Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
129 (Patah Hati Untuk Sekian Kalinya)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Anjani menyeka air matanya dengan kasar, ia memandang anaknya dengan miris. Terlahir tanpa sosok ayah membuat Anjani kasihan dengan putrinya yang masih kecil, apalagi pertemuannya dengan Rio serta anak kecil yang berada di gendongan Rio membuat Anjani paham jika kepergiannya tidak membawa penyesalan untuk Rio sedikitpun. Rio bahkan terlihat bahagia, dan mungkin setelah dirinya pergi Rio langsung menikah karena anak yang ada di gendongan Rio dengan anaknya saat ini usianya tidak jauh beda.


Olivia Permata, nama yang ia sematkan untuk anaknya bersama dengan Rio. Anak yang ia perjuangkan begitu kerasnya, bahkan saat melahirkan pun Anjani seorang diri hanya bersama dengan bidan yang membantu proses kelahirannya dan begitu baiknya Olivia karena menjadi anak yang tidak rewel di saat ibunya bekerja mungkin Olivia mengerti jika ayahnya tidak bersama dengan mereka.


Anjani menidurkan anaknya setelah ia sampai di rumah. Namun, ketika Olivia di tidurkan di kasur Olivia langsung menangis histeris yang membuat Anjani kaget dan langsung menggendong anaknya kembali.


"Kamu kenapa, Nak? Jangan buat Bunda bingung dong," ujar Anjani dengan panik.


"Oliv haus ya? Oliv minum asi ya, ini Bunda kasih!" ujar Anjani dengan panik.


Anjani membuka kancing kemeja yang ia gunakan dan mengeluarkan dadanya, ia harus memberikan asi secara langsung untuk Olivia. Tetapi bukannya Olivia mau menyusu, anaknya itu malah menolak asi yang ia berikan bahkan tangisan Olivia semakin kencang dengan muka yang memerah.


"Sayang, Ya Allah... Kenapa tiba-tiba badan kamu panas banget? Kita ke rumah sakit sekarang ya," ujar Anjani dengan panik bahkan ia ikut menangis sekarang.


Panik, takut, semua rasa bercampur menjadi satu bahkan sangking paniknya membuat Anjani juga menangis.


"Sayang diam dong. Bunda jadi bingung sekarang. Sama siapa bunda harus meminta tolong hiks," ujar Anjani dengan panik.


"Bunda tidak mungkin membawa kamu dengan motor dalam keadaan kamu menangis seperti ini hiks...hiks..." ujar Anjani.


Anjani keluar rumahnya dengan cepat, ia harus mencari Taxi agar anaknya segera di bawa ke rumah sakit. Tetapi tak ada Taxi yang lewat sama sekali, Anjani semakin panik karena wajah anaknya terlihat semakin memerah dan pucat.

__ADS_1


"Ya Tuhan.... Tidak ada orang yang bisa aku minta tolong. Bagaimana ini?" gumam Anjani dengan menangis terisak.


Tin...


Tin...


Hingga suara klakson mobil membuat Anjani menyeka air matanya dengan kasar, orang berada di dalam mobil menatap Anjani dan Olivia dengan cemas.


"Ada apa dengan Olivia?" tanya lelaki itu keluar dan menghampiri Anjani.


"Tiba-tiba panas dan nangis kejer seperti ini. A-aku tidak tahu harus apa? Dari tadi aku sudah menunggu Taxi yang lewat tetapi tidak ada," ujar Anjani dengan panik.


"Kenapa tidak meneleponku?! Ayo kita ke rumah sakit sekarang," ujar lelaki itu dengan tegas.


Anjani mengangguk patuh, saat lelaki itu membukakan pintu untuk Anjani, ia langsung masuk. Anjani mengucap syukur di dalam hati karena dalam keadaan genting seperti ini orang yang beberapa bulan ini dekat dengannya akhirnya datang dalam waktu yang tepat.


Anjani menatap Alex dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tahu bagaimana sikap Alex saat ia bekerja dengan Rania, lelaki itu terlihat sangat arogan tetapi entah mengapa beberapa bulan saat mereka bertemu kembali sifat Alex benar-benar berubah, lelaki itu lebih bisa menghargai perempuan seperti sekarang contohnya. Kedekatan ia dengan Alex juga berjalan begitu adanya, mengalir seperti alir tetapi Anjani menganggap Alex seperti keluarganya sendiri karena ia masih mencintai Rio sampai saat ini walaupun hatinya patah untuk sekian kalinya.


