
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Rio yang merasa perasaannya kemarin kacau karena tidak bisa mengejar Anjani, akhirnya hari ini ia baru mengajak Cassandra untuk bertemu mamanya.
"Maaf ya, Sayang. Ayah baru mengajak kamu bertemu dengan mama hari ini," ujar Rio dengan tersenyum menatap Cassandra yang tertidur di gendongannya.
Akhirnya Rio dan Cassandra sampai di ruangan Clara. "Sus bagaimana keadaan adik saya?" tanya Rio kepada suster yang menjaga Clara.
"Sama seperti sebelumnya, Pak. Nona Clara hanya diam seperti itu di pojokkan dan terkadang menangis histeris tidak mau berjumpa dengan siapa pun bahkan melihat saya saja takut," jawab suster dengan jujur.
Rio menghela napasnya dengan berat. Kapan adiknya akan sehat seperti dulu lagi? Wajah yang pucat dan tidak terurus bahkan tubuh yang semakin kurus membuat Rio sama sekali tidak tega tetapi Rio tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan terus mengobati adiknya walaupun sekarang masih menjadi tahanan karena Ben maupun yang lainnya tidak akan mencabut tuntutan yang mereka sudah buat hingga masa tahanan Clara maupun Agni selesai.
"Saya boleh menjenguk adik saya?" tanya Rio memastikan karena bagaimanapun ia takut Clara kumat dan histeris setelah itu melukai anaknya sendiri.
"Boleh, Pak! Saya yang akan menemani Bapak!" jawab Suster dengan tersenyum.
Rio mengangguk mengerti, ia mulai masuk ke ruangan Clara dengan langkah perlahan. Tak mau mengambil resiko, Rio menyerahkan Cassandra kepada suster untuk sementara waktu.
"Tolong gendong Cassandra sebentar, Sus!" pinta Rio yang di angguki oleh suster.
Setelah Cassandra sudah berada di gendongan suster, Rio mulai berjongkok di hadapan sang adik yang terlihat melamun dengan memainkan jari-jarinya.
"Clara!" panggil Rio dengan lembut.
Satu panggilan dari Rio untuk Clara tetapi sama sekali tak di respon oleh Clara. Wanita itu masih setia dengan lamunannya sendiri.
"Hahaha..."
Tawa dari Clara membuat Rio menatap adiknya. Rio mencoba menyingkirkan rambut yang menutupi wajah adiknya.
"Clara, Kakak datang!" ujar Rio menatap adiknya dengan sendu.
__ADS_1
"Kakak? Hahaha...."
Clara menatap Rio dengan pandangan kosongnya. "Kamu siapa? Ngapain kamu di sini? Mau main sama aku ya?" tanya Clra dengan terkekeh.
"Iya Kakak mau main sama kamu seperti waktu kita kecil," jawab Rio dengan tersenyum.
"Hiks....hiks... Kamu pasti jahat, aku tidak mau main sama kamu!" ujar Clara dengan ketakutan dan meringkuk menjauhi Rio.
"Clara!"
"PERGI!" teriak Clara dengan keras bahkan melempar Rio dengan bantal yang ada di brankar.
"Ibu Clara tenang! Pak Rio baik, dia tidak berniat jahat!" ujar suster dengan tenang.
"Sus, sebaiknya bawa Cassandra keluar! Saya takut Clara akan melukai anaknya sendiri!" ujar Rio dengan waspada.
"Baik, Pak. Saya akan mengatakan ini kepada dokter agar ibu Clara segera mendapatkan penanganan lagi," ujar suster yang di angguki oleh Rio.
Suster pergi dan Rio mulai mendekati adiknya. "Kakak rindu kamu, Clara. Apakah kamu tidak merindukan Kakak dan mama?" tanya Rio dengan sendu.
"PERGI!" ujar Clara dengan tajam bahkan berusaha mencakar wajah Rio tetapi Rio berhasil menghindar dan tidak terkena cakaran adiknya yang sedang mengamuk.
"Clara, tolong jangan seperti ini. Sadar, Clara!" gumam Rio dengan sendu.
Clara tidak mendengarkan ucapan Rio, ia berusaha memberontak di pelukan Rio karena ia menganggap Rio sangat bahaya hingga datanglah dokter yang menangani Clara selama ini. Dokter tersebut langsung memberikan suntikan penenang untuk Clara hingga tubuh Clara melemas di pelukan Rio.
