
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Sudah dua minggu berselang, sejak dua minggu pula Rio dan Anjani belum bisa menemukan anaknya. Rio sampai tidak tega dengan istrinya yang setiap hari murung bahkan Anjani sampai tertidur di kamar Olivia untuk menghilangkan rasa rindu tersebut bahkan polisi juga sudah dikerahkan untuk menemukan keberadaan Olivia namun tak kunjung membuahkan hasil karena itu sudah ada campur tangan Faiz dan kedua orang tuanya hingga polisi pun tak bisa berkutik dibuat mereka.
Bukannya rasa rindu terobati dengan tidur di kamar anaknya, Anjani malah merasakan kerinduan yang amat menggebu hingga dadanya begitu sangat sesak. Bahkan setiap hari ia mengirimkan pesan untuk anaknya namun yang ia lihat masih centang satu sampai sekarang. Bahkan selama 2 minggu pula Anjani terus murung tak berselera makan, sedangkan Rio harus tetap menjaga kesehatannya untuk mencari anaknya. Rio tahu anaknya sakit hati dengan perlakuannya selama ini, tetapi bukan itu penyebabnya ia menyuruh Olivia mengalah dan selalu membela Cassandra, ia tidak ingin Cassandra merasa terkucilkan di rumah ini. Namun, nyatanya anaknya sendirilah yang merasa terkucilkan bahkan kekurangan kasih sayang dirinya dan Anjani. Bukankah ia ayah yang kejam? Memang dulu ia tidak menginginkan kehadiran Olivia tetapi sekarang ia sudah sadar bahwa Olivia sangat berarti di dalam hidupnya. Olivia selalu bisa membanggakan dirinya, tetapi hatinya seakan tertutup untuk itu karena selalu ingin menjaga hati Cassandra. Dia ayah yang buruk bukan?
"Rio!" teriak Agni yang membuat Rio langsung terperanjat kaget karena saat ini ia sedang melamun di sofa.
Rio langsung berlari ke arah mamanya yang ternyata juga ada di kamar Olivia "Ada apa, Ma? Kenapa Mama berteriak?" tanya Rio dengan cemas.
"Badan istri kamu panas banget, Rio! Mama sudah membangunkan Anjani tetapi dia tidak mau membuka matanya. Ini pasti karena dua minggu ini pikirannya terus memikirkan Olivia. Kamu bawa Anjani ke dokter cepat," ujar Agni dengan lirih.
Rio melihat ke arah istrinya, ia meletakkan punggung tangannya di dahi istrinya. Benar saja tubuh Anjani sangat panas sekali.
"Sayang kita ke rumah sakit ya!" ujar Rio dengan pelan.
Anjani yang masih terjaga. Namun, tak ingin membuka matanya itu hanya menggelengkan kepalanya. "Aku hanya mau Olivia pulang, Mas. Dia ada di mana? Apa dia makan teratur?" gumam Anjani dengan pelan.
"Mas janji akan menemukan Olivia, Sayang. Sekarang kita ke rumah sakit dulu ya," ujar Rio membujuk istrinya.
Namun, Anjani tetap menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak mau di bawa ke rumah sakit yang membuat Rio dan Agni hanya bisa menghela napas mereka dengan pelan.
"Ya sudah minum obat dulu ya biar cepat sembuh." ujar Rio.
Anjani mengangguk dengan lemah. Untung saja selalu ada persediaan obat di rumah yang memudahkan Rio untuk memberikan obat untuk istrinya.
"Sebentar ya, Ma. Aku ambil obat untuk Anjani dulu," ujar Rio dengan pelan.
"Iya sudah sana biar Mama yang menjaga Anjani," ujar Agni.
Anjani menatap mama mertuanya dengan sendu, tangan Anjani begitu panas saat memegang tangannya. "Ma, coba chat lagi Olivia, Ma. Siapa tahu Olivia sudah aktif, Ma!" ujar Anjani dengan lirih.
"Iya, Nak. Sebentar Mama coba!" ujar Agni dengan tersenyum.
[Olivia ini nenek. Kamu di mana, Sayang? Mama kamu sakit, pulang ya, Sayang. Semua orang mencemaskan kamu!]
