
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Kehidupan Rio akhirnya berawal dari nol kembali, ia membeli rumah minimalis untuk dirinya tinggal sendiri karena tak mungkin lagi ia hidup dengan harta Danuarta. Harta Danuarta bukanlah miliknya apalagi mama dan adiknya di penjara dan Roby sampai sekarang entah kemana.
Sebenarnya Rio kasihan dengan adiknya yang di penjara dalam keadaan hamil tetapi Rio tak bisa berbuat apa-apa karena dirinya juga tidak mau di black list dari semua perusahaan jika ia membantu mama dan adiknya, ancaman dari Ben dan Doni membuat Rio tidak bisa berkutik, tetapi kali ini Rio ingin membuat usahanya sendiri.
Rio ingin membuat cafe dari uang tabungannya, ia harus berusaha untuk bangkit walaupun ia sendirian sekarang. Entah mengapa tiba-tiba ia kepikiran dengan Anjani, sudah lama ia tidak melihat Anjani mungkin benar Anjani telah pergi dari kota ini.
Rio melihat koper miliknya yang belum di buka, koper yang berisi berkas-berkas penting yang ia bawa dari apartemen Danuarta ke rumah kecil miliknya sendiri.
Rio beranjak dari duduknya dan mengambil koper tersebut serta membukanya, sebelum meletakkan berkas tersebut di lemari Rio membuka berkas terlebih dahulu.
Dahi Rio mengerut saat melihat sebuah kertas foto. "Lili dan Lio," gumam Rio dengan pelan.
Rio membalikkan foto tersebut dengan perlahan dan ia dapat melihat fotonya dengan foto wanita kecil sebayanya yang saling merangkul satu sama lain dengan tersenyum bahagia.
"Ya Tuhan kenapa aku bisa lupa dengan Lili?" monolog Rio dengan perasaan penuh sesal.
__ADS_1
Sekarang dimana Lili? Gadis kecil yang menjadi sahabatnya itu pasti sudah dewasa sekarang. Rio menjadi mengingat masa pertemanan mereka sebelum Rio pindah ikut mamanya. Rio senyum-senyum sendiri mengingat kebersamaannya dengan Lili sewaktu mereka kecil, ia jadi merindukan Lili nama panggilan yang ia semangatkan untuk Anjani karena gadis kecil itu sangat menyukai bunga Lili.
Rio membongkar berkas miliknya lagi siapa tahu ada kenangannya bersama dengan Lili kecil hingga mata Rio menangkap sebuah buki yang menarik untuk dirinya.
"Catatan harian Anjani?" gumam Rio dengan pelan.
Anjani? Kenapa Rio baru sadar jika nama itu seperti nama asli Lili? Dengan rasa yang sangat penasaran luar biasa Rio membuka buka harian Anjani.
Mencintai Rio ternyata sangat menyakitkan sekali ya?! Lelaki yang aku cintai sejak dulu ternyata mencintai nona Rania.
Kejadian malam itu akhirnya membuat aku menikah dengan Rio. Bahagia? Tentu saja aku bahagia bisa menjadi istri dari pria yang benar-benar sangat aku cintai. Walaupun pernikahan kami terjadi karena sebuah insiden dan pernikahan kami juga tidak semewah yang aku impikan.
Aku hamil anak Rio? Terima kasih Tuhan... Anak ini adalah harta yang sangat berharga yang aku miliki.
Dulu kamu berjanji kita akan menikah setelah dewasa. Ya kita memang menikah Rio tetapi pernikahan ini sama sekali tidak memberikan kebahagiaan untukmu. Mungkin dengan kepergianku kamu bahagia. Selamat tinggal Lio, aku akan pergi dari kehidupan kamu sesuai permintaan kamu.
Rio menutup buku harian Anjani dengan perasaan yang sangat syok. "Anjani? Lili? Mereka orang yang sama? Tidak mungkin!" gumam Rio dengan syok.
Mata Rio berkaca-kaca dengan perasaan yang sangat bersalah. Anjani dan Lili adalah dua orang yang sama. Ya Tuhan... Kenapa bisa? Sekarang ia harus mencari keberadaan Anjani di mana? Bagaimana ia memintanya maaf dengan Anjani? Wanita itu pasti sangat sakit dengan perlakuan kasarnya.
Rio memejamkan matanya tanpa sadar air matanya membasahi pipinya. Ia sudah sangat keterlaluan dengan Anjani hingga membuat wanita itu menyerah dan akhirnya pergi dari hidupnya.
__ADS_1
Rio baru ingat jika ia mempunyai nomor Anjani, dengan gemetar dan perasaan yang bercampur aduk. Rio mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Anjani.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi atau berada di luar jangkauan!"
"Shittt!" umpat Rio dengan kesal sekaligus kecewa dengan dirinya sendiri.
Mengapa Rio tidak menyadari jika Anjani adalah sahabat kecilnya, gadis kecil yang menjadi cinta pertamanya dan bahkan Rio menjanjikan mereka akan menikah. Memang benar mereka berdua menikah tetapi pernikahan yang membuat Anjani terluka, ia telah memberikan luka yang amat mendalam kepada Anjani.
"Ya Tuhan... Bagaimana caranya aku mencari Anjani karena kepergiannya pun aku tidak tahu kemana," gumam Rio dengan rasa penyesalan yang sangat luar biasa.
Wanita yang sangat ia benci kehadirannya ternyata adalah cinta pertamanya sekaligus sahabat kecilnya. Rio mengusap wajahnya dengan kasar, pikirannya buntu sekarang. Bagaimana ia harus mencari Anjani yang keberadaannya tidak ia ketahui di mana bahkan nomor ponsel wanita itu saja sudah tidak aktif. Atau mungkin ia menanyakan keberadaan Anjani pada Rania? Tetapi rasanya tidak mungkin karena ia sudah bertekad untuk tidak menganggu keluarga Danuarta lagi.
"Arghhh.... bodoh! bodoh!" umpat Rio untuk dirinya sendiri bahkan Rio menjambak rambutnya dengan kuat karena sangking kesalnya terhadap dirinya sendiri yang tak menyadari jika Anjani adalah Lili.
"Maafkan aku, Lili! Maaf! Aku janji akan mencari kamu sampai ketemu. Aku akan menebus semua rasa bersalahku padamu, Lili!" gumam Rio dengan perasaan menyesal.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Anjani telah pergi dan sekarang dirinya di hantui rasa bersalah terhadap Anjani dan anaknya. Bagaimana jika Anjani melahirkan seorang diri tidak ada orang yang menemani? Bagaimana jika anaknya nanti tidak tahu jika ia adalah ayahnya? Bagaimana jika Anjani bertemu dengan pria baru dan menjadi ayah dari anaknya? Pikiran buruk itu terus menghampiri Rio hingga ia merasakan kepalanya seakan mau pecah sekarang.
"Arghhh..." Rio berteriak dengan sangat kencang untuk menghilangkan sesak yang tiba-tiba saja menghampiri dirinya.
"Anjani, Lili," gumam Rio dengan pelan.
__ADS_1
"Maaf!" gumam Rio dengan pelan sambil memeluk foto masa kecilnya dengan Anjani.