
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Hari ini adalah hari yang senggang untuk Frisa setelah dua minggu lamanya ia sibuk bekerja. Frisa makan dalam tenang walaupun kemarin ia sangat malu dengan kedua orang tuanya yang mengetahui jika ia sudah menembak Melvin duluan dan pria itu menolaknya.
"Sebentar lagi kamu menikah. Kamu cuti saja biar Papa yang meng-handle semuanya," ujar Ferdians kepada Faiz.
"Tidak usah, Pa. Biar aku saja yang bekerja. Masih ada waktu dua minggu lagi," ucap Faiz menolak kebaikan papanya.
"Kamu yakin? Nanti kamu kelelahan saat acara pesta pernikahan kamu dan Olivia di gelar," ujar Rania dengan cemas.
"Yakin, Ma. Aku ini lelaki, aku tidak akan merasa lelah selama aku senang melakukannya. Biarkan Olivia saja yang cuti, lagi pula semenjak Olivia pulang ayah dan bunda tidur bersamanya, mereka takut Olivia akan kabur lagi," ujar Faiz menceritakan apa yang membuat Faiz harus bersabar jika ingin mengubungi calon istrinya itu.
Rania dan Ferdians terkekeh. "Sabar, setelah Olivia menjadi istri kamu. Kamu akan terus melihatnya sewaktu mau tidur dan bangun tidur," ujar Ferdians dengan geli.
"Ya tetap saja aku menjadi tidak leluasa mengubungi Olivia, Pa. Tapi ya sudahlah mereka juga pasti masih merindukan Olivia makanya ayah dan bunda bersikap berlebihan seperti itu," ujar Faiz dengan pelan.
Faiz melihat ke arah adiknya yang tampak diam saja. "Kamu kenapa diam saja, Dek? Masih patah hati sama Melvin yang nolak kamu? Sudahlah tidak usah dipikirkan lebih baik kamu menikah dengan Gavin saja, kamu kan tidak bisa lepas dari Gavin," ujar Faiz dengan terkekeh.
"Siapa juga yang patah hati," ujar Frisa dengan kesal.
"Kalau tidak patah hati terus galau kenapa diam saja hmmm?" ejek Faiz.
"Papa, lihat Kakak. Dia terus mengejek aku, padahal apa salahnya aku menembak lelaki duluan?" rengek Frisa menggoyangkan lengan papanya dengan pelan. "Dan siapa juga yang mau menikah dengan manusia tembok seperti Gavin?" ujar Frisa dengan cemberut.
"Tidak ada salahnya kok. Dulu Mama juga mengajak Papa nikah duluan," ujar Ferdians dengan entengnya.
"Masss...." ujar Rania menatap suaminya dengan tajam.
"Benar begitu, Ma?" tanya Faiz dengan syok.
"Tuh kan Mama juga begitu. Jadi, kenapa masih mengejek aku?" ujar Frisa dengan cemberut.
Rania mencubit paha suaminya dengan gemas yang membuat Ferdians meringis kesakitan. Matanya juga sangat tajam menatap Ferdians, seakan mengancam suaminya agar tidak berbicara lebih tentang masa lalu mereka di hadapan kedua anak mereka yang mana dulu Rania meminta Ferdians menjadi suami bayarannya untuk mendapatkan harta Danuarta karena Rania tidak ingin harta keluarganya jatuh ke tangan Agni dan Clara.
"Mama kok tidak menjawab pertanyaan aku? Apa benar Mama yang mengajak papa menikah duluan?" tanya Faiz dengan penasaran.
"Sudah sana kamu kerja tidak usah bahas itu," ujar Rania dengan ketus karena sejujurnya ia sangat merasa malu menceritakan masa lalunya kepada kedua anaknya yang sudah dewasa dan sebentar lagi salah satu dari anaknya akan menikah, biarlah ini menjadi kisahnya dengan Ferdians di masa lalu tanpa di ketahui kedua anaknya.
