
📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!
Happy reading
***
"Heera, saya hanya ingin bertemu dengan Ferdians. Tolong jangan halangi saya!" ujar Eric dengan sendu.
Heera menggelengkan kepalanya. "Jangan pernah kamu memperlihatkan diri di hadapan Ferdians. Sejak saat itu Ferdians hanya anak saya bukan anak kamu," ujar Heera dengan tegas.
"Heera bagaimanapun saya adalah ayahnya. Darah saya mengalir di tubuh Ferdians. Bagaimanapun caranya kamu menghalangi saya, Ferdians tetap anak saya. Tidak ada namanya bekas ayah dan anak, Heera!" balas Eric dengan sendu.
Heera menatap tajam ke arah Eric. "Memang tidak ada bekas ayah dan anak. Tetapi saat kamu meninggalkan kami dan membawa Ferry tanpa belas kasih terhadap saya yang sudah memohon, saat itu kamu tidak ada di kehidupan Ferdians. Dia hanya tahu jika ayah sambungnya lah yang menjadi ayah kandungnya selama ini," ujar Heera dengan tajam.
Eric menatap Heera dengan sendu. Ia tahu bagaimana sakitnya perasaan Heera saat itu tetapi ia tidak peduli dan sekarang Eric menyesal karena telah membuat wanita yang ia cintai sakit hati karena perlakuannya. Bagaimana jika Heera tahu jika Ferry telah meninggal?
"S-saat itu saya tidak bisa berbuat apa-apa, Heera. Gista mengalami depresi saat tahu anak kami meninggal yang usianya masih hitungan menit, pikiran saya kalut lalu saya ingat jika anak kita kembar mungkin dengan begitu kesehatan Gista kembali pulih. S-saya..."
"Kamu hanya memikirkan perasaan Gista dan tidak memikirkan perasaan saya. Bagaimana hancurnya perasaan saya saat kamu memisahkan saya dengan Ferry secara paksa! Pergi kamu dari sini saya benci sama kamu!" teriak Heera dengan sekuat tenaganya yang membuat Eric panik.
Orang-orang yang berada di rumah sakit melihat keduanya dengan perasaan heran.
"Heera saya mohon jangan seperti ini! Semua orang melihat ke arah kita, saya meminta dengan baik-baik kepada kamu, Heera. Saya ingin bertemu dengan Ferdians," ujar Eric dengan sabar.
"Jika kamu tidak bisa mengizinkan saya walaupun saya sudah meminta dengan cara baik-baik jangan salahkan saya jika saya masuk dengan paksa ke ruangan Ferdians dan membawa Ferdians pergi," ujar Eric dengan tegas walaupun sebenarnya ia tidak tega berkata seperti itu kepada Heera. Eric hanya menggertak Heera saja agar dirinya diizinkan masuk dan bertemu dengan Ferdians.
"Saya tidak akan pernah mengizinkan kamu masuk ke ruangan anak saya! Sejak Ferdians kecil sudah bersama saya dan dia baik-baik saja. Kenapa saat kedatangan kamu kembali ke kehidupan kami semua jadi seperti ini? Kamu sudah membawa sial untuk kehidupan Ferdians dan saya, Eric! Dulu saya pasrah saat kamu membawa Ferry tetapi sekarang saya tidak akan menyerahkan Ferdians kepada orang seperti kamu sampai maut datang kepada saya," ujar Heera dengan tegas dan mata yang memerah.
Perdebatan keduanya terjadi dengan sangat alot karena Heera tetap tidak mengizinkan Eric bertemu dengan Ferdians. Selamanya Heera tidak akan membiarkan Eric membawa Ferdians seperti Eric membawa Ferry pergi dari kehidupannya karena Heera tidak akan sanggup jika harus kehilangan anaknya kembali.
"Kamu memberikan saya izin atau tidak saya akan tetap menemui Ferdians. Bagaimanapun dia harus tahu jika saya adalah ayah kandungannya!" ujar Eric dengan tajam.
"Jangan pernah kamu menemui Ferdians!" ujar Heera mengejar Eric yang berjalan ke ruangan Ferdians.
Eric diam ia tetap melangkah tidak mempedulikan Heera yang terus tidak mengizinkan dirinya. Hingga suara kesakitan Heera membuat Eric menghentikan langkahnya dan kembali memutar tubuhnya menatap ke arah Heera.
__ADS_1
"Jangan berpura-pura sakit agar saya tidak jadi menemui Ferdians," ujar Eric dengan datar walau di dalam hatinya ia mengkhawatirkan Heera.
Heera mengerang kesakitan saat sakit kepalanya bertubi-tubi menyerangnya hingga darah kembali mengalir dari hidungnya barulah Eric dengan sangat khawatir menghampiri Heera.
"Heera, apa yang terjadi? Kamu mimisan!" ucap Eric dengan begitu panik.
"Ya Tuhan... Kamu pucat sekali," ujar Eric dengan sangat panik.
