
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...***...
Olivia bersujud di kedua kaki orang tuanya. "Ayah, Bunda, tolong percaya dengan Olivia! Olivia sama sekali tidak bekerjasama dengan Cassandra untuk menghancurkan keluarga Danuarta. Olivia hanya ingin membuat keluarga kita dan keluarga Danuarta kembali berdamai. Itu saja, Yah, Bun, tidak ada yang lain. Olivia tidak sejahat itu hiks... Tolong percaya sama Olivia!" ujar Olivia dengan menangis pilu setelah sampai di rumah kedua orang tuanya.
Apa setelah ini ia akan diceraikan oleh Faiz? Sekarang saja ia di suruh bersama dengan kedua orang tuanya. Sungguh hati Olivia sangat pilu sekarang, ia benar-benar tidak ingin berpisah dari Faiz.
Anjani meneteskan air matanya melihat tangisan pilu Olivia bahkan anaknya itu sampai bersujud di kakinya saat ini.
"Bangun, Nak!" gumam Anjani dengan lirih.
"Olivia tidak akan bangun sebelum Bunda dan Ayah percaya sama Olivia hiks..." racau Olivia dengan begitu menyayat hati kedua orang tuanya saat ini.
Rio dan Anjani berjongkok di hadapan Olivia. "Ayah sama Bunda percaya sama kamu, Sayang. Maaf karena Ayah merawat Cassandra kamu jadi seperti ini. Seharusnya Ayah tidak merawatnya jika Cassandra akan menjadi wanita seperti itu. Ayah menyesal, Sayang!" gumam Rio dengan menangis.
"Hiks...hiks..." Olivia memeluk ayah dengan erat dan menangis menumpahkan segala kesakitannya saat ini. "Kenapa Cassandra bisa berbicara seperti itu, Yah? Padahal aku menyayanginya dengan sangat tulus hiks.. Aku tidak menyangka dia seperti itu, Yah. Sungguh aku sama sekali tidak ikut dalam rencana yang ia lakukan dengan tante Clara," ujar Olivia dengan pilu.
"Ada apa ini? Kenapa kalian pulang-pulang dari rumah Ben menangis seperti ini?" tanya Agni yang memang tidak ikut ke rumah Ben karena ia masih malu dan juga menjaga perasaan Ana, karena bagaimanapun Ben adalah mantan suaminya.
Rio menghapus air matanya dengan kasar. "Ternyata Clara sudah sembuh, Ma. Dia berpura-pura gila hanya untuk membalaskan dendamnya terhadap keluarga Danuarta. Cassandra juga ikut dalam rencana itu, Ma. Cassandra memfitnah Olivia ikut dalam rencananya sehingga semua keluarga Danuarta marah kepada Olivia, Ma. Aku menyesal telah merawat Cassandra dengan penuh kasih sayang, Ma. Jika sudah dewasa ia membuat keluargaku malu dan membuat anak kandungku sendiri tersakiti seperti ini," ujar Rio dengan lirih yang membuat Agni sangat syok.
Agni memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sangat sakit. "Astaghfirullah Clara!" gumam Agni dengan lirih.
"Ma, Mama kenapa?" tanya Anjani dengan cemas.
"Aaarghh... Dada Mama sakit sesekali,"gumam Agni dengan kesakitan.
Brukk..
"Mama!"
"Nenek!"
Teriak Rio, Anjani, dan Olivia sangat terkejut saat melihat Agni tiba-tiba pingsan. Rio menolong mamanya dengan rasa yang sangat begitu cemas.
"Bangun, Ma!" ujar Rio berusaha membangunkan mamanya.
Rio berusaha menggendong mamanya. "Kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Rio dengan cepat.
__ADS_1
Anjani dan Olivia mengangguk, walaupun tubuh Olivia sangat lelah sekali, pikirannya sudah berkecamuk antara ingin menemui suaminya kembali dan cemas dengan keadaan neneknya saat ini. Kenapa cobaan datang secara bertubi seperti ini?
***
Setelah sampai di rumah sakit Rio langsung berteriak memanggil dokter. "Dokter tolong mama saya!" teriak Rio dengan begitu cemas.
Suster datang dengan mendorong brankar, Rio meletakkan mamanya di antar brankar dan mengikuti langkah suster itu dengan cepat. Sungguh Rio sangat khawatir dengan keadaan mamanya saat ini, ia melihat wajah mamanya begitu pucat.
"Maaf, Pak. Anda harus menunggu di luar agar dokter segera memeriksa pasien," ujar suster dengan tegas yang membuat Rio mengangguk.
Rio mengacak rambutnya dengan frustasi, ia menghela napasnya dan kasar. Kepalanya terasa mau pecah sekarang akibat permasalahan yang datang begitu sangat cepat.
Olivia masih menangis, ia memeluk mamanya. Hatinya begitu terasa pilu. Anjani berusaha menenangkan anaknya. Namun, percuma karena Olivia tetap tidak berhenti menangis yang membuat Anjani tidak bisa menahan air matanya. Ia ikut kembali menangis memeluk anaknya, ia juga ikut merasakan sakit yang anaknya rasakan saat ini.
"Bun, nenek baik-baik saja, kan? Bun, mas Faiz tidak akan menceraikan aku, kan? Bun, aku benar-benar mencintai mas Faiz, aku tidak mau mas Faiz menceraikan aku, Bun!" racau Olivia dengan lirih.
