
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Frisa dan Gavin masuk ke dalam kamar hotel setelah acara pesta pernikahan mereka sudah selesai jam 10 malam karena memang acara pernikahan mereka sudah di lakukan sejak pagi, dan pastinya tubuh keduanya sangat lelah.
Bruk...
Frisa langsung menjatuhkan dirinya di kasur, dengan tubuh yang sangat berat sekali. Rasanya seperti di pukuli hingga tubuhnya terasa remuk.
"Mandi dulu, Sayang. Baru tidur," ujar Gavin dengan lembut.
"Capek banget, Mas. Kaki aku sudah pegel banget," gumam Frisa dengan memejamkan matanya.
"Mandi dan setelah itu Mas pijat kaki kamu. Biar seger badan kamu, Sayang. Ayo Mas gendong ke kamar mandi," ujar Gavin dengan tegas karena ia tidak mau Frisa tertidur dalam keadaan make up yang masih menghiasi wajah istrinya walaupun pakaian pengantin mereka sudah terlepas dan mereka sudah memakai pakaian santai.
Gavin benar-benar menggendong Frisa menuju kamar mandi, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat mata Frisa sudah terpejam.
"Ya Tuhan, Sayang. Bagaimana kamu bisa tertidur dalam keadaan seperti ini, belum juga di apa-apain," ujar Gavin dengan terkekeh.
Gavin mengisi bathtub dengan air hangat. Frisa yang merasakan air hangat terkena tubuhnya akhirnya membuka matanya dengan perlahan.
"Besok saja mandinya, Mas! Please!" rengek Frisa dengan manja.
"Tidak bisa, Sayang. Ayo mandi berdua, biar Mas yang gosok badan kamu," ujar Gavin dengan tersenyum.
"A-aku mandi sendiri!" ujar Frisa langsung membuka matanya dengan cepat.
Mendadak ia menjadi gugup karena perkataan Gavin barusan. Bagaimana jika Gavin menginginkan tubuhnya sekarang? Masa malam pertama di dalam kamar mandi seperti ini?
"Mikir apa? Jangan aneh-aneh pikiran kamu. Mas benar-benar ingin mandi bersama, jika kamu lelah mana mungkin Mas tega memintanya sekarang," ujar Gavin yang seakan paham isi pemikiran Frisa saat ini.
Frisa tampak menghela napasnya dengan lega. Gavin melepas pakaiannya dan mulai ikut berendam bersama dengan sang istri, dengan malu-malu Frisa melepaskan pakaiannya sendiri berharap Gavin tidak melihat tubuhnya.
Tetapi semua itu tinggal harapan Frisa saja karena Gavin sudah melihat tubuhnya dengan menelan ludahnya dengan kasar. Gavin mulai memegang lengan Frisa dengan lembut, keduanya bermain air dengan Frisa yang mulai nyaman bersandar di dada bidang Gavin dengan Frisa yang membelakangi Gavin.
Gavin mulai menggosok tubuh Frisa dengan sabun, keduanya sama-sama terdiam. Frisa menahan napasnya saat tangan Gavin menyentuh perutnya yang sudah tidak memakai baju hanya tinggal bagian dada dan bawah yang masih ia tutupi.
"Ughhh..." Frisa menggigit bibirnya saat tak sengaja suara aneh keluar dari bibirnya saat Gavin menggosok perutnya dengan lembut.
Tangan Gavin berpindah ke punggung Frisa, ia melepaskan penggait br* milik Frisa hingga Frisa menahan benda itu agar tidak terlepas.
__ADS_1
"M-mas..."
"Hmmm..."
"Itunya tidak usah di lepas!" ucap Frisa dengan gugup.
"Tidak apa-apa biar kamu rileks!" ujar Gavin dengan pelan.
Lagi dan lagi Frisa menahan napasnya saat benda itu sudah di buang oleh Gavin ke lantai kamar mandi begitu saja dan sudah bercampur dengan pakaian mereka. Gavin mulai menyabuni Frisa dengan perlahan hingga Frisa mulai tampak rileks kembali, tangan Gavin mulai memijat tubuh Frisa dengan perlahan hingga sampai di bagian dada.