Heera memandang Eric yang terlihat sangat khawatir dengan keadaannya, ia menjadi mengingat sewaktu dulu mereka masih menjadi suami istri yang harmonis, Heera tersenyum tipis lalu senyuman itu hilang di gantikan dengan erangan kesakitan yang membuat Eric di landa kekhawatiran yang sangat mendalam.
"M-mas Eric," gumam Heera dengan lirih.
"Iya. Kamu jangan banyak berbicara dulu ya. Kamu harus di tangani oleh dokter," ujar Eric dengan panik.
"M-mas, a-aku ingin bertemu dengan Ferry untuk terakhir kalinya saja, Mas. D-dimana dia sekarang, Mas? Pasti dia sangat tampan seperti Ferdians, kan?Apakah dia juga sudah menikah?" tanya Heera dengan lirih yang membuat Eric mematung dan tidak tahu harus menjawab seperti apa.
"Kita ketemu dokter dulu ya!" ujar Eric dengan pelan.
"Heera! Hei, buka mata kamu!" panggil Eric dengan panik saat Heera memejamkan matanya dengan kepala di atas pangkuannya.
Dengan cepat Eric menggendong Heera dan berteriak memanggil nama dokter agar Heera segera di tangani dengan segera.
****
Rania menunggu Ferdians dengan sangat sabar walaupun sudah dua hari ini Ferdians belum sadarkan diri.
"Kenapa ibu lama sekali? Seharusnya aku tidak membiarkan ibu pergi ke kantin sendirian," gumam Rania dengan gelisah.
Pasalnya Sastra maupun Liam masih sangat sibuk mencari keberadaan Roby yang sampai saat ini belum diketemukan. Sedangkan mama tirinya tidak di perbolehkan oleh papanya ke rumah sakit karena dalam keadaan hamil muda, Rania lupa menyuruh pelayan untuk datang menjaga ibunya juga.
"Mas! Kamu tidak kangen aku dan twins? Kamu tidak sayang kepada kami?" tanya Rania dengan lirih.
"Lihatlah ibu, Mas. Dalam keadaan sakit pun dia masih memikirkan aku dan anak-anak, ibu pergi ke kantin sendirian untuk membeli makanan agar aku dan kedua anak kita makan. Tapi kenapa ibu belum kembali?" ujar Rania dengan lirih.
Rania ingin menyusul ibunya tetapi gerakan tangan Ferdians membuat Rania mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Mas kamu sadar?" tanya Rania dengan mata berkaca-kaca.
Rania memencet tombol di dekat Ferdians untuk memanggil dokter, tak lama dokter dan suster datang dengan cepat.
"Dok, tangan suami saya gerak. Dia sudah sadar kan, Dok?" tanya Rania dengan tak sabaran.
"Biar kami periksa dulu, Nona!" ujar dokter yang di angguki oleh Rania.
Tak lama setelah dokter selesai memeriksa mata Ferdians terbuka dengan perlahan. Pertama kali yang Ferdians lihat adalah wajah istrinya yang sedang mengkhawatirkan dirinya.
"S-sayang!" gumam Ferdians dengan lirih.
"Iya, Mas! Aku di sini!" ujar Rania dengan tersenyum.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Rania.
"Tuan Ferdians sudah berhasil melewati masa kritisnya. Setelah ia sadar kita lihat perkembangan tuan Ferdians, jika terus membaik maka tuan Ferdians bisa segera pulang ke rumah dan bisa berobat jalan saja untuk mengontrol kesehatannya pasca kecelakaan yang menimpanya," ujar dokter yang membuat Rania tersenyum lega.
"Jika begitu kami permisi. jika ada sesuatu panggil saja kami," ujar dokter yang di angguki oleh Rania.
"Terima kasih, Dok!"
Setelah dokter dan suster pergi Rania menatap wajah suaminya dan mencium kening Ferdians dengan lembut.
"Kenapa lama sekali tidurnya?" tanya Rania dengan sendu.
Ferdians tersenyum tipis. "Kamu dan twins tidak kenapa-napa, kan?" tanya Ferdians dengan pelan.
"Kenapa masih bertanya seperti itu? Apa yang kamu lakukan hampir menghilangkan nyawa kamu sendiri, Mas!" ujar Rania dengan lirih.
"Kamu dan twins segalanya bagi, Mas!" jawaban Ferdians mampu membuat Rania meneteskan air matanya dan memeluk Ferdians.
"Hiks.. Terima kasih, Mas!"
Ferdians tersenyum mengelus rambut istrinya. "Jangan nangis!" gumam Ferdians dengan lirih.
__ADS_1
"Aku sayang kamu hikss..."
"Mas tahu, Sayang. Sudah jangan nangis lagi ya. Masa seorang Rania menjadi cengeng sih?" ujar Ferdians yang membuat Rania terkekeh padahal ia masih merasa sedih sekarang.