
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Ferdians turun dengan menggendong Frisa. Semalaman Ferdians begadang bahkan ia sampai menelepon Rania untuk menenangkan anaknya yang menangis, hingga pagi ini Ferdians ingin membawa Frisa ke istrinya. Ferdians tak tega melihat Frisa seperti ini, anaknya baru saja lahir dan dengan teganya ia memisahkan Frisa dengan Rania. Seharusnya ia tegas karena Rania dan kedua anaknya adalah hak dirinya.
"Ferdians mau ke mana kamu?" tanya Eric melihat anaknya membawa Frisa dengan tas Frisa.
"Aku mau membawa Frisa ke Rania, Yah. Aku tidak tega melihat Frisa menangis seperti semalam. Aku seperti papa yang sangat jahat karena memisahkan Frisa dengan ibunya, aku tidak mau apa yang terjadi pada aku terjadi juga pada anak-anakku," ujar Ferdians dengan tegas.
"Bawa saja Frisa cepat ke Rania, Nak. Ibu sama ayah mau bertemu dengan Ferry. Nanti kamu nyusul ya, ayah kamu akan mengirimkan alamatnya ke kamu," ujar Heera dengan tersenyum bahagia.
Eric menatap wajah Heera dengan begitu lekat, hatinya begitu berdenyut sakit melihat kebahagiaan Heera.
"Ya Tuhan... Bagaimana bisa nanti aku melenyapkan senyuman itu lagi?" gumam Eric di dalam hati dengan sendu.
Ferdians tersenyum bahagia melihat keceriaan ibunya saat ini. "Iya, Bu. Aku langsung menyusul nanti setelah Frisa sudah berada di tangan Rania," ujar Ferdians dengan tersenyum.
"Mas, kalau begitu ayo kita berangkat. Tunggu apa lagi? Kamu sudah menghubungi Ferry, kan?" ujar Heera tak sabaran ingin bertemu dengan Ferry, anak yang sudah lama tidak ia lihat.
"I-iya, Heera! A-ayo!" ujar Eric dengan tersenyum kecut karena hatinya sedang tidak karuan sekarang karena ia begitu takut melihat reaksi Heera nantinya.
****
Rania tersenyum bahagia saat ia melihat Ferdians datang bersama dengan Frisa, ia langsung memeluk Ferdians dengan erat yang membuat Ferdians tersenyum haru.
"Mas, aku tidak kuat harus berpisah dengan kamu dan juga Frisa!" ungkap Rania dengan jujur.
"Sabar ya, Sayang. Setelah aku bertemu dengan kembaranku nanti, aku akan memutuskan semuanya. Aku juga tidak kuat harus berpisah dengan kalian, sepertinya kita harus menentang papa dan ayah jika kita mau bahagia. Mas bawa Frisa ke sini ya, Sayang. Kamu di rumah saja, Mas mau menyusul ayah dan ibu," ujar Ferdians memberikan Frisa kepada Rania.
"Iya, Mas. Hati-hati ya," ujar Rania dengan tersenyum.
"Iya, Sayang!" ujar Ferdians dengan mengecup kening Rania dengan lembut.
"Ekhem... Kalian tidak lupa kan jika sebentar lagi kalian akan berpisah?" tanya Ben saat menghampiri Rania dan juga Ferdians.
"Nanti saya akan bicara serius dengan Papa. Untuk sekarang saya sedang terburu-buru," ujar Ferdians dengan tegas.
"Baiklah. Saya tunggu!" ujar Ben dengan dingin.
__ADS_1
Ferdians mengangguk, ia berpamitan dengan Rania dan juga Ben tak lupa ia mencium Frisa. Ferdians juga ingin menemui Faiz tetapi untuk sekarang ia sedang terburu-buru, ia ingin melihat bagaimana wajah kembarannya tersebut. Pasti jika mereka bertemu akan merasa canggung satu sama lain karena mereka tak pernah bertemu sedikit pun sampai ia dan Ferry sedewasa ini.
Setelah Ferdians pergi Ben menatap Rania. "Mau kemana Ferdians hingga dia membawa Frisa ke sini?" tanya Ben dengan penasaran.
"Bertemu dengan Ferry," jawab Rania seadanya karena ia lebih fokus ke Frisa yang berada di gendongannya saat ini.
"Ferry? Ferry anak Eric? Dia kan sudah meninggal," ujar Ben dengan terkejut karena ia masih ingat Ferry di makamkan di Danuarta memorial park puluhan tahun silam.
Rania menghela napasnya dengan kasar. "Ya. Dan mas Ferdians maupun ibu belum tahu soal itu. Aku tidak tega mengatakannya biarkan saja ayah Eric yang mengatakannya," ujar Rania dengan pelan.
"Uluh-uluh kenapa, Sayang? Ini Mama. Kamu kangen sama Mama dan kakak kamu ya? Ayo kita ke kamar sekarang, di sana Mama bisa memberikan asi sepuasnya untuk kamu," ujar Rania dengan tersebut bahagia menghiraukan Ben begitu saja.
"Rania, Papa masih ingin berbicara dengan kamu!" ujar Ben dengan tegas.
"Apa yang mau Papa bicarakan? Soal perceraian kami?" tanya Rania dengan tersenyum miring.
"Maaf, Pa. Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi!" ujar Rania dengan tegas dan berjalan meninggalkan Ben yang berteriak memanggil namanya hingga Ana datang menghampiri Ben.