Rio menatap sendu ke arah adiknya dan langsung menggendong tubuh Clara untuk ia tidurkan di brankar.
"Dok sampai kapan keadaan adik saya seperti ini? Saya sudah tidak tega melihatnya," tanya Rio menatap dokter.
"Depresi yang ibu Clara alami sangat berat, Pak. Berdo'a saja untuk kesembuhan ibu Clara karena kami sudah berusaha untuk membuat ibu Clara sembuh. Namun, sepertinya ibu Clara sudah sangat sulit di sembuhkan kecuali ada kebaikan dari Sang Maha Pencipta untuk kesembuhan ibu Clara sendiri," jawab dokter yang membuat Rio menghela napasnya dengan berat.
"Terima kasih, Dok. Tolong jaga dan rawat adik saya seperti biasa. Saya akan pulang setelah ini karena kasihan anak Clara harus berlama-lama di rumah sakit," ujar Rio yang di angguki oleh dokter.
"Baik, Pak!"
__ADS_1
Rio melangkah keluar dari ruangan adiknya setelah berpamitan dengan Clara dan mencium kening adiknya dengan lembut. Rio langsung menggendong Cassandra kembali yang sepertinya sudah sangat merindukan dirinya.
"Kita pulang ya, Sayang!" ujar Rio dengan tersenyum.
Rio menggendong Cassandra kembali, ia mencium Cassandra dengan lembut. "Maafkan Ayah yang belum bisa mempertemukan kamu dengan mama kamu secara langsung, Sayang. Suatu saat jika mama kamu sudah membaik Ayah berjanji akan mempertemukan kamu dan mama kamu dalam waktu yang lama," ujar Rio dengan tersenyum.
Langkah Rio terhenti saat mendengar suara yang sangat ia hapal.
"Biar aku saja yang bayar biaya rumah sakit Olivia ya," ujar Alex dengan tegas.
"Tidak, Mas. Biar aku saja, aku masih mempunyai tabungan untuk membayar biaya rumah sakit anakku," tolak Anjani dengan halus.
"Uang yang kamu punya biar kamu tabung saja, Anjani. Biarkan aku saja yang membayarnya. Kali ini tolong terima pemberian saya karena saya sudah menganggap Olivia sebagai anak saya sendiri," ujar Alex dengan tegas.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian Anjani! Saya ingin membantu kalian berdua," ujar Alex dengan tegas.
Anjani akhirnya mengangguk dengan pasrah membiarkan Alex yang membayar biaya rumah sakit Olivia selama beberapa hari ke depan karena untuk saat ini Olivia belum di perbolehkan pulang. panasnya masih naik tirun yang membuat Anjani tak mau mengambil resiko tetapi di dalam hatinya ia juga gelisah karena jika Olivia sampai lama dirawat di rumah sakit biaya rumah sakit pasti akan membengkak.
"Aku harus ke kantor dulu ya. Kamu jaga Olivia baik-baik di rumah sakit," ujar Alex mengusap kepala Anjani dengan lembut dan tersenyum yang membuat Anjani juga ikut tersenyum.
Tanpa mereka sadari Rio mengepalkan kedua tangannya karena merasa cemburu dengan kedekatan Anjani dengan Alex saat ini. Setelah Alex pergi, Rio mencoba mengikuti Anjani dengan langkah perlahan hingga ia sampai di ruangan seseorang.
Anaknya sakit dan Rio sama sekali tidak berguna sebagai ayah.
"Anjani!" panggil Rio saat Anjani hendak masuk ke ruangan Olivia.
Anjani terdiam ia ingin segera masuk dan mengunci pintu tetapi dengan cepat Rio menahan tangannya.
"Tolong jangan menghindar lagi. Saya ingin berbicara penting dengan kamu. Apakah anak kita sakit? Saya ingin menemuinya tolong jangan usir saya," ujar Rio dengan sendu.
Anjani terdiam, ia memejamkan matanya. Apakah saatnya ia mempertemukan Rio dengan Olivia? Mungkin dengan seperti itu anaknya bisa segera di bawa pulang.
"Anjani tolong! Saya sangat ingin menemui anak kita," ujar Rio dengan sendu.
__ADS_1
"Silahkan masuk!" ujar Anjani dengan wajah datarnya tetapi itu sudah membuat Rio tenang.
"Terima kasih!" ujar Rio dengan mata berkaca-kaca.