Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 53 (Rahasia Heera)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


.


***


Ibu lihat orang ini, wajahnya sangat mirip denganku. Apakah Ibu mengenalnya? Aku merasa ini bukan sebuah kebetulan saja," ujar Ferdians dengan serius.


Tubuh Heera menegang dengan sempurna melihat foto yang di tunjukkan oleh anaknya.


"I-ibu tidak mengenal siapa orang ini!" jawab Heera dengan terbata.


Ferdians menatap ibunya dengan tak percaya, ia menangkap wajah menegang ibunya saat ibunya melihat foto pria yang sangat mirip dengannya. Ferdians yakin ada yang di sembunyikan ibunya dari dirinya sebab sang ibu terlihat sangat ketakutan sekali.


"Ibu benar tidak mengenal siap dia? Tapi kenapa wajah kami terlihat sangat mirip bak pinang di belah dua, bedanya dia se-usia dengan papa mertua aku," desak Ferdians agar ibunya mau berkata jujur kepada dirinya karena ia merasa sang ibu berbohong kepadanya.


"Ibu benar-benar tidak mengetahui siapa dia, Ferdians. Mungkin wajah kalian hanya mirip saja," ujar Heera berusaha tenang agar Ferdians tidak banyak bertanya kepadanya yang membuat Heera tak bisa menjawabnya nanti, rahasia ini sudah tersimpan dengan rapat. Tapi mengapa Ferdians mengetahui foto orang tersebut?


"Bu, jangan berbohong kepadaku! Aku mohon, Bu! Aku butuh jawaban. Kenapa wajahnya sangat mirip dengan wajahku? Dan karena ini aku berpikir kenapa mendiang ayah tidak mirip denganku?" desak Ferdians yang membuat Heera sesak.


"Ibu tidak tahu Ferdians! Kamu tidak percaya dengan Ibu? Kamu meragukan kemiripan ayahmu dengan kamu?" tanya Heera dengan nada sedikit keras karena jujur saja Heera merasa kecewa dengan Ferdians sekarang.


"Bukan begitu, Bu. Tapi aku merasa aneh dengan kemiripan kami. Jika pun memang kebetulan kami tidak akan semirip ini, Bu!" ujar Ferdians dengan lirih.


"Kamu tidak percaya dengan Ibu? Sakit hati Ibu jika kamu tidak percaya dengan Ibu, Ferdians!" ujar Heera dengan terluka yang membuat Ferdians tak kuasa untuk bertanya lebih dalam selain takut ibunya sakit hati Ferdians juga takut penyakit ibunya akan kambuh yang akan membahayakan nyawa ibunya.


"Maaf, Bu! Ferdians janji tidak akan seperti ini lagi tadi Ferdians hanya merasa ada yang mendorong Ferdians untuk bertanya dengan Ibu. Sekali lagi Ferdians minta maaf, Bu!" ujar Ferdians merasa bersalah dengan ibunya.


"Iya tidak apa-apa!" ujar Heera dengan pelan.


"Maaf, Bu!"


Ferdians menatap suster Ana yang mendengar perbincangan mereka. "Jaga ibu saya, Sus. Saya harus kembali ke kantor lagi! Jangan lupa obat ibu," ujar Ferdians kepada suster Ana.


"Iya, Tuan!" sahut Suster Ana dengan tegas.


Suster Ana juga merasa ada yang di sembunyikan oleh Heera kepada Ferdians tetapi masalah itu bukanlah ranahnya untuk ikut mencampuri biarlah waktu yang menjawab semuanya atas dugaan dirinya benar atau tidak. Jika benar pun pasti ada alasan mengapa Heera menyembunyikan masalah itu dari Ferdians, dan jika tidak benar mungkin saya kemiripan itu hanyalah sebuah kebetulan yang terjadi. Bukankah di dunia ini kita mempunyai kemiripan dengan orang lain?


Cup...


Ferdians mengecup kening ibunya dengan perlahan. "Sekali lagi Ferdians minta maaf, Bu. Ferdians tidak bermaksud membuat Ibu kecewa," ujar Ferdians dengan lirih.

__ADS_1


Heera hanya bisa mengangguk saja, karena sebenarnya dirinya yang bersalah kepada Ferdians selama ini.


"Untuk sekarang Ibu belum sanggup mengatakan yang sebenarnya kepadamu, Ferdians. Jika Ibu sudah siap maka Ibu akan mengatakan yang sejujurnya denganmu! Maafkan Ibu karena sebenarnya Ibu yang salah kepadamu selama ini," gumam Heera menatap kepergian anaknya dengan sendu.


"Sus, saya pusing! Saya ingin istirahat!" gumam Heera yang membuat suster Ana panik.


"Saya panggil Tuan Ferdians ya, Bu!" ucap Suster Ana dengan cemas.


Heera menggelengkan kepalanya. "Jangan panggil Ferdians biarkan saja dia bekerja untuk membahagiakan Rania. Saya ingin istirahat saja di kamar, setelah istirahat mungkin rasa sakitnya akan hilang," ujar Heera menolak suster Ana memanggil Ferdians.


"Baik, Bu! Ibu jangan terlalu memikirkan ucapan tuan Ferdians mungkin tuan hanya penasaran saja. Saya saja heran kenapa tuan Ferdians dengan orang di foto itu sangat mirip sekali," ujar Suster Ana yang di tanggapi senyuman tipis oleh Heera.


"Kita ke kamar, Bu!"


