
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya. Maaf belum bisa double up karena musim panen cabai belum usai....
...📌 Tunggu double up dari aku ya setelah panen selesai!...
...Happy reading...
****
Rania memeluk Ferdians dengan erat. Setelah mengungkapkan perasaannya, Rania benar-benar sangat lega. Ia merasa bebannya terangkat sekarang.
Ferdians menciumi kepala istrinya dengan sayang. Setelah ia tahu perasaan Rania terhadap dirinya, Ferdians sangat bahagia bahkan ia dan Rania bercinta terlebih dulu sebelum mereka kembali pulang ke rumah.
"Sekarang nempel terus ya sama Mas! Tapi Mas bahagia kamu seperti ini, Sayang. Mas sangat mencintai kamu dan anak-anak," ujar Ferdians mengecup kening Rania dengan lembut setelah itu ia fokus melihat jalan kembali karena memang mereka pulang sudah malam.
"Aku sudah lega karena sudah mengungkapkan perasaan ini ke kamu, Mas. Terima kasih Mas sudah mau sabar menungguku," ujar Rania menatap Ferdians dengan dalam yang membuat Ferdians tersenyum dan memeluk Rania dari samping.
"Mas memang harus sabar meluluhkan hati ksmu yang sudah lama membeku dengan perhatian dan cinta yang Mas berikan akan membuat kamu luluh. Dan kesabaran Mas ini membuahkan hasil, mungkin juga berkat twins yang ingin kedua orang tuanya bersama," ujar Ferdians yang membuat Rania tersenyum mengecup pipi suaminya dengan malu-malu.
Ferdians terkekeh melihat kelakuan istrinya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Rania lebih manja dan bisa mengekspresikan dirinya dengan sangat baik yang membuat Ferdians bersyukur sekarang karena hati istrinya akhirnya luluh sudah.
Di tengah kebahagiaan yang sedang mereka rasakan ada seseorang yang berada di dalam mobil mengikuti mobil keduanya kali ini lebih pelan agar tidak di curigai seperti tadi.
" Ada tikungan di depan! Tabrak mobil itu cepat!" ujar seseorang tersebut pada temannya.
"Baik, Bos!" jawab pengemudi mobil tersebut dengan menyeringai dengan tatapan tajam ia menambah kecepatan mobilnya.
Sedangkan Ferdians dan Rania sedang asyik bercanda hingga keduanya menyadari ada mobil yang begitu ngebut ke arah mereka.
"Mas awas!" ujar Rania dengan panik.
Ferdians mencoba tidak panik di depan istrinya, ia mengambil bantal pelindung untuk Rania dan juga perut istrinya agar tidak terbentur.
"Kamu pegangan, Sayang!" ujar Ferdians yang mencoba menghindar tetapi hanya ada satu jalan di sini karena tempat menuju Vila Rania memang hanya ada jalan ini.
"Mas awas aku takut!" ujar Rania saat melihat ke belakang ternyata mobil itu masih mengikuti mereka.
Ferdians masih berusaha tenang walaupun rem mobil miliknya blok. Sepertinya ada yang merusak rem mobilnya saat mereka di Vila tadi dan sialnya Ferdians kecolongan.
"Kamu jangan panik ya, Sayang!" ujar Ferdians mencoba menenangkan istrinya.
Ferdians tahu istrinya masih menyimpan trauma atas meninggalnya mama Dewi dan Ferdians tidak ingin membuat trauma Rania semakin menjadi hingga dirinya mencoba tenang walaupun sebenarnya Ferdians juga panik.
__ADS_1
"Tabrak mereka sekarang!" ujar seseorang tersebut dengan tersenyum menyeramkan.
"MASSS!"
Brak....
Mobil Ferdians menabrak pohon besar yang ada di pinggir jalan. Rania mencoba membuka matanya walau terasa berat, ia begitu cemas melihat keadaan Ferdians yang sudah tidak sadarkan diri dengan banyak darah yang mengalir dari kepalanya.
"M-mas jangan tinggalkan aku hikss...hikss.."
Dua manusia yang sudah membuat Rania dan Ferdians celaka tertawa senang.
[Bos kami sudah berhasil menabrak mobil Ferdians. Kerusakan mobil cukup parah, dan kami rasa mereka sudah tidak selamat] lapor anak buah Roby dengan tertawa bahagia.