Agni menunggu dengan sangat harap, berharap pesan yang ia kirim sudah berubah menjadi centang dua. Ia juga kasihan dengan Anjani yang pucat dan lemas seperti ini tetapi sampai Rio datang pun pesan tersebut masih terlihat centang satu yang membuat Agni mendes*h kecewa karenanya.
"Di minum dulu obatnya, Sayang!" ujar Rio dengan lembut.
Anjani menerima obat dari tangan suaminya dan juga minum putih dari suaminya.
"Mama mengirim pesan untuk siapa?" tanya Rio.
"Olivia, Nak. Siapa tahu ponselnya sudah aktif," ujar Agni dengan sendu.
Rio hanya mengangguk dengan pelan, ia masih berharap anaknya akan segera membalas pesannya juga.
"Sudah di lihat! Olivia sudah aktif!" ujar Agni dengan memekik.
"Telepon sekarang, Ma! Ayo, Ma!" ujar Anjani dengan bersemangat bahkan ia langsung bangun saat mendengar ucapan mamanya yang semakin memupuk harapan agar anaknya segera pulang ke rumah.
"Tidak aktif lagi!" ujar Agni dengan kecewa saat menelepon cucunya melalui whatsapp.
__ADS_1
"Dimana kamu, Sayang! Hiks...hikss... Bunda kangen," ujar Anjani dengan sendu.
Rio mendekap tubuh istrinya dengan erat. "Kita pasti bisa menemukan Olivia, Sayang. Mas yakin itu dan pasti keadaan Olivia baik-baik saja," ujar Rio menyemangati istrinya walaupun dia sendiri juga merasa bingung sekarang.
****
Olivia yang sudah tidak membuka ponselnya selama dua minggu akhirnya mengambil ponselnya kembali yang ia letakkan di dalam tas dan belum ada ia sentuh sama sekali. Olivia menghela napasnya dengan berat, lalu ia mulai menghidupkan ponselnya.
Setelah ponselnya kembali menyala, Olivia menghidupkan data internetnya, betapa terkejutnya Olivia banyak pesan dan panggilan dari ayah maupun bundanya bahkan nenek dan adiknya juga. Olivia tak sengaja membuka pesan yang baru ia dapatkan dari neneknya melalui ponsel bundanya, banyak pesan di sana. Namun, yang ia baca adalah pesam terakhir dari neneknya.
[Olivia ini nenek. Kamu di mana, Sayang? Mama kamu sakit, pulang ya, Sayang. Semua orang mencemaskan kamu!]
Olivia membaca pesan itu dengan mata yang berkaca-kaca, dadanya sangat sesak membaca pesan penuh permohonan dari neneknya. Air matanya kembali terjatuh di kedua pipinya, tetapi dengan cepat Olivia mematikan ponselnya kembali karena ia tak sanggup banyak menerima pesan kecemasan dan permohonan dari keluarganya. Salahkah dirinya telah kabur dari rumah? Salahkah dirinya yang ingin menenangkan diri namun sampai membuat bundanya jatuh sakit?
"Bunda!" gumam Olivia dengan lirih.
"Bunda, Olivia kangen. Tapi Olivia kecewa sama bunda dan ayah. Olivia masih butuh waktu menerima ini semua, tapi Olivia janji akan pulang," gumam Olivia melihat foto dirinya dan kedua orang tuanya yang ada di p
dompetnya.
"Sayang!" panggil Faiz dengan lembut yang membuat Olivia langsung menyeka air matanya dengan cepat.
Faiz berjalan ke arah Olivia, ia berjongkok di hadapan Olivia dan menatap wajah calon istrinya dengan tatapan penuh kelembutan. "Kamu nangis, Sayang? Coba cerita apa yang membuat kamu menangis seperti ini?" tanya Faiz dengan lembut memegang kedua tangan Olivia.
"Mas, aku kangen bunda. Tadi aku kembali menyalakan ponselku dan ternyata bunda sedang sakit karena merindukan aku," ucap Olivia dengan sendu.
"Kamu mau pulang? Kalau kamu sudah siap Mas akan mengantarkan kamu pulang ke rumah, Sayang!" ujar Faiz dengan lembut.
Olivia menggelengkan kepalanya. "A-aku belum siap, Mas. Tapi setelah hati aku tenang aku janji akan pulang," jawab Olivia dengan sendu.
