvin!" panggil Frisa.
Melvin yang sedang berjaga langsung menyahut dan segera menenangkan hatinya sendiri. Sedangkan Cakra dan Agam menahan tawanya sekarang.
"Iya, Nona!" ucap Melvin setelah berada di hadapan Frisa.
"Bagaimana jawaban kamu waktu itu?" tanya Frisa dengan tak sabaran.
Melvin menghirup udara sebanyak-banyaknya. "M-maaf sebelumnya, Nona. S-saya tidak bisa menerima, Nona. B-bukan saya tidak menyukai, Nona. H-hanya saja saya sudah menyukai gadis lain, Nona!" ucap Melvin dengan terbata bahkan telapak tangannya sudah berkeringat dingin sekarang.
"Kamu menolak saya?" tanya Frisa dengan tajam hatinya begitu sakit karena penolakan Melvin saat ini.
"M-maaf, Nona. Hati tidak bisa di paksakan," jawab Melvin dengan terbata.
Frisa mengepalkan kedua tangannya, tak sengaja ia melihat ke arah Cakra dan Agam yang seperti menertawakan dirinya. Hati Frisa semakin panas karena itu.
"AGAM, CAKRA, CEPAT KE SINI!" teriak Frisa dengan menggelegar yang membuat semua penjaga maupun Ferdians, Rania serta Faiz terkejut.
Agam dan Cakra segera berlari ke arah Frisa yang tampak sangat dingin sekali. "Iya ada apa, Nona?"
"Temani Melvin berendam di air es! Jangan membantah ucapan saya atau hukuman kalian bertiga akan lebih berat," ujar Frisa dengan tajam.
"Bima!" panggil Frisa kepada penjaga yang lainnya.
"Iya, Nona!"
"Siapkan tong berisi balok es biarkan mereka bertiga berendam di sana selama 3 jam. Jangan sampai mereka keluar sebelum waktunya," ujar Frisa dengan tegas.
Cakra dan Agam menelan ludahnya dengan kasar. Apa salah mereka? Mereka hanya menertawakan Melvin yang tidak bisa berbicara di hadapan Frisa karena biasanya Melvin akan menerima gadis dengan santainya tetapi dengan Frisa, Melvin sama sekali tidak berani.
"Dek, ada apa ini? Kenapa suara kamu sangat keras terdengar dari dalam," ujar Faiz dengan bingung.
"Aku hanya ingin memberikan pelajaran untuk mereka bertiga. Jangan ada yang mengeluarkan mereka bertiga dari tong sebelum waktunya" ujar Frisa dengan datar.
__ADS_1
Faiz, Ferdians, dan Rania bingung dengan anaknya. Tetapi bagi Rania dan Ferdians ini adalah de javu.
Benar-benar sangat mirip dengan Rania. Batin Ferdians tak habis pikir dengan tingkah anaknya. Sebenarnya apa kesalahan Melvin, Cakra, dan juga Agam hingga Frisa menghukum mereka berendam di air es?