Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 84 (Pembicaraan Serius)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Agni terlihat sangat kesal karena dari malam sampai pagi datang suaminya tak kunjung datang ke kamar mereka padahal Agni berharap ia bisa menggoda suaminya di kamar hotel ini dan mereka akan bercinta tetapi harapannya sangat sia-sia, lebih baik ia pulang dan mengajak Clara untuk berbelanja tetapi yang membuat dirinya bertambah kesal ketika melihat Ben dan Doni sudah berada di rumah.


"Mas kemana saja? Kenapa tidak datang ke kamar? Kok Mas sama Papa sudah ada di rumah?" tanya Agni dengan raut wajah yang sangat kesal.


"Kami tidur di rumah ya kan, Pa?" jawab Ben dengan santai.


"Iya!" jawab Doni yang sudah tahu dimana anaknya berada karena Ben sudah menceritakan semuanya dan niat seriusnya untuk menikah dengan suster Ana.


"Dan sekarang saya dan papa ada hal penting yang tidak bisa kami tinggalkan. Jadi, untuk beberapa hari kami tidak pulang. Kamu jaga rumah dengan baik," ujar Ben dengan tegas.


"Hal penting? Pekerjaan, Mas?" tanya Agni dengan penasaran.


"Iya!" jawab Ben dengan tegas.


Agni tampak tersenyum senang karena dengan begitu ia bisa leluasa berbuat se-maunya di rumah ini. Dan ia tinggal menunggu kehancuran rumah tangga Ferdians dan Rania setelah ia berhasil membuat Ferdians meminum minuman yang sudah ia campur dengan obat perangsang.


Senyuman Agni terlihat begitu aneh di mata Ben dan ia semakin mencurigai Agni setelah kejadian semalam. Apakah Agni yang mencampurkan obat perangsang ke minumannya untuk membuat dirinya bergairah atau minuman itu tertuju untuk orang lain? Kecurigaan Ben semakin menjadi karena Agni terlihat sangat senang ketika dirinya pergi.


"Mas mau pergi berapa hari?" tanya Agni menatap wajah suaminya.


"Seminggu mungkin!" jawab Ben.


"Emmm... Kalau begitu aku minta uang ya Mas. Aku mau belanja. Kamu tidak ada di rumah aku kesepian, aku boleh belanja kan Mas?" tanya Agni dengan penuh harap bahkan sikap Agni terlihat begitu manja yang membuat Ben sangat jijik melihatnya.


"Nanti saya transfer. Saya buru-buru sekarang. Ayo, Pa!" ucap Ben yang membuat Agni terlihat sangat senang.


"Baguslah. Pergi yang lama, Ben! Aku sudah muak melihat wajahmu dan papamu itu," gumam Agni di dalam hati.


"Ayo!" ucap Doni dengan tegas.


"Hati-hati Mas, Pa!" ucap Agni dengan tersenyum tipis.


Ben dan Doni mengangguk. Kedua lelaki itu berjalan meninggalkan Agni yang terlihat senang sekali.


"Sebentar lagi kamu akan melihat kehancuran Rania, Ben. Dia akan mati seperti mamanya dan kamu akan kehilangan Rania. Lagi pula hubungan kalian sudah merenggang sejak lama. Jadi, kamu tidak akan merasa kehilangan Rania," gumam Agni dengan tertawa pelan.


Agni tidak tahu jika ini adalah awal kehancurannya karena sudah berani bermain dengan keluarga Danuarta. Mereka emang terlihat mempercayai Agni dan Clara tetapi itu semua dilakukan karena ingin mengungkapkan kematian Dewi karena Ben meresa Agni dan Eric bekerjasama dalam hal ini.


Ben dan Doni masuk ke dalam mobil. "Papa sudah muak dengan Agni, Ben. Kapan kamu akan menceraikan dia. Lihat berapa uang yang kamu berikan untuk dia? Benar-benar wanita bermuka dua," ujar Ben dengan datar.


"Sebentar lagi, Pa. Saya juga sudah muak berpura-pura mencintai Agni dan menerima kedua anaknya sampai-sampai saya menelantarkan anak saya sendiri, Pa!" jawab Ben dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Jangan biarkan wanita ular itu semakin bahagia. Kamu sudah memasang CCTV di kamar kamu setelah kepergian kita ini?" tanya Doni.


"Sudah, Pa. Kali ini saya tidak akan membuat Agni bersenang-senang dengan harta yang kita miliki, Pa!" jawab Ben yang membuat Doni mengangguk.


"Kamu yakin juga ingin menikah dengan suster yang menjaga Heera?" tanya Doni memastikan.

__ADS_1


"Yakin, Pa. Saya sudah melakukan kesalahan semalam. Jadi, saya harus mempertanggungjawabkan semuanya," ucap Ben dengan menghela napasnya dengan pelan.