"Mas ke rumah ayah ya! Mas pastikan keadaan bunda baik-baik saja. Aku mohon, Mas!" ujar Olivia dengan menangkupkan kedua tangannya di hadapan Faiz.
Faiz tersenyum. "Baiklah! Mas akan memastikan itu semua. Mas akan mengajak Frisa ke sana terus Mas suruh dia diam-diam mem-videokan bunda ya," ujar Faiz dengan lembut.
Olivia menganggukkan kepalanya, ia memeluk leher Faiz dengan lembut. "Terima kasih, Mas. Mas baik banget sama aku. Mas mau apa dari aku? Nanti akan aku belikan," ujar Olivia dengan tersenyum menatap wajah tampan Faiz.
Deg....
Jantung Olivia berdetak dengan sangat kuat. Kenapa semakin hari Faiz semakin terlihat sangat tampan sekali.
"Mas tidak akan meminta barang apapun dari kamu, Sayang. Yang Mas minta kamu tetap mencintai Mas dan jangan buat Mas kecewa," ujar Faiz dengan tegas.
Olivia terdiam. "Jika aku membuat Mas kecewa apa yang akan Mas lakukan?" tanya Olivia dengan penasaran sekaligus gelisah.
"Tergantung rasa kecewa yang kamu berikan kepada, Mas. Kalau sangat besar Mas tidak akan memaafkan kamu, Sayang!" ujar Faiz dengan tegas yang membuat Olivia terkejut.
"T-tidak akan memaafkan aku ya, Mas?" gumam Olivia dengan lirih. Jantungnya berdetak dengan sangat kuat karena gelisah dan ketakutan.
Faiz mengangguk dengan tersenyum. "Tapi Mas yakin kamu tidak akan mengecewakan, Mas. Sekarang Mas harus pergi ke rumah bunda dan ayah, kamu tunggu saja kepulangan Mas ya," ujar Faiz dengan mengecup kening Olivia lembut.
"Iya, Mas. Aku tunggu kepulangan, Mas!" ujar Olivia dengan memaksakan senyumannya karena ia masih memikirkan perkataan Faiz tadi.
"Bagaimana jika yang aku lakukan ini adalah kesalahan yang sangat besar dan membuat Mas Faiz kecewa? Apa dia tidak akan memaafkan aku?" monolog Olivia di dalam hati setelah Faiz keluar dari kamarnya sendiri yang sekarang menjadi kamar Olivia untuk sementara.
****
Faiz menatap adiknya yang sedang menatap Melvin dengan kagum. Faiz menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya sekarang.
__ADS_1
"Dek!" panggil Faiz dengan pelan tetapi itu berhasil mengagetkan Frisa yang sedang mengagumimu Melvin.
"Kakak ganggu banget!" ujar Frisa dengan cemberut. "Kak, menurut Kakak jika perempuan menyatakan cintanya duluan apakah membuat lelaki ilfil?" tanya Frisa.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Faiz dengan penasaran. "Jangan bilang kalau kamu mau menembak Melvin, Dek?" tanya Faiz dengan melotot.
"Apaan sih? Orang aku cuma tanya tidak usah melotot gitu matanya!" ujar Frisa dengan cemberut. "Kalau aku menembak Melvin duluan emang salah?" tanya Frisa dengan santai.
"Tidak ada yang salah. Tapi pertimbangan lagi apa yang ingin kamu lakukan, Dek. Kakak tidak mau kamu sakit hati," ujar Faiz dengan tegas.
"Iya, Kak!" jawab Frisa dengan cemberut.
"Sekarang ayo temani Kakak ke rumah om Rio dan tante Anjani. Tante Anjani sakit, Olivia ingin memastikan bundanya baik-baik saja," ujar Faiz dengan tegas.
"Siap, Kak. Tapi es krim jangan lupa ya!" ujar Frisa menaik-turunkan alisnya, ia ingin membeli es krim yang banyak setelah ini menggunakan uang kakaknya.
"Terserah kamu, Dek!" ujar Faiz menghela napasnya dengan pelan. Kapan adiknya tidak menyukai es krim? Faiz ingin menunggu hal itu tiba di kemudian hari nantinya.
Tanpa Faiz dan Frisa sadari Gavin mendengar percakapan kedua saudara kembar tersebut. "Jadi, nona Frisa akan menembak Melvin? Kenapa mendengar itu hatiku benar-benar sangat kesal? Seakan aku tidak terima jika nona Frisa menjalin hubungan dengan Melvin! Hatiku benar-benar tidak beres," monolog Gavin dengan bingung.
