Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 92 (Kecurigaan Gista)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Heera tampak begitu panik saat mendengar kabar jika anak dan menantunya kecelakaan dan sekarang sedang di bawa ke rumah sakit oleh Sastra. Hati ibu mana yang tidak sakit mendengar kabar yang begitu tak mengenakan hati.


"Di mana Ferdians dan Rania, Sastra?" tanya Heera ketika dirinya sampai di rumah sakit bersama Ben dan juga suster Ana.


Sastra tampak gagal menjaga nonanya, wajahnya begitu sangat murung sekali. "Sedang di tangani dokter, Bu!" sahut Sastra dengan lirih.


Heera langsung lemas, ia hampir terjatuh di lantai kalau suster Ana tidak sigap memegang tubuhnya.


"Sabar, Bu. Kedua anak kita pasti akan baik-baik saja," gumam Suster Ana menenangkan Heera yang terlihat lemas dan begitu khawatir dengan keadaan anak, menantu, serta kedua cucunya.


Begitu juga Ben. Di benaknya terlintas bagaimana kehilangan Dewi, dan sekarang ia benar-benar merasakan takut itu kembali hingga dadanya begitu sesak. Tangan Ben terkepal dengan sangat erat, dulu ia gagal menjaga istrinya dan sekarang ia juga gagal menjaga anaknya.


"Sastra, Liam!" panggil Ben dengan dingin.


"Iya, Tuan!" jawab keduanya dengan sigap.


"Pergi dan cari tahu siapa dalang di balik kecelakaan anak dan menantu saya. Bawa mereka hidup-hidup ke hadapan saya," ujar Ben dengan dingin.


"Baik, Tuan. Kami akan mencari dalang di baluk kecelakaan nona Rania dan tuan Ferdians dengan cepat," ujar Liam dengan tegas.


"Pergilah!" ujar Ben dengan aura yang sangat menyeramkan.


Setelah membantu Heera untuk duduk suster Ana menghampiri suaminya yang terlihat menyeramkan sekali. Suster Ana menggenggam tangan suaminya dengan lembut.


"Tenangkan diri kamu, Mas!" ujar Suster Ana dengan pelan.


"Bagaimana Mas bisa tenang kalau anak Mas saja berada di dalam dan kita tidak tahu keadaannya bagaimana," ujar Ben dengan frustasi.


"Aku tahu, Mas! Tapi kamu jangan emosi seperti ini ya!" ujar Suster Ana dengan sabar.


Ben menghela napasnya dengan pelan, ia berusaha tenang seperti istrinya katakan. Ketiganya terdiam dengan pikiran masing-masing hingga dokter keluar dari ruangan UGD bertepatan dengan kedatangan Doni, wajah tuanya begitu tampak cemas.

__ADS_1


"Dengan keluarga nona Rania dan tuan Ferdians?" tanya dokter tersebut dengan wajah yang tak bisa mereka jabarkan hingga mereka terlihat tegang apalagi Ben dan juga Heera yang sama sekali tidak bisa tenang.


"Kami, Dok! Bagaimana keadaan anak dan menantu saya?" tanya Ben dengan tegas.


"Keadaan nona Rania dan kedua bayinya tidak apa-apa karena nona Rania sudah terlindungi dengan bantal pelindung, beliau hanya syok saja hingga dia pingsan tetapi keadaan tuan Ferdians..."


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok? Ferdians baik-baik saja, kan?" tanya Heera dengan begitu cemas.


"Benturan keras yang di alami tuan Ferdians mengakibatkan pendarahan di kepalanya dan kami membutuhkan darah golongan AB sebanyak dua kantong untuk tuan Ferdians. " jelas dokter yang membuat Heera syok dan menangis.


"Ya Tuhan..." gumam Heera dengan syok bahkan tubuh Heera sampai lemas dan akhirnya pingsan di pelukan suster Ana sekarang.


"Bu!" panggil Suster Ana dengan cemas.


"Biar dokter yang menangani Heera, Sayang!" ujar Ben dengan pelan.


Suster Ana mengangguk, hingga Heera di bawa dengan brankar menuju ruang perawatan dengan suster di rumah sakit ini.


Ben menatap dokter yang menangani Rania dan juga Ferdians. "Stok darah di rumah sakit ini masih banyak kan, Dok?" tanya Ben dengan tegas.


"Ayah Ferdians sudah meninggal dan ibunya tidak mungkin mendonorkan darahnya karena ibu dari Ferdians terkena leukimia," jelas Doni yang membuat dokter menghela napasnya dengan pelan.


"Kami mohon bantuannya untuk mencarikan pendonor darah yang cocok untuk tuan Ferdians karena keadaan tuan Ferdians sedang kritis sekarang dan membutuhkan darah secepatnya," ujar Dokter yang di angguki oleh Ben dan juga Doni.