__ADS_1
"Ma ceritakan saja aku penasaran!" ujar Frisa dengan penuh harap.
"Tidak-tidak!" ujar Rania yang enggan menceritakan semuanya.
Ferdians hendak membuka mulut tetapi mendengar ancaman istrinya membuat Ferdians langsung kicep.
"Kalau Mas menceritakan semuanya jangan harap Mas mendapatkan jatah!" ancam Rania dengan tajam yang membuat Ferdians menelan ludahnya dengan kasar.
Frisa dan Faiz saling tatap satu sama lain dan keduanya terkekeh melihat papa mereka yang langsung kicep dan tak berdaya setelah mendapatkan ancaman seperti itu.
"Ancamannya ngeri banget, ya sudahlah kalau Mama tidak mau cerita aku berangkat kantor dulu," ujar Faiz menyalami tangan kedua orang tuanya.
"Assalamu'alaikum!" salam Faiz.
"Wa'alaikumussalam!"
Setelah Faiz pergi Rania menatap anaknya. "Sudah rapih mau kemana? Hari ini kamu libur, kan?" tanya Rania penasaran.
"Cari udara sebentar sama Gavin, Ma!" jawab Frisa dengan tersenyum tipis.
"Ya sudah kalau kamu perginya sama Gavin Mama dan papa tidak akan khawatir," ujar Rania yang di angguki oleh Frisa.
"Assalamu'alaikum... Selamat pagi, Tuan, Nyonya, dan Nona Frisa," salam Gavin yang baru saja datang.
"Sudah sarapan?" tanya Rania menatap Gavin.
"Sudah Nyonya. Saya sudah makan di rumah karena saya merindukan masakan mama saya," jawab Gavin dengan tersenyum.
"Tidak mau sarapan lagi?" tawar Rania yang membuat Gavin menggelengkan kepalanya.
"Sudah kenyang, Nyonya. Saya izin membuat nona Frisa keluar sebentar, Nyonya!" ucap Gavin.
"Ya sudah kalian pergi sana pulang malam juga tidak apa-apa," ujar Ferdians dengan tegas.
Gavin tersenyum mendengar ucapan Ferdians yang sangat mempercayai dirinya dalam menjaga Frisa. Sejak kecil Frisa sudah bersamanya dan juga bersama Faiz, mungkin itu penyebab Frisa juga tidak ingin dirinya di ganti oleh siapapun.
Frisa mengambil tasnya yang ada di kursi sebelahnya, ia menyalami kedua orang tuanya lalu mengucapkan salam sama seperti yang di lakukan Faiz tadi, Gavin juga melakukan hal yang sama barulah keduanya pergi bersama.
Saat di mobil dan mobil sudah keluar dari rumah mewah milik Rania dan juga Ferdians. Frisa menatap Faiz yang sedang menyetir. "Kita mau kemana?" tanya Frisa dengan penasaran.
"Ke suatu tempat, Nona. Nanti Nona akan tahu sendiri," ujar Gavin dengan santainya yang membuat Frisa berdecak kesal. Apa susahnya mengatakan yang sebenarnya sih? Batin Frisa kesal.
__ADS_1
Gavin membawa Frisa ke suatu tempat yang sering Melvin datangi untuk bertemu dengan para kekasihnya. Gavin memang sengaja tak memberitahu Frisa akan hal itu yang membuat Frisa tampak kesal karena dirinya.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama tanpa mengobrol sama sekali membuat Frisa tampak jenuh tetapi setelah mobil berhenti akhirnya membuat Frisa sedikit senang karena pada akhirnya tujuan mereka sudah sampai.
Frisa menatap sekelilingnya. Ini adalah taman yang sangat indah. Namun, matanya tak sengaja melihat Melvin duduk dengan seorang gadis dan mereka terlihat Mesra.
"Melvin!" gumam Frisa dengan lirih. Hatinya masih terasa sakit namun tidak terlalu sakit, tetapi ia menatap tajam ke arah Melvin dan gadis itu.
"Itu Melvin dengan salah satu kekasihnya, Nona!" ucap Gavin dengan santainya.
"Salah satu kekasihnya?" ulang Frisa dengan tidak percaya.
Gavin mengangguk. "Iya itu hanya salah satu kekasih Melvin, Nona. Saya tidak tahu itu kekasih yang nomor berapa yang jelas kekasih Melvin tidak hanya gadis itu," sahut Gavin melihat ke arah Melvin dan seorang gadis yang sedang bercanda dengan riang. Mungkin Melvin sedang menggombali gadis yang ada di sampingnya hingga membuat gadis itu tersenyum malu.
"Dasar playboy! Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal?" tanya Frisa dengan datar.
"Tanpa bukti anda tidak akan percaya dengan saya, Nona. Makanya saya mengajak anda ke tempat ini karena Melvin akan bertemu kekasihnya di sini, itu juga yang menjadi alasan Melvin menolak anda, ia sangat takut anda akan tersakiti karena dirinya," sahut Gavin dengan tegas.
"Cih aku tidak akan sakit hati dengan pria playboy seperti dia!" ujar Frisa dengan sinis.
"Ayo jalan aku mau belanja saja!" ucap Frisa dengan ketus.
Matanya masih menatap nyalang ke arah Melvin dan kekasihnya. Bisa-bisanya ia jatuh cinta dengan pria seperti Melvin, sepertinya ia harus balas dendam dengan pria itu. Ia tidak ingin di anggap bucin dengan Melvin setelah cintanya di tolak dan ia belum mempunyai kekasih. Awas saja ia akan tunjukkan pada yang lain jika ia bisa membalaskan dendamnya kepada Melvin, mungkin dengan begitu juga bisa membuat Melvin cemburu. Ya, balas dendam dengan move on itu lebih baik sekarang. Tapi siapa pria yang dekat dengannya? Hanya Gavin dan tak ada yang lain. Masa Gavin? pikir Frisa dengan kesal.
***
Gavin membawa mobil menuju sebuah mall karena Frisa ingin berbelanja, jarang sekali gadis ini berbelanja dan Gavin dengan setia menemani Frisa walaupun nantinya ia membawakan barang-barang Frisa yang pastinya banyak.
Gavin keluar dari mobil terlebih dahulu, ia membukakan pintu mobil untuk Frisa. Jangan katakan mereka hanya berdua, dari kejauhan sudah ada yang menjaga keduanya untuk menjaga keamanan Frisa. Awalnya Frisa sangat risih tetapi ia mulai terbiasa dengan para bodyguard yang selalu mengikuti kemanapun ia pergi.
Gavin menarik tangan Frisa dengan cepat saat ada seseorang yang ingin menabrak Frisa hingga Frisa menubruk dada bidang Gavin, harum parfum Gavin membuat Frisa melayang.
"Hati-hati kalau jalan!" ujar Gavin dengan dingin.
"M-maaf, Tuan. Saya tidak sengaja!" ujar seseorang itu yang menunduk tak mau memperlihatkan wajahnya dan terlihat sangat misterius.
Gavin menatap kepergian seseorang itu dengan curiga, setelah merasa aman ia menatap Frisa dengan menunduk karena tinggi Frisa hanya sebatas dadanya saja.
"Jangan jauh-jauh dari saya, Nona. Ini tempat ramai dan terlalu bahaya," ujar Gavin dengan tegas.
Frisa mengangguk karena ia masih terlihat sangat syok sekali. Gavin menautkan tangannya dengan tangan Frisa, genggaman itu cukup erat yang membuat dada Frisa berdetak sangat kuat.
__ADS_1
"Ada apa ini? Jantungku? Apakah aku punya penyakit jantung?" gumam Frisa di dalam hati.