"GAVIN AYO IKUT!" teriak Frisa yang membuat Gavin terkejut karena Frisa berteriak ingin dirinya ikut juga.
"Iya, Nona!"
Faiz bingung dengan adiknya. Frisa tidak bisa lepas dari Gavin walaupun Frisa sering kali kesal dengan Gavin. Faiz tidak tahu jika nanti Gavin memiliki kekasih apakah adiknya bisa menerima jika Gavin akan mengundurkan diri dan memilih hidup dengan istrinya dan anaknya kelak.
****
Faiz, Frisa, dan Gavin sudah berada di rumah Rio dan Anjani. Tetapi Gavin memilih untuk di luar sana sedangkan Faiz dan Frisa keluar dari mobil ingin bertemu dengan Rio dan Anjani. Selama di mobil Faiz sudah memberikan intruksi kepada adiknya agar melakukan sesuatu yang ia inginkan untuk mendapatkan informasi tentang Anjani yang akan ia tunjukan dengan Olivia nantinya.
Faiz memencet bel rumah Rio dan tak lama ada yang membuka pintu dari dslam rumah. "Tuan Faiz, Nona Frisa, silahkan masuk!" ujar pembantu di rumah Rio dengan ramah.
"Iya, Bi. Dimana ayah dan bunda?" tanya Faiz berbasa-basi.
"Ada di kamar mbak Olivia, Tuan. Ibu sedang sakit karena merindukan nona Olivia, Tuan. Sebentar saya panggilkan bapak ya, Tuan!" ujar pembantu itu dengan ramah.
"Iya, Bi!" ujar Faiz dan Frisa bersamaan.
Frisa menatap sekeliling rumah Rio dengan penasaran, ia menemukan foto Clara terpajang di sana. "Ngapain om Rio memajang foto wanita gila harta itu di rumah ini? Rumah ini jadi horor," gumam Frisa yang masih bisa di dengar Faiz.
"Frisa!" ujar Faiz dengan wajah datar yang membuat Frisa langsung paham. Lalu gadis itu tersenyum dengan menampakkan gigi putihnya.
"Faiz, apa ada kabar tentang Olivia?" tanya Rio saat ia masih berada di tangga.
"Belum ada, Yah. Saya juga bingung harus mencari Olivia kemana lagi karena orang suruhan saya belum juga menemukan Olivia," jawab Faiz dengan sendu.
"Ya Tuhan... Bagaimana ini? Jika Olivia belum ditemukan pernikahan kalian pasti batal," ujar Rio dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Saya akan berusaha mencari Olivia, Yah. Pernikahan kami tidak akan batal karena saya yakin Olivia akan ditemukan secepatnya," ujar Faiz dengan tegas. Enak saja pernikahannya dengan Olivia akan dibatalkan, ia sudah sangat menanti momen di mana ia akan menjadi suami dari Olivia. Faiz sudah sangat menantikan saat-saat yang sangat mendebarkan di dalam hidupnya itu.
"Saya harap juga begitu walaupun saya nantinya tidak bisa menikahkan Olivia," ucap Rio dengan sendu.
"Tidak apa-apa, Yah. Saya akan menerima Olivia dengan tulus. Saya datang ke sini memang ingin membicarakan ini, Yah. Tapi kata bibi, bunda jatuh sakit apakah saya boleh melihatnya?" tanya Faiz dengan santainya.
"Ya benar. Anjani jatuh sakit karena memikirkan dan merindukan Olivia. Naiklah ke atas Anjani ada di kamar Olivia bersama dengan nenek Agni," ujar Rio dengan lirih.
Faiz dan Frisa tersenyum akhirnya keduanya bisa menjalankan misi ini dengan baik. Setelah ini pasti Olivia akan sangat bahagia bisa melihat video bundanya dan mungkin Olivia akan segera pulang karena bagaimanapun Olivia harus pulang, pernikahan mereka sudah tidak lama lagi tak mungkinkan pernikahan mereka dibatalkan karena Olivia kabur dari rumah tetapi Olivia ada bersama dengan dirinya? Tentu saja ini sangat terdengar aneh.
__ADS_1