Kenapa Ben menjadi sangat merindukan suster Ana sekarang? Aaah... Ben benar-benar gila karena suster Ana bahkan sialnya Ben mengingat kejadian mereka berdua semalam yang membuat Ben panas dingin sekarang.


"Kenapa?" tanya Doni dengan menyeringai.


"T-tidak ada, Pa!" jawab Ben dengan gugup.


"Kamu pikir Papa tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu mencintai suster Ana secepat itu, Ben? Apa sih yang membuat kamu begitu cepat tertarik dengan dia? Apa karena pelayanannya semalam yang tidak bisa kamu lupakan?" tanya Doni dengan terkekeh.


"Tidak tahu, Pa. Yang pasti setelah kejadian itu hati dan pikiran saya hanya memikirkan Ana. Saya seperti remaja yang baru pertama kali merasakan cinta. Saya juga heran dengan diri saya sendiri. Tapi hal itu tidak membuat rasa cinta saya terhadap mamanya Rania memudar keduanya mempunyai tempat tersendiri di hati saya dan semoga saja Rania mau merestui hubungan saya dengan Ana," ujar Ben dengan penuh harap.


Doni terkekeh mendengar penjelasan Ben. "Papa lihat dia memang baik. Cepat nikahi dia dn segera ceraikan Agni," ujar Doni dengan tegas.


"Baik, Pa. Tapi rahasiakan pernikahan saya dengan Ana dulu karena saya tidak mau Agni juga mencelakai Ana," ujar Ben.


"Tenang saja. Papa akan merahasiakan pernikahan kalian, lagi pula Agni tidak perlu tahu tentang ini," ujar Doni yang membuat Ben tersenyum lega dan ia jadi tidak sabar ingin bertemu dengan Ana.


Ben benar-benar merasakan apa itu puber kedua. Dan apa yang ia rasakan terhadap suster Ana membuat Ben terlihat sangat gila sekarang.


"Dewi, maafkan saya yang mencintai wanita lain setelah sekian lama saya hanya mencintai kamu. Tapi saya pastikan dia adalah wanita baik yang akan menjadi ibu yang baik juga untuk Rania," gumam Ben di dalam hati.


****


Rania dan Ferdians menunggu kehadiran papa dan kakeknya di rumah mereka. Keduanya terlihat sangat penasaran dengan apa yang akan Ben dan Doni bicarakan kepada mereka, terlebih lagi papa dan kakek dari Rania itu jarang sekali menemui Rania bahkan dulu sebelum Rania dan Ferdians menikah ketiganya selalu bersitegang karena sesuatu hal yang selalu memancing emosi Rania, Ben, dan juga Doni.


"Kira-kira apa yang akan papa dan kakek bicarakan di rumah kita? Mengapa kita harus menunggu kedatangan mereka? Ini tidak seperti biasanya," ujar Rania yang membuat Ferdians tersenyum.


Benar saja Ben dan Doni masuk ke rumah. Tatapan mereka bertemu pandang, Ben tersenyum kepadanya tetapi suster Ana tidak bisa tersenyum ia malah memalingkan wajahnya agar tidak menatap Ben yang membuat Ben menghela napasnya.


"Ada apa Papa menyuruh saya dan mas Ferdians untuk cepat-cepat pulang ke rumah bahkan menyuruh suster Ana juga ikut dalam pembicaraan kita?" tanya Rania menatap papanya dengan wajah datarnya.


"Ada yang akan Papa bicarakan ke kalian semua. Dan pembicaraan ini sangat penting," jawab Ben dengan tegas.


"Duduk dulu, Pa, Kek. Pelayan akan membawakan minuman untuk kita semua agar pembicaraan kita semakin santai," ujar Ferdians.


"Iya, Fer!" sahut Ben dan juga Doni bersamaan.


"Boleh Papa bicara sekarang?" tanya Ben meminta persetujuan.


"Boleh. Silahkan!" ucap Rania yang semakin membuat suster Ana gugup.


"Papa akan menikahi suster Ana besok. Papa tahu kamu akan syok mendengar ini tapi Papa serius dengan ucapan Papa," ujar Ben dengan tegas yang membuat suster Ana semakin menunduk takut tak berani melihat ekspresi Rania sekarang.


"Menikah dengan suster Ana? Saya tidak salah mendengarnya? Lalu bagaimana dengan istri tercinta Papa? Papa mengkhianatinya?" tanya Rania demi senyuman begitu sinis.


"Selama ini Papa terpaksa menikah dengan Agni, Rania. Kamu sudah salah paham dengan sikap Papa selama ini. Maafkan Papa!" ujar Ben dengan lirih.


"Terpaksa? Saya lihat Papa begitu sangat bahagia menikah dengannya hingga tak peduli lagi dengan anak kandung Papa. Lalu sekarang mau menikah dengan suster Ana. Apa itu tidak salah?" tanya Rania dengan sinis.


Rania tak habis pikir dengan papanya. Kenapa setelah meninggalnya sang mama, papanya menjadi lelaki yang doyan menikah seperti ini?