Gavin benar-benar penasaran dengan gunung kembar milik Frisa, tangannya mulai menyentuh bagian yang menggoda Gavin sejak tadi hingga ia bisa merasakan kedua tangannya menyentuh gunung kembar istrinya sendiri dan merem*snya dengan perlahan.
"Eughh..." Frisa melenguh saat merasakan sensasi aneh ketika kedua tangan Gavin menyentuh dadanya.
Bahkan Frisa sama sekali tidak proses, ia menikmati pijatan yang Gavin lakukan terhadap dirinya sekarang yang nyatanya benar-benar membuat tubuhnya rileks. Walaupun Frisa merasa Gavin sangat mesum sekarang karena menyentuh seluruh tubuhnya, tetapi Gavin memang sudah berhak atas tubuhnya sekarang.
"Enak tidak, Sayang?" tanya Gavin dengan pelan.
Frisa menganggu. "Enak!" jawab Frisa dengan pelan memperhatikan tangan Gavin yang masih memijat dadanya dengan pelan.
"Ternyata begini rasanya menyentuh dada asli milik istri sendiri," gumam Gavin dengan terkekeh.
Pipi Frisa bersemu merah mendengar ucapan Gavin. Tangan kanan Gavin berpindah ke bawah. "Lepas saja yang bawah, Sayang!" ujar Gavin dengan pelan.
"Nikmati pijatan suami kamu ya," ujar Gavin dengan mengedipkan kedua matanya menatap Frisa yang bersandar di dadanya.
Kaki Frisa sudah mulai bergerak dengan gelisah saat tangan kanan Gavin sudah menyentuh pahanya dan membelai miliknya dengan perlahan.
"Aaahhh..." Frisa mendes*h dengan pelan saat jari Gavin bergerak dengan pelan pada miliknya.
Bibir Frisa terbuka yang membuat Gavin gemas dan mulai mencium istrinya dengan lembut. Gavin memang tak akan memaksa Frisa untuk melayani dirinya malam ini tetapi Gavin bertekad akan memberikan sentuhan yang membuat Frisa ketagihan nantinya dan pasti akan dengan senang hati meminta jatah kepada dirinya atau memberikan jatah kepadanya tanpa keterpaksaan sama sekali.
"A-aku mau pipis!" ujar Frisa dengan wajah yang memerah.
"Keluarin saja, Sayang!" ujar Gavin dengan tersenyum.
"Jorok ih!" ujar Frisa.
"Tidak apa-apa itu namanya pelepasan, Sayang!" ujar Gavin dengan tersenyum dengan jari semakin bergerak dengan cepat yang membuat Frisa blingsatan dan akhirnya tubuhnya bergetar dengan hebat.
Napas Frisa terengah-engah dan tubuh yang terasa lemas saat mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya.
Frisa memeluk Gavin dengan malu-malu karena ini baru pertama kalinya untuk dirinya. Gavin benar-benar membuat dirinya tak berdaya sekarang.
__ADS_1
"Maaf ya, Sayang. Kamu masih ngantuk ya? Sebentar lagi mandi kita selesai terus kita tidur ya!" ujar Gavin dengan tersenyum walaupun sekarang gairahnya tidak tersalurkan tetapi melihat mata Frisa yang memerah karena mengantuk membuat Gavin tidak tega sama sekali.
Setelah selesai mandi Gavin mengeringkan tubuhnya dan tubuh Frisa dengan handuk. Frisa sudah oasrah saja karena memang ia benar-benar mengantuk setelah kemarin tidak bisa tidur dan hari ini kelelahan menghadapi para tamu yang begitu sangat banyak sekali.
Gavin terus menerus menelan ludahnya dengan kasar saat melihat tubuh indah Frisa sekarang tetapi ia tak mungkin mengajak Frisa bercinta dalam keadaan Frisa yang benar-benar sangat mengantuk sekali. Setelah tubuh istrinya kering Gavin langsung menggendongnya keluar dari kamar mandi. Tanpa menggunakan pakaian lagi Gavin langsung menidurkan istrinya di kasur dengan Gavin yang ikut tidur di sampingnya dengan memeluk Frisa dengan erat.
Gavin menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, ia tersenyum melihat Frisa yang sudah tertidur di pelukannya. Rasanya begitu sangat membahagiakan sekali melihat Frisa tertidur damai di pelukannya. Gavin ikut memejamkan matanya karena ia juga mulai merasa mengantuk membiarkan tubuhnya sama-sama polos dan Gavin merasa hangat ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Frisa.
****
Pagi harinya Gavin membuka matanya dengan perlahan, ia merasa pernikahannya dengan Frisa masih seperti mimpi tapi melihat Frisa yang tertidur di pelukannya membuka Gavin tersenyum karena ternyata semua itu adalah kenyataan yang sangat indah.
Seperti lelaki pada umumnya milik Gavin sudah bangun saat pagi-pagi seperti ini apalagi mengingat jika Frisa belum memakai bajunya, Gavin menyibak selimut dengan perlahan, ia menelan ludahnya dengan kasar saat melihat bukit kembar milik Frisa terpampang nyata di hadapannya, Gavin mulai mendekatkan mulutnya ke sana, persetan dengan Frisa yang nanti marah karena sejak semalam kepalanya sudah pening meminta kepuasan.
"Eughh...."
Frisa membuka matanya dengan perlahan merasa aneh dengan dadanya yang basah. Frisa melotot tak percaya karena ia melihat Gavin seperti bayi yang sangat kehausan sekarang.
"M-mas Gavin!" panggil Frisa dengan pelan.
Mata Gavin melihat ke arah Frisa. "Mas menginginkan kamu sekarang, Sayang!" ujar Gavin dengan serak dan mulai menindih tubuh Frisa dengan perlahan.
Keduanya saling memandang satu sama lain. "Boleh, kan?" tanya Gavin dengan serak.
Bibir Frisa keluh untuk sekedar berucap, melihat pancaran gairah dari mata Gavin entah mengapa Frisa mengangguk saja yang membuat Gavin tersenyum dan mulai mencium bibir Frisa dengan mesra.
Tubuh Frisa mulai menggeliat saat Gavin mulai mencumbu dirinya dengan mesra bahkan Gavin banyak meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Bibir Gavin terus bergerak ke bawah yang membuat Frisa semakin mendes*h nikmat.
"M-mas aaahhh.." kedua paha Frisa menjepit kepala Gavin ya berada di bawah, ia terus bergerak dengan gelisah hingga tubuh Frisa kembali bergetar dengan hebat setelah semalam ia juga merasakan hal yang sama.
Gavin kembali menindih Frisa, matanya sudah memancarkan gairah yang begitu dalam. Gavin membuka paha Frisa dengan lebar dan meletakkan di punggungnya, ia mulai bergerak untuk mencoba masuk, Frisa meringis karena merasakan benda asing yang mendesak untuk masuk.
Keringat Gavin bercucuran karena ternyata sangat susah untuk masuk. Beberapa percobaan gagal hingga pada akhirnya Frisa menjerit kesakitan saat Gavin berhasil masuk walau belum sepenuhnya.
"S-sakit..." gumam Frisa dengan lirih.
"Maaf ya! Tapi nanti akan enak seperti tadi, Sayang!" ujar Gavin dengan tersenyum.
Frisa ikut tersenyum keduanya saling berciuman kembali dengan mesra, di rasa Frisa sudah mulai rileks Gavin mulai menggerakkan miliknya dengan perlahan.
"Aaahhh.. emmmm... Mas Gavin!" gumam Frisa dengan lirih.
Keringat sudah membanjiri keduanya yang membuat Gavin merasa senang karena akhirnya ia bisa merasakan kenikmatan yang tiada duanya bersama dengan Frisa. Racauan Frisa semakin membangkitkan gairah Gavin, keduanya sudah tidak peduli dengan suara desah*n yang tidak terkontrol sama sekali. Keduanya saling berbagi kenikmatan bersama hingga tak mempedulikan hari yang sudah mulai siang dan keluarga yang menunggu untuk sarapan bersama.
__ADS_1