
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Agni sudah tidak sadarkan diri setelah sampai di rumah sakit, hal itu membuat Rio dan Anjani panik. Apalagi melihat Agni di bawa oleh suster ke ruang IGD guna mendapatkan penanganan. Tangan Rio berkeringat dingin menunggu dokter keluar dari ruangan IGD, ia tidak akan bisa tenang sebelum memastikan jika mamanya baik-baik saja.
"Mas yang tenang ya pasti mama baik-baik saja. Aku tahu bagaimana perasaan Mas sekarang karena aku pun sudah pernah merasakannya," ujar Anjani mencoba menenangkan suaminya yang terlihat sangat gelisah sekali.
Rio mencoba tersenyum walaupun hatinya begitu sangat ketakutan kehilangan mamanya, tidak ada lagi orang tua selain mamanya walaupun dulu mamanya adalah wanita jahat dan serakah tetapi Rio tetap menyayangi mamanya apalagi sekarang mamanya sudah berubah menjadi wanita yang lebih baik lagi.
"Iya, Sayang!" sahut Rio memaksakan senyumannya dan menggenggam tangan Anjani dengan erat meminta kekuatan dari istrinya tersebut yang di balas genggaman dan senyuman tipis dari Anjani walaupun Rio tahu istrinya juga memiliki ketakutan yang sama dengan dirinya.
Keduanya sama-sama mencari kekuatan saat cobaan yang sangat berat menimpa keluarganya saat ini. Anjani bersandar di dada suaminya, ia dapat mendengar suara detak jantung Rio yang sangat menggila karena ketakutan yang saat ini suaminya rasakan.
Ceklek...
Pintu IGD terbuka memperlihatkan dokter yang baru saja selesai memeriksa Agni.
Rio dan Anjani langsung berdiri berjalan ke dekat dokter. "Bagaimana keadaan mama saya, Dok?" tanya Rio dengan nada yang begitu sangat cemas.
Dokter menatap Rio dan Anjani bergantian, ada rasa kasihan ketika ia ingin menyampaikan sesuatu yang pastinya akan membuat keluarga pasiennya bersedih.
__ADS_1
"Yang sabar ya, Pak, Bu. Pasien sudah tidak bernyawa setelah sampai di rumah sakit ini," ujar dokter yang membuat jantung Rio dan Anjani berhenti berdetak.
Deg...
"T-tidak mungkin, Dok! Mama saya masih hidup! Mama saya tidak mungkin meninggal!" ujar Rio menggelengkan kepalanya.
"Yang sabar, Pak. Mama anda sudah tiada, saya sudah periksa nadi dan jantung beliau berulang kali tetapi tetap saja tidak ada denyut nadi dan detak jantung ibu Agni lagi. Ibu Agni sudah meninggal dunia," ujar dokter yang membuat Rio masih tidak percaya dan langsung masuk ke,ruang UGD.
"JANGAN DITUTUP WAJAH MAMA SAYA, SUS!" teriak Rio dengan keras yang membuat suster menghentikan gerakannya.
Rio langsung mendekat ke arah mamanya. "Bangun, Ma! Jangan bercanda ini sama sekali tidak lucu, Ma! Ayo bangun, Ma!" ujar Rio mengguncang tubuh mamanya berusaha untuk membangunkan mamanya. Namun, mamanya tetap diam tidak bergerak.
"Ma... Hiks...hiks..."
Anjani mendekat ke arah suaminya dengan menangis. "Mas, sabar! Mama sudah tidak ada! Mama sudah tidak sakit lagi," ujar Anjani memeluk suaminya dari samping dengan sangat erat.
"Ini masih berasa seperti mimpi, Sayang! Mama sudah tidak ada! Apa itu benar hiks...?" ujar Rio dengan menangis yang membuat Anjani semakin memeluk suaminya dengan erat mereka sudah menangis bersama sekarang karena keduanya sudah kehilangan mama mereka satu-satunya.
****
Meninggalnya Agni sudah sampai di telinga Faiz dan juga keluarga Danuarta yang lain. Mereka turut prihatin dan berduka atas kepergian Agni.
Faiz masih menjaga istrinya dengan sangat setia, ia tahu pasti kedua mertuanya sangat sedih apalagi sekarang Olivia belum sadar sampai sekarang. Bagaimana nanti jika istrinya juga pergi? Tidak! Faiz belum siap kehilangan istri dan kedua anaknya.
__ADS_1
Faiz menggenggam tangan Olivia dengan perlahan dan meletakkannya di pipinya. Faiz tidak ingin berkata-kata, ia takut Olivia mendengar semua perkataannya jika nenek mereka sudah tiada.
"Sayang kamu tidak mau bangun? Mas sudah sangat merindukan kamu. Buka mata kamu ya Mas janji kita akan seperti dulu lagi," ujar Faiz dengan lirih.
Faiz melihat wajah Olivia, wajah istrinya sudah tidak se-pucat kemarin tetapi Olivia sama sekali belum sadar sampai sekarang. Faiz terus memperhatikan Olivia hingga ia merasakan tangan Olivia bergerak yang membuat Faiz langsung menegakkan tubuhnya menatap Olivia, dengan rasa yang sangat gembira Faiz memencet tombol darurat yang ada di dekat brankar istrinya hingga dokter datang ke ruangan ICU.
"Ada apa, Tuan Faiz?" tanya dokter dengan tegas seraya ikut merasa panik takut terjadi sesuatu dengan pasiennya kali ini.
"Tolong periksa istri saya, Dokter! Tadi tangannya bergerak," ujar Faiz dengan tegas.
Dokter yang mendengarnya langsung mengangguk dengan cepat dan ada rasa gembira di hatinya ketika ada perkembangan baru dari pasiennya kali ini.
Faiz memperhatikan dokter yang mulai memeriksa istrinya, ia berharap dokter membawa kabar gembira untuknya kali ini karena semua keluarganya sudah berada di rumah mertuanya untuk ikut berbela sungkawa atas meninggalnya Agni hari ini.
"Alhamdulillah perkembangan nona Olivia sangat baik, Tuan. Kemungkinan nona Olivia sebentar lagi akan sadar, respon dari tangannya adalah hal yang sangat baik sekali. Bisa saja hari ini atau besok nona Olivia akan sadar dari komanya," ujar dokter yang membuat Faiz sangat lega sekali.
"Terima kasih, Dok. Saya harap secepatnya istri saya sadar, saya sudah sangat merindukannya," ujar Faiz dengan tersenyum senang.
"Saya do'akan dan saya juga ikut senang dengan berita ini, Tuan. Jika begitu saya permisi setelah nona Olivia sadar, kita bisa langsung memindahkan beliau di ruang perawatan," ujar dokter dengan tersenyum yang di angguki oleh Faiz.
Setelah dokter keluar Faiz mencium kening Olivia dengan lembut dan tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca karena bahagia yang ia rasakan saat ini.
"Terima kasih sudah mau bertahan sejauh ini, Sayang. Kamu tahu Mas sangat mencintai kamu," gumam Faiz dengan lirih.
__ADS_1
"Terima kasih juga buat anak-anak Papa yang sudah mau membujuk mama untuk bangun," gumam Faiz mencium perut istrinya dengan lembut.
Kabar duka dan kebahagiaan menjadi satu saat ini. Faiz berharap istrinya akan segera sadar dan bisa berkumpul dengannya kembali secepatnya, membesarkan kedua anak mereka berdua bersama-sama.