"Iya, Sus!"


***


Ferdians merebahkan kepalanya di kursi kebesaran miliknya, ia pusing memikirkan soal kemiripannya dengan Eric. Ferdians sama sekali tidak tenang selama Ferdians belum mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya, bertanya kepada ibunya sama saja Ferdians membuat kesehatan ibunya menurun dan itu membuatnya merasa bersalah sekarang.


"Apa yang sebenarnya ibu sembunyikan dariku?" gumam Ferdians dengan lirih.


Ferdians memijat pelipisnya untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya, kenapa semua seperti sebuah kebetulan yang membuat Ferdians selalu memikirkan semuanya. Jika Eric dan dirinya memiliki hubungan darah apakah yang terjadi ke depannya karena Rania dan yang lainnya menganggap Eric adalah pembunuh dari mama mertuanya bahkan dalam berita yang ia baca Eric dengan papa mertuanya dulu adalah sahabat dekat. Namun, semuanya berubah keduanya menjadi musuh yang saling menjatuhkan.


****


Rania menunggu Ferdians dengan wajah di tekuk. Ferdians mengatakan jika akan menjemput lebih awal tetapi lelaki itu terlambat lagi, hal itu membuat Rania merasa jengkel dengan Ferdians karena ia sudah menunggu lama.


"Nona, ponsel tuan sama sekali tidak aktif. Apakah kita langsung menuju ke kantor Danuarta?" tanya Liam yang tahu akan kegelisahan nona-nya walaupun wajah nona-nya terlihat kesal.


"Sebaiknya kita ke sana saja! Saya ingin melihat apa yang dilakukan Ferdians hingga sampai lupa menjemput saya," ujar Rania dengan dingin yang di angguki oleh Liam.


"Baik, Nona!" jawab Liam dengan tegas.


Akhirnya Rania berjalan ke kantor milik keluarganya untuk memastikan Ferdians masih di sana atau tidak. Jujur saja terselip rasa khawatir di hatinya karena Ferdians tak kunjung datang menjemput dirinya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 25 menit akhirnya Rania sampai juga di Danuarta Grup. Liam membantu membukakan pintu untuk Rania hingga Rania keluar dari mobil dan berjalan dengan cepat masuk ke dalam kantor, kantor Danuarta sudah terlihat sepi hanya tinggal beberapa orang saja yang belum pulang atau bahkan mereka lembur.


Rania dan Liam naik lift untuk menuju ke ruangan Ferdians yang berada di lantai atas. Rania masih melihat sekretaris Ferdians yang berada di kursinya.


"Dimana mas Ferdians?" tanya Rania dengan datar.


"Tuan masih berada di dalam, Bu. Saya tidak berani masuk karena sejak istirahat dan Tuan kembali ke kantor wajahnya terlihat sangat kacau," ucap sekretaris Ferdians dengan tegas.

__ADS_1


"Dia pergi kemana?" tanya Rania dengan penasaran.


"Saya tidak tahu, Bu!" jawab sekretaris Ferdians dengan jujur.


"Ya sudah kamu pulang saja!" ujar Rania dengan dingin.


"Baik, Bu. Terima kasih!" ucap sekretaris Ferdians dengan tersenyum.


"Hmmm..."


"Liam, kamu berjaga di depan saya mau masuk!" ujar Rania dengan tegas.


"Baik, Nona!" ujar Liam tak kalah tegasnya.


Rania membuka pintu ruangan Ferdians. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan suaminya.


"Apa yang kamu lakukan hingga lupa menjemput saya?" tanya Rania dengan tajam.


Ferdians mendongak saat ia mendengar suara istrinya. Rania terkejut saat melihat wajah pucat suaminya.


"Ini sudah jam berapa? Maafkan aku yang telat menjemputmu, Sayang. Aku baru selesai memeriksa laporan dan itu membuat kepalaku pusing," ujar Ferdians dengan lirih.


Sebenarnya bukan pekerjaan yang membuat Ferdians pusing tapi karena memikirkan kemiripannya dengan Eric dan apa yang di sembunyikan ibunya membuat Ferdians jadi seperti ini.


"LIAM MASUK KE SINI!" teriak Rania dengan keras.


Rania menghampiri suaminya, ia memeriksa suhu tubuh Ferdians dan ternyata sangat panas sekali.


"Panas sekali," gumam Rania.


Ferdians tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Sayang. Maafkan aku yang telah membuatmu akhirnya datang ke sini. Ayo kita pulang, ponselku mati tadi aku lupa men-charger-nya," ujar Ferdians yang merasa bahagia di khawatirkan oleh Rania.


Jika Ferdians tahu akan begini maka sejak lama ia sakit.


Liam masuk ke dalam ruangan Ferdians. "Tuan kenapa, Nona?" tanya Liam saat melihat wajah pucat Ferdians.


"Hanya kelelahan saja. Ayo pulang ini sudah sangat sore," ujar Ferdians menjawab pertanyaan yang ditujukan untuk Rania.


Ferdians bangun dari duduknya tetapi Ferdians hampir limbung jika Liam tidak dengan sigap membantunya.


"Hati-hati! Kalau lelah tidak usah di paksa bekerja!" ujar Rania.


"Jangan khawatir, Sayang. Aku baik-baik saja!"

__ADS_1


Rania menghela napasnya dengan kasar. "Kenapa aku sekhawatir ini melihat Ferdians sakit?" gumam Rania di dalam hati.


__ADS_2