Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 183 (Kebahagiaan Pengantin Baru)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya...


...Happy reading...


...****...


Faiz membuka matanya dengan perlahan, melihat Olivia yang tertidur di pelukannya membuat Faiz menyunggingkan senyumannya mengingat aktivitas ranjang yang ia lakukan dengan Olivia semalam. Faiz mengambil ponselnya, ia membelalakkan matanya saat melihat jam menunjukkan pukul 10 pagi, ia tak biasa bangun kesiangan seperti ini dan ini pertama kalinya ia bangun siang.


Faiz mencium Olivia dengan lembut, lalu dengan perlahan ia memindahkan kepala Olivia ke bandal. Faiz meringis karena ternyata tangannya sedikit kebas. Faiz membuka selimutnya dan tak sengaja ia melihat kedua gunung kembar istrinya yang terpampang jelas di hadapannya.


Faiz menelan ludahnya dengan kasar, ia masih ingat rasanya ketika gunung kembar itu ia rem*s dengan gemas. Faiz menatap telapak tangannya, tiba-tiba hasrat Faiz kembali datang. Namun, ia sadar sudah meminta kepada Olivia beberapa kali semalam dan pastinya Olivia sudah sangat lelah meladeni nafsunya.


"Shittt.... Tahan, Faiz. Kamu sudah bisa setiap hari menikmati gunung kembar itu dan bahkan menikmati yang lainnya juga. Untuk saat ini tahan dulu karena istri kamu sudah sangat kelelahan," monolog Faiz menenangkan hasratnya.


Faiz berjalan ke dalam kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar gairahnya tak lagi datang karena ia kasihan dengan istrinya. Setelah pening kepalanya mulai mendingin, hasratnya sudah hilang barulah Faiz keluar dari kamar mandi. Faiz melihat Olivia yang masih tertidur dengan pulas, sebelum membangunkan istrinya Faiz berganti pakaian terlebih dahulu.


"Sayang!" panggil Faiz mengusap pipi Olivia dengan lembut.


Olivia bergumam tidak jelas. Elusan tangan Faiz semakin sangat jelas terasa, Olivia memaksakan matanya untuk terbuka. Awalnya Olivia terlihat bingung, namun setelah ingatannya kembali pipi Olivia langsung memerah.


"M-mas, sudah bangun?" tanya Olivia dengan lirih.


Olivia berusaha untuk bangun dan selimutnya langsung turun ke bawah yang membuat Faiz menelan ludahnya dengan kasar. Bingung dengan tatapan suaminya yang seakan ingin memakannya, Olivia melihat ke arah dirinya sendiri. Olivia langsung terkejut dan langsung menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang masih polos.


"Lihatnya jangan seperti itu, Mas!" ujar Olivia dengan gugup.


Faiz terkekeh. "Cepat mandi, Sayang. Mas tahu kamu capek, Mas tidak akan meminta lagi pagi ini tapi kalau nanti malam tidak tahu ya," ujar Faiz mengedipkan matanya.


Olivia mencibikkan bibirnya ternyata suaminya sangat mesum sekali dan Olivia baru mengetahuinya semalam. Badannya juga terasa remuk karena harus meladeni nafsu suaminya yang tak kunjung usai.


"Ssstt..." Olivia meringis saat merasakan miliknya sangat perih.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Faiz dengan khawatir.


"Ini akibat kelakuan kamu semalam suntuk, Mas. Milik aku rasanya perih banget," ujar Olivia dengan meringis.


"Kita ke dokter saja kalau begitu, Sayang!" ucap Faiz dengan cemas. "Mas takut terjadi sesuatu dengan kamu. Maaf ya Sayang. Mas terlalu bersemangat," ujar Faiz dengan sendu.


"Aku tidak apa-apa, Mas. Aku mau mandi saja, wajar saja aku seperti ini karena ini pertama kalinya bagiku dan bagi kita, Mas!" ujar Olivia menenangkan suaminya yang terlihat khawatir.


"Mas pakaianku bagaimana?" tanya Olivia yang baru saja ingat jika pakaiannya sudah berganti dengan lingerie semua.


"Sebentar Mas telepon Frisa saja. Kalau telepon mama sama bunda Mas malu," ucap Faiz dengan meringis.


Olivia mengangguk. Ia memperhatikan suaminya yang sedang menghubungi Frisa.


[Halo, Kak]


"Kamu di mana? Bisa pinjam pakaian kamu? Pakaian kakak ipar kamu tidak ada, dia tidak bisa keluar kalau pakaiannya tidak ada," ujar Faiz dengan bertanya kepada kembarannya.