"Ambil darah saya saja, Dok. Kebetulan golongan darah saya sama dengan Ferdians," ujar Suster Ana dengan tegas.


"Sayang kamu serius?" tanya Ben.


"Serius, Mas! Izinkan aku untuk membantu Ferdians, Mas. Bagaimanapun Ferdians adalah menantuku sekarang," ujar Suster Ana dengan tersenyum.


"Baiklah, Sayang!" ujar Ben dengan pelan.


"Kalau begitu mari ikut saya kita akan cek darah terlebih dahulu," ujar Dokter yang di angguki oleh Suster Ana.


"Bagaimana ini bisa terjadi, Ben?" tanya Doni setelah menantunya ikut dengan dokter.


"Rania dan Ferdians pergi ke Vila, Pa. Saat mereka pulang mobil mereka kecelakaan. Saya belum tahu pastinya karena Rania juga masih dalam keadaan pingsan, kita akan bertanya kepada Rania setelah keadaannya baik-baik saja. Saya hampir mati mengetahui Rania kecelakaan seperti Dewi dulu, Pa. Dulu saya gagal menjadi suami dan sekarang saya gagal menjadi papa," gumam Ben dengan lirih.

__ADS_1


"Tidak baik menyesali semua yang terjadi. Yang terpenting sekarang orang yang telah membuat Rania dan Ferdians celaka harus di temukan! Papa tidak ingin semuanya lolos lagi, kita sudah lama bermain-main, Ben. Kini, saatnya kita serius karena menyangkut nyawa keluarga Danuarta," ujar Doni dengan tegas.


"Iya, Pa! Kali semua yang terlibat dalam kecelakaan yang di alami Rania dan Ferdians harus di temukan! Saya tidak akan membiarkan mereka hidup tenang," ujar Ben dengan dingin.


"Sayang sudah selesai? Cepat sekali?" tanya Ben dengan bingung pasalnya sang istri baru saja ikut bersama dengan dokter.


"Maaf Tuan, istri anda tidak bisa mendonorkan darahnya kepada tuan Ferdians walaupun golongan darah mereka sama," ujar dokter yang membuat Ben bingung.


"Saya tidak mengerti, Dok! Kenapa istri saya tidak bisa mendonorkan darahnya untuk Ferdians?" tanya Ben dengan serius.


Ben menatap istrinya yang sedang menunduk hingga Ben tidak tahu bagaimana ekspresi istrinya sekarang.


"Karena istri anda sedang mengandung sekarang. Tidak mungkin kami mengambil darahnya karena itu bisa membahayakan janin yang ada di dalam kandungannya," ujar dokter yang membuat Ben melongo.


"H-hamil, Dok?" tanya Ben tidak percaya.


"Iya, Tuan. Jika begitu kita harus mencari pendonor darah yang lain," ujar dokter yang membuat Ben tak tahu harus bagaimana sekarang hatinya di liputi rasa cemas, takut, marah, dan juga juga senang karena kehamilan suster Ana.


Ben memeluk istrinya dengan erat. "Terima kasih, Sayang. Jujur Mas tidak tahu harus bersikap seperti apa. Keadaan benar-benar tidak kondusif tapi Mas bahagia mendengar kabar kehamilan kamu," ujar Ben dengan mencium kening suster Ana dengan lembut.


Sedangkan suster membalas pelukan suaminya tak kalah eratnya. Ia masih syok dengan kabar kehamilannya saat ini. Kenapa dia tidak memiliki tanda-tanda apa pun ya?


***


Kabar kecelakaan Rania dan juga Ferdians sudah sampai di telinga Eric. Tentu saja Eric hanya khawatir dengan keadaan anaknya saat ini.


Gista yang melihat kegelisahan suaminya pun menjadi bingung. "Mas ayo tidur!" ujar Gista kepada Eric.


"Sayang kamu tidur duluan saja ya ada pekerjaan yang harus Mas selesaikan malam ini juga," ujar Eric dengan tegas.


"Apakah tidak bisa di tunda, Mas? Ini sudah jam istirahat waktunya kita untuk tidur, Mas!" ujar Gista dengan lembut.


"Tidak bisa, Sayang. Pekerja ini sangat penting sekali, Sayang. Mas harus pergi kamu tidak perlu menunggu kepulangan Mas malam ini ya," ujar Eric dengan tegas.


Gista menghela napasnya dengan pelan. Ia semakin curiga dengan sikap suaminya saat ini, tetapi Gista tak mungkin mengatakannya ua hanya bisa mengangguk dan Eric langsung pergi dari hadapannya.


"Sikap kamu akhir-akhir ini sangat mencurigakan sekali, Mas. Apakah kamu punya wanita lain di luar sana? Aaah... Tidak mungkin karena aku tahu kamu bukan lelaki seperti itu," gumam Gista dengan lirih.

__ADS_1


__ADS_2