****


Olivia sudah di tangani oleh dokter yang membuat Anjani dan Alex sedikit tenang walaupun hati keduanya belum sepenuhnya lega.


"Olivia terkena demam, Bu. Saat ini demamnya sudah mulai turun. Ini saya tuliskan resep untuk Olivia ya, Bu. Untung saja Olivia segera di bawa ke rumah sakit karena bisa saja keadaan Olivia memburuk ketika ibu telat membawanya ke rumah sakit," ujar dokter yang membuat Anjani lega sekaligus masih mencemaskan keadaan anaknya yang masih kecil harus dirawat di rumah sakit dan harus di infus.


"Terima kasih, Dok!" ujar Anjani dengan tersenyum tipis.


"Sama-sama, Bu!"

__ADS_1


"Saya sudah melihat anak saya kan, Dok?" tanya Anjani.


"Sudah, Bu. Silahkan temani Olivia karena di usianya yang masih sangat kecil membutuhkan sosok ibunya serta ayahnya. Dimana ayahnya, Bu? Karena anak perempuan pasti akan sangat dekat dengan ayahnya mungkin dengan ayahnya yang menemani maka Olivia akan segera sehat," ujar dokter dengan serius.


Anjani terdiam. Ia tersenyum canggung ke arah dokter. "Ayahnya ada di luar, Dok!" ujar Anjani dengan lirih.


"Ya sudah, Bu. Ajak ayah Olivia untuk menjaga Olivia ya!" ujar dokter dengan tersenyum.


"Iya, Dok!"


Anjani hanya bisa tersenyum miris di dalam hati. Karena sejak Olivia masih di dalam kandungannya pun Rio tak sudi mempunyai Olivia bagaimana Olivia bisa dekat dengan ayahnya sendiri jika Rio saja membenci Olivia. Harus berapa kali Anjani merasakan patah hati? Apalagi tadi ia bertemu dengan Rio dengan anak kecil yang berada di gendongannya. Ya Tuhan, rasanya masih sangat menyesakkan seperti dulu.


"Hei, kenapa melamun? Olivia baik-baik saja, kan?" tanya Alex kepada Anjani dengan wajah cemasnya.


"Olivia demam dan sekarang demannya sudah menurun saat dokter menangani Olivia. Tapi aku sedih karena tangan kecilnya harus di infus. A-aku bingung tadi keadaan Olivia baik-baik saja bahkan dia masih bisa tertawa denganku. Namun, setelah aku pulang dari supermarket tiba-tiba Olivia menangis dan tubuhnya langsung panas," ujar Anjani dengan mengusap wajahnya bahkan ia ingin menangis sekarang.


Alex tiba-tiba saja memeluk Anjani yang membuat Anjani langsung mematung. "Sabar ya. Olivia pasti sembuh. Ini pasti sering terjadi dengan anak-anak karena cuaca sekarang memang ekstrim," ujar Alex dengan lembut.


"Terima kasih!" ujar Anjani langsung melepaskan diri dari pelukan Alex karena ia merasa tak enak hati berbeda dengan Alex yang seakan merasa kecewa karena terlihat sekali Anjani tidak mau di peluk berlama-lama oleh dirinya.


Anjani berjalan ke ruangan Olivia. Ia tersenyum miris melihat keadaan anaknya sekarang. Dengan langkah pelan dan tak mau mengganggu tidur anaknya Anjani duduk di kursi samping brankar Olivia. Anjani mengelus tangan Olivia yang terpasang infus dengan lembut.


"Jangan sakit-sakit lagi ya, Nak. Bunda hanya punya Olivia karena ayah kamu sudah bahagia dengan wanita pilihannya apalagi ada anak kecil yang juga butuh sosok ayah. Tidak apa kan kita hanya berdua, Sayang?" tanya Anjani dengan lirih.


Alex mendengar semuanya, ingin sekali Alex mengatakan jika dirinya siap untuk datang kapanpun jika Anjani dan Olivia membutuhkan. Entah mengapa sejak ia melihat Olivia perasaan Alex menjadi hangat dan tak ingin jauh dari Olivia dan Anjani.


"Aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu dan Olivia, Anjani!" gumam Alex di dalam hati.

__ADS_1


Mungkin ia sudah menaruh hati pada Anjani dan Alex tidak akan mengelak tentang perasaannya saat ini karena itulah yang terjadi pada hatinya setelah ia bisa move on dari Citra.


__ADS_2