"Rania dengarkan penjelasan Papa dulu!" ucap Ben dengan memohon.

__ADS_1


Rania menatap suster Ana dengan tajam. "Sejak kapan Suster dekat dengan papa saya? Apa yang Papa saya berikan hingga Suster mau menikah dengan lelaki tua yang tidak pernah peduli dengan anaknya bahkan dia malah menikah dengan wanita yang jelas-jelas tidak baik bahkan membela istri tercintanya itu," ujar Rania yang membuat suster Ana terdiam tak tahu harus menjawab apa.


"JAWAB SUSTER ANA! APA YANG TELAH DIA BERIKAN HINGGA KAMU MAU MENIKAH DENGANNYA? UANG, TAHTA, ATAU KEHIDUPAN NYAMAN?"


"Rania jangan membentak suster Ana! Dia tidak bersalah! Papa yang sudah bersalah besar kepadanya!" ucap Ben dengan tegas.


Ben tidak tega melihat suster Ana di marahi oleh anaknya karena ini kesalahannya dan juga keinginannya.


"Bersalah?" ulang Rania dengan tajam.


"Sayang, kontrol emosi kamu. Biarkan Papa menjelaskan semuanya," ujar Ferdians dengan lembut.


"Bagaimana bisa aku mengontrol emosiku jika papaku sendiri ingin menikah lagi. Dan aku yakin Papa semakin tidak peduli dengan keberadaanku setelah ini," ujar Rania dengan dingin. Karena sebagai anak Rania juga ingin diperlakukan dengan manja oleh papanya tetapi Rania tidak pernah mendapatkan itu lagi.


"Papa telah bersalah kepada suster Ana, Rania. Semalam ada yang mencampurkan obat perangsang ke minuman Papa hingga Papa memohon kepada suster Ana untuk membantu Papa meredakan rasa panas di tubuh Papa hingga papa dan suster Ana melakukan sesuatu yang seharusnya di lakukan oleh sepasang suami-istri pada umumnya. Papa tidak mungkin merusak masa depan suster Ana dan papa mulai menyukai suster Ana sejak malam panjang yang kami lewati," ujar Ben dengan lirih.


Rania tampak diam mematung mendengar ucapan papanya. Kenapa hatinya sakit sekali? Bahkan matanya berkaca-kaca sekarang, Rania ingin berteriak menangis.


"Sayang! Hei..." panggil Ferdians dengan mengguncang tubuh Rania dengan pelan. Ia juga syok mendengar ucapan mertuanya tersebut.


"Ini gila! Papa tahu kan kalau Papa itu sudah tua?" tanya Rania dengan tersenyum sinis bahkan senyuman itu di barengi oleh air mata yang menjatuhi pipinya.


"N-nona, maafkan saya! Jika Nona tidak merestui pernikahan saya dan tuan Ben tidak apa-apa. Lupakan kejadian itu. S-saya tidak apa-apa," ujar Suster Ana membuka suara.


"Tidak, Ana! Kita akan tetap menikah!" ujar Ben dengan tegas.


"Tidak, Tuan. Pernikahan ini tidak akan terjadi! Saya tidak mau melukai nona Rania," ujar Suster Ana dengan tegas.


"Rania dengarkan, Papa! Papa menikah dengan Agni karena terpaksa karena Papa merasa Agni bekerjasama dengan Eric dalam membunuh mama kamu. Papa sedang mencari bukti tentang itu. Papa tidak benar-benar mencintai Agni, Rania. Semua sikap Papa ke kamu itu hanya untuk membuat Agni percaya jika papa mencintainya. Tolong restui pernikahan Papa dengan Ana! Papa mencintainya, Rania!"


"T-tuan..."


"Saya mencintai kamu, Ana! Saya benar-benar tidak bisa kehilangan kamu!" ujar Ben dengan tegas.


Suster Ana masih tidak percaya dengan apa yang Ben katakan. Ini terlalu mustahil untuk dirinya.


Rania menghela napasnya dengan pelan. "Apa saya harus mempercayai ucapan, Papa?" tanya Rania dengan datar.


"Apa yang papa kamu katakan benar adanya, Rania. Pernikahan papa kamu dengan Agni adalah pernikahan untuk membongkar kebusukan Agni dan anaknya. Percaya dengan Kakek!" ucap Doni dengan tegas.


Rania memejamkan matanya yang membuat Ferdians iba.


"Nona..."


"Menikahlah dengan Papa saya, Sus!" ujar Rania dengan tegas.


"Tapi..."


"Jangan biarkan Agni semakin menguasai Papa saya! Menikah dengan papa saya, Suster!" ucap Rania.


Ben tersenyum mendengar ucapan anaknya. Ia berdiri dan menghampiri Rania. Ben memeluk Rania, pelukan pertama setelah hubungan mereka renggang selama bertahun-tahun lamanya.


"Terimakasih, Nak! Maafkan sikap Papa selama ini!"

__ADS_1


__ADS_2