[Hihihi.... Kenapa pakaian kakak ipar bisa tidak ada, Kak?] tanya Frisa dengan jahil dan terkikik geli sendiri.


"Ooo Kakak tahu. Semua ini pasti ulah kamu, kan?" tanya Faiz dengan kesal tetapi di dalam hati ia berterima kasih dengan kembarannya yang sudah membuat dirinya merasakan indahnya surga dunia.


[Seharusnya Kakak berterima kasih mempunyai kembaran sebaik aku. Gimana berhasil kan semalam?]

__ADS_1


"Frisa, anak kecil tidak boleh tahu masalah orang dewasa. Cepat bawakan semua pakaian istri Kakak sekarang," ujar Faiz dengan tegas.


[Hahaha... Aku bukan anak kecil lagi, Kak. Usia kita sama kalau Kakak lupa! Ini aku mau ke kamar Kakak tapi aku takut melihat adegan live] ujar Frisa dengan tawa yang sangat geli.


"Frisa berhenti tertawa. Cepat ke kamar Kakak sekarang!" dengus Faiz dengan kesal.


[Haha... Oke, Kak. Sabar dong]


Tut...


Sambungan telepon terputus. "Yak kembaran menyebalkan!" ujar Faiz dengan kesal karena teleponnya langsung di matikan oleh Frisa begitu saja. Tetapi setelahnya ia sangat berterima kasih kepada Frisa dan berjanji akan mentraktir kembarannya itu es krim nantinya.


"Ini ulah nona Frisa, Mas?" tanya Olivia dengan tak percaya.


"Panggil saja Frisa, Sayang. Karena sekarang dia adalah adik ipar kamu," ujar Faiz dengan tegas. "Ia dia yang mengambil semua pakaian kamu dan menggantikan dengan lingerie itu," ujar Faiz.


"Ya ampun, aku sangat malu sekali," ujar Olivia dengan wajah yang memerah.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Faiz yang meyakini itu adiknya lah yang datang akhirnya berjalan untuk membukakan pintu. Terlihat Frisa sedang cengeng di depan pintu.


"Bau-bau keponakan lounching nih!" ucap Frisa dengan menaik turunkan alisnya.


"Mana pakaiannya!" dengus Faiz dengan kesal.


"Nih! Kenapa kesal mulu tuh muka apa belum dapat jatah? Gagal ya semalam. Aku mau lihat Kakak ipar sebentar!" ujar Frisa melongok begitu saja.


Mulutnya terbuka dengan sempurna saat melihat Olivia masih di tempat tidur dengan masih menggunakan selimut. "Kakak di apain semalam sama Kak Faiz? Lehernya merah-merah tuh!" tanya Frisa yang membuat Olivia semakin malu dan ingin menenggelamkan dirinya saja saat ini agar tidak bertemu dengan Frisa yang entah mengapa pagi ini sangat jahil sekali.


Faiz memegang kepala adiknya dan mendorongnya dengan pelan. "Jangan jahil! Sudah sana kamu. Nanti kamu juga akan merasakan jadi pengantin baru," ujar Faiz yang mencoba menyelamatkan istrinya dari sikap jail Frisa yang entah datang dari mana.


"Apa?"


"Ponakan kembar!" jawab Frisa dengan entengnya.


"Buat sendiri sana!" ujar Faiz dengan entengnya dan setelah itu menutup pintu kamar begitu saja yang membuat Frisa cemberut.


"Gimana cara buatnya? Patner buatnya juga tidak ada," ujar Frisa dengan kesal.


Ternyata sejak tadi Gavin menemani Frisa. Lelaki itu terkekeh mendengar ucapan Frisa yang terakhir.


"Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu?" tanya Frisa dengan ketus.


"Tidak ada Nona! Saya jadi pengin nikah lihat tuan Faiz sudah punya istri," ujar Gavin dengan jahil.


"Ya sudah sana nikah!"


"Tapi saya keluar dari pekerjaan ini, Nona! Bagaimana?"


"Tidak boleh! Enak saja kamu mau keluar, kalau perlu istri kamu kerja sama saya saja," ujar Frisa dengan kesal.


"Tapi kan saya dan istri saya mau buka usaha sendiri, Nona! Kami ingin mandiri nanti saya carikan pengawal pribadi buat, Nona. Yang bisa memahami Nona tentunya," ujar Gavin dengan menahan senyumannya saat melihat perubahan raut wajah Frisa.


"Ooo gitu ya?" gumam Frisa dengan lirih.


Frisa berjalan meninggal Gavin begitu saja dengan menunduk yang membuat Gavin merasa bersalah.

__ADS_1


"Nona!" panggil Gavin merasa bersalah.


"Saya mau sendiri! Tidak usah temani saya!" ujar Frisa dengan datar.


"N-nona tadi saya hanya ber..."


"SAYA MAU SENDIRI KAMU DENGAR TIDAK?!" teriak Frisa dengan keras.


Frisa langsung berlari ke kamarnya. Gavin mengejar Frisa, tetapi ia tak berhasil mencegah Frisa untuk masuk. Gavin menjadi merasa bersalah dan sangat khawatir sekarang.


"Nona, saya hanya bercanda. Tadi saya tidak serius, Nona! Tolong buka pintunya jangan buat saya khawatir," ujar Gavin mengetuk pintu Frisa namun sama sekali tak ada jawaban dari Frisa.


Sedangkan Frisa duduk di pinggir kasur dengan melamun. Membayangkan Gavin menikah dan tak bekerja lagi kepadanya membuat dada Frisa sesak bahkan ia ingin menangis sekarang. Tapi Frisa menahannya karena alasan ini pasti terdengar aneh di telinga keluarganya.


Gavin menunggu Frisa dengan setia di depan pintu, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sangat khawatir sekarang dengan keadaan Frisa karena baru kali ini Frisa seperti tadi kepada dirinya.


***


Sarapan pagi ini benar-benar sangat telat karena semua keluarga bangun kesiangan Faiz dan Olivia sudah bergabung dengan wajah yang amat ceria.


Sedangkan Frisa berhasil di bujuk oleh mamanya untuk keluar kamar setelah Gavin menceritakan semuanya.


"Ceria banget muka kamu, Faiz. Ngecas berapa jam semalam?" tanya Ferdians yang membuat Faiz tersedak air liurnya sendiri.


Semua keluarga tertawa tetapi tidak dengan Frisa dengan Gavin yang ikut bergabung. Bahkan Frisa mengaduk-aduk makanannya dengan sendok tanpa berniat untuk memakannya sama sekali.


"Apaan sih, Pa!" ujar Faiz dengan malu bahkan Olivia lebih terlihat malu dari Faiz.


"Kamu kayak tidak paham saja, Faiz!" ujar Ben ikut-ikutan.


"Kakek. Ya ampun jangan bahas ini di sini bisa? Istri Faiz malu nih," ujar Faiz menatap Olivia yang memang tampak malu bahkan Olivia menutupi bekas kissmark Faiz di lehernya dengan berbagai cara.


"Hahaha... Iya-iya. Ya sudah pengantin baru silahkan sarapan walaupun ini sangat kesiangan," ujar Ferdians dengan tertawa.


"Frisa!" panggil Gista pada cucu kesayangannya.


" Ya ampun Sayang itu tumpah minumannya," ujar Rania.


Frisa tersadar, ia langsung mengelap bajunya dengan tisu. "A-aku ke kamar dulu," ujar Frisa dengan cepat.


"Makanan kamu belum kamu sentuh sedikitpun, Sayang!" ujar Rania dengan khawatir.


"Sudah kenyang, Ma!" jawab Frisa seadanya lalu pergi begitu saja yang di susul oleh Gavin.


"Frisa kenapa? Kenapa dia terlihat murung?" tanya Citra.


"Iya Ma tadi Frisa ceria banget," ujar Faiz dang bingung. Apa karena ucapannya yang menyinggung perasaan Frisa.


Rania menghela napasnya. "Gavin bercanda sama Frisa kalau dia menikah dia tidak akan bekerja lagi dengan Frisa dan mencarikan Frisa penggantinya. Raut wajah Frisa langsung murung bahkan tak mau ditemani oleh Gavin," ujar Rania yang membuat Sastra dan Citra langsung saling menatap satu sama lain.


"Ini baru pertama kalinya Frisa ngambek. Anak itu sudah sangat bergantung dengan Gavin. Apa-apa Gavin, semua Gavin, entahlah kalau memang benar nanti Gavin tidak bekerja setelah menikah saya tidak tahu harus bagaimana," ujar Rania memijat pelipisnya.


"Kita nikahkan saja mereka berdua. Apa susahnya? Cinta akan datang dengan sendirinya apalagi Frisa sangat bergantung dengan Gavin," ujar Eric.


"Kami sudah ada niatan seperti itu tapi Gavin ingin Frisa yang memilihnya sendiri. Karena bagi Gavin perasaan Frisa yang lebih utama," ujar Rania dengan lirih.

__ADS_1


Semua bingung apalagi Sastra dan Citra. Mereka pikir Gavin jarang pulang dengan alasan Frisa tak memperbolehkanya adalah sebuah omong kosong anaknya saja tetapi semuanya terungkap sekarang. Tetapi Citra tentu saja sangat bahagia jika Frisa akan menjadi menantunya.


__ADS_2