[Ya saya melihatnya tak jauh dari kalian. Pergi dari sini dan hilangkan jejak kalian jangan sampai kita ketahuan] ujar Roby dengan tersenyum sinis.
[Hahaha...Baik Bos!]
Sedangkan Rania dengan tubuh yang semakin lemah, ia mencoba membangunkan suaminya. "Mas bangun! Jangan tinggalkan aku!" ujar Rania mengguncang tubuh suaminya dengan pelan.
Tak ada balasan dari Ferdians. Rania mencoba mengambil ponselnya walaupun perutnya sudah mulai terasa sakit.
[S-sastra tolong saya!]
****
Sastra sedang berada di rumah Citra setelah mengantarkan wanita itu bertemu dengan psikiater setiap bulannya. Awalnya Citra memang menolak kehadiran Sastra lagi di kehidupannya. Namun, dengan kegigihan Sastra akhirnya hati Citra sedikit luluh walaupun ia belum mau kembali kepada Sastra.
"Kamu akan menemani saya sampai tidur, kan?" tanya Citra dengan pelan.
"Iya, Sayang. Kamu tidak perlu takut ya! Saya di sini menemani kamu," ujar Sastra dengan tersenyum.
Sastra sudah meminta izin dengan Rania dan Heera juga sudah ada yang menjaga. Suster Ana juga sudah pulang ke rumah Rania.
Citra tersenyum tipis. Ia memejamkan matanya dengan perlahan hingga ia mendengar ponsel Sastra berdering.
[Halo, Nona]
[S-sastra tolong saya!]
[Anda kenapa, Nona? Anda baik-baik saja, kan?]
__ADS_1
[Nona tolong jawab saya!]
[Nona]
Sastra tampak begitu cemas saat Rania tak menjawab pertanyaannya.
"Sayang, saya pergi dulu ya. Saya janji setelah urusan saya selesai saya akan kembali," ujar Sastra dengan panik.
"Tapi..."
"Saya pergi dulu nona Rania membutuhkan saya," ujar Sastra yang langsung meninggalkan Citra yang tampak kecewa begitu saja.
"Tapi saya juga membutuhkan kamu!" gumam Citra dengan lirih tak bisa mencegah kepergian Sastra lagi.
Citra menghela napasnya dengan pelan, ia berusaha untuk tidak berpikir negatif. "Nona Rania membutuhkan Sastra, Citra. Kamu tidak terlalu membutuhkannya," gumam Citra dengan tersenyum pedih.
"Bagaimana aku mencoba menerima kamu lagi, Mas? Jika kamu masih seperti ini. Aku mencoba maklum dengan tanggungjawabmu tapi rasanya hati ini sesak jika harus di nomor duakan," gumam Citra dengan lirih.
"Kamu tidak boleh egois, Citra! Di dunia ini tidak hanya kamu yang butuh Sastra! Tanggungjawab Sastra begitu besar, kamu tidak harus seperti ini," gumam Citra berusaha untuk tabah.
***
Prang...
Heera menjatuhkan gelas saat hendak minum yang membuat suster Ana dan Ben kaget seketika.
Suster Ana langsung berlari menghampiri Heera. "Ibu kenapa? Biar saya saja yang membersihkan ini, Bu!" ujar Suster Ana dengan cemas.
"Ferdians," gumam Heera dengan lirih.
"Ana tolong telepon Ferdians! Firasat Ibu tidak enak. Ayo telepon Ferdians, Ana!" ujar Heera dengan berkaca-kaca.
Suster Ana melihat ke arah suaminya.
"Biar saya saja yang menelepon Ferdians!" ujar Ben ingin mengambil ponselnya tetapi ponselnya terlebih dahulu berbunyi.
Ben mengangkat telepon dari Sastra tubuhnya menegang saat Sastra mengabarkan jika Rania dan Ferdians kecelakaan.
"Tuan Ben ada apa? Itu Ferdians, kan? Saya ingin berbicara dengan anak saya Tuan Ben!" ujar Heera dengan cemas.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Ferdians dan Rania kecelakaan!" ujar Ben dengan cemas.
__ADS_1
"A-apa? Tidak mungkin!"