"Mas masih pagi loh ini!" ujar Ana dengan wajah yang sedikit pucat.
"Anak kamu itu ngeselin banget!" ujar Ben dengan kesal.
"Ana!" tegur Ben dengan tajam bukannya takut Ana malah terkekeh melihat kekesalan suaminya.
"Sudah ah jangan marah-marah. Nanti semakin tua, lihat uban Mas sudah semakin banyak," ujar Ana yang membuat Ben mendelik kesal.
"Kamu mengejek Mas tua, Ana? Tapi walaupun Mas tua masih bisa menghamili kamu ya," ujar Ben tidak terima.
"Hahaha... ututututu jangan ngambek, Mas!" ujar Ana dengan tertawa senang karena bisa membuat suaminya kesal.
"Ana, awas kamu! Mas hukum kamu ya!" ujar Ben yang semakin membuat Ana senang.
Ben yang tadinya kesal menjadi tersenyum bahagia saat melihat tawa Ana yang tidak ada beban karena akhir-akhir ini tubuh Ana sedikit rewel.
Ben menggendong istrinya. "Dasar istri nakal!" ujar Ben dengan gemas.
****
Heera terlihat bingung saat mobil Eric turun di sebuah pemakaman yang sangat mewah. Danuarta memorial park adalah rumah terakhir untuk Ferry Abraham. Eric merogoh kocek puluhan juta hanya untuk memberikan pemakaman yang indah untuk sang anak. Dulu sewaktu ia masih bersahabat dengan Ben, pemakaman Ferry diberikan tempat yang begitu indah hingga sekarang tempat itu juga menjadi tempat favorit istrinya untuk mengunjungi Ferry.
"Mas kenapa kita berhenti di sini?" tanya Heera dengan bingung.
__ADS_1
"Turun dulu, Heera. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Ferry. Ferdians juga sebentar lagi sampai," ujar Eric dengan tersenyum.
"Lalu bunga yang kamu beli untuk siapa, Mas? Apakah Ferry menyukai bunga? Tapi anak lelaki biasanya tidak menyukai bunga," ujar Heera dengan heran yang membuat hati Eric terasa sangat sakit.
"Ferry suka sekali bunga, Heera. Dia akan sangat bahagia kamu datang dengan membawa bunga," ujar Eric yang membuat Heera gelisah tetapi ia terlihat begitu bingung saat kakinya ikut melangkah di samping Eric.
"Ini pemakaman, Mas! Kenapa Ferry di sini? Yang benar saja Ferry mengajak kita bertemu di sini?" ujar Heera dengan bingung menatap sekelilingnya yang penuh dengan pemakaman yang sangat indah.
"Sebentar lagi sampai," ujar Eric yang membuat Heera semakin gelisah.
Langkah Heera terhenti saat Eric juga berhenti. Heera menatap satu makam kecil dengan terpaku, jantungnya berdetak dengan sangat cepat saat membaca nama yang tertera di batu nisan tersebut.
"Ferry Abraham!" gumam Heera dengan lirih.
"A-apa m-maksudnya ini, Mas? Kenapa nisan ini bertuliskan nama anak kita? Di mana Ferry? Katanya kamu mau mempertemukan aku dengan Ferry?" tanya Heera dengan bingung mencari keberadaan Ferry di sekelilingnya.
"Ferry! Ini Ibu sudah datang, Nak? Apa kamu tidak merindukan Ibu? Kamu di mana? Ibu di sini, Nak!" ujar Heera memanggil nama Ferry dengan mata yang mengedar mencari keberadaan sang anak.
"Heera lihat ke bawah. Ini Ferry, kamu sudah bertemu dengan Ferry!" ujar Eric menahan sesak di dadanya.
Mata Heera kembali terpaku menatap makam kecil di hadapannya. "Tidak mungkin ini Ferry! Kamu becanda, Mas?" tanya Heera dengan lirih dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Ini Ferry, Heera. Ferry sudah meninggal 30 tahun yang lalu karena terjatuh dari jurang akibat kelalaianku. Maafkan aku, Heera. Aku tidak becus menjaga Ferry," gumam Eric dengan lirih.
Brukk...
Tubuh Heera terjatuh di samping makam Ferry. Mendengar ucapan Eric nyawanya seakan dipaksa keluar dari raganya hingga Heera merasakan sakit yang begitu teramat sakit di hatinya.
"Heera!"
"Maafkan Mas! Mas mohon kamu jangan diam saja! Kamu boleh memukul Mas! Menampar Mas asalkan kamu jangan diam seperti ini!" pinta Eric dengan memohon.
Tetapi Heera tetap tidak bergeming. Ia masih merasakan sakit yang begitu mendalam di hatinya, lebih sakit daripada saat Eric mengambil paksa Ferry dari dirinya.
Anaknya sudah meninggal di usia yang begitu masih sangat kecil? Dan Heera bahkan belum sempat bertemu dengan Ferry kembali. Lalu ia bertemu Ferry di tempat seperti ini? Eric sedang mempermainkan dirinya, kan?
"Heera ayo bicara!" ujar Eric dengan begitu takut melihat ke terdiaman Heera saat ini.
"Mas mohon Heera! Ayo bicaralah asal kamu tidak diam seperti ini," ujar Eric dengan memohon takut.
Sedangkan Heera, tubuh wanita itu sudah kaku bahkan untuk mengeluarkan suara saja ia tidak bisa. Bibirnya keluh karena kenyataan yang menghantam dirinya saat ini.
__ADS_1