Pikiran Olivia sudah sangat bercabang bahkan kepalanya berdenyut sakit karena banyaknya pikiran yang membebani dirinya. Bagaimana jika nanti ia akan diceraikan? Apakah ia tidak akan mendapatkan maaf dari suaminya sendiri? Olivia jadi teringat dengan kata-kata Faiz yang akan meninggalkan dirinya jika ia membuat Faiz kecewa dan benar saja sekarang ia sudah membuat suaminya kecewa, kan? Buktinya saja Faiz tidak mau menatap dirinya lagi.
"Sayang, tenangkan diri kamu dulu ya. Ayah tidak mau kamu juga jatuh sakit karena masalah ini! Ayah sedih, Sayang. Maafkan Ayah ya karena permasalahan ini berawal dari Ayah yang mengangkat Cassandra jadi anak Ayah. Ayah pikir dengan didikan Ayah selama ini sifat Cassandra tidak akan sama dengan Clara tapi ternyata Ayah salah!" ujar Rio dengan lirih.
"Ayah tidak salah tapi Cassandra saja yang tidak tahu berterima kasih, Yah!" ujar Olivia dengan kesal kepada Cassandra. "Tapi seharusnya aku tidak percaya begitu saja dengan dia! Seharusnya aku..." Dada Olivia terasa begitu sesak, ia kembali menangis mengingat semuanya.
"Ya Tuhan... Olivia sudah, Nak. Bunda sedih lihat kamu seperti ini," gumam Anjani dengan lirih.
"Iya saya anaknya, Dok. Bagaimana dengan keadaan mama saya, Dok?" tanya Rio menatap dokter dengan cemas.
"Pasien terkena serangan jantung, untung saja pasien segera di bawa ke rumah sakit jika tidak nyawanya mungkin tidak akan tertolong. Sekarang kondisinya sudah membaik dan sudah bisa di pindah ke ke ruang perawatan. Tapi saya mohon jangan membuat pasien tertekan ya," ujar dokter yang di angguki oleh Rio.
"Baik, Dok. Terima kasih!" ujar Rio dengan sedikit lega karena mamanya masih bisa di tolong.
Ini semua gara-gara Clara dan Cassandra. Setelah ini ia akan menemui adiknya itu, ia tidak terima dengan apa yang adiknya lakukan hingga membuat anak dan mamanya menderita seperti ini.
****
Prang....
Prang...
Bukkk..
"Arghhh..." Faiz berteriak dengan sangat kencang bahkan melempar barang yang ada di dekatnya hingga jatuh ke lantai berakhir pecah.
__ADS_1
"Brengsek!" umpat Faiz dengan napas yang memburu.
"Bagaimana bisa aku mencintai wanita sejahat itu? Dia mendekati aku karena ingin membalaskan dendam keluarganya yang tidak berdasar itu? Kenapa aku sebodoh itu?" racau Faiz dengan tajam.
Faiz menatap pantulan dirinya di cermin, mengingat perlakuan baik Olivia selama ini membuat Faiz kembali emosi.
Buk...
Pyar...
Cermin rias yang ada di kamarnya sudah pecah karena Faiz yang memukulnya. Darah sudah menetes dari sela-sela jarinya, tetapi Faiz tidak merasakan sakit sedikitpun. Wajahnya begitu sangat datar.
"Olivia tidak ingin memiliki anak darimu!"
Ucapan Cassandra kembali terngiang di benaknya yang membuat Faiz terkekeh dengan sinis. Namun, setelah itu tubuhnya jatuh terduduk dan ia menangis sekarang.
Sedangkan Rania dan Ferdians berusaha memanggil Faiz. Namun, tak ada jawaban dari anaknya yang membuat Rania dan Ferdians khawatir begitupun dengan Frisa dan juga Gavin.
"Faiz buka pintunya, Nak! Kamu jangan seperti ini," ujar Rania dengan sangat khawatir.
"Faiz!" panggil Rania dengan menangis, mungkin bawaan kehamilannya saat ini yang membuat Rania kembali gampang menangis.
"Faiz buka pintunya atau Papa dobrak pintu kamar kamu!" ujar Ferdians dengan keras.
"Kak, buka pintunya ya! Kakak tidak kasihan dengan mama dan aku yang sedang hamil?" ujar Frisa dengan sendu.
Ceklek...
Pintu terbuka memperlihatkan bagaimana kacaunya Faiz saat ini.
"Kamu tidak apa-apa kan, Sayang? Ya Tuhan... Tangan kamu terluka! Kacanya masih menancap di tangan kamu Faiz," ujar Rania dengan ngilu.
Faiz melihat tangannya dan ia mengambil serpihan kaca yang menancap di tangannya dengan wajah yang sangat begitu datar.
Rania dan Frisa meringis melihatnya. "Menangislah, Sayang. Ada Mama di sini!" ujar Rania dengan lembut.
Faiz memeluk mamanya dengan sangat erat. "Ma, aku sudah salah memilih istri!" gumam Faiz dengan mata yang memerah.
"Kita duduk dulu ya. Kita bersihkan luka kamu dulu," ujar Rania dengan sabar.
Faiz tak menolak, ia mengikuti mamanya bersama dengan papa dan adiknya serta Gavin yang mengambil kotak P3K.
__ADS_1
"Tenangkan diri kamu Faiz!" ujar Ferdians dengan tegas.
Ferdians tidak tega melihat anaknya yang menjadi seperti ini karena Olivia. Andai saja Olivia tidak terlibat dalam masalah ini mungkin Faiz tidak akan sekacau ini. Entahlah Ferdians merasa bingung sekarang, semua keputusan ia serahkan semua kepada Faiz. Tetap bertahan atau memilih berpisah dengan Olivia. Ferdians tahu Faiz sangat mencintai Olivia makanya anaknya bersikap seperti ini. Semoga saja semua permasalahan ini akan